Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 26


__ADS_3

.


.


.


Itu yang Ira sukai dari pria ini, dia selalu mengusap lembut tangan Ira ketika duduk berdekatan terutama berboncengan seperti ini.


"Nanti malem kemana?"


"Kerja sih, tadinya libur mau ngajak jalan ibu tapi kan ada janji."


"Hmm iya besok lagi."


"Teguh sama yang lain ngajak pergi."


"Mau pergi?"


"Kayaknya mau, banyak cewe cantik di sana."


"Oh silahkan pergi, makan tuh cewe cantik!"


"Apaan sih bu? bercanda"


"Kerja nanti malem, gak mau nanya juga kalo pergi kemana?"


"Udah tau ko!"


"Aaahh kamu emang pengertian."


Membelokkan motornya dari kejauhan terlihat Kakek dan Hesti yang sedang duduk di depan rumah.


"Udah disini."


Berhenti agak jauh dari rumah kakek.


"Makan iya!"


"Iya, makasih."


"Aku pulang?" Ari membelokkan motornya.


Ira berdiri memandang punggung pria itu yang hilang di belokkan.


"Teteh baru pulang?" tanya Hesti.


"Iya!" nyelonong melewati rumah kakek.


Pintu rumah tertutup, mungkin Tia sedang bermain. Ira membuka sepatunya dan langsung masuk menuju kamar.


"Hmmm..." menghela nafas panjang, dia membuka kerudung dan menggantung tasnya.


Duduk di depan cermin, satu persatu membuka kancing bajunya.


"Bagaimana aku menjelaskan ini nanti?" ucapnya melihat bekas kecup*an di payud*ranya.


Wanita itu tersenyum "Ari." ucapnya mengingat yang telah dia lakukan tadi.


*Klik* pesan masuk.


"Udah pulang sekolah? nanti di jemput pukul 7 iya." pesan dari Gadun.


"Katanya jam 8?"


"Minta waktu lebih."


Ira hanya terdiam tidak membalasnya. Bagaimana bisa dia meluangkan waktu untuk pria itu. Ini hanya kebutuhannya tidak lebih dari itu.


"Sial!" ucapnya merasa kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Brugg!!" membanting dirinya di kasur.


"Harus sampai kapan? Yah. aku lelah harus melakukan ini. Bagaimana caraku terbebas dari ini? aku kehilangan arah, rasanya semua serba salah. Terlalu banyak kesulitan yang harus aku selesaikan sendirian." berkata dalam hati.


Teriris perih, Dadanya sesak dia sulit bernafas ingin menangis tetapi air matanya tidak keluar dan.


"Prreenng!!" suara piring pecah dari arah dapur.


Ira beranjak dari tidurnya. Ketika dia akan ke dapur, berpapasan dengan ibunya dan mereka hanya saling menatap tanpa bicara lalu Ira kembali ke kamarnya.


"Tidak peduli itu lebih baik!" ucapnya mengunci pintu kamar.


*


Pukul 17: 05 sore. Benar saja, hujan deras di sertai angin turun membasahi bumi. Wanita itu bangun dari tidurnya melihat ke luar jendela.


"Mungkin lebih baik." dia membiarkan rambutnya terurai berjalan keluar rumah.


Wanita itu berdiri di bawah hujan. Dia berharap bisa menangis kala itu, tapi tetap saja air mata itu tidak keluar.

__ADS_1


​Dingin menggigil. Itu lebih baik menurutnya, karena dia sendiri meyakini bahwa hanya dirinya, tubuhnya, yang bisa berbagi semua rasa sakitnya.


"Teteh hujan-hujanan?" ucap tia berdiri di ambang pintu.


"Mau ikut?"


"Buu mau hujan-hujanan sama teh Ira?"


"Gak boleh sakit!"


"Gak usah Tia diem!"


Wanita itu berjalan ke arah rumah nenek.


"Sakit Ra kayak anak kecil!" teriak nenek yang dari tadi sudah memperhatikan Ira.


Hesti dan Sindi keluar dari rumah.


"Mau ikutan?" mereka berdua langsung turun bermain hujan bersama dengan kakanya.


Di bawah pohon jambu yang besar ada ayun-ayunan yang beralaskan satu papan di ikat oleh tali. Ira duduk di sana dan adik mendorongnya.


"Dingiiinnn haha!!" terbaik Ira.


"Hujaaan!!" Hesti ikut berteriak.


"Duuuuiiiiitttttt!!!!!" Ira teriak semakin kencang.


"Hahahaha..." mereka semua tertawa.


Sore itu di bawah pohon jambu, dinginnya air hujan menusuk sampai ke dada. Ira merasa beban berat yang dia pikul berkurang meskipun hanya sedikit.


Rasa sesak di dadanya telah hilang, sekarang wanita itu bisa bernafas kembali.


