Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 47


__ADS_3

.


.


.


Dua wanita itu melepas pelukannya lalu tertawa, mereka sering sekali saling berkata kasar tapi tidak jika harus bertengkar. Itu pertengkaran pertama mereka, jadi wajar jika Anggi dan yang lain sangat terkejut dengan kejadian itu.


"Maaf iya Ra?" ucap Susan memeluknya kembali.


"Iya gak papa San,, gue juga tadi marah dengan memukul meja."


"Iya deh,, jadi kan lo bikin sambal?"


"Hahaha jadi ko,, yuk?"


Mereka berdua pergi meninggalkan kamar menuju dapur di susul oleh Anggi.


Lalu Ari keluar kamar menghampiri Teguh dan yang lain sambil menyulut rokoknya.


"Udah baikan nih? kaya pacaran aja kalian!" ucap Dewi yang sedang duduk di samping mesin cuci.


Ira hanya tersenyum lalu mengambil cobek untuk membuat sambal.


"Ini bikin sambal kecap kan?" tanya Ira.


"Iya,, tapi jangan terlalu pedes Ra!" ucap Anggi pergi meninggalkan dapur.


"Tapi ngomong-ngomong gue beneran kaget, kirain kalian cuma bercanda." ucap Dewi.


"Gue emosi sama si Ira!" jawab Susan sambil menyiapkan piring.


"Udah udah,, nanti mulai lagi!" Dewi membantu Susan.


"Jangan makan pake piring San, pake daun pisang aja biar gak usah repot cuci piring. Udah malem juga nanti berisik!" ucap Ira.


"Iya sih bener juga,," Dewi beranjak, "Pinjem pisau Ra, Beni suruh ambil daun pisang."


"Suruh Ari aja, dari tadi dia diem!"


"Iya deh,," Dewi pergi ke depan kosan menghampiri para lelaki yang sedang membakar daging.


"Kosan penuh kan? pada kemana ko sepi?" tanya Ira pada Susan.


"Gak tau, pada main kali."


Ada 6 kamar kos di sana, dan 4 kamar di huni oleh murid sekolah lain. Di belakang sedang mulai pembangunan untuk kamar baru, Mungkin karena sang pemilik tidak banyak aturan sehingga membuat penghuninya terasa nyaman tinggal di sana.


*


Selesai membuat sambal Ira mencuci tangannya, "Bentar gue mau liat nasi, takutnya gak enak haha." ucap Ira menuju kamar tapi di ikuti oleh Susan karena dia tidak ingin sendirian di dapur.


Membuka magic com lalu menyicipinya, "San cobain?"


"Panas anjir,," meniupnya, "Aduh enak deh!"


"Pasti lah,, gue!"


"Haha dasar!" Susan mencubit pipi Ira.


"Ini laper apa emang dagingnya yang udah mau matang?"


"Kenapa Ra? bau wangi daging iya?"


"Hooh!" wanita itu duduk melihat ponselnya. Sejak dia tidak menemui gadun dan membalas pesan dari mereka yang ingin saling bertanya kabar, ponselnya sepi. Tidak ada yang menelpon atau mengirim pesan selain Ari.


"Wah semahal ini gue sekarang!" ucapnya melihat beberapa pesan masuk tapi dia tidak pernah membalasnya.


"Apa Ra?" tanya Susan.


"Enggak,, ini nasi di cabut aja iya biar gak panas nanti?"


"Cabut aja." Susan pergi menghampiri yang lain.


Menutup kembali magic com dan mencabut penghubung listriknya.


Ira menatap ke luar, Teguh yang sedang membakar daging lalu di kipasi oleh Susan. Anggi sedang mengobrol dengan Rendi. Beni sibuk dengan ponselnya, Ari dan Dewi yang baru tiba memetik daun pisang untuk alas makan.


Terdiam berpikir, "Tidak terasa waktu berlalu, setelah lulus apa kita akan tetap berteman? apa gue tidak akan kesepian seperti selama ini? sekolah dan kalian adalah satu-satunya tempat ternyaman gue. Jika lulus nanti, apa kita akan tetap seperti ini?"


Mengehela nafas mengingat kembali. Dari sejak kelas 1 SMK mereka berteman, telah banyak waktu dan kenangan yang sudah di lalui. Mereka Kompak dalam segala hal, pergi ke pantai berenang bersama. Jalan-jalan saling singgah ke rumah masing-masing secara bergantian. Bolos jika ada jam pelajaran yang tidak di sukai. Dan ketika satu orang membuat kesalahan, yang lainnya ikut menanggung. Pertemanan ini akan melekat dalam ingatan nanti.


*


Pandangannya terganggu oleh Ari yang menatapnya, entah apa yang pria itu katakan sehingga yang lain dengan kompak menatap Ira.


"Haha apa sih?" teriak Ira menutupi wajahnya merasa malu.


"Sini Ra?" ucap Beni.


