Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 7


__ADS_3

.


.


.


Satu jam lebih perjalanan. Menelusuri pedesaan pesisir pantai. Angin dari kencang nya kendaraan di tambah dengan angin laut bukan hanya membuat pakaianan menjadi lusuh tetapi kulitpun terasa lengket.


"Ki di pertigaan depan belok kanan lah makan bakso dulu gue laper."


"Iya nih cacing di perut gue udah pada demo." balas Iki tersenyum.


"Masih mending demo seenggaknya bisa teriak lah cacing di perut gue udah pada pingsan jadi tubuh gue lemes."


"Pernah gak sih ada orang yang pingsan karena laper haha?"tanya Iki sambil tertawa.


"Gak tau sih. Tapi kalo ada malu gak iya?"


"Pas di tanya kenapa sampe pingsan? penyebabnya karena laper Hahaha."


"Gue pernah gak makan apapun sehari semalam niatnya pengen pingsan biar ada orang rumah yang khawatir."


"Tapi lo minum?"


"Iya hahaha."


"Seenggaknya perut lo ke isi. Tapi lo pingsan gak?" tanya Iki lagi.


"Enggak Hahaha laper iya pingsan kagak Haha tangan gue nyampe gemetar tubuh gue lemes tapi gak pingsan-pingsan."


"Akhirnya lo nyerah?"


"Iya iyalah gue makan Hahhaha" Ira tertawa.


"Haha gila lo."


Tertawa mereka terhenti karna tempat yang mereka tuju.


"Kittttt!" motor berhenti.


Mereka berdua turun dari motornya memasuki tempat tukang bakso.


Adzan maghrib berkumandang untungnya tempat itu tidak jauh dari rumah. Mungkin hanya sekitar 20 menitpun mereka akan sampai.


"Bang bako dua porsi yang satu campur yang satu lagi bakso sayur. Minumnya es jeruk!" ucap Ira memesan.


Mereka berdua duduk di pojok paling belakang. Orang-orang pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih. Bahkan di sekolahpun mereka di sebut duo sejoli paling romantis. Ira berani sedekat dan semesra itu kepada Iki karna dia tahu bahwa iki sedikit berlaga seperti wanita dan terlalu pemilih pada perempuan itu sebabnya tidak ada yang membuat Ira merasa canggung.


Pesanan tiba dan mereka makan.


Beberapa menit berlalu mereka selesai.


"Langsung pulang Ki udah gelap!"


Iki terbangun dan berjalan keluar.


Selesai membayar Ira menyusul Iki yang sudah duduk menunggu di atas motor.

__ADS_1


"Gass ini?"


"Yuk ah?"


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Keadaan sudah hening nampak beberapa pintu rumah sudah tertutup karna waktupun sudah menunjukkan pukul 18:25.


*


Iki membelokkan motornya menuju rumah Ira dari kejauhan terlihat nenek dan dua adik Ira sedang duduk di depan rumah.


"Teteh?" dua adik menyapa tersenyum.


Motor berhenti di depan rumah nenek. Iki membawa kardus yang di beri ayah Ira tadi memberikannya pada si nenek.


"Dari siapa ini?" tanya Nenek.


"Dari ayah."


"Teteh dari ayah? Ko gak bilang." ucap Sindi (adik ke-1)


"Nanti dulu, Ki lo langsung pulang?"


"Iya, gue duluan iya. Besok gue jemput daaahh." Iki pamit melaju dengan motornya.


"Tadi pulang sekolah Ira langsung ke ayah. Niatnya mau minta uang buat sekolah." ucap Ira menjelaskan pada nenek.


"Di kasih?" Nenek bertanya.


"Haha iya pasti buat bensin doang!"


"Gak nitip uang buat Sindi teh?" tanya Sindi.


Sindi dan Hesti (adik ke-2) membuka kardus yang berisi beras dan makanan ringan.


"Kenapa tidak meminta hal yang lebih kepada ayahmu?" ucap Nenek.


"Jika dia tidak bisa memberi uang untuk biaya sekolah dan jajan adikmu setidaknya mintalah beras yang banyak untuk makan adikmu." sambungnya.


"Mungkin nenek sudah tau, sebelum aku menjelaskan tentang keadaan disini dan meminta sesuatu ibu tiri sudah menjelaskan lebih dulu jika keadaan di sana sulit!"


"Yang pastinya agar aku tidak banyak mengadu dan meminta kepada ayah." sambung Ira.


"Tidak ibumu, ayahmu semua sudah lupa dengan tanggung jawabnya tidak sedikitpun memperhatikan anaknya sendiri!" ucap Nenek sedikit marah.


Ira hanya tersenyum. Di dalam hatinya dia tau bahwa ada satu kenyataan yang menyakitan. Dulu dia menganggap ini sebuah mimpi buruk yang tidak akan terjadi.


Satu hal yang ira takutkan adalah ketika ibu dan ayah menikah lagi mereka akan lebih bahagia dengan keluarganya masing-masing dan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai orangtua yang memiliki anak di tengah-tengah 2 keluarga (keluarga setelah bercerai dan keluarga setelah bercerai). Tapi sialnya kehidupan mimpi buruk itu bahkan terjadi.


"Ira pulang iya cape mau mandi!" ucap Ira berjalan meninggalkan rumah nenek.


Sebenarnya ada uang dari sisa Ira makan bakso tadi tapi dia belum membayar bensin motor iki jadi dia tidak memberikannya pada kedua adiknya itu.


