Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 76


__ADS_3

.


.


.


Jam menunjukkan pukul 21:45 malam. Ira yang masih duduk terdiam di atas ranjang sontak beranjak ketika melihat gagang pintu yang bergerak, nampaknya seseorang akan masuk menghampirinya.


Perlahan pintu terbuka, seorang wanita muda yang berumur 25 tahunan dengan tinggi sekitar 168cm dan berat badan ideal berdiri di ambang pintu. Berkulit sawo matang dia memakai dress pendek berwarna hitam yang membentuk body dan senyuman dari bibirnya membuat dia terlihat begitu cantik.


"Oww, ternyata ada wanita yang lebih cantik dari gue di rumah ini, pantas saja Mama Tati ngunci pintunya," ucapnya berdiri di hadapan Ira.


Tanpa berkata apapun Ira hanya menatap.


"Kenalin, Dina. Orang bilang gue yang paling cantik di sini, tapi mungkin sekarang tidak," ucapnya menyalami Ira.


"Ira," jawabnya dengan singkat.


"Ira,, nama Asli?" tanyanya duduk di kursi depan meja rias.


Ira mengangguk.


"Nama asli atau enggak, suatu hari nanti orang-orang juga bakalan tau kita siapa. Kalo gue pribadi gak usah pake nama samaran segala, ribet," ucapnya menyulut sebatang roko.


"Mama Tati kemana?" tanya Ira akhirnya berbicara.


"Baru di sini? palingan dia lagi nyari seseorang yang berpengaruh untuk menju*l lo dengan harga tinggi," ucapnya membuat Ira merasa tidak nyaman, tetapi dia menyadari bahwa tempat ini sarangnya ketidak sopanan. Jika mental tidak kuat dengan perkataan buruk dari setiap manusia yang berbicara, mungkin setiap detiknya air mata akan mengalir karena perihnya kenyataan.


"Lo cantik dan sangat muda, pasti akan banyak pria yang ingin menemui"


"Maaf, tapi mungkin lebih baik hanya satu orang daripada harus bergantian melayani mereka"


"Awalnya gue berpikir seperti itu dan menginginkannya, tapi apa lo pikir Mama Tati tidak akan mengambil kesempatan ini?"


Ira terdiam, dia berpikir mungkin apa yang wanita itu katakan benar. Ini jebakan yang sempurna, bahkan Mama Tati berani untuk meminta izin kepada nenek. "Sial*an!"


"Bawa baju lain gak?"


Belum sempat Ira menjawab wanita itu menarik tangannya menuju ke arah kamar sebelah, ternyata tempatnya tidur.

__ADS_1


Pintu terbuka, kamar yang rapi dengan warna serba pink. Seprei bunga mawar, perabotan dan alat make-up yang berwarna pink.


"Duduk," Dina menutup pintu dan membuka lemari bajunya.


"Coba deh," memberikan dres pendek berwarna hitam yang membentuk body, hampir sama dengan yang sedang wanita itu pakai, mungkin berbeda jika di lihat dari tampilan depannya.


Ira menatapnya, "Pakai ini sekarang?"


"Denger! gue gak tau lo itu sebenarnya pernah datang ke tempat seperti ini atau enggak, tapi gak mudah buat lo untuk keluar dari sini sekarang. Jangan ribet, terima kenyataan"


Apa yang wanita itu katakan benar, tidak akan mudah untuknya keluar dari sini sekarang. Tak ingin menjadi masalah Ira menerima baju yang Dina berikan, menggantinya lalu bermake-up kembali agar terlihat seperti wanita dewasa.


"Buset cantiknya," ucap Dina berdiri di belakang Ira mengusap rambutnya.


"Cantik dari luar meskipun tetap busuk di dalam," jawabnya menatap Dina sambil bercermin, mereka berdua seperti kakak beradik sekarang.


"Kita biarkan mereka memohon," ucapnya menarik tangan Ira keluar kamar, perlahan berjalan menuju keramaian.


Ruang tamu lantai dua, semua mata tertuju pada dua wanita muda yang berjalan perlahan melewati mereka, tubuh yang membentuk dengan perut yang masih terlihat kencang tidak membuncit seperti wanita kebanyakan, membuat semua pria tersenyum dengan tatapan yang sudah mereka mengerti.


"Setelah ini mereka akan memohon pada Mama Tati agar bisa mendapatkan kita," ucap Dina dengan senyuman licik yang sebenarnya merasa puas ketika mereka berusaha untuk mendapatkannya tetapi Mama Tati tidak bisa memberikannya pada sembarang orang, terutama jika tidak dengan nilai yang tinggi.


