Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 71


__ADS_3

.


.


.


Angin laut terasa sangat dingin untuknya yang menggunakan pakaian terbuka, jaketnya berada di dalam bagasi motor dan dia malas untuk kembali lagi ke parkiran. Rambut yang panjang memberi kehangatan untuk leher dan punggungnya yang kedinginan, meskipun di akhir nanti wanita itu akan kesal karena rambutnya yang menjadi kusut dan lengket di sebabkan oleh angin laut.


Cahaya bulan tertutup oleh pohon-pohon ketapang yang tumbuh di sepanjang pantai membuat keadaan menjadi gelap, hanya sorotan lampu merkuri dari jalan yang memberikan sedikit penerangan disana.


Wanita itu duduk di bawah pohon ketapang yang paling pendek di bandingkan dengan pohon lainnya, rimbun daun yang menutupi seorang wanita seolah terlihat seperti gambar dalam kartun Disney. Jamur raksasa menjadi tempat meneduh untuk seorang peri yang sayapnya rusak karena basah, dia hanya tertunduk lesu dan merasa gelisah. Apakah dia akan bisa kembali terbang? atau tidak lagi berharap dan menerima takdir bahwa sayapnya telah rusak.


Dari kejauhan pandangan Ira tertuju pada seorang wanita yang berjalan ke tepi pantai, dia teridam berdiri membiarkan ombak mengusap lembut kakinya.


"Nampaknya tidak asing," gumamnya lalu melihat ke sekitar tidak ada siapapun di sana selain dari kedua wanita itu.


"Mungkin hanya perasaan gue aja," gumamnya memalingkan pandangan tetapi justru wanita itu menatap Ira dari kejauhan.


"Sepertinya dia memang seseorang yang gue kenal," beranjak dari duduk berjalan perlahan ke arah pantai menghampiri wanita itu, dia merasa yakin bahwa wanita itu adalah seseorang yang dia kenali.


Begitu pula wanita itu berjalan mendekat ke arah Ira tanpa memalingkan pandangannya, sekitar jarak dua meter ke-dua wanita itu berhenti dan saling menatap.


Seorang wanita berumur sekitar 27 tahunan, tinggi kurus dengan perut buncit dan kulit sawo matang menatapnya.


"Mbak Dina?" ucap Ira dengan tubuh gemetar, dia tidak percaya melihat seorang wanita yang sudah menghilang tanpa kabar selama dua tahun ini.


"Ira?" ucapnya meyakinkan.


Mereka berdua tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, "Ira,,si cantiknya gue," dia menghampiri dan memeluknya.


Begitu pula dengan Ira, "Lo kemana aja mbak?" memeluknya, air mata yang tidak bisa lagi dia tahan terjatuh membasahi pipi.


Setelah beberapa saat mereka melepas pelukan, saling menatap dan tertawa.

__ADS_1


"Haha, lo makin cantik Ra," ucapnya berjalan ke arah tempat dia duduk sebelumnya.


"Lah kan emang gue cantik haha, lo apa kabar mbak?" mereka duduk di atas tikar.


"Gue gak tau. Lebih baik atau tidak, gue ragu," ucapnya menyulut sebatang roko.


"Gak ada yang gue harapkan selain dari kabar baik," jawab Ira menatap lurus ke lautan gelap.


"Mungkin lo tau bahwa kehidupan selalu berjalan di luar kendali kita"


(.....)


Mereka berdua terdiam beberapa saat.


*


"Dimana lo tinggal selama ini mbak? dengan siapa lo melarikan diri? dan kenapa lo gak ngasih kabar sama sekali? terutama sama gue?" ucap Ira memecah keheningan dengan pertanyaan yang selama ini dia simpan.


"Gak ada pilihan lain Ra, apa salah seorang pelac*r menginginkan kehidupan yang lebih baik? apakah Mama Tati bicara banyak tentang gue? apa Heru pesuruhnya masih tetap mencari keberadaan gue? gue bahkan seperti seekor anjing yang berusaha melahirkan diri dan setelah majikan menemukan keberadaan gue, dia kembali mengikat tali di leher dan menyeret gue dengan paksa untuk kembali ke kandang," jawabnya panjang lebar.


"Gue tau Mama Tati adalah wanita yang baik, ucapannya memang selalu menyakitkan, tetapi semua yang dia katakan memang benar"


Dina tersenyum menatap Ira, "Roko nih, masih kan?" menyodorkan sebungkus roko, tanpa berkata Ira membawa sebatang dan menyulutnya.