Di jaman yang modern ini uang 100 ribu bisa buat apa? Nenek bilang dulu uang 5 ribu bisa belanja ke pasar dan pulang membawa sekantong penuh sayur dan bumbu dapur.


Tapi sekarang sangat jauh berbeda. Memang kekurangan uang adalah masalah yang utama karna faktanya di jaman yang modern ini uanglah yang berkuasa di atas segalanya. Jangankan kebutuhan dan keinginan bahkan tubuh seorang perempuanpun bisa di beli dengan uang. Intinya segala sesuatu akan mudah dengan uang. Uang dan uang.


**

__ADS_1


"Tok tok tok Tia?" Ira mengetuk pintu memanggil.


"Teteh baru pulang sekolah?" membuka pintu.


"Iya baru pulang dari ayah." membuka sepatu dan masuk menuju kamar.


Adik bungsu itu menutup kembali pintu dan kembali ke kamarnya lagi.


Ira langsung membawa handuk bergegas mandi karena karna sudah malam dan udara semakin dingin.


Selesai mandi dan berpakaian.


"Bruuggg!" wanita itu rebahan di kasurnya.


Melihat ponsel sudah ada beberapa pesan yang belum di buka dan panggilan yang tidak terjawab karna di daerah ayahnya tinggal tidak ada sinyal jaringan untuk kartu ira dan sepanjang perjalanan dia juga tidak menggunakan ponsel itu sebabnya semua pesan dan panggilan baru masuk.


Wanita itu hanya membiarkannya tanpa membaca pesan. Terkadang dia memang seperti itu. Karna dia tau sebanyak apapun pesan dan panggilan masuk ke ponselnya tetap saja yang akan mereka tanyakan adalah Ira memiliki waktu luang atau tidak untuk menemui mereka (para pria hidup belang). Ira bahkan tidak tau dan tidak mencari tau darimana pria-pria yang baru dia jumpai sekali saja sudah memiliki nomor ponselnya.


Begitu pula dia jarang menghubungi kakanya, Ira selalu menemuinya atau kaka yang tiba-tiba pulang. Karena menurut mereka pertemuan adalah sebuah kabar.


Memejamkan mata terdengar suara dari ruang tamu.


"Dari mana teteh jam segini baru pulang sekolah Tia?" tanya ibunya pada Tia.


"Dari ayahnya sih katanya."


"Ko gak ganti baju dulu pulang malam pake seragam sekolah tetangga nyangka yang enggak-enggak." sambung ibunya.


"Gak tau, tanya sendiri!"


Setelah itu tidak terdengar lagi pembicaraan hanya terdengar suara tv.


Kehidupan di rumahnya seperti itu sampai sekarang Ira juga masih bertanya-tanya mengapa keadaan menjadi seperti ini? semenjak ibu menikah lagi dia jarang sekali berbicara dengan Ira. Padahal ayah tirinya tidak ada di rumah dia berlayar di korea. Ira tidak akan menjawab jika tidak ada yang bertanya begitu pula ibunya.


Tinggal di rumah itu sama seperti mengontrak di kamar kos. Dia jarang makan nasi di rumah dan jarang berbicara dengan orang rumah. Nyaman sekali bukan?


Awalnya kehidupan di rumah itu biasa saja. Bahkan ira termasuk dekat dengan ayah tirinya, tapi setelah ayah tirinya pergi ibunya semakin hari semakin berbeda. Dia tidak pernah menawarinya makan ketika waktunya makan. Ibunya tidak pernah bertanya bagaimana hari-harinya. Kehidupan sekolahnya biaya dan kebutuhan. Tidak pernah menanyakan, Akhirnya Ira membatasi diri terhadap ibunya.


*


Tidak terasa pukul 23:00 malam Ira terbangun. Dia pergi ke kamar mandi buang air kecil dan mencuci muka. Perutnya terasa lapar. Di kamar selalu menyediakan banyak makanan dan cemilan. Dia membawa mie instan dan pergi ke dapur menyalakan kompor untuk memasak.


*Cttrreekk!!* Menyalakan kompor.


Air sudah mendidih wanita itu membuka kemasan dan merebus mienya.


Sekitar 3 menit telah matang menyimpannya pada mangkuk kaca dan mengaduk. Ira membuka pintu belakang rumah. Memang agak seram karna sekeliling rumah di penuhi dengan pohon kelapa dan bambu. Tapi karna Ira terbiasa dengan kegelapan dan selalu sendiri membuatnya tidak ada rasa takut sama sekali.


Dia membawa mangkuk dan botol minum. Duduk di atas kursi perempuan itu menikmati makan mie instan sendirian di tengah malam dengan udara dingin dan berangin.


Selesai makan dia bangun dari duduknya pergi ke kamar membawa roko dan ponselnya.


*Klik* suara korek gas api.


Wanita itu menghisap rokonya. Kembali duduk dan terdiam menatap langit yang terlihat gelap karena hanya ada beberapa bintang yang nampak.


Malam itu membuatnya nyaman, tetapi membuatnya tidak nyaman juga.

__ADS_1


Menikmati malam yang sunyi sendirian adalah cara penyembuhan diri yang sederhana. Tetapi Ira juga merasa pekat malam selalu memberikan celah untuk mengingat rindu yang belum terucap dan semua masalah yang membekas.


***


__ADS_2