
.
.
.
Berkali-kali memejamkan mata, tetapi wanita itu tidak bisa tidur. "Hidup dalam dilema memang berat." ucapnya dalam hati.
Tidak bisa di bohongi perkataan ibunya membekas dalam pikiran dan berdengung jelas dalam telinganya, "Dia menyesal telah melahirkan aku dan tidak membunuhku ketika dalam kandungan. Apa dia pikir aku merasa beruntung karena telah dilahirkan?"
"Semarah apapun kau, bagaimana mungkin kau mengatakan hal yang seperti itu terhadap anakmu sendiri? setidaknya kasihanilah anakmu yang harus tumbuh tanpa kasih sayang dan hidup dalam kesulitan. Kau pikir aku menginginkan kehidupan yang seperti ini? jika aku bisa memutar waktu bukan untuk merubah jalan yang telah aku ambil, aku bahkan tidak ingin terlahir sama sekali."
"Ayah kenapa kau begitu tega membiarkan aku hidup seperti ini? mungkin jika dulu hanya ibu yang meninggalkan aku keadaannya tidak akan seperti ini bukan? lalu kenapa kau juga pergi meninggalkan aku? kau bilang aku akan kehilangan arah dan tujuan, itu benar. Tapi kenapa kau membiarkannya? kau bilang akan kembali dan hidup bersama dengan anakmu? kenapa sampai hari ini kau tidak kembali? jujur aku masih menunggu kau untuk kembali. Dunia ini terlalu keras, kehidupan ini terlalu menyakitkan. Aku harus apa?"
Tidak di sadari air matanya mengalir membasahi telinganya. "Anehnya selama beberapa tahun kebelakang bahkan aku tidak bisa menangis meskipun aku ingin tapi akhir-akhir ini justru aku selalu menangis, apakah ini sudah puncak kelelahanku?" dalam pikirannya.
"Hhmmmhhh,,,," menghela nafas panjang.
Melepas pelukan Ari tetapi dia semakin mempereratnya. "Apa kau tidur?" tanya Ira tetapi pria itu tidak menjawabnya.
Kemudian wanita itu memejamkan matanya perlahan tertidur.
**
"Bu? bangun mandi." Ari berbisik lalu mengusap kepala Ira.
Ira membuka matanya melihat ponsel sudah pukul 07:03 pagi.
Beranjak dari tidurnya berkaca, "Cantik meskipun rambutnya kaya singa juga." ucap Ari yang sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya.
*Duut duut* Ponsel Ira bergetar.
"Iya Ki?"
"Lo dimana? gue udah di sekolah."
"Seragam di bawa? udah lo cek?"
"Iya udah, gak ada yang kurang kayanya."
"Iya gue baru bangun haha."
"Udah siang bego, ganti baju dimana?"
"Susan ada gak."
"Ada, mau ngobrol?" Iki memberi ponselnya pada Susan.
"Iya Ra?"
"Boleh minta tolong gak? nanti aku ikut ganti baju iya?"
"Iya nanti, bilang aja kalo udah nyampe."
"Iya makasih sayangku muach love you haha." Ira mengakhiri panggilannya.
"Love you terus sama si Iki." ucap Ari.
"Apaan si?" Ira keluar kamar langsung menunju kamar mandi.
Di belakang sekolah ada kamar kos-kosan, Santi, Dewi dan Susan ngkos di sana. Awalnya mereka tinggal bersama satu kamar. Sekarang Susan tidur sendiri karena menurutnya tidak nyaman tinggal satu kamar dengan Santi dan Dewi. Tidak tahu alasannya karena belum sempat bertanya.
Setelah selesai mandi Ira hanya memakai celana jeans dan kaos Ari lalu memakai lipstik tanpa bermake-up karena tidak membawanya. Wanita itu keluar menggunakan masker dan topi Ari.
"Udah?" tanya Ari yang sedang duduk di kursi ruang tamu sambil bermain ponsel.
"Yuk? mana tante?"
"Nih pake jaket."
"Kamu aja pake, kamu yang pake seragam."
"Iya udah."
"Udah siang ko? sekolah macam apa ini?" ucap ibunya Ari keluar dari kamar.
"Gerbangnya jarang di kunci tante, berangkat iya?" Ira menyalami ibunya.
"Gak makan dulu neng?"
"Gak usah tante nanti aja di sekolah."
"Iya udah nih buat jajan." memberi uang 50 ribu.
"Gak usah, aku punya."
"Ini buat jajan." memberi lalu Ira menerimanya.
"Aku gak pernah di kasih uang jajan." ucap Ari.
