Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 80


__ADS_3

Wanita cantik yang sudah memakai gaun merah dengan bagian dada terbuka dan bentuk tubuh yang indah membuat siapapun akan terpesona ketika melihatnya.


sret sret sret


Semprotan parfum di seluruh tubuh dengan wangi bunga mawar semakin mempercantik dirinya, rambut yang sudah dia catok di biarkan terurai untuk menutupi bagian punggungnya yang terbuka.


"Huhh," dia menghela nafas panjang, ada perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Apakah sesuatu akan terjadi? apapun itu semoga tidak menyakiti fisik agar tidak terlihat jelas penderitanya. Dalam pikir Ira meyakinkan dirinya.


Dari luar sudah terdengar suara musik di putar, keramaian dan mungkin kegaduhan akan segera menemaninya malam ini.


Dia berjalan mendekati jendela kamar, terlihat para wanita yang bekerja di sebrang sudah duduk di depan tempat mereka, motor dan mobil yang mulai berdatangan membuat jantungnya berdegup kencang, semoga semuanya akan berjalan lancar dan baik-baik saja, hatinya menaruh harapan pada yang maha kuasa.


tok tok tok


Seseorang masuk ke kamar, Ira menoleh mendapati Dina yang berdiri memegang gagang pintu. Cantik, satu kata dalam hatinya memandang Dina yang memakai dres hitam polos, rambut hitam di ikat dengan rapi membuat bagian dadanya yang terbuka terlihat sangat seksi.


"Kenapa? gue cantik? emang!" ucapnya menutup pintu berjalan ke arah cermin menatap dirinya sendiri.


"Cantik, tapi mungkin kali ini jadi yang kedua," ucap Ira sambil menutup gorden jendela.


"Hahaha boleh"


"Kak? ada yang lebih muda dari gue gak di sini?" Ira duduk di samping ranjang.


"Sebenarnya ada, mungkin mereka lebih muda dari lo, tapi wanita itu belum kasih buat ketemu sama gue"


Ira terdiam mendengar jawaban Dina, dia hanya berpikir mungkin Mama Tati membatasi tamu dan pergaulan mereka di sini untuk merapihkan semuanya, lagipula dia mengurus ini sendirian dan mengandalkan Heru sebagai pesuruhnya.


"Kenapa? lo khawatir kenal sama mereka atau bisa jadi salah satu darinya satu sekolah sama lo," ucap Dina menatap Ira dengan senyum mengerinyai.


"Sama-sama cari duit diem aja, lagipula bukan cuma dia, gue juga tau apa yang dia lakuin"


"Pinter juga," jawabnya sambil berjalan menuju ke arah pintu. Dia menoleh, "Turun sekarang gak? apa nungguin di jemput sama dia?" tanya Dina.


"Boleh sekarang," Ira mengikutinya keluar kamar, berjalan melewati kamar-kamar yang di penuhi wanita, dari mereka ada yang masih berdandan dan saling berbincang.


Bukan ruang tamu yang Dina tuju, dia mengajak Ira menuju balkon depan untuk bersantai sejenak sebelum bekerja.

__ADS_1


"Biarin orang-orang keluar masuk dan mereka melayaninya lebih dulu, biarin juga mama Tati repot nyariin lo sama gue karena kita yang paling di butuhin sama dia," ucap Dina sambil menatap ke sekeliling.


"Lo gak takut dia marah?"


"Bisa semarah apa dia sama gue? rugi untungnya dia tergantung kita yang kerja di sini"


Ira menyulut sebatang rokok, sesekali dia melihat handphonenya untuk melihat pesan atau panggilan, tetapi sampai saat ini tidak ada siapapun yang menanyai kabarnya. Bahkan Suleng yang bertanggungjawab untuk keberadaannya di sini sama sekali tidak menemui dan menghubunginya, dasar bajingan! sebutan yang pantas untuk pria seperti itu sekarang.


"Gimana awalnya?" tanya Dina menatapnya.


"Awalnya apa?" Ira bertanya balik dengan keheranan. mengerutkan keningnya.


"Bukan hanya keluar, tidak sembarang orang bisa masuk ke sini. Sekalipun lo mau kerja"


"Bentar, gue gak bisa keluar atas keinginan diri sendiri?"


