
.
.
.
Cahaya lampu motor berwarna putih datang dari kegelapan berhenti di tepi pantai. Pria itu turun dari motornya menghampiri Ira.
"Bu?"
"Iya?"
"Kenapa? ada apa?"
"Enggak! haha."
"Mata sembab gak papa?"
"Apakah ini dirimu yang asli?"
Ira tersenyum memeluk Ari pelan. "Aku ingin menangis dan aku butuh pelukanmu, tapi tolong jangan tanyakan kenapa?"
Wanita itu mempererat pelukannya hingga kuku tangannya mencengkram pundak Ari dengan keras.
Mereka sudah saling mengenal jauh sebelum akhirnya menjalin hubungan, melihat sikap Ira yang seperti ini biasa baginya. Tapi tidak jika untuk menangis.
"Kenapa? ada masalah apa hingga kau menangis seperti ini?" tanya Ari dalam hati.
Ari mengusap punggung Ira pelan sambil menahan rasa sakit dari cengkraman kukunya.
"Aku memelukmu."
"Iya,,,,haha." mengusap air matanya.
"Udah?"
"Hmmmhhhh,,,hmmmhhhhh,, udah, haha." beberapa kali menghela nafas lalu melepas pelukannya.
"Bahkan wanita inipun terlihat cantik ketika menangis." tersenyum menatap Ira.
"Haha aku tau! cantik bukan?" menutupi matanya yang sembab.
"Mau pulang kemana?" melihat jam tangannya pukul 01:54malam.
"Ke tempat dimana aku bisa tidur dalam pelukanmu."
"Yuk? nanti masuk angin!" merangkul pundak Ira berjalan ke arah motor.
"Tau aku disini dari mana?"
"Nanti, yuk naik?"
"Serius, tau dari mana?"
"Nanti Bu!"
Ira duduk di atas motor dan mereka pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
**
Udara malam yang semakin dingin mempererat pelukannya, wanita itu memejamkan mata menikmati sepoi-sepoi angin yang menusuk tubuhnya.
Membuka matanya, "Ke rumah iya?" melihat Ari melaju ke arah rumahnya.
"Iya. Gak papa kan?"
"Iya."
Membelokkan motornya dan berhenti di depan rumah.
Ira turun, berdiri di bawah pohon mangga sambil melihat Ari yang menaikkan motornya tepat di depan pintu rumah.
"Gak di masukin ke dalem?"
"Gak usahlah, sini!"
"Udah tidur mungkin?" ucap Ira menghampiri Ari.
"Tok tok tok!!! mah?"
*Kreekk!!*
Ibunya membuka pintu.
"Ehh,, mau nginep cantik?"
"Iya, di sini sama di penginapan sama aja kan?" jawab Ari masuk di ikuti Ira.
"Haha harusnya kamu beruntung ibumu itu mamah!" ucap Ibunya mengunci pintu.
"Ko matanya sembab? di sakitin sama Ari?"
"Haha enggak tanteu."
"Rii? di apain ini?" teriak ibunya pada Ari.
Ari keluar kamar, "Mau di nikahin katanya."
"Ngada-ngada deh!"
"Kalo soal urusan nikah itu terserah, tapi harus tanteu dulu iya?" ibunya tersenyum menggoda.
"Haha iya Tante."
"Itu motor gak di masukin ke rumah Ri?"
"Udah mau jam 2 malam, biarin!" Ari berjalan ke arah kamar mandi.
"Yuk sayang ikut ke kamar?" ajak ibunya.
Dia membuka lemari dan membawa dres pendek untuk tidur yang berwarna hitam polos.
Memberinya pada Ira "Tante suka baju ini, dulu sering di pake sebelum badannya segemuk sekarang."
"Kenapa harus baju yang terbuka seperti ini?"
__ADS_1
"Hhmmm,, biacaralah lebih jelas."
"Aku tidur bersama Ari bukan? bagaimana jika Ari tidak bisa menahan keinginannya?"
"Ini bukan contoh yang baik, tidak seharusnya orangtua membebaskan anaknya seperti ini. Tante tau itu! hanya saja, tante tau bahwa jika tidak di rumahpun kalian pasti akan melakukannya di tempat lain. Karena tante juga mengetahui jaman sekarang sedang marak-maraknya **** bebas terutama untuk para remaja seperti kalian. Di larang atau tidak, seorang anak akan melakukan banyak kenakalan remaja di belakang orangtuanya."