"Kan Ari kerja, nih buat Ari." memberi uang 50 ribu.
"Haha gak usah, ada ko." tidak menerimanya dia langsung keluar rumah menghidupkan motornya.
"Yuk?"
"Berangkat tante, makasih iya?" Ira duduk di atas motor dan melaju.
"Hati hati!" ucap wanita itu lalu masuk ke rumah.
Ira melihat jam tangannya sudah pukul 07:42.
"Masih jam 7an, berarti aku mandi sebentar iya?"
"Sebentar dari mananya?"
"Hih, langsung anterin aku ke kosannya Susan iya?"
"Iya."
Panasnya mentari pagi yang menyinari memberi kehangatan pada tubuh Ira yang merasa kedinginan karena dia tidak memakai jaket ataupun kemeja.
**
Sampai di lingkungan sekolah Ari memutar lewat belakang menuju kosan Susan.
Ira turun dari motornya lalu mengirim pesan.
*Isi pesan*
"San aku disini."
"Lagu masuk Ra? bentar aku izin ke wc dulu."
"Iya."
__ADS_1
"Sendiri Ra?"
"Iya, tapi dandan dulu iya aku gak pake apa-apa he."
"Iya ini aku udah di parkiran, tunggu."
Menatap Ari.
"Kamu duluan aja."
"Motornya aku simpen buat kamu nanti ke sekolah."
"Gak usah, Susan bawa motor."
"Aku duluan iya?" pria itu pergi meninggalkan Ira masuk ke sekolah lebih dulu.
Dari jalan gang sempit terlihat seorang wanita mengendarai motor beat hijau lalu berhenti di depan kosan.
Turun dari motornya membawa tas pakaian Ira begitu pula sepatunya.
"Haha padahal pake sepatu bisa nanti di sekolah."
"Biar sekalian." membuka kunci kamar.
"Yuk Ra?"
Ira masuk ke kamar. Tidak ada yang berubah, hanya ada 1 kasur, lemari baju, tv, dispenser,magic com dan alat makan, serta kamar mandi di sudut. Seperti kosan anak sekolah pada umumnya.
"Nginep dimana Ra?"
"Lebih suka kejujuran apa kebohongan?" sambil membuka baju dan menggantinya dengan seragam.
"Jujur dong."
"Di rumah Ari."
"Lo serius?"
"Beneran."
"Ada Ibunya?"
"Ada."
"Tidur bareng lo?"
"Iya."
"Waah haha,, itumah terlalu jujur Ra."
"Haha katanya lebih suka dengan kejujuran."
"Iya sih."
"Tapi gak ngapa-ngapain ko?"
"Lah bulshit."
"Gue kalo iya ya iya. Kalo enggak ya enggak."
"Iya gue percaya sama lo."
Ira duduk di atas ranjang memakai make-upnya.
"Pake lipstik doang!"
"Hmmm,, gak salah juga banyak cowok yang tergila-gila sama lo."
"Gue cantik iya?"
"Lo emang cantik Ra."
"Haha makasih,, tapi lo juga cantik San."
"Iya gue tau, cuma gak secantik lo."
"Tapi menurut gue lo lebih cantik dari gue."
"Kenapa?"
"Setidaknya tubuh lo gak serusak dan sehina gue San." ucapnya dalam hati.
"Pokoknya lo cantik." ucap Ira memakai kerudungnya.
"Langsung pake sepatu aja Ra, baju lo di ambil nanti pas pulang aja. Masa mau di bawa ke sekolah?"
"Iya sih, thank you."
Mereka berdua keluar kamar. Ira duduk di lantai memakai sepatunya sementara Susan menguci kamarnya.
"Loh tas sekolah gue mana?"
"Oh haha di sekolah sama si Iki tadi gak di kasih, gak papa lah."
"Iya sih, tapi gue belum makan."
"Mau makan dulu?"
"Iya, temenin iya."
"Iya,, yuk?" menghidupkan motor lalu ke sekolah.
Datang di saat jam pelajaran sekolah tampak sepi karena semua murid ada di kelasnya masing-masing.
Berjalan dari arah parkiran langsung menuju kantin untuk makan.
"Ra? sekarang lo udah jadian beneran sama Ari?"
"Haha ko nanya gitu?"
"Dari dulu kalian deket, katanya pacaran tapi Ari punya pacar di luar sekolah. Jadi sekarang gimana?"
"Iya beneran San."
"Serius?"
"Iya."
"Iya deh gue ikut seneng."
"Katanya lo deket sama Teguh iya?"
"Iya, tau dari mana?"
"Dari Ari."
__ADS_1
"Iya, menurut lo gimana Ra?"
