
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 01:23 mereka sudah bisa beristirahat, suara musik yang sedari tadi di putar keras kini sudah tidak terdengar, hanya suara obrolan dan tawa dari beberapa orang yang sedang menikmati minumnya.
Ira yang baru saja keluar dari kamar mandi celingukan menyampaki wanita cantik yang sedari tadi duduk di sofa tidak ada di sana, dia akan mengenakan pakaiannya, tetapi Dina kembali masuk ke kamar dengan memberinya dres santai untuk tidur.
"Nih pake," ucapnya sambil membuka pintu membuat Ira tersentak.
"Hih, kirain siapa?" jawabnya yang sontak menutup tubuhnya dengan handuk.
"Udah ketemu sama Mama Tati?"
"Belum, tapi tadi ada seorang tamu dia bilang bayar gue dengan nominal yang belum pernah siapapun terima di sini. Itu bener? dan berapa?" tanyanya dengan raut mengerutkan dahinya.
"Tamunya minta yang aneh-aneh gak?"
"Sumpah baru pertama kali ketemu sama manusia yang gak waras, jendela kamar ini kan lebar dia buka gordennya dan tidak mematikan lampu, mana minta di depan cermin pula. Gimana kalo ada orang yang liat? gila!"
Ira menceritakan hal yang baru di alaminya, Dina yang menyikapi dengan santai seolah membantu wanita itu melupakan rasa kecewanya, bagaimanapun yang pria tadi maksud memang benar, ini pekerjaan dan pasti ada resiko yang harus di tanggungnya. Entah itu sebuah perlakuan ataupun penghinaan, seberusaha apapun wanita seperti mereka menginginkan untuk di hormati tetapi masih melakukan pekerjaan yang tidak bermoral ini adalah sebuah ketidakmungkinan.
Dina dengan lembut mengatakan tentang uang yang akan di terima oleh Ira nantinya, Mama Tati tidak sebaik yang mereka pikirkan. Dia licik dan selalu membodohi, Ira yang belum mengerti apa-apa tentang bagaimana cara kerja dan aturan disana membuatnya di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Pembicaraan yang sedang kedua wanita itu bincangkan terhenti karena datangnya Mama Tati, dia ingin berbicara dengan Ira dan meminta Dina meninggalkan kamar.
"Istirahat," ucap Mama Tati pada Dina yang sudah menatapnya, tanpa berkata apapun dia langsung beranjak dari duduk.
"Mandi?" tanya Mama Tati duduk di sofa, dia menyulut sebatang roko menatap Ira yang sedang menyisir rambutnya.
"Mandi, perlu apa mam?"
Wanita paru baya itu membuka dompet tebalnya, dia membawa beberapa lembar uang dan menyimpannya di atas ranjang di samping Ira.
"Berapa duit?" tanya Ira mengerinyai.
"Tuh, tergantung berapa orang yang tidur sama lu"
__ADS_1
Ira hanya terdiam, dia membawa uang dan menghitungnya. Masih sebanding dengan dengan yang biasa dia hasilkan sendiri.
"Udah ambil bagian mama?"
"Udah," istirahat! ucapnya beranjak dari duduk.
Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, terutama tentang uang yang saat ini dia pegang, berapa bagian mama Tati? dan berapa para pria itu membayarnya di tempat ini? tetapi dia hanya terdiam melihat punggung wanita itu meninggalkan kamarnya.
Tidak berharap besar dalam hal ini, lagipula besar atau kecil uang yang di dapat tidak ada yang lebih cukup selain dari bertemu dengan tamu yang bersikap baik padanya.
Breeg
Pintu kamar tertutup, malam yang sunyi segera tiba ketika terdengar satu persatu motor mobil pergi meninggalkan kawasan tersebut.
Ira mematikan lampu kamar berbaring di kasurnya. Badan terasa amat lelah ingin segera beristirahat, rasa tidak percaya ada di benaknya bahwa saat ini dia terkurung di tempat itu. Kapan dia akan bisa pulang? apakah waktunya tinggal di sini sebanding dengan satu pertolongan mama Tati? dan untuk uang yang dia terima, berapa mama Tati mengambilnya? apakah sewajarnya atau mengambil untung lebih tanpa sepengetahuannya? dia akan berencana untuk mencari tau besok, sekarang tidak ada pilihan selain dari menurut dan beristirahat.
