
.
.
.
"Mungkin benar, jika bukan sebuah keberuntungan takdir tetaplah takdir. Seberusaha apapun kita mati-matian untuk kehidupan yang lebih baik tetapi Alloh sudah menuliskan takdir itu intuk kita, semua usaha itu sia-sia," ucap Dina memecah keheningan dia antara keduanya.
"Mbak? jangan bilang kalo selama ini lo gak berhasil pergi, dan justru bekerja di tempat lain?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Gue memang berhasil Ra,,, gue berhasil keluar dari kehidupan kelam ini, tapi bukan berarti penderitaan gue berakhir"
Ira menatapnya, dia menunggu apa yang akan wanita itu katakan.
"Sebelumnya gue bisa menilai bahwa pria yang saat ini bersama dengan gue bukan lelaki yang baik. Tapi karena keyakinan cinta yang gue miliki dan rasa percaya di iringi dengan harapan, gue berharap dia berubah. Sehingga gue memutuskan untuk pergi bersamanya. Sampai akhirnya, berulangkali dia melakukan kesalahan, tetapi anehnya dia masih seorang pria sempurna di mata gue. Dan sekarang, manusiawi bukan jika gue merasa lelah dan putus asa?" ucapnya membuat Ira berpikir jauh dan tidak mengerti jelas maksud dari semua perkataannya.
"Mbak? tidak salah bukan jika wanita seperti kita berharap pada cinta? tidak salah bukan jika kita meyakini pria yang mau menerima kita?" tanya Ira dengan penasaran, dia mengharapkan jawaban yang sesuai dengan ekspektasinya.
"Mungkin, untuk mereka yang beruntung," jawabnya membuat tubuh Ira merasa lemas.
"Dia tidak memperlakukan lo dengan kasar kan mbak?" pertanyaan yang membuat wanita itu mengangkat dagunya menatap langit.
"Dia tidak pernah melukai fisik dan memperlakukan gue dengan baik. Tetapi, seringkali dia melukai hati dan batin gue. Haha bahkan sampai saat ini gue merasa bimbang, sebenarnya ini sebuah ujian atau karma? apakah benar jika wanita seperti gue memang tidak layak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik? atau kehidupan yang bahagia itu benar-benar sebuah angan yang tidak akan pernah bisa di gapai?"
"Sama seperti lo, gue tidak bisa apa-apa selain dari berharap akan kehidupan yang lebih baik. Tapi mungkin, sebanyak apapun dosa yang telah kita perbuat pasti akan ada pengampunan. Orang bilang: Surga itu bukan hanya tempat untuk orang beriman, tetapi tempat terakhir bagi semua umat, termasuk kita. Sama seperti di kehidupan nyata, akhir dari semua kesakitan pasti akan ada kebahagiaan"
"Lo yakin Ra?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mungkin," jawabnya memalingkan pandangan, yang sebenarnya dia sendiri merasa ragu dan masih berharap akan kehidupan yang lebih baik suatu saat nanti.
(....)
*
"Jika mau, lo bisa mengatakan semuanya sama gue mbak. Mungkin gue tidak bisa menemani di saat lo melaluinya, tetapi setidaknya gue mengerti dan mendengar semua keluh kesahnya," ucap Ira di keheningan.
"Sekarang malam, dan ini pantai. Jika bukan karena rasa sakit yang sudah tidak lagi bisa gue tahan, mungkin gue masih terdiam di rumah"
Tanpa menjawab Ira menatapnya, dia membiarkan wanita itu berbicara.
