Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 50


__ADS_3

.


.


.


Ramainya sekolah dan senyuman dari orang-orang yang menyapa tidak membuat perasaan wanita itu lebih baik, seolah dia hanya fokus terhadap pikirannya yang kacau.


Meskipun kelas tidak belajar hari ini, tetapi pikiran dan kepalanya terasa sangat pusing. Sehingga membuat wanita itu malas untuk berbicara dengan siapapun.


Dia tidak mampir bergabung dengan yang lain, hanya berjalan melewatinya. "Ra? kemana?" teriak Anggi.


Ira hanya menoleh dan tersenyum. Lalu masuk ke kelas dan duduk di lantai, terdiam bersandar pada dinding.


"Nangis? kenapa lo?" tanya Iki menghampirinya.


"Enggak, ada masalah!"


"Enggak tapi ada masalah, gimana sih lo?" duduk di sampingnya.


"Gak tau ah pengen meninggal rasanya." bersandar pada pundak Iki menutup matanya.


"Sama Ari?" tanya Iki lagi.


"Masalah rumah ki, rasanya ingin pergi ke suatu tempat dimana bisa mendapatkan sebuah ketenangan. Dimana iya?"


"Neraka enak kali iya?"


"Anji*g!"


"Hahaha,, bangun lo ada Ari tuh."


Dari kejauhan Iki melihat Ari datang menghampiri.


"Bodo amat!" jawab Ira yang sedari tadi bersandar sambil menutup matanya.


"Bu?" sapa Ari.


Membuka matanya, "Ada apa Ri?"


"Ki?" Ari mengisyaratkan Iki untuk pergi.


"Gue emang mau ke kantin sih." beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kelas.


"Kenapa?" tanya Ari duduk di sampingnya.


"Butuh sandaran, pelukan, ciuman, kasih sayang yang amat mendalam pokonya." jawab Ira tersenyum menggodanya.


"Haha itu maunya aku,, kenapa? abis nangis iya?"


"Heumm,, adalah masalah di ruman dan aku merasa mungkin setelah pulang nanti akan ada pertengkaran."


"Tentang apa?"


Pertanyaan dengan nada halus itu justru membuat jantung Ira berdegup kencang. Bukannya lebih baik, kali ini dia justru merasa sangat kacau.


"Ri?"


"Apa?"


"Pergi sana! pusing sumpah!" mengusir Ari.


"Astaga,, aku gak akan bicara apapun tapi kalo mau nyender di sini. Ada aku!"


"Iya makasih." menutup kembali matanya.


"Kerja gak?" tanyanya pada Ari yang sedang memainkan ponsel.


"Kerja sayang."


"Iya udah, pulang duluan sana!"


"Ngusir terus? kenapa sih?" tanyanya semakin penasaran.


"Gak tau, merasa sangat kacau."


"Jika saja kamu sudah mengetahui identitasku yang asli dan mau menerimaku, mungkin saat ini aku sudah banyak bercerita tentang semuanya. Tentang semua keluh dan kesahku, terutama masalah di rumah yang sangat mengganggu." ucap Ira dalam hati.


"Makan bakso yuk?" ajak Ari untuk menenangkan wanitanya itu.


"Haha,, gak mau." mencubit paha Ari.


"Beneran gak mau?"


"Beneran, kalo pulang mau."


"Mau di anterin pulang?"


"Tapi sekarang?"


"Maunya kapan? sekarang juga gak papa."


"Sekarang!"


Ira beranjak dari duduknya, "Bentar!" pergi keluar kelas menghampiri Anggi dan yang lain. Berpamitan, dan akan membawa barang bawaannya yang berada di kosan Susan.


Kembali ke kelas, memakai jaket dan mengambil tasnya.


"Ayo?" ke kosan Susan dulu ambil sesuatu."

__ADS_1


"Emang boleh pulang? ini baru jam 11:18." Ari melihat jam tangannya.


"Heum,, gimana iya?" Ira mematung.


"Kemana lo?" tanya Iki masuk ke kelas.


"Gue mau pulang, tapi gimana iya?"


"Udah sana, tasnya nanti gue lempar dari samping. Gimana?"


"Ahh sayangnya aku,, makasih iya." Ira memeluk Iki.


"Udah! yuk?" Ari menariknya.


"Bilang aja gak boleh peluk Iki." keluar kelas.


"Duluan iya?" ucap Ira pada Anggi dan yang lain.


