Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 12


__ADS_3

.


.


.


Sampai di rumah dia di kagetkan oleh pemandangan yang tidak biasa. Ada satu motor matic yang terparkir di depan rumah, Ira mengenali motor itu milik kakanya Ayu. Dia senang karena ka Ayu pulang berkunjung tetapi perasaannya tidak enak akan hal ini.


"Makasih Ki." ucap Ira yang langsung bergegas menuju rumah.


Dari luar rumah terdengar perdebatan antara Ayu dan Ibunya. Ira tau dari sekian banyak perdebatan sebagaiannya pasti membicarakan tentang kehidupan Ira.


"Ka?" sapa Ira yang berdiri di ambang pintu.


Kakanya menoleh menghentikan perdebatan dengan sang ibu.


"Udah pulang? sama siapa?" tanya kakanya.


"Iya sama Iki." balas Ira membuka sepatu dan masuk ke kamar di ikuti oleh kakanya.


Dia menatap adiknya yang sedang mengganti atasan seragam dengan kaos putih polos. Setelah menggantungkan baju, kerudung dan tas dia duduk di kasur menatap balik kakanya.


"Sekalian roknya ganti!"


"Dah lah nanti malas." Ira sembari selonjoran.


"Makan yu? teteh bawa makanan dari resto." ucapnya duduk mengusap rambut Ira.


"Bentar, biasanya juga gak makan."


"Teteh mau nginep? ke sini sendiri?" Sambungnya.


"Enggak sih cuma nengok doang, besok kerja."


Ira hanya mengangguk melihat ayu yang terus memandanginya. Tau jelas bahwa dia mengkhawatirkan hubungan Ira dengan ibu di rumah. Terlihat jelas dari matanya bahwa banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan tetapi tidak pernah di katakan.


"Bentar lagi mau PKL." ucap Ira memecah keheningan.


"Kapan? gede bayarannya?"


"Satu bulan lagi, iya sih pasti sama biaya sehari-harinya juga."


"Iya nanti bicarain lagi, nih buat jajan." memberi uang 200ribu.


"Gak usah, kasih adek-adek aja."


"Teteh sengaja menyisihkan uang, buat adek-adek juga ada. Ini buat ira." menyimpannya di atas kasur.


"Makasih."


"Yuk makan? tteh mau jemput Sindi sama Hesti. Tia nanti di sisain aja soalnya udah pergi main." ucap Ayu bangun dari duduknya keluar kamar pergi ke rumah nenek.


Sudah tidak terdengar apapun di rumah itu selain dari suara kipas angin. Mungkin ibunya sedang tidur atau entah sedang apa karena dia jarang keluar kamar begitu juga Ira.


Ponselnya bergetar ada panggilan masuk yang membuat diam Ira menjadi tersenyum. Sudah bisa di tebak itu dari ari. Ira jarang sekali memberi waktu atau perasaan pada pria yang berusaha mendekatinya karena dia tidak terlalu tertarik perihal percintaan.


Untuk saat ini baginya cinta hanya omong kosong yang tidak berarti apa-apa hanya membuang waktu dan menyakiti diri sendiri.


Tapi entah Esok hari jika dia bertemu dengan pria yang berhasil melunakkan hatinya apa yang akan dia katakan nantinya.


"Iya." menjawab panggilannya.


"Udah pulang?"


"Udah ini lagi rebahan di kasur."

__ADS_1


"Makan dulu."


"Iya nanti."


"Nanti abis mandi jangan dandan iya? biasa aja!"


"Loh kenapa?"


"Aku menyukai kamu yang biasa."


Ira tersenyum malu mendengar hal itu.


"Lagi dimana emang?"


"Ini lagi kerja."


"Oh iya udah lanjutin."


"Iya, jangan lupa makan!"


"Iya." mematikan telepon.


Terdengar seseorang membuka pintu rumah.


"Teteh" Sindi memanggil.


"Yeuuu" Ira bangun dari kasurnya keluar kamar.


"Yuk makan?" ucap Hesti.


Ira hanya mengangguk, mereka semua berjalan ke dapur. Ayu membuka bekal makan yang dia bawa, Sindi membawa beberapa piring dan mereka duduk di lantai berkumpul siap makan.


Ada tumis kangkung, bakar ikan laut dengan sambal jahe, cumi Krispy dan saus tiram udang. Yang mereka rindukan ketika saling berjauhan adalah makan bersama, hanya kaka beradik ini karena jika berharap dengan ibu bapak itu tidak mungkin.


"Panggil ibu Hes." ucap Ayu menyuruh adiknya.


"Sudah pasti dia menolak." ucap Ira.