Mata yang sedari tadi menatap langit-langit perlahan tertutup, dia tidur tanpa melihat handphone untuk menghindari siapapun yang mencarinya saat ini, baginya sudah sangat lelah untuk berbohong dan membuat alasan, "Merepotkan," kata terakhir yang terucap dari kesadarannya.
***
Tok tok
"Udah siang apa?" tanya Ira dengan setengah mata tertutup dia melihat ke arah jendela, nampaknya hari sudah siang.
"Udah mau jam 12 siang neng, bangun lu mentang-mentang gak sekolah," ucap Dina melemparinya dengan kemeja Ira yang tergeletak di atas sofa.
Ira berbalik menatap jendela memunggungi Dina, nampak matahari sudah bersinar dengan teriknya. Dia mengusap-usap wajah dan sebelah tangannya meraba handphone yang tertindih.
Melihat handphonenya jam sudah menunjukkan pukul 11:12 siang. Dia tidur dengan sangat lelap atau memang jika siang hari tempat ini karena semua orang beristirahat?
"Gimana sekolah lu? apa Mama Tati yang ngurus?" tanya Dina.
"Mungkin, gue laper," jawab Ira beranjak dari kasur pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah cantiknya.
"Buruan! kita cari makan"
Dina yang sedari tadi duduk di sofa beranjak membuka gorden jendela sembari menunggu Ira yang belum keluar dari kamar mandi. Entah apa yang wanita cantik itu pikiran, dia bersikap baik pada Ira karena rasa kasihan dan peduli, atau memiliki maksud lain yang pada akhirnya nanti akan ada ketidaknyamanan di antara keduanya?
"Nyari makan dimana? emang boleh keluar?" tanya Ira menyadarkan Dina dari lamunannya.
__ADS_1
"Boleh, asal balik lagi"
"Apa kita benar-benar tidak bisa pergi atau keluar dari sini?"
"Tidak tanpa persetujuan mama Tati"
"Melarikan diri?"
"Haha mimpi lu, banyak orang yang bekerja sama wanita tua itu. Jika lu kabur ataupun pergi tanpa penyelesaian, dia bakalan nyari sampai ke neraka juga lu bakalan di susul," jawabnya dengan tawa meledek.
Ira menghela nafas panjang, bagaimana cara agar terbebas dari tempat ini sebelum terlalu jauh? sebelum merasakan banyak kesakitan dan hinaan?
Terkadang kehidupan memang tidak pernah adil, siapa sangka wanita secantik mereka terjebak dalam kehidupan hina yang menjadikan mereka sebagai wanita yang di pandang rendah dan tidak bermoral oleh sesama manusia? hidup selalu berjalan di luar rencana.
Setelah bersiap keduanya keluar dari kamar menuju ke bawah, ruangan sudah nampak bersih, seseorang mungkin sudah membersihkan tempat itu.Dan nampak juga tidak ada satu manusiapun, ruang tamu atas maupun bawah, kemana wanita yang lain?
"Mungkin sedang beristirahat," gumam Ira berdiri di teras depan rumah.
Sampai di parkiran, nampak Heru seorang pemuda yang bekerja pada Mama Tati sedang duduk menikmati kopi dan rokonya di depan pos satpam.
"Buka!" teriak Dina membuat pria itu menatap keduanya.
Ira naik, mereka berdua mengendarai motor beat berwarna putih milik Dina, melaju ke arah gerbang.
"Pada kemana?" tanya Heru menghentikan motornya.
"Laper bego, nyari makan lah," ucap Dina menarik baju Heru untuk menghindar.
"Lama?"
"Lama gak lama yang penting gue balik! udah," ucap Dina melajukan motornya keluar gerbang.
Mereka menuju ke arah keramaian mencari makanan dan sebuah ketenangan, setidaknya meninggalkan neraka itu seperti mereka bernafas dengan lega meskipun dalam hati memiliki rasa resah.
Hadirnya Dina saat ini sedikit membantu kecemasan dan amarah yang ada dalam hati Ira, dia merasa memiliki seorang teman yang dimana kali ini dia tidak harus menutupi diri dan berpura-pura, menjadi diri sendiri dengan apa adanya.
Jalanan sepi yang nampak seperti hutan mereka lewati, topik obrolan yang sengaja di buat untuk memperakrab keduanya berakhir baik, canda tawa kini terdengar dari sepeda motor yang melaju perlahan.
*****
__ADS_1