"Iya, besok di kabarin." ucap Santi sambil tersenyum mengedipkan sebelah matanya.


Ira hanya tersenyum membalasnya.


"Kadang bingung, mau marah tapi gimana?" ucap Ari.


Mereka berjalan menuruni tangga.


Setelah melewati beberapa kelas dan sampai di gerbang depan, "Duluan ke kosan gimana? aku ambil tas."


"Beneran? bareng aja."


"Ambil tas kan ke ujung sebelah kiri, sedangkan kosan jauh ke sebelah kanan belakang sekolah. Nanti cape sayang."


Ira tersenyum menatapnya, "Makasih." berjalan lebih dulu ke kosan Susan.


Kebetulan sekali di warung Tante tidak ada siapapun.


"Entah kemana para penghuni ini?" ucap Ira nyelonong lewat tanpa menyapa Tante.


*


Sampai di kosan Susan. Ira membereskan baju dan makeupnya. "Gak akan muat di tas ini?" gumamnya.


"Tuut tuut!!" menelepon Susan.


"Iya Ra?"


"Ada kantong buat baju gak? di tas gak muat. Besok di balikkin!"


"Ada,, di lemari bawah tv ada tas baju gue. Ada yang kecil sama besar, pilih aja."


"Iya udah, makasih sayang." mengakhiri panggilannya.


Melihat keluar Ari masih belum kembali, menutup pintu kamarnya dan duduk di lantai bersandar pada lemari mengipasi tubuhnya yang kepanasan.


"Deerrrnn klek!" suara motor berhenti.


Dia sudah tau bahwa itu pasti Ari.


"Bu?" panggilnya dari luar.


"Iya?" Ira beranjak tapi Ari sudah membuka pintunya dan masuk ke dalam.


"Udah beres?" tanyanya sambil memberikan tas Ira.


"Udah,, ini." menunjuk pada kantong.


Merapihkan baju, ketika akan memakai kembali kerudungnya.


"Bentar?" ucap Ari.


"Apa?"


"Boleh gak?" mendekat terlihat dari matanya dia hanya menatap bibir Ira.


Wanita itu tersenyum lalu menarik kerah Ari dan menciumnya.


Pasangan itu berciuman dengan sentuhan lembut dari keduanya.


"Duug!" mendorong tubuh Ari ke dinding.


"Udah cukup?" tanya Ira.


"Terakhir!" jawabnya menci*m kembali Ira dan memeluk pinggangnya.


Entah kenapa pria ini selalu menggigit bib*r Ira, seolah memberi tanda bahwa dia sudah menciumnya. Orang lain akan berpikir bahwa ci*man itu di lakukan dengan brutal, tapi sebenarnya mereka melakukannya dengan lembut dan menikmatinya.


Mendorong kembali tubuh Ari, "Udah ganteng!" ucapnya sambil bercermin dan memakai kerudungnya.


"Makasih." mencium kepalanya lalu keluar membawa kantong, menggantungnya di bagian depan motor.


Ira memakai jaket dan mengunci kamar.


"Tadi ada Teguh gak di warung?" tanya Ira sambil memakai sepatunya.


"Ada, kenapa emangnya?"


"Ini kunci kosan."


"Nanti sambil lewat di kasih."

__ADS_1


Selesai memakai sepatu, Ira duduk di motornya. Ari menghidupkan lalu berjalan pelan menelusuri gang sempit.


**


Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, wanita itu terdiam sambil memeluk Ari. Perasaannya tidak karuan, yang seharusnya menjadi tenang kali ini dia merasa ragu untuk pulang.


"Kenapa?" tanyanya mengusap-usap tangan Ira.


"Perasaan aku gak enak."


"Dari tadi pagi?"


"Iya,, gak enak dan sekarang merasa ragu untuk pulang."


"Kenapa? gak akan ada apa-apa. Kalopun ada bilang iya?" ucapnya.


"Iya."


Sampai di belokan menuju rumah, dari kejauhan terlihat Sindi sedang duduk di depan rumah nenek sendirian.


Motor berhenti, Ira turun dan begitu terkejut karena melihat motor ka Ayu di depan rumahnya.


"Degg!!" kali ini perasaannya tidak salah, pasti akan ada pertengkaran di rumah.


"Teh?" sapa Sindi.


"Iya? nenek mana?" tanya Ira menghampirinya.


"Nenek sama kakek lagi pergi ke rumah bibi, tapi ada ka Ayu di rumah."