"Iya kalo lo ngerasa nyaman sama dia lanjutin."
"Banyak rumor jelek tentang dia."
"Emang, tapi sekalipun itu bukan rumor, yang jelas kan dia bersikap baik sama lo. Sekalipun dia mempermainkan wanita, selagi sama lo dia mau serius iya gak masalah si menurut gue."
"Iya, orang lain cuma tau katanya iya Ra?"
Ira hanya mengangguk.
Sampai di kantin, "Teh mau mie rebus 2 iya."
"Gue gak usah Ra belum laper."
"Gue gak mau tau, lo harus nemenin gue."
"Iya deh."
"Sama es jeruk nya."
Kebetulan di kantin itu hanya ada Ira dan Susan.
"Masuk!" Teguh yang tiba-tiba duduk di samping Susan.
"Bentar," balas Susan.
"Guh? katanya lo mau sama gue? ko malah ke Susan?"
"Ahhh lo bekas Ari."
"Ngomong apa sih?" Susan mengusap wajah Teguh.
"Duluan." ucap Teguh bangun dari duduknya menunju gerbang sekolah.
"Gak papa San, lo juga bakalan ngerasain gimana."
"Maksudnya?"
"Nih Mienya neng." teh kantin menyimpannya di atas meja.
"Sama es jeruknya."
"Makasih teh."
"Apa tadi Ra?"
"Resiko berhubungan dengan pria yang memiliki banyak rumor jelek, lo pasti bakalan di anggap cewek gak bener."
"Ko gue gak kepikiran iya?"
"Iya udah lah, gak usah terlalu mikirin orang lain. Yang penting diri sendiri bahagia aja." menikmati mienya.
"Orang lain gak tau dalemnya."
"Betul."
*
Setelah selesai makan, mereka langsung naik ke atas masuk ke kelasnya.
"Pasti nanti gue di tanya, 'izin ke wcnya lama sekali Susan?' gitu."
"Haha makasih sayangku udah ngerti." Ira memeluk Susan.
Ketika sampai di kelas guru perempuan itu sudah tidak ada di kelas.
"Sayaaangg? baru masuk kamu?" teriak Anggi menghampiri.
" Guru kemana Nggi?" tanya Susan.
"Pas lo turun tadi, dia juga turun ada urusan mendadak katanya."
"Oh iya." Susan masuk ke kelas duduk di kursinya memainkan ponsel.
"Ada masalah apa?" tanya Anggi pada Ira yang masih mematung di ambang pintu.
"Hmm,,,"
"Atas yu? pokoknya harus cerita." Anggi menarik tangan Ira menuju atas.
"Dewi kemana? katanya dia mau cerita."
"Tadi di bawah ketemu gak?"
"Gak liat."
"Di UKS paling, dia suka diem di sana."
"Mau apa sih Anggita?"
"Haha sini cerita." duduk di bawah pohon beringin.
"Kita udah lama saling mengenal, bukan cuma aku, pasti kamu juga merasa bahwa aku adalah temanmu bukan? sebentar lagi PKL lalu tidak terasa kita sama-sama lulus. Kamu yakin akan selalu menyembunyikan identitas dirimu yang asli? kamu gak cape?"
"Nggi?"
"Aku tidak tahu apapun,,, tapi aku tau kamu menyembunyikannya luka yang dalam. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka, apa kau yakin akan menemukan waktu itu? bagaimana jika tidak? itu akan menyakitimu."
Ira terdiam menatap Anggi.
"Apakah ini saatnya? apakah aku harus menceritakan semuanya? untuk mengutarakan semua rasa sakit yang aku pendam?" dalam pikirannya.
"Nggi,,, beri aku waktu satu malam untuk menceritakan semuanya."
"Kepadaku?"
"Kepada mereka juga, kita sudah berteman sejak lama dan banyak berbagai keluh kesah, kecuali aku. Mungkin sekarang saatnya untukku"
"Kita bicarakan ini nanti, tapi sebelum itu aku lebih dulu yang akan bercerita padamu. Ini hanya kamu. Hanya padamu."
"Iya berceritalah."
"Ini sudah lama Ra, tapi sampai saat ini aku belum menemukan waktu yang bisa menyembuhkan luka ini."
"Ada apa?"
Anggi memeluk Ira dengan erat lalu menangis sesenggukan.
Ira memeluknya sambil mengusap-usap pundaknya membiarkan dia menangis lebih dulu untuk mengutarakan semua rasa sakitnya.
Dalam pikirannya sangat ingin tau kenapa? ada apa? dan luka apa? sehingga wanita yang selalu ceria ini menangis?
*****
__ADS_1