"Tante hanya selalu mengingatkan kepada Ari untuk bisa mengontrol dirinya. Tante memang membebaskannya, tapi dia harus tau sendiri batasannya. Dia yang berbuat, dia sendiri yang harus bertanggung jawab. Karena yang tante butuhkan dari Ari sekarang adalah keterbukaannya, agar dia tidak merasa canggung ketika berbicara di saat dia dalam masalah."
"Mengerti anak remaja seperti kalian itu sulit sekali. Serba salah! sebagai orangtua kita berusaha untuk mendidik anak dengan sangat baik. Hanya orangtua beruntung saja, jika apa yang telah mereka ajarkan kepada anaknya lalu anak tersebut menuruti semuanya tanpa membodohi orangtua. Mereka beruntung!"
"Tante tidak ingin jika Ari bersikap sebagai anak yang baik dan penurut terhadap tante, tapi di belakang dia seorang pria brandal dan brengsek. Percayalah tidak ada orang tua yang ingin anaknya berjalan di jalan yang salah, termasuk tante. Tapi itu semua butuh proses. Pendekatan orangtua dan anak juga bukan hal yang mudah. Setiap anak memiliki karakter dan kehidupan pribadi sendiri yang dimana sebenarnya orangtua tidak berhak ikut campur. Baik buruknya perilaku anak seberusaha apapun kita merubahnya, jika bukan dia sendiri yang ingin merubahnya itu tidak akan pernah berhasil!"
"Mungkin ada anak di luar sana yang bisa di ajari dengan mudah oleh orangtuanya. Anak penurut adalah anak dambaan setiap orangtua. Tante tak ingin jika Ari menuruti semua keinginan tante tapi mentalnya bermasalah. Terlihat baik-baik saja di luar, tetapi hancur di dalam."
"Tante tau ini salah dan jika kau menjadi orangtua nanti, jangan mencontoh apa yang saat ini tante lakukan!! apakah terlalu banyak bicara?"
"Tidak apa-apa tante aku mengerti. Sebagai remaja yang penuh dengan kebebasan kita harus menanggung resiko untuk hal yang telah kita lakukan!"
"Haha pintar ternyata si cantik ini," mencubit hidung Ira, "Ganti bajunya tante mau liat?"
Ira membuka pakaiannya dan mengganti dengan dres pendek yang di beri.
Menatap cermin, "Haha punggungnya terlalu terbuka."
"Tapi kau cantik, ini cocok untukmu."
"Terimakasih tante."
"Tapi Ari tidak mencarimu, kemana dia?"
"Mungkin dia tidur lebih dulu, baru pulang kerja bukan?"
"Iya,,, sudah! selamat tidur."
"Selamat tidur kembali." Ira keluar menyimpan tas dan pakaiannya di kursi ruang tamu lalu dia ke kamar mandi untuk buang air kecil, mencuci muka dan gosok gigi.
Setelah selesai, dia mengambil tas dan pakaiannya. Melihat ke luar jendela hujan turun dengan deras. "Akhir-akhir ini selalu turun hujan."
Berjalan ke kamar. Langkahnya terhenti, berdiri mematung teringat dia belum menghapus semua pesan dan panggilan dari Gadun.
"Enggak, jangan sampai." duduk di kursi membuka ponselnya.
Dia menghapus semuanya, membuka akun media sosial di kejutkan dengan ibunya yang mengirim dia pesan untuk pertama kalinya.
*Isi pesan*
"Gak usah pulang lo!"
"Kalo mau pulang ke rumah ayah lo sana!"
Ira bersandar pada kursi memandang seekor cicak yang sedang menatapnya.
"Apa kau juga menertawakan hal ini? indah sekali bukan hubungan antara ibu dan anak ini?apakah di luar sana ada orang tua yang bersikap seperti ini? jika rumah tak lagi nyaman, kemanakah aku harus pulang?"
Baiklah, mungkin ini memang saatnya. Ira membuka akun media sosialnya dan memposting.
*Saat ini aku hanya mempertahankan apa yang bisa membuatku bahagia, selebihnya aku tidak akan peduli!*
__ADS_1
*****