"Biasanya mungkin menolak tapi apa sekarang dia akan melakukannya? kan ada teteh." jawab Ayu.


Benar saja hesti kembali dengan ibunya.


"Ibu udah makan tadi." duduk di sebelah Ayu mencicipi ikan.


"Buat Tia udah nyisahin?" sambungnya bertanya.


"Iya udah tuh di atas meja!" jawab Ayu.


"Iya silahkan makan ibu sakit kepala." bangun meninggalkan.


Ira hanya menatap ibunya yang kembali ke kamar tanpa memandangnya.


"Begitulah!" gumam Ira.


Mereka mulai makan.


*


"Busett laper apa doyan?" ucap Sindi pada Hesti yang memakan banyak tumis kangkung.


"Laper iya doyan iya." jawab Hesti.


"Katanya kalo banyak makan kangkung nanti ngantuk?" ucap Hesti.


"Jangan nyalain kangkung, kalo banyak makan mah emang bawaan nya ngantuk." balas Ira.

__ADS_1


"Tapi sindi gak makan kangkung tiba-tiba ngantuk!"


"Lah lo kan emang tukang molor haha!"


"Kalo ada loba paling lama tidur Sindi bakalan juara deh." sambung Ira.


"Iya Sindi juara, tapi kalo ada lomba abis tidur susah bangun teteh pasti bakalan juara hahaha." Sindi membalas ejekan Ira.


"Sama ada lomba jarang mandi Hesti juaranya hahaha." sambung Sindi.


"Loh ko?" Hesti memasang wajah heran.


"Lo mandi gak tadi ke sekolah?" tanya Sindi.


"Mandi."


"Tapi kemarin sore lo gak mandi."


"Yaelah orang mau tidur doang harus mandi." jawab Hesti.


"Iya kan seenggaknya bersih." Sindi bersikeras ingin menang.


"Lo sering mandi gak bersih-bersih. Kenapa kulit lo tetep item haha?" Hesti mengejek.


"Ka Ayu, ka Ira ko gak belain?" rengek Sindi yang melihat Ayu dan Ira tertawa.


"Lo emang item jadi mandi gak mandi juga gak ada bedanya hahaha."balas Ira mengejek Sindi.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak.


"Item juga sindimah manis." ucap Ayu.


"Tuh kan?" jawab Sindi gembira.


"Iya cantik banget, saking cantiknya jadi gak keliatan cantik itu dari mana hahahah."ucap Ira.


Hesti ikut tertawa mendengar Ira mengejek Sindi.


"Udah udah Sindi emang cantik, mau di suruh-suruh juga kalo orang butuh." ucap Ayu.


"Iya emang baik di bandingkan Hestimah." ucap Ira.


"Loh ko ka Ira malah gitu?" hesti protes merasa di hianati.


"Iya kan emang Sindi cantik, baik juga."


"Iya deh, ciee cantik." Hesti menggoda Sindi.


"Cieeee kiwww!!" Ira ikut menggoda.


"Hahhaa." Sindi tertawa malu.


"Pegangin awas terbang hahaa." Ira memegang tangan sindi.


"Gak bakalan bisa terbang kepentok genteng haha." balas Hesti.


Mereka semua makan bersama menikmati waktu itu sebelum kakanya kembali pergi ke tempat kerja. Semenjak kakanya kerja dan tinggal disana jangankan makan bersama bertemu juga jarang. Hanya berbica melalui telepon untuk saling bertanya kabar.


Meskipun Ayu tidak melarang apapun yang Ira lakukan tetapi dia selalu merasa canggung karena hubungan mereka juga sama-sama saling tertutup. Terkadang Ira ingin menceritakan semua yang di alaminya pada Ayu hanya saja dia tidak merasa siap akan hal itu.


Di tinggalkeun oleh kakanya bekerja awalnya begitu tidak nyaman karena dia bukan sekedar kaka, tapi sudah menjadi ibu pengganti untuk Ira dan adik-adiknya.


Tetapi bagi Ira lebih baik lagi jika Ayu tidak di rumah jadi dia tidak akan merasakan sakit dalam diam ketika melihat apa yang Ira lakukan.


Jika di ibaratkan pada kata seolah dia tau Ira meminum teh beracun tetapi dia tidak bisa menghentikan karena tidak memiliki minuman pengganti untuk teh itu. Lebih baik membiarkan Ira meminum teh beracun itu di banding membiarkannya menderita karena kehausan. Dia tidak meminum dan merasakan efeknya tetapi dirinya yang paling tau rasa sakitnya dari sejak saat ini.

__ADS_1


****


__ADS_2