
.
.
.
"Haaah!" teriak Ira yang baru keluar dari kamar mandi menyampaki seorang pria berumur sekitar 30tahunan duduk di sofa samping ranjangnya.
"Kau sudah selesai?" tanyanya tersenyum miring.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" ketus Ira menatapnya dengan tajam.
Dia beranjak dari duduk menyudutkan Ira pada dinding, "Jangan terlalu sombong, saya sudah membayarmu," tersenyum tipis sambil mengusap pipi basahnya yang belum di seka handuk.
"Apakah harus seperti ini? kenapa Mama Tati yang menentukan? dan tanpa meminta persetujuan?" Ira menelan salivanya, dia menatap kedua bola mata pria itu yang sedang menatapnya.
"Persiapkan dirimu," ucapnya meninggalkan kamar.
"Hahh, sialan!" dengan cepat Ira memakai baju, menyemprotkan parfum, memakai lipstik dan menyisir rambutnya.
Wanita itu melangkah keluar kamar, berjalan menuju ke ruang tamu utama untuk menemui Mama Tati. Semakin malam keadaan tidak karuan, banyak dari mereka yang sudah mabuk. Suara musik yang di putar keras membuat tawa dan obrolan dari setiap tempat tidak terdengar.
Begitu pula Ira mencari pria yang menemuinya tadi, kemana dia sekarang? kedua matanya mencari Mama Tati ataupun pria itu, dia melihat ke lantai bawah tetapi tidak menemukannya, sampai seorang pria menempuk punggungnya dari belakang.
"Kau mencari seseorang?"
Dia menoleh, ''Apa?" menatap pria yang sedari tadi di carinya.
"Kau mencariku?" tanyanya dengan senyuman mengerinyai dimana Ira sendiri tidak bisa membedakan entah dia tersenyum menggoda atau sebuah hinaan.
"Aku mencari Mama Tati"
"Dia pergi, kau sudah selesai? bisa denganku sekarang?" pertanyaan yang membuat darah berdesir kencang, apakah harus dengan jelas mengatakannya? tidak bisakah dengan pertanyaan yang lain? seolah memperjelas bahwa dia sedang menunggu gilirannya.
Ira membuang mukanya berjalan meninggalkan pria itu, dia kembali ke kamar mengambil hp untuk menghubungi Mama Tati.
"Kemana kau pergi?" kepalan tangan yang menggenggamnya kuat membuat langkah terhenti.
__ADS_1
"Setidaknya aku harus menghubungi Mama Tati, bisa tolong lepaskan?"
Bukan melepas genggamannya, tetapi pria itu justru menariknya sehingga kini satu tangannya memeluk erat pinggang untuk mendekat.
"Sudah ku katakan, jangan bersikap angkuh. Aku sudah membayarmu, kau hanya perlu mendengar dan menuruti perkataanku," ucapnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Tapi dia memutuskan tanpa persetujuan dariku"
"Apakah dia perlu meminta persetujuanmu? bukankah kau bekerja? tidak ada yang kau butuhkan di sini selain dari uang"
"Bisa tolong lepaskan? kau menyakitiku, silahkan meminta uangmu kembali, aku menolakmu," ucap Ira yang berusaha keras melepaskan pelukan pria itu.
Dug
Dia mendorong tubuh Ira pada dinding.
"Jangan bersikap angkuh, uang bisa membeli harga dirimu disini," dia menarik tangan Ira menuju kamarnya.
Rasa takut kini muncul di benaknya, belum pernah dia bertemu dengan seorang pria yang seperti ini sebelumnya, apakah ini memang sudah waktunya? merasakan neraka yang sesungguhnya?
Pintu tertutup, pria itu membuka gorden jendela membiarkannya terbuka.
"Apa yang kau lakukan?" Ira menutupnya kembali tetapi di tahan olehnya.
"Dengar! bersikap baiklah, turuti semua kemauanku, karena aku tidak ingin merusak tubuhmu yang indah itu," ucapan dan senyuman yang pria itu beri membuat jantungnya berdegup semakin kencang, apakah dia waras? sikapnya membuat Ira merasa takut? nalurinya berkata akan ada hal buruk yang menimpanya.