"Kehidupan yang sudah gue rencanakan bahkan hancur berantakan, gue terbuai dengan rasa cinta dan keyakinan sehingga lupa bahwa manusia bisa berubah kapan saja," menghela nafas panjang, "Seperti dia, secara tiba-tiba badai datang menghantam ketika perut gue semakin membuncit. Dia berubah, dia yang selalu memperlakukan gue dengan baik telah sepenuhnya berubah. Dia bukan lagi pria yang gue kenal,,, seringkali gue mendapati dia berhubungan dengan wanita lain, sampai akhirnya gue benar-benar melihat dengan mata kepala gue sendiri"
"Sakit Ra, benar-benar sakit. Mungkin karena rasa sayang dan demi bayi yang ada dalam kandungan, gue berusaha untuk menahan semuanya. Gue bahkan memaafkan dia yang sudah keterlaluan, dia berhubungan di rumah tempat gue tinggal, di kamar tempat gue tidur, dia melakukannya ketika gue sedang pulang ke rumah ibu. Sakit, tapi sialnya kehidupan, ada luka yang bahkan menurut gue itu adalah kesakitan dari semua rasa sakit yang pernah gue rasain," dengan suara berat wanita hamil itu menahan tangisnya.
"Dari semua rasa sakit yang gue terima, gue berusaha untuk memaafkan dan yakin dia akan berubah. Jika bukan karena gue, setidaknya untuk bayi yang ada dalam kandungan. Tetapi bahkan, gue benar-benar tidak menyangka,,, bahwa pria seperti dia kembali mengungkit tentang darimana gue berasal, dan wanita seperti apa gue sebelumnya. Haha brengsek bukan?" ucapnya dengan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Degg
Tubuh Ira lemas seketika, kenyataan ini yang tidak pernah dia harapkan.
"Ra? terkadang, ada baiknya jika pasangan lo nanti tidak perlu mengetahui bagaimana masalalu yang telah lo jalani. Entah itu demi sebuah penyelesaian atau penyembuhan luka, tapi tidak semua orang harus tau tentang masalalu lo. Meskipun itu tidak akan membuat lo merasa nyaman, tetapi hiduplah sebagai wanita normal lainnya. Berpura-puralah bahwa lo wanita yang baik dengan banyak kelebihan di dalamnya, bahkan mereka yang mengatakan bisa menerima baik buruknya kita bisa berubah pikiran dan meninggalkan kita kapan saja. Benar apa yang selalu lo bilang: Tidak ada yang benar-benar tulus di dunia ini, terkadang di balik sebuah kebaikan pasti ada imbalannya"
"Mungkin kita bisa melawan takdir, dengan memaksakan apa yang kita inginkan meskipun harus merasakan banyak kesakitan"
"Takdir seperti apa yang akan lo paksakan?" tanya Dina membuat Ira terdiam.
__ADS_1
Lagi dan lagi, kedua wanita itu terdiam. Dalam pikirnya Ira tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya menjadi Dina. Bagaimana mungkin ada seorang suami yang menyakiti istrinya ketika dia sedang mengandung? apakah dia tidak menyadari bahwa secara langsung dia menyakiti anaknya?
**
Setelah saling menenangkan diri, Dina beranjak dari duduknya. Dia berjalan beberapa langkah sambil mengusap-usap perutnya lalu kembali lagi.
"Mbak, boleh gue tau lo tinggal dimana? boleh gak kalo gue main? bukan bertemu dengan lo, tapi dengan bayi laki-laki yang ada di dalam perut," ucap Ira beranjak menghampirinya.
"Gue ngontrak, lebih tepatnya di sana," menunjuk ke sebuah gang kecil di samping restoran tempat Ayu bekerja.
"Oh,, gue tau. Bisa kan kapan-kapan main ke sana?"
"Datang aja, gue tinggal di kamar no 4," dia melihat jam di ponselnya, "Gue pulang duluan iya? kasihan ini anak kedinginan"
"Perlu gue anterin gak?"
"Enggak, tuh anak-anak yang nongkrong di depan resto temennya suami"
"Mereka sengaja diem di situ?"
"Iya, suami pulang kerjanya malem. Tadi gue yang minta mereka buat anter ke sini, menenangkan diri"
"Sehat-sehat iya baby, onty tunggu," ucap Ira sambil mengusap-usap perutnya.
"Duluan onty," Dina mencubit pipinya dan melangkah pergi.
Ira hanya tersenyum menatap punggung wanita kurus yang sekarang tengah hamil itu. Dia kembali duduk, perasaannya mulai gelisah, bertemu dengan Dina adalah keinginannya sejak lama, tetapi dengannya pula dia mengingat semua mimpi buruk yang telah di alaminya.
__ADS_1
*****