"Siapapun dia yang akan tidur sama lo, bersikap baiklah. Sukarela, itu yang bisa gue bilang. Tidak ada pilihan selain menikmati meskipun sebenarnya tidak, tapi setidaknya akan lebih baik jika kita menerima daripada menolaknya, ngerti gak?" ucapnya menatap Ira.


"Bisa lebih jelas gak?"


"Dasar bego, berusahalah menikmati meskipun tidak. Jika lo nolak, tubuh akan rusak dan rasanya semakin sakit, anggap saja sebagai kencan satu malam dengan seorang pria karena sebuah ketertarikan. Ngerti kan sekarang?"


Ira hanya mengangguk, mereka sampai di hadapan Mama Tati yang menyambutnya dengan senyuman.


"Duduk sayang"


"Minum gak?" tanya seorang pria tampan berkulit putih itu, nampaknya dia bukan orang asli daerah sini.


"Tidak, boleh jika sedikit," jawab Ira singkat.


Mama Tati beranjak dari duduknya, dia tersenyum menatap pria itu. Mungkin dia sengaja menyerahkan Ira padanya tanpa bertanya lebih dulu akan setuju ataupun tidak. Di sini Mama Tati yang berkuasa, dia yang berhak memilih dan mengatur mereka yang akan memilih wanita, dalam hal ini Mama Tati mementingkan tentang kesehatan dan nilai dari mereka yang datang agar tidak ada kerugian di antara keduanya.


Setelah banyak obrolan antara mereka, Dina Beranjak dari duduknya dengan seorang pria tinggi berkulit sawo matang meninggalkan mereka berdua. Mungkin kali ini Ira bisa melakukan hubungan dengan ketertarikan, ketika seorang pria berkulit putih di sampingnya bersikap lembut dan sedari tadi mengobrol dengannya.

__ADS_1


"Berapa umurmu? mama Tati bilang kau seorang siswi SMA"


"Aku tidak akan mengatakan, kau bisa menebaknya"


"Mungkin sebentar lagi kau akan segera lulus," ucapnya membuat Ira menatap jendela, "Iya, gue memang terlihat seperti wanita dewasa," dalam pikirnya.


"Bisa pergi sekarang?" ajaknya menggenggam tangan Ira.


Tanpa meng-iyakan Ira beranjak dari duduk di ikuti oleh pria itu, pertama kalinya di tempat seperti ini dia bertemu pria muda. Mungkin sebuah keberuntungan karena bukan hanya tampan, dia beraroma wangi. Entah dia yang seringkali pergi ke tempat seperti ini atau sedang memiliki masalah sehingga mendatangi tempat tak bermoral ini.


Biasanya seorang pria muda seperti mereka memiliki kekasih yang bisa menjadi tempat penyelesaian keinginannya, bukan wanita-wanita yang di pandang rendah oleh masyarakat.


"Aku baru saja terjebak, mungkin kamar ini akan menjadi milikku nanti," ucap Ira membuka pintu kamar mempersilahkan pria itu masuk.


Dia duduk di ranjang, setelah mengunci pintu pria itu menarik tangan Ira. Dia memeluk pinggang dan menciumi dada Ira yang berdiri di hadapannya.


"Bolehkah aku meminta?"


"Apa?"


"Bisakah kau bersikap baik terhadap wanita sepertiku?"


"Aku akan bersikap baik sekarang, anggaplah ini sebuah kencan dan nikmati apa yang akan kita lakukan," ucapnya perlahan mengangkat dres yang Ira kenakan.


***


Menit berlalu, setelah pria itu menyelesaikan hajatnya dia membersihkan diri. Ira merapihkan kembali ranjang dan menutupi tubuhnya yang masih telanjang dengan handuk, menatap bayang-bayang dirinya di jendela kamar.


"Ini kencan," gumamnya merasa beruntung dengan perlakuan baik yang pria itu berikan.


"Aku ada urusan dan tidak akan bisa menemanimu lagi setelah ini," ucapnya berjalan dari arah kamar mandi.


"Tidak apa-apa, terimakasih"


"Terimakasih, untuk soal uang aku sudah memberikannya pada Mama Tati. Mungkin lain waktu aku akan menemuimu lagi, bolehkan?"


Ira hanya mengangguk dengan senyuman kecil yang dia berikan, setelah merapihkan baju pria itu keluar dari kamar dan pergi. Begitu pula Ira langsung bergegas membersihkan diri, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Mama Tati mempersilahkan seorang pria masuk ke kamarnya untuk menemui secara langsung tanpa berkenalan lebih dulu.


*****

__ADS_1


__ADS_2