
.
.
.
" Bagaimana rasanya berhubungan dengan perasaan gelisah? bahkan resah? tapi kenyataan memaksakan diri untuk harus terlihat baik-baik saja. Seberusaha apapun memaksakan diri untuk menikmatinya, tetap saja perasaan tidak bisa di bohongi. Bukan menikmati, tetapi justru menyakitkan. Apakah ini kehidupan nyata?" dalam pikirnya di puncak permainan yang membuat tubuh Ira semakin tidak nyaman, karena keringat pria itu yang bercucuran membasahinya.
Mungkin perlakuan pria itu memang baik, karena dia selalu bersikap lembut. Tetapi tetap saja, berhubungan dengan rasa nyaman dan berhubungan dengan sukarela atau rasa cinta berbeda rasanya. Entah mereka sudah mengetahui tetapi tidak peduli, atau mungkin mereka tidak mengetahui dan mempercayai bahwa wanita yang menjual tub*hnya pada lelaki akan menikmati hubungannya?
Pria itu duduk di sampingnya menatap Ira yang langsung beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.
"Apa kau sangat terburu-buru?" tanyanya berdiri di belakang Ira mengusap lembut pundaknya yang sudah kembali dari kamar mandi.
"Sebentar." jawabnya mengenakan pakaian.
"Sebenernya tidak. Tapi bolehkah aku berkata jujur?" duduk di atas ranjang sambil menyisir rambutnya.
"Ada masalah?"
"Apa sebaiknya aku berhenti sekolah dan bekerja? atau mungkin menikah? jika keadaan tidak berubah, aku akan tetap seperti ini bukan?" tanyanya menatap pria itu.
"Tidak, kau jangan berhenti sekolah dan jangan menikah. Karena kau hidup dengan memilih jalan pintas, bukan berarti kau akan menyelesaikan masalahmu dengan jalan yang sama. Apa kau yakin kehidupan akan lebih baik setelah mengambil keputusan itu? jangan sia-siakan rasa sakit yang hampir membunuhmu" tanyanya dengan dua bola mata yang menatap penuh keyakinan.
"Lalu sampai kapan? apa kau pikir aku akan diam saja dengan jalan hidup yang seperti ini? apa kau pikir aku tidak mencari pekerjaan? mungkin kau tau, pekerjaan apa yang akan di dapat oleh siswi smk setelah pulang sekolah? sedangkan sebentar lagi aku bahkan akan bekerja, yang dimana bahkan kebebasanku akan di batasi. Lalu?"
"Dengar, mungkin benar jika kau berhenti sekolah dan bekerja kehidupan akan lebih baik. Tapi apakah tidak ada sedikitpun rasa kasihan terhadap dirimu sendiri? sejauh perjalananmu dengan semua rasa sakit harus berakhir dengan berhenti sekolah? mungkin kau harus mengingat bahwa hal yang menjadikanmu wanita seperti ini awal mulanya karena biaya sekolah bukan? jika harus berakhir, lalu untuk apa dulu kau melanjutkan sekolah? mungkin kau tidak akan melangkah sejauh ini." ucapnya membuat Ira terdiam berpikir.
"Itu benar, tapi yang aku pikir sekarang bukan tentang sekolah. Tentang bagaimana caranya agar aku keluar dari kehidupan kelam ini? apa kau tau bagaimana rasanya, menghadapi mereka yang memberiku tatapan penuh intimidasi? dan kau tau sekarang saja betapa buruknya namaku di telinga semua orang. Lantas jika sampai semua itu di ketahui oleh mereka, apa kau bisa membayangkan bagaimana masa depanku nanti? bahkan tidak ada kejelasan sama sekali." dengan lirih tubuh wanita itu merasa lemas.
"Hmmhh,,, dengar! bersabarlah, sebentar lagi kau lulus sekolah. Perjalananmu masih panjang, sekarang berusahalah untuk bersikap seperti biasanya dengan tidak peduli terhadap orang lain. Mereka tidak tau apa-apa." ucapnya menggenggam kedua tangan Ira. "Mungkin apa yang kau lakukan ini salah, tetapi kau tidak bersalah."
__ADS_1
"Haha ingin sekali rasanya aku marah kepada orang yang selalu mengatakan kepadaku untuk bersabar, apa kau pikir aku tidak berusaha untuk bersabar? dengar! jika ini memang takdirku, tapi apakah aku tidak bisa melawan takdir ini?" ucapnya melepas genggaman tangan pria itu dan mengusap air mata yang terjatuh membasahi pipinya.
