Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 74


__ADS_3

.


.


.


Jam menunjukkan pukul 23:12 malam. Bumi masih di guyur dengan derasnya hujan, satu persatu motor yang meneduh berhenti di depan ruko membuat wanita itu tidak sendirian berada di sana.


Dia duduk bermain headphone sambil menunggu kedatangan Iki yang akan menjemputnya. Meskipun kejadian tadi sudah berlalu, tetapi rasa malu dan tubuh yang terasa nyeri, terutama sikutnya yang lecet berdarah membuat dia tertunduk tanpa menghiraukan mereka yang datang meneduh.


"Loh? Ira?" ucap seorang pria dari arah samping, Ira mendongkakan kepalanya menatap ke arah suara.


"Rezki? di sini?"


Pria itu duduk di sampingnya, "Neduh, aku pikir siapa? dari tadi nunduk sibuk main hp"


"Lagi nunggu Iki jemput, kamu dari atau mau kemana?"


"Baru pulang dari rumah, mau ke kosan," jawabnya sambil menyulut sebatang roko.


Ira hanya mengangguk, dia menatap ke arah jalanan yang sepi. Sebenarnya menunggu adalah hal yang paling dia benci, tetapi mungkin Iki sedang menenduh di suatu tempat sekarang, tidak mungkin dia mau menerobos hujan hanya untuk menjemput Ira.


Dari sudut matanya terlihat Rezki yang sedang menatapnya, entah apa yang pria itu pikirkan tentang Ira. Keduanya merasa canggung untuk memulai sebuah obrolan, hingga Rezki menyadari luka pada tangan Ira.


"Kenapa dengan sikutmu?"


"Jatuh, tapi gak papa ko"


Ira melihat pria itu beranjak dari duduk menuju ke motornya, dia membuat bagasi dan membawa kantong plastik berwarna hitam.


"Berikan tanganmu," ucapnya dengan tangan meminta.


Awalnya dia merasa ragu karena dia bahkan tidak terlalu mengenal Rezki, dia baru 1 hari masuk ke sekolah yang baru dan hanya tau namanya. Tetapi pria itu menarik tangan Ira, membuka botol air putih dan perlahan membersihkannya dengan kapas.


"Cuma ada kapas sama obat merah, tapi setidaknya ini lebih baik"


"Aww, pelan-pelan Ki," Ira meringis karena perih.


"Ini juga pelan, lain kali harus lebih hati-hati," ucapnya membuat jantung Ira berdegup kencang. Dia menatap seorang pria dengan kulit hitam manis dan hidung mancung sedang menggenggam tangan Ira.


Seringkali dia bersentuhan dengan beberapa pria, tetapi kali ini rasanya berbeda.

__ADS_1


"Tahan iya? pasti perih," ucapnya meneteskan obat merah pada lukanya.


"Sshhh,, perih"


"Bentar! huuh huuh," seperti dalam film romantis, pria itu meniup pelan lukanya.


Seketika Ira tersenyum senang, hatinya berbunga-bunga. Perhatian yang pria ini beri membuat dirinya penasaran yang mungkin akan berujung dengan adanya perasaan.


"Perih tapi tahan sampe kering iya?" ucapnya menatap Ira yang sedari tadi menatap pria itu.


Ira mengedipkan matanya beberapa kali, salah tingkah ketika Rezki menatapnya. Dia tersenyum, "Terimakasih"


"Tuh," ucapnya melihat Iki datang dengan memakai jas hujan.


**


Sampai di rumah, Ira membuka pintu tanpa rasa takut akan pandangan dan pertanyaan ibu karena pulang larut malam. Mungkin sebuah keberuntungan untuknya saat itu ibu tidak ada di rumah, dia sedang pergi keluar kota mengunjungi kakeknya Tia.


Ira mengganti pakaiannya dan berbaring di kasur, dia tidak peduli dengan wajahnya yang belum di bersihkan, rasa dingin dari sisa-sisa hujan dan angin malam membuat tubuhnya merasa nyeri dan pegal. Dia bersembunyi di dalam selimut dengan pikiran yang bukan lagi tertuju tentang masalahnya, tetapi dengan perhatian yang Rezki berikan untuknya.


Terekam jelas dalam rongga kepalanya saat pria itu menarik tangan dan membersihkan lukanya. Memang dia pria yang paling berbeda dengan yang lainnya, ketika Ira pertama masuk dan memperkenalkan diri semua orang bersorak senang terutama para pria, tetapi dia diam menatap membuat pandangan Ira hanya tertuju padanya.