"Gue mengenal seorang pria, mungkin dia bukan orang baik, tetapi dirinya yang mau menerima apa adanya gue membuat diri ini merasa yakin bahwa dia akan menjadi jalan keluar untuk gue meninggalkan dunia pelac*ran. Setelah berbulan-bulan gue merencanakan kehidupan selanjutnya, akhirnya gue memberanikan diri untuk bicara pada Mama Tati, berharap mendapatkan jawaban yang lebih baik meskipun sebenarnya gue tau apa yang akan dia katakan," ucapnya bercerita tentang kepergiannya.


"Tapi maksud Mama Tati nyuruh Heru buat nyari lo, itu karena dia gak tau kalo kalian memiliki hubungan. Wajar dong dia nyari? dia khawatir sama lo mbak"


"Gue tau Ra, dia pasti khawatir sama gue. Terutama dia takut kehilangan gue sebagai sumber utama penghasilannya. Tapi bagaimanapun Mama Tati yang paling berkuasa di sana, bahkan untuk keputusan pribadi kita pun harus meminta persetujuan darinya. Lo tau sendiri kan Ra, bagaimana liciknya orang-orang sana? bagaimana kejamnya para pria memperlakukan kita dengan semena-mena? kita memang seorang pelac*r, tetapi kita manusia dan wanita. Bukan hewan peliharaan!" ucapnya mencaci maki tempat yang awalnya para wanita itu pikir akan menjadi rumah yang nyaman tetapi justru sebaliknya, neraka nyata di dunia yang sesungguhnya.


Ira terdiam, luka yang selama ini dia sembunyikan kembali terasa sakit karena pertemuannya dengan Dina. Wanita baik hati yang mendekapnya ketika Ira terjebak dan masuk ke dalam tempat pelac*ran.


"Setidaknya lo jangan pergi sendiri mbak, bukan cuma lo, gue juga terjebak disana. Butuh perjuangan untuk gue keluar dari tempat sialan itu, dan betapa bencinya gue dengan orang-orang di sana termasuk Mama Tati. Bahkan sekarang masih terpikir, ingin rasanya gue memiliki kekuasaan dan membawa mereka keluar dari sana. Bukan untuk menghancurkan, tetapi perlahan membuat Mama Tati kesulitan karena mereka yang perlahan menghilang"

__ADS_1


"Gue juga berharap seperti itu, tapi sekarang tidak mungkin. Gue bukan lagi seorang pelac*r, sekarang gue memiliki keluarga. Tidak mungkin membawa mereka tanpa kembali, tapi gue percaya lo bisa menolong mereka dan menghancurkan semua yang tersisa," ucapnya membuat Ira menatap Dina.


"Lo serius mbak? lo yakin gue bisa?"


"Pasti bisa Ra, lo muda dan berani. Jika lo gak bisa membantu mereka untuk berhenti, setidaknya bantu mereka keluar dan rawat dengan baik. Lo dewasa dan mengerti jelas apa yang mereka rasain. Hemmhh,,, jika harus di katakan dengan jelas, cukup untuk menjadi seorang pelac*r. Dekap mereka dan berkuasalah, gue tau para pria yang berhubungan dengan lo bukan orang biasa, gunakan kesempatan itu untuk diri lo sendiri dan untuk mereka juga. Gak ada neraka yang lebih menyakitkan selain dari tinggal dan menjadi hewan peliharaannya Mama Tati"


Ira terdiam, hatinya benar-benar terasa sakit mengingat tentang bagaimana dia menjalani hari-hari di tempat pelac*an itu.


"Heummh,, entah bisa atau tidak, tapi gue akan mencoba"


"Jika bukan lo siapa lagi? gunakan rasa sakit dan hinaan yang lo terima di sana sebagai dorongan untuk menghancurkan semuanya"


"Tidak bisa di bohongi gue bahkan tidak siap jika sekedar mengingat tentang kehidupan di sana"


"Orang bilang tempat kita adalah surga dunia, tapi kenapa kita yang merasakannya seperti di neraka?"


Ira menatap perut Dina yang buncit, "Berapa usia kehamilan lo mbak?"


Dia mengusapnya dengan lembut, "7 Bulan, laki-laki dia," ucapnya tersenyum.


"Lo sayang sama dia?"


"Aneh lo, dia anak gue"


"Kenapa lo minum bir? kenapa lo merokok? gue gak tau sesakit apa luka yang lo rasain, tapi jangan melakukan hal yang membahayakan bayi lo mbak, dia gak tau apa-apa,"


Dina tersenyum dengan tatapan kosongnya, membuat Ira merasa yakin bahwa wanita itu memiliki masalah yang sudah tidak bisa lagi dia tanggung.


"Tapi kehidupan lo lebih baik kan mbak?" tanya Ira membuat wanita itu menghela nafas panjang.


(.....)


Mereka kembali terdiam beberapa saat.

__ADS_1


*****


__ADS_2