Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 15


__ADS_3

.


.


.


Terdiam menikmati angin laut dan deburan ombak yang pecah menghantam karang. Ari terdiam mendengar semua apa yang di katakan Ira. Di dalam hatinya dia berusaha untuk memahami.


"Mengapa begitu sulit untuk mencintai diri sendiri? aku merasa tidak menutupi semua hal, hanya saja orang lain yang tidak mengetahuinya. Aku juga ingin bercerita, aku ingin mengeluh, tapi aku belum menemukan tempat untuk pulang." ucap Ira.


"Apa aku tidak bisa menjadi rumah untuk kau pulang? untuk menjelaskan semua rasa sakitmu?" tanya ari halus.


Seketika hati Ira bergetar hebat, dia tidak menyangka Ari akan mengatakan hal itu. Dia tidak tau perasaan apa ini, ingin sekali rasanya menangis sejadi mungkin. Menceritakan semuanya, berkeluh-kesah, tertawa, bahagia. Untuk pertama kalinya ada seseorang mengatakan hal yang membuat Ira ingin mempercayai orang itu sepenuhnya.


Wanita itu beranjak dari duduknya, berjalan ke arah pantai. Hembusan ombak membasahi kakinya. Dia menoleh ke arah Ari dan tersenyum.


Entah apa yang di pikiran Ari saat itu, tapi dia memang seorang lelaki muda yang sudah dewasa. Dia mudah memahami dan peka terhadap orang lain, terutama orang yang di sayanginya.


Terlihat dari kejauhan bahwa Ira memandang Ari, begitupun sebaliknya. Dia berjalan menghampiri tidak sedikitpun memalingkan pandangannya.


"Butuh pelukan?"


Ira hanya terdiam.


Ira yang sudah berdiri di hadapannya itu memandang dengan tatapan yang tidak di bisa di jelaskan. Terlihat bahagia namun menyimpan air mata, meski hari sudah gelap tetapi langit yang luas dan lampu merkuri dari jalan sedikit menerangi keadaan di sekitar.


"Hmmmm...." gumam Ira mendekat.


Dia memeluk Ari dengan pelan, semakin lama pelukan itu semakin erat. Ira menci*m tulang selangka Ari, menarik nafas menghirup aroma tubuhnya begitupun sebaliknya. Ari memeluknya dengan erat, satu tangannya mengusap lembut rambut Ira. Semakin hangat pelukan itu, semakin jelas apa yang mereka berdua inginkan.


Pria itu menci*m leher Ira, dia melepas pelukan lalu kedua tangannya mengelus pundak ke leher hingga dagu. Memandang tersenyum, jari tangannya mengusap lembut bibir Ira. Sedikit memiringkan kepalanya, memejamkan mata dan menci*mnya lembut.


Ira membalas ci*man itu. Dia melepas pelukan, kedua tangannya memegang belakang leher Ari dan mengusap rambutnya.


Ari memulai gerakan lidah dengan sentuhan ringan yang tidak berlebihan, membuat keduanya bergairah.


Mereka menikmati saat itu sampai Ira tersadar kemudian sedikit memunduran kepalanya. Ari menatapnya heran... Dia menci*m Ira kembali. Sebelum Ira sedikit mendorong tubuhnya, dia melepaskan ciumannya dengan mengigit lembut bibir bawah Ira sambil menatapnya.


Memalingkan pandangan dan kembali duduk.


"Bu?"


"Iya" menoleh.


"Maaf, aku tidak bisa menahannya."


Ira hanya tersenyum, lalu mengambil sebotol air putih dan meminumnya.


Ari memandang ke sekeliling melirik jam tangannya waktu menunjukan pukul 19:08.


"Pantas saja tidak ada orang di pantai." ucapnya.


"Kebetulan sekali tidak ada orang yang menggangu momen manis ini." ucap Ari menutup senyumnya dengan menyentuh hidungnya.


"Sudah!"

__ADS_1


Karena Ira sendiri yang merelakan dan menikmatinya. Di dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana mungkin bisa senyaman ini.


"Mau pulang bu?"


"Mau sekarang?"


"Kalo maunya aku gak usah pulang haha." pria itu tertawa menggoda.


"Terus?"(sambil tersenyum mengedipkan mata) Ira membalas godaannya.


"Setidaknya aku ingin menghabiskan malam yang panjang bersamamu."