Duut Duut


"Nomor baru? siapa?" dia terdiam menatap layar hp, teringat dengan Mama Tati dan menjawabnya.


"Hallo?"


"Hai sayang? sudah di rumah?" tanya seorang wanita yang nampaknya sedang berada di tengah-tengah keramaian karena suara gaduh tak karuan.


"Baru sampai, ini Mama Tati?"


"Iya, ini saya. Selamat beristirahat dan mungkin saya akan menghubungimu lagi besok"


"Iya," ucap Ira terdiam heran karena wanita itu sudah mengakhiri panggilannya.


"Siapa dia?" sekarang banyak sekali pertanyaan yang wanita itu simpan, mungkin dia akan menanyakan ini nanti atau mengetahui tanpa bertanya.


***


Hari sabtu menjelang Magrib, Ira yang masih tidur di bangunkan oleh panggilan masuk yang sedari tadi menelponnya.

__ADS_1


"Hallo?" jawabnya tanpa melihat dari siapa panggilan itu.


"Hallo sayang? kamu sekarang dimana? apakah memiliki waktu luang?" suara nyaring seorang perempuan dari dalam telepon.


Ira langsung beranjak dari tidurnya melihat layar hpnya, "Mama Tati?"


"Iya mam? aku di rumah"


"Bisa bertemu? atau saya yang menunggumu di tempat?"


Ira terdiam beberapa saat, "Bertemu? untuk apa?" dalam pikirnya.


"Boleh Mam, jam berapa dan dimana?"


"Terserah, nanti mama kirim lokasinya"


"Iya," ucapnya mengakhiri panggilan.


"Apa yang akan dia bicarakan dan dia mau? toh dia udah nolong gue dan tidak ada sebuah kebaikan tanpa imbalan di dunia ini," gumamnya merasa bahwa wanita itu bukan orang biasa. Ira beranjak bangun dan bergegas mandi.


*


Dengan pakaian sedikit terbuka dan dandanan layaknya wanita dewasa, Ira berangkat sendirian menggunakan motornya.


Saat itu dia masih dengan diri yang tertutup, sehingga pergi dari rumah tanpa pamit kepada siapapun. Tidak peduli apa yang akan neneknya atau para tetangga pikiran, lagipula tidak akan ada orang yang menanyainya kapan dia pulang dan dengan siapa di pergi?


Ira menelusuri lokasi yang telah di kirim oleh Mama Tati, pertama kali dia pergi ke daerah utara. Jalan dan tempat yang nampak asing membuatnya kebingungan, tidak seorangpun yang dia kenali dan tidak tau nama kampung yang dia lewati.


Awalnya Ira berpikir mungkin wanita ini seorang istri dari pengusaha yang tinggal di pelosok kampung, karena jika dia wanita biasa tidak mungkin.


"Apa puter balik aja?" gumamnya ketika menelusuri jalanan sepi di belakang ruko.


Jauh mengikuti jalan, tidak ada rumah, kanan kiri di penuhi oleh pepohonan Albasia dan kelapa menjulang tinggi. Sampai akhirnya Ira bertemu sebuah kampung yang ternyata ramai penduduk.


Dia terus melaju melewati rumah-rumah itu dan melambat laju motornya ketika menemukan pertigaan, belok ke kanan kembali menemukan hutan.


"Gak salah nih?" dalam pikir, hingga akhirnya sampai di jalan buntu yang terdapat beberapa rumah. Ada dari mereka yang sedang duduk di teras menatap Ira dengan wajah datar, dari kejauhan terlihat sebuah rumah mewah 2 lantai yang paling menonjol di antara rumah lainnya, warna yang di maksud oleh Mama Tati membuat Ira merasa percaya tak percaya.


"Apakah benar dia istri dari seorang pengusaha? rasanya hmmmm,," gumamnya merasa heran dan berhenti di depan rumah, sejenak terdiam menatap ke sekeliling sambil menghubungi mama Tati.


Seperti bukan rumah dari warga biasa, "Kenapa sesepi ini?" ucapnya menoleh ke arah belakang yang dimana ada sebuah mobil Xenia Putih melewatinya dan masuk ke dalam rumah mewah itu, seorang pria berumur sekitar 27tahunan membuka gerbang dan menutupnya kembali. Dia terdiam menatap Ira lalu menelpon seseorang seolah sedang memberitahukan tentang kehadirannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2