"Apakah ada manusia yang hidup dengan baik melalui jalan yang sudah dia rencanakan? kau mungkin tau, bahkan sesuatu yang sudah di rencanakan dengan baik bisa hancur seketika jika itu bukan garis takdirnya."
"Aku tanya, apakah kita sebagai manusia tidak bisa melawan takdir?" tanyanya yang belum merasa puas.
"Bisa, dengan memaksakan rencanamu dan melawan takdir. Tapi, apa aku siap menghadapi semuanya? kau memang mempunyai kenyataan, tetapi Alloh mempunyai kepastian." jawabnya singkat membuat wanita itu terdiam membeku.
"Dengar! dunia ini nyata. Hidup tidak selau adil untuk semua orang, dan kamu bukan salah satunya. Sudah, kita akhiri pembicaraan ini." mencium keningnya dan beranjak membersihkan diri. Perlakuan lembut pria itu memberinya ketenangan di saat perasaan yang di penuhi dengan amarah. Kini dia bisa melihat, bukan hanya perlakuannya tetapi mungkin dia adalah seorang ayah yang baik untuk anaknya.
"Kita punya kenyataan dan Alloh punya kepastian." gumamnya mengulangi perkataan pria itu.
Dada yang terasa sesak kini perlahan membaik, jika bukan pria itu mungkin Ira tidak akan mengatakan semuanya.
"Kau akan segera baik-baik saja." ucapnya sambil menyulut sebatang roko.
Dia hanya membalasnya dengan tersenyum. Berulangkali menghela nafas panjang, agar perasaan kembali membaik. Jika tidak, rasa sakit ini akan berlarut-larut dan pikiran tentang kehidupan yang pahit akan menghancurkan segalanya. Lagipula apa yang pria itu katakan memang benar, keputusan yang akan dia ambil sekarang tidak menjamin kehidupan akan lebih baik kedepannya.
**
Sebelum dia menaiki mobil yang terparkir di bawah pohon mangga, kedua matanya sontak melotot tertuju pada seorang pria paruh baya yang berdiri di depan sebuah kamar menatapnya.
Wanita itu terkujur kaku menatap pria yang tidak lain guru BK di SMP-nya dulu. Dia membeku tidak tau harus apa, jika dia yang melihatnya mungkin bisa saja menghindar. Tetapi kali ini pria itu yang menatapnya lebih dulu.
"Pak Danu?" dia tersadar langsung masuk ke dalam mobil.
"Ngapain dia si sini?" ucapnya panik sambil melihat kembali ke arah dia berdiri tetapi pria itu sudah tidak ada di sana.
"Huhhh,, bentar bentar. Kenapa harus sepanik ini? enggak, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Dasar guru sialan!" ucapnya berulang kali melihat ke arah tadi.
"Tok tok!!" pria itu kembali dengan mengetuk kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya duduk.
"Gak papa, bisa jalan sekarang?"
Tanpa menjawab dia menghidupkan mesin mobil dan perlahan melaju meninggalkan tempat itu.
Ira yang masih merasa tidak nyaman berulang kali melihat kebelakang dengan penasaran, apakah benar pria itu atau bukan? tetapi di dalam hatinya dia merasa yakin bahwa benar pria itu guru SMP-nya.
"Kenapa? terlihat panik." tanyanya.
"Sepertinya aku melihat seseorang yang sangat familiar." jawabnya terdiam menatap lurus ke depan.
"Jika kau melihat seseorang yang kau kenal berusahalah untuk tenang, jika panik kau akan kehilangan akal." ucapnya.
"Iya aku akan berusaha." jawaban singkat yang sebenarnya wanita itu tidak mendengar jelas apa yang dia katakan. Pikirannya masih tertinggal di sana mengingat kembali hubungan antara dia dengan guru pria itu.
"Tidak semua hal harus gue ingat. Sudah, dia hanya akan menghancurkan segalanya." gumamnya.
"Kenapa?" tanya pria itu sedikit mendengar perkataan Ira.
"Enggak."
"Mau di anterin kemana sekarang?"
"Ke arah sekolah, nanti di jemput sama temen." ucapnya
Mereka terdiam beberapa saat. Perasaan Ira yang sudah merasa lebih baik, sekarang menjadi resah. Lagi dan lagi, tidak ada sedikitpun ketenangan dalam hidupnya.
Jika bukan sikapnya yang tidak peduli, banyak sekali hal yang menggangu pikiran dan menjadi tekanan bantin untuknya. Mungkin beberapa saat dia bisa melupakan, tetapi jika suatu ketika teringat kembali itu akan membuka luka yang sedang berusaha untuk tidak di rasakan. Karena jika mengobati luka, itu sebuah ketidakmungkinan.
*****
__ADS_1