Wanita itu beranjak menghampiri mereka lalu duduk di atas motor.


"Lapar Guh, lama bet." ucapnya pada Teguh yang sedang membolak balik daging ayam.


"Iya Guh, sebenarnya gue juga ngerasain hal yang sama. Cuma lagi jaga image aja!" sambung Anggi.


"Tadi di tanya katanya udah makan?" ucap Ari.

__ADS_1


Anggi dan Ira saling menatap lalu tertawa.


"Ko si Arif sama Sandi belum dateng?" ucap Rendi.


"Telepon Ben!" tambah Ari.


"Emang ngajak mereka?" tanya Susan.


"Tadi Ari chat suruh ke sini makan." jawab teguh.


Nampak telepon Beni tidak di angkat oleh Sandi ataupun arif, "Bentar,," ucap Ira menuju kamar untuk mengambil ponselnya.


"Kenapa Ra?" tanya Beni.


"Sama lo gak di angkat kan? gue mau coba." ucapnya sambil menelpon Pras.


*Tuut,,tuut!!*


"Iya Ra?" jawab seorang pria dari telepon.


Ira menatap Beni dan tertawa, begitu juga dengan yang lain.


"Giliran Ira yang nelepon langsung di angkat." ucap Beni.


"Dimana Pras?"


"Di kosan, kenapa?"


"Sini ke kosan Susan, makan."


"Gak tau nih si Sandi gak mau."


"Emang cuma ada Sandi di situ?"


"Iya udah, ini ke situ!" ucapnya, lalu Ira mengakhiri panggilan.


Beni mengambil beberapa foto daging yang sedang di bakar, "Gue enggak Ben?" ucap Ira.


"Boleh?"


Ira merapihkan rambutnya, "Gue juga dong!" Dewi berdiri di samping Ira.


"123 ckrek!" ucap Beni.


"Tanggung Ben," Anggi merapat begitu pula dengan Susan.


Ke-empat wanita itu mengambil beberapa gambar. Setelah selesai, "Ben one more again?" ucap Ira menarik Ari yang sedang berdiri mengobrol dengan Rendi di belakangnya.


"Apa bu?" ucapnya.


"Gak jadi Ben," ucap Ira.


"Jadi Ben," merangkul Ira dengan mengusap rambutnya.


"123 ckrek!" mencium kepala, "123 ckrek!"


"Duhh,,," ucap Anggi tersenyum menatapnya membuat Ira merasa malu.


"Haha udah Ben,, liat gue?" meminta ponsel Beni.


Ira melihat foto itu, wanita dengan rambut yang terurai panjang, memakai piyama polos berwarna biru dongker, di rangkul oleh seorang pria tinggi kurus, yang memakai kaos hitam, dengan celana jeans dan sebatang roko di tangan kirinya.


Mereka berdua tersenyum menatap foto itu, Ira lalu mengirimkannya.


"Aku juga bu?" ucap Ari yang masih merangkul pundaknya.


Setelah Ira mengirim foto itu, dia menghapusnya lalu mengembalikan ponselnya.


"Makasih Ben,"


"Fotonya yang bagus atau tukang fotonya yang berbakat?" tanya Beni.


"Kameranya bagus dan yang ini cantik!" ucap Ari membuat Ira salah tingkah.


"Iya gombalan maut haha!" Anggi dan Susan tertawa bersamaan.


"Udah nih,, ambil wadah San!" ucap Teguh.


Susan pergi ke dapur untuk membawa wadah di susul oleh Ira dan Anggi, untuk mengambil sambal dan beberapa gelas.


Beni menyimpan daun pisang tepat di teras kosan, lalu Dewi mengelapnya dan Ira mengambil nasi yang masih dalam magic com.


"Pasti ada yang kurang deh," ucap Ira.


"Apa Ra?"


"Beli kerupuk dong!"


"Mau?" tanya Ari.


"Iya,, enak tau."


"Iya udah,, kalo lama sambil nyusul Rezki sama Sandi iya?" ucap Ari pergi dengan motornya.


Menuangkan nasi di atas daun pisang dan daging ayam yang di bagi rata, mereka siap makan.


"Nunggu yang lain dulu lah!" ucap Anggi.

__ADS_1


"Iya udah, gue foto dulu!" ucap Beni mengambil beberapa gambar.


Secuil demi secuil mereka memakan daging dan nasi liwet perlahan, sambil menunggu Ari yang tak kunjung datang.


"Ko lama iya?" ucap Ira.


"Duluan apa iya? laper gue!" Susan duduk di sebelah Ira.


"Iya udah duluan aja makan!" ucap Ira melihat dari kejauhan Ari datang dengan Rezki.


"Belum mulai?" tanya Ari turun dari motornya.


"Mana Sandi? Pras?" tanya Anggi.


"Mereka udah makan katanya," jawab Rezki.


"Makan lah!" ucap Beni.