"Lo pikir gue nyaman di sini? mungkin lebih baik menju*l diri secara pribadi dengan menjadi simpanan di bandingkan dengan ini"


Ira terdiam, feelingnya tidak salah. Dia benar-benar terjebak di sini.


"Seharusnya ini malam terakhir gue di sini," jawab Ira tidak memperhatikan yang sedang Dina lihat, dia hanya melihat punggung wanita itu.


"Jangan berharap!" Dina menatapnya dengan senyum mengerinyai, dia berjalan meninggalkan Ira menuju ke ruang tamu.


"Gak nunggu Mama Tati nyariin?" tanya Ira mengikutinya dari belakang.


"Sekarang," jawab Dina, langkah mereka terhenti mendapati Heru yang berdiri menatap keduanya.


"Oww," sepertinya Dina sudah mengetahui tentang segalanya, termasuk bagaimana sikap dan keinginan Mama Tati, pikir Ira.


"Turun, dia nunggu di bawah," ucap Heru berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.


Dina menoleh, dia tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya.


*


Dari kejauhan, samar-samar para pria muda yang tertutup oleh banyak asap rokok menghalangi ketampanannya. Untuk kedua kalinya Ira beruntung akan menjumpai pria nakal yang berusia tidak terlalu jauh darinya.

__ADS_1


"Ambil keuntungan, biarkan mereka meminta kita lebih dulu sebelum wanita itu memberikan kita kepada pria pilihannya," ucap Dina sambil menatap ke sekeliling mencari keberadaan mama Tati.


"Hallo," ucap Dina menyapa dan duduk di sebelah seorang pria.


"Hai, duduk," jawab seorang pria berkulit sawo matang yang memiliki alis tebal dan hidung mancung sambil tersenyum pada Ira.


Dina tersenyum sambil mengisyaratkan Ira untuk menoleh ke belakang, Mama Tati dan Heru berdiri menatap mereka. Dari arah belakangnya tiba dua orang pria paruh baya yang di sambut oleh Mama Tati, nampaknya orang-orang itu yang sudah di persiapkan untuk menemui Ira dan Dina.


Tatapan tajam yang di berikan oleh Mama Tati membuat Ira merasa tidak nyaman, bagaimana jika dia melakukan hal yang tidak akan di sukai olehnya nanti? entah itu dari Mama Tati atau melalui oranglain dengan sikap tidak baiknya.


Tapi saat sebelum pergi membawa kedua tamunya, mama Tati tersenyum mengerinyai yang tidak di mengerti apa maksud dari senyumannya itu.


"Bersenang-senanglah sebelum penderita datang," bisik Dina pada Ira, dia menatapnya dan pria yang duduk di sampingnya itu memulai obrolan mereka.


"Ada apa?"


"Enggak, biasa urusan wanita"


Setelah banyaknya perbincangan dan beberapa minuman sudah habis mereka tegak, pria itu mengajak Ira untuk segera naik ke kamarnya, tanpa mengetahui berapa uang yang akan dia bayar tetapi Dina meng-iyakan.


"Beneran kak?" tanya Ira pelan sambil terheran-heran.


"Udah naik aja, mereka beruang ko," jawab Dina dengan senyuman bahagia yang di perlihatkan.


Tanpa persetujuan dari Mama Tati lebih dulu, Ira berjalan dengan pria itu menuju ke kamarnya.


"Minum obat gak?" tanya pria itu duduk di atas ranjang sambil memeluk pinggangnya.


"Enggak," jawab Ira berbohong, sebenarnya dia memakai suntik tetapi kadang para pria tidak bisa di percaya dan menggunakan kesempatan itu untuk melakukan apa yang mereka inginkan.


Pria itu hanya mengangguk lalu membuka baju kaosnya, "Langsung aja iya?" tanyanya.


"Tapi bisa aman kan?" Ira balik bertanya, dia sendiripun membuka gaunnya dengan perlahan-lahan.


"Bisa," jawab pria itu menarik tubuh Ira ke atas ranjang.


*****

__ADS_1


__ADS_2