Ira menelan salivanya dengan susah payah, matanya menatap ke arah luar jendela, di bawah terlihat banyak orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi jika mereka melakukan hubungan mungkin beberapa dari orang di luar akan bisa melihatnya dengan jelas, apakah ini yang pira itu inginkan? hubungan yang menjadi bahan tontonan orang lain? mungkin benar, dia pria gila yang sudah tak waras.
"Kita bisa melakukannya sekarang?" pertanyaan yang membuat Ira merinding mendengarnya.
"Seperti ini? kau akan membiarkan mereka melihatnya? apa kau waras?"
"Mereka sibuk dengan dunianya, tidak akan ada yang memperhatikan," ucapnya perlahan mendekati Ira yang berdiri di dekat jendela.
"Tapi tetap saja, aku tak ingin," mendorong tubuh pria itu yang sudah berdiri di hadapannya, Ira menghindar tetapi justru tangannya kembali di tarik dengan keras dan dia mendorong tubuhnya ke ranjang lalu menindihnya.
"Kau tidak mendengarku?" tanyanya dengan tatapan tajam, seketika jantung terasa berhenti berdetak, baru kali ini Ira merasa ketakutan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? tidak ada pilihan selain menuruti apa yang pria itu mau agar dia segera terbebas dari cengkramannya.
__ADS_1
"Kita lakukan sekarang," ucapan terpaksa dengan senyuman masam yang dia berikan.
Awal hubungan yang biasa semakin membuat rasa kesalnya menambah karena kini pria itu ingin melakukannya di depan cermin, dengan jelas dia mengatakan ingin melakukan hubungan sambil melihat tubuh Ira. Apa untungnya?
"Ini memalukan," ucap Ira membuat pria itu menatapnya dengan mengeringai.
"Kau sudahku bayar dengan sejumlah uang bernilai yang belum pernah di terima oleh wanita manapun di sini, seharusnya kau merasa beruntung"
Beruntung? apa yang membuatnya harus merasa seperti itu? uang dengan nominal tinggi mungkin keinginan semua wanita sepertinya, tapi tidak ada yang mereka inginkan selain dari perlakuan baik dari tamunya.
Pasrah, mungkin hanya itu yang bisa Ira lakukan saat ini. Dalam diamnya ada amarah yang membara, rasa kecewa begitu dalam. Tidak pernah terbayangkan tamu memperlakukan dengan buruk terhadap wanita sepertinya yang biasa terdengar dari cerita oranglain kali ini Ira sendiri yang mengalaminya, entah seseorang sudah mengutuknya atau memang tuhan yang sedang memberi sebuah kenyataan dari semua hal mudah yang selama dia dapatkan.
Bayang-bayang dari jendela kamar yang samar sudah membuat Ira merasa gila ketika melihatnya, apalagi sekarang bayangannya jelas terlihat di depan cermin, bukan hanya pria itu, Ira merasa dirinya sudah tidak waras. Tidak bisa di bohongi dan berpura-pura menikmatinya, ketidaknyamanan ini membuat Ira tidak bisa mengendalikan perasaannya, yang ada hanya amarah dan kekecewaan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Dengan wajah yang menunjukkan sebuah kepuasan pria itu pergi meninggalkan kamar, Ira yang masih duduk di sofa terdiam dalam lamunannya.
Tok tok tok
"Hmmmh siapa lagi sekarang?" menghela nafas panjang dia beranjak dari duduk mengambil handuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang.
"Boleh gue masuk?" ucap seorang perempuan di balik pintu.
"Masuk," jawabnya sambil menyisir rambut yang berantakan.
Dina membuka pintu kamarnya, dia masuk dan menutupnya kembali. Dia tersenyum menatap Ira, "Berapa orang?" tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Gila," jawab Ira ketus meninggalkannya ke kamar mandi.
"Mungkin ini pertanyaan yang menyakitkan karena sekaligus sebuah penghinaan, tapi disini kita tidak harus berpura-pura," ucapnya membuat langkah Ira terhenti.
"Tapi ini gila, baru aja gue mandi tau-tau udah ada manusia, mana tanpa persetujuan pula. Bentar!" jawabnya masuk ke kamar mandi.
Dina hanya terdiam, dia berbaring di atas sofa sambil bermain ponsel.
****
__ADS_1