Mereka duduk berjejer saling berhadapan, beralaskan daun pisang, makan daging ayam dengan sangu liwet dan sambal kecap, di tambah dengan kerupuk terasa sangat nikmat malam itu. Tidak lebih dan tidak kurang.


Bukan hanya menikmati makan malam, tapi menikmati kebersamaan. Sebentar lagi praktek kerja lapangan, masing-masing dari mereka akan sibuk dengan pekerjaan. Dan mungkin beberapa dari mereka ada yang di tempatkan di luar kota. Meskipun hanya 2-3 bulan saja, tetapi mereka sudah dekat dan sering menghabiskan waktu bersama dari sejak kelas 1 SMK. Tidak biasa bagi mereka untuk saling berjauhan dan jarang bertemu.


**


Selesai makan, Beni dan Teguh melipat daun pisang dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu Susan mengepel lantai bekas mereka makan.


"Awas dulu dong!" ucapnya.


"Sabar,," jawab Ira sambil membereskan gelas.


Para pria sudah mencuci tangannya dan duduk di atas motor sambil merokok. Entah apa yang mereka bicarakan, yang terdengar hanyalah tawa dan obrolan tidak jelas.


*


Setelah semuanya beres, Ira, Susan, Anggi dan Dewi duduk di ambang pintu sambil memperhatikan para pria yang asyik dengan obrolannya.


"Ra? mau cerita lagi gak?" tanya Susan.


"Enggak ah,, tapi sebenarnya ada sih yang harus kalian tau."


"Apa Ra?" tanya Dewi.


"Enggak sekarang, besok aja di sekolah."


"Apa Ra?" tanya Susan.


Wanita itu terdiam menatap ke-tiga temannya. Dengan ekspresi wajah yang serius, mereka percaya bahwa Ira memang akan mengatakan hal penting.


"Apa sih Ra?" tanya Anggi.


"Jadi gini, rasa yang tidak pernah gue rasain sebelumnya kini hadir dengan sangat jelas. Gue gak bisa menjelaskan rasa itu, tapi yang jelas saat ini,,,, gue benar-benar mencintai Ari." ucapnya tersenyum tipis menatap mereka yang memasang wajah serius karena mendengarkan apa yang sedang Ira katakan.


"Laaaahhh!!" ucap Dewi, Anggi dan Susan bersamaan lalu menarik perhatian para pria yang mendengarnya.


"Dasar mony*t!" ucap Susan mencubit pipi Ira.


"Nyesel gue udah dengerin baik-baik." tambah Dewi.


"Hahaha maaf, maaf, kan gue udah bilang besok aja. Sekarang udah malem." tanpa merasa bersalah Ira tertawa bahagia telah membodohi ke-tiga temannya itu.


Anggi ikut tertawa sambil mengacak rambut Ira, "Dasar!" ucapnya.


"Serius amat sih mukanya haha." jawab Ira sambil merapihkan rambutnya.


"Ada apa sih?" Rendi menghampiri di ikuti oleh yang lain.


"Ini si Ira ada pembicaraan yang penting katanya, udah dengerin baik-baik ehh endingnya," Ira memotong pembicaraan anggi, "Ooohh tidak haha!" ucapnya.


"Suutt!! tapi ngomong-ngomong, ini udah mau jam 2 malem. Pada pulang sana!" ucap Anggi membuat mereka semua terdiam.


"Iya, pulang Guh!" tambah Susan.


"Iya,, pulang iya?" ucap Teguh berpamitan.


Ira menghampiri Ari yang duduk di atas motornya, "Pulang, tidur!" ucapnya.


Pria itu hanya mengangguk, lalu mengusap rambut Ira. "Tidur!" ucapnya.


Mereka semua pergi dengan motornya meninggalkan tempat itu, lalu para wanita masuk kembali ke kamarnya.


"Tapi emang gue ngantuk sih, kenyang kali." ucap Susan sambil menutup pintu.


Tidur berdesakan di atas satu kasur. Dari sisi kiri ada Dewi, Susan, Anggi dan Ira paling ujung dekat dinding.


"Sayang Santi gak ikut," ucap Dewi.


Mereka semua hanya terdiam tanpa menjawab apa yang di katakan Dewi, karena sudah fokus dengan ponselnya masing-masing.


Suara kipas angin yang bulak-balik menjadi lagu penghantar tidur untuk mereka, dari mulai Anggi, Dewi, lalu Susan sudah menaruh ponselnya dan tertidur. Tinggal Ira seorang yang masih membuka matanya.


Wanita itu mengirim Ari pesan.


*Isi pesan*


"Udah nyampe? aku tidur duluan iya?"


"Aku sayang kamu."

__ADS_1


Menyimpan ponselnya di samping. Terdiam menatap langit-langit kamar, karena sudah larut malam tidak terdengar suara motor dan mobil yang berlalu lalang. Jikapun ada, mungkin hanya beberapa kendaraan saja.


*****


__ADS_2