"Sejak kapan?"


"Ehh Ka Ari?" sapa Hesti keluar rumah lalu menyalaminya.


Ari menaruh kantong Ira di teras rumah nenek.


"Langsung pulang iya? kayanya ada sesuatu deh." ucap Ira sambil mengusap leher Ari.


"Aku pulang, kalo ada apa-apa bilang iya?" ucapnya menaiki motor lalu pergi.


Ira menyimpan tas dan membuka kerudung serta sepatunya lalu langsung ke rumah ibu.


"Yang benar saja." ucapnya karena dari luar sudah terdengar cekcokan antara ibu dan ka Ayu.


"Kaa?" teriak Ira.


Ibu dan Ayu menatapnya bersamaan.


"Bilang apa lo sama Ayu? ngadu apa?" tanya ibu tiba-tiba.


"Dia bilang yang sebenarnya." jawab Ayu.


"Maksudnya lo mau ngadu domba?" tanya ibunya lagi.


"Ngadu domba apanya? aku cuma bilang apa yang ibu katakan."


"Bilang apa? ibu mana yang gak marah kalo punya anak yang kelakuannya kaya lo?" bentak ibunya.


"Gak usah bentak Ira, ini gak akan terjadi kalo dia di perhatiin!" ucap Ayu merangkul adiknya.


"Jangan nyalahin perceraian, kalo dia anak yang bener gak bakalan dia gitu!"


"Ibu mikir gak sih? apa gak punya pikiran? kita ini anak ibu loh. Bisa gak ngomong secara halus? sesalah apapun kita bisa gak ibu ngomonginnya dengan baik-baik? Ira ini masih anak SMK, dia masih butuh bimbingan!"


Ayu dan ibunya saling membentak. Ira hanya diam berdiri, menahan air matanya agar tidak jatuh meski dadanya terasa begitu sesak.


"Jangan nyalahin ibu, ayahmu mana? yang harus bertanggung jawab sama anak bukan cuma ibu, tapi ayahmu juga."


"Denger! ibu tau ayah gak tanggung jawab, ayah gak peduli apapun tentang anaknya, tapi kenapa ibu juga melakukan hal yang sama? kita tau ayah tidak bisa di andalkan dalam hal apapun, dan berharap setidaknya mungkin ibu bisa di andalkan. Tapi mana? gak ayah, gak ibu, semua gak ada yang tanggung jawab."


"Jangan jadi anak durhaka kalian." bentak ibunya.


"Durhaka? kita melawan kepada ibu durhaka? lalu dosa dan sebutan apa untuk ibu yang bahkan gak peduli anaknya hidup atau mati?"


"Udah!" Ira menarik tangan Ayu membawanya ke rumah nenek.


"Brrakkk!!" suara pintu tertutup. Mereka masuk ke rumah nenek, duduk di ruang tamu. Sindi dan Hesti tidak ada, mereka entah kemana?


"Udah! jangan mendebut ibu,,, huuhhhuuu." ucap Ira memeluk kakanya sambil menangis.


Ayu hanya terdiam menahan amarahnya, dia menciumi kepala adiknya.


"Aku ingin kembali ke rumah, tapi bukan rumah seperti ini yang aku inginkan. Aku harus kemana?" tanya Ira dengan lembut.


"Sabar iya? untuk sementara tinggal sama nenek. Nanti teteh coba cari kontrakan, kita ngontrak bareng."


Wanita itu berbaring di lantai, Ayu menatap sambil mengusap-usap rambutnya. "Kau adik terbaik yang ku miliki, dan aku bersyukur untuk itu." ucapnya menenangkan Ira yang masih menangis.


"Deeerrrnn!!" suara motor terhenti. Ayu keluar karena nenek dan kakek sudah datang, dia meninggalkan Ira sendirian.


"Aku harus apa sekarang? rasanya benar-benar kacau!" ucapnya dalam hati sambil menghapus air matanya yang masih berjatuhan.


Beranjak menoleh, entah apa yang mereka bicarakan, sehingga kakek dan nenek tidak kunjung masuk ke rumah.


Ira kembali berbaring, wanita itu sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia melamun, perlahan menutup matanya dan tertidur.


Bukan untuk melupakan masalahnya. Tetapi dia tau bahwa setelah menangis dan langsung tidur, nantinya perasaan seseorang itu akan membaik ketika dia terbangun.


*****

__ADS_1


__ADS_2