"Kau yakin mengatakan hal seperti itu padaku?" tanya Ira tersenyum.


"Maaf bu." terdiam tidak melanjutkan candaannya.


Ari yang tadinya duduk di sebelah Ira bergeser, kemudian memindahkan semua makanan dan minuman yang ada di tengah-tengah keduanya.


"Boleh kan?" tidur di pangkuan Ira.


"Iya." mengusap rambut Ari.


"Jangan hanya menatapku seperti itu!" sambung Ira yang sedari tadi Ari terus menatapnya.


"Banyak wanita yang cantik dimana-mana, tapi kenapa kamu yang paling menarik?"


"Makasih, tapi sssuuuuut udah diem nanti salah tingkah nih!"


Ari tertawa melihatnya.


"Maksudnya?"


"Jelas bilang jujur sayang sama kamu dan tidak ada kata ragu untuk merayumu."


"Hmmmm dasar!" tersenyum mengusap wajah Ari.


"Dasar buaya!" ucap Ira dalam hati.


*


"Duuut duuut!!" ponsel Ira bergetar.


Dia hanya menatapnya, bimbang antara di jawab atau tidak karena itu dari gadun.


"Siapa? angkat aja." ucap Ari.


"Hmmm gak usah!" balas Ira tetapi di dalam hati bertanya-tanya kenapa pria itu menelepon di jam segini, apa mungkin dia akan membuat janji?


"Angkat aja bu."


"Iya." dia bangun dari duduknya menjauhi Ari.


"Jadi penasaran siapa sampe menjauh gini?"


"Apaan si?" Ira tersenyum sambil berjalan sedikit menjauh.

__ADS_1


"Iya hallo?"


"Lagi dimana?"


"Di pantai!"


"Jam segini? Ngapain?" tanyanya.


"Lagi pengen aja, kenapa?"


"Besok ketemu iya? soalnya seminggu kedepan atau lebih mau pergi ke luar kota ada acara keluarga." ucapnya.


"Hmmm (mendengar dia akan keluar kota hati Ira merasa senang karena mungkin dia tidak akan berhubungan meskipun Ira harus menghemat uangnya) besok? jam berapa?"


"Iya, malem aja. Mau di jemput apa di tunggu di tempat?"


"Di jemput aja. Uangnya Lebihin iyah kan mau keluar kota hehe." balas Ira menggoda.


"Iya, besok di telpon lagi." mematikan panggilan.


Ira menoleh ke arah Ari yang sedang tengkurap memainkan ponselnya. Sekilas terpikir meskipun dia di bayar karena melayani pria itu, terkadang Ira juga menginginkan hal yang membuat dirinya bahagia tanpa paksaan. Pikiran nya bertanya-tanya apa mungkin dia akan tidur dengan Ari malam ini sebelum besok dengan pria itu? lagipula dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa memang dia mencintai Ari.


Berjalan menghampiri Ari. Awalnya Ira tercengang karena Ari sedang melihat isi foto galerinya yang ternyata ada beberapa foto Ira yang dia ambil tanpa izin.


Wanita itu tersenyum senang, dalam pikirnya bertanya-tanya. "Sebenernya kau benar-benar menyukaiku atau hanya penasaran karena belum tidur denganku?"


"Hei?" sapa Ira.


Ari menoleh tersenyum.


"Dari siapa? pacar bu?" pria itu bertanya.


"Dari orang rumah, lagian pacar dari mana haha?"


"Mungkin sekarang aku ingin alkohol!"sambung Ira.


Ari tersenyum "Aku akan membelinya" bangun dan berjalan ke arah warung.


Kali ini Ira sudah tidak peduli dengan perkataannya, sendiri yang tadi dia bilang tak ingin menjadi pelarian.


Ari datang dengan membawa satu botol angg*r merah dan 2 gelas kecil.


"Ini udah di buka di sana tadi." ucapnya sambil menuangkan.


"Iya, makasih." Ira langsung meminumnya.


"Tapi kamu gak boleh terlalu banyak iya?"


"Mungkin lebih baik kalo Ari yang gak boleh minum banyak, kan yang bawa motor."


"Iya." tersenyum.


"Mau menikmati pantai dengan meminum ini. Jadi jangan ngajak ngobrol iya haha."


Ari hanya tersenyum meng-iyakan apa yang wanita itu mau.

__ADS_1


****


__ADS_2