Ira bangun yang sedari tadi duduk di ayunan memperhatikan keduanya adiknya itu saling berbicara membicarakan tentang yang mereka rasakan.


"Semoga bukan hanya hari ini, setidaknya kalian berdua harus seperti ini sampai nanti." ucap Ira dalam hati.


"Maghrib neng!" teriak Nenek


"Udah mandi sana!" ucap Ira pada kedua adiknya yang sedang mengobrol.


"Teteh udah?"


"Udah!" berjalan menuju rumah meninggalkan mereka.


"Tiaa? Tiaa?" teriak Ira memanggil adiknya.


"Buka pintu belakang teteh basah!"


Tia langsung pergi ke belakang.


Ira masuk langsung ke kamar mandi.


"Tolong ambiliin handuk di kamar!"


"Iya."


Ira membuka bajunya dan langsung mencucinya. Lalu dia mandi.


"Hangat sekali airnya."


"Tok!tok! teh ini handuknya."


"Bentar, udah ko." Ira membuka pintu memakai handuk.


"Tadi pas ambil handuk ada yang telepon tteh."


"Siapa? tia angkat?"


"Ari, pacar teteh katanya."


Ira tersenyum mendengar itu. Menghalangi payud*ranya dengan rambut keluar dari kamar mandi langsung menuju kamar di ikuti oleh Tia.


"Terus tia bilang apa?"


"Kan Tia bilang ini adeknya, terus nanya tetehnya mana? Tia bilang lagi hujan-hujanan kaya anak kecil. Dia ketawa." ucap Tia menjelaskan.


Ira tersenyum "Tolong ambilin kunci rumah, teteh mau pergi nanti pulangnya malem!"


Tia keluar kamar.


Ira mengeringkan rambutnya. Memakai deodorant, membuka lemari lalu berpakaian.


"Nih teh." memberi kunci rumah.


"Makasih iya!"


Lalu Tia meninggalkan kamar.

__ADS_1


Tiduran di kasurnya berselimut, melihat ponsel sudah ada 3 panggilan dari Ari yang tidak terjawab.


Ira mengirimnya pesan.


"Baru selesai mandi."


*Duut duut!!" ponselnya bergetar.


"Iya?"


"Udah?"


"Apa?"


"Ngapain hujan-hujanan nanti sakit?!"


"Sengaja!"


"Udah makan?"


"Belum, nanti."


Suara Ari di telpon sangat berisik tidak karuan.


"Dimana? berisik."


"Lagi kerja."


"Iya udah."


"Iya, makan iya!" Ari mematikan panggilannya.


Begitu hubungan mereka jika tidak secara langsung, jarang adanya pembicaraan. Lagi pula percuma menemani Ari bekerja sambil teleponan berisik.


Ari bekerja sebagai sopir truk, keahliannya membwa mobil sudah tidak di ragukan karena dia juga sering pergi sampai keluar kota dengan mobilnya.


Sebenarnya banyak pekerjaan yang lain, tapi Ari memilih itu, menurutnya tidak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan selain dari kita merasa nyaman ketika melakukannya. Dia menyukai pekerjaannya.


*


Adzan Maghrib berkumandang wanita itu pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan sholat.


Setelah selesai dia duduk di depan cermin untuk berdandan. Kali ini dia benar-benar sengaja berdandan seperti wanita dewasa. Dengan memakai celana jeans dan tangtop, menutupnya dengan jaket.


Di luar sudah tidak terdengar suara hujan.


"Mungkin sudah reda."


*Duut duut!!* panggilan masuk.


"Iya?"


"Udah siap? ini udah sampe."


"Dimana?"


"Di deket rumah yang kosong."


"Sebentar." Ira mematikan panggilan.


Berjalan keluar kamar tidak ada siapapun. Tia dan ibu ada di kamarnya.


Membuka pintu lalu keluar. Tidak hujan tetapi gerimis kecil.


"Gak apa lah." berjalan menutup wajahnya menggunakan tangan.


Melewati rumah nenek terlihat mereka sedang menonton tv di ruang tengah.


Dari kejauhan terlihat mobil itu sudah berada di sana. Wanita itu melintas jalan langsung masuk.


"Gak pake payung?"


"Gak ada, gerimis kecil juga."


Pria itu menghidupkan mesin mobilnya lalu berangkat.


"Udah makan?"


"Belum."


"Mau makan apa?"


"Makan sate."


Dia terdiam memperhatikan jalan, begitu Ira melihat keluar yang tadinya hanya gerimis kecil sekarang hujan.


"Gimana sekolahnya?"


"Biasa aja sih."

__ADS_1


Sebenarnya Ira di ratukan oleh pria itu. Mau apa atau bagaimanapun jika dia bisa selalu di turutinya. Hanya saja Ira tidak menyadarinya.


*****


__ADS_2