
.
.
.
Lagi dan lagi.
Karena Ira bertemu dengan ayahnya tadi siang seolah malam sunyi itu adalah waktu yang tepat untuk membawa segala ingatan kenangan di masalalu.
Terdiam, dulu pernah ada waktu singkat akan masa dimana semua keluarga lengkapnya masih berasama. Saat itu Ira belum memiliki adik. Ayah pernah mengajak ira, kakak dan ibunya pergi ke kebun untuk menanam jagung.
Terletak di pesisir pantai kebun itu tidak cukup luas mereka menanamnya di tengah-tengah pohon kelapa yang di kelilingi pohon pandan. Samar-samar dia ingat karena itu sudah lama sekali bahkan jauh sebelum pada akhirnya ada waktu ibu pamit untuk pergi bekerja ke luar kota.
Tidak nyaman sekali rasanya hanya hidup bersama ayah yang sibuk bekerja. Di rumah yang dulunya berisik akan teriakan ibu yang selalu mengomentari apapun saat itu berubah menjadi sunyi sepi. Makan pun hanya ada nasi di meja karna untuk lauk pauk harus membelinya ke warteg depan.
Ira terbiasa berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Pada saat itu tidak banyak orang yang memiliki kendaraan motor apalagi mobil . Bahkan banyak bus yang masih bolak-balik beroperasional tidak seperti sekarang ini.
Jam pulang sekolah Ira berbeda dengan kakaknya tapi dia selalu menunggu kakanya karena tidak ingin pulang sendiri kecuali jika ada teman yang sama-sama berjalan kaki.
Ingat sekali.
"Ira nanti pulang sekolah duluan iya, teteh mau ekstra voli dulu!" perintah Kakanya.
Waktu Ira pulang kebetulan sekali teman sebangkunya itu tidak di jemput oleh ibunya jadi mereka berjalan kaki. Karena masih anak-anak banyak sekali lelucon dan ketakutan yang tak mendasar. Ketika ada mobil box hitam dia dan temannya melompat ke selokan dan bersembunyi karna mengira mobil itu adalah culik.
Ketika ada beberapa kendaraan motor lewat dia dan temannya berpura-pura menjadi patung setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak.
Tiba di rumah Ira merasa kesepian karena ketika membuka pintu tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri.
Setelah berganti pakaian dia pergi ke rumah nenek untuk makan. Dan pergi lagi menemui temannya lalu bermain sampai sore hari.
Seperti anak kecil pada umumnya, setiap hari di sibukan dengan banyaknya petualangan dari berenang di sungai, mencari siput laut di tepi pantai. Menaiki pepohonan sawo mencuri buah-buahan di kebun milik orang dan kejahilan lainnya. hingga waktu sore tiba nenek menjemput cucunya pulang dengan membawa kayu untuk di pukul, biasanya sasaran yang tepat adalah pantat atau betis tapi nenek tidak pernah melakukan itu. Kayu hanyalah bentuk ancaman agar cucunya merasa takut dan menurut.
Sangat menyenangkan sekali meskipun hati sudah merasa kesepian karena tidak berjumpa dengan ibu dalam waktu yang lama tetapi kehidupan saat itu tidak memiliki banyak beban pikiran. Hanya ada tawa bahagia yang terdengar keras.
Padahal pada kenyataannya saat-saat itu adalah awal mulanya semua kehancuran dan tau rasanya sakit hati.
**
*Duut duut duut duut* ponsel bergetar panggilan masuk menyadarkan Ira.
Di lihatnya panggilan dari Ari.
"Hah Ari? tumben dih. iya?" (mengangkat panggilan masuk).
"Udah tidur Bu?"
"Belum sih ini masih duduk santai biasa menikmati malam."
__ADS_1
"Tumben (melirik jam tangan 01:25) jam segini nelepon" sambungnya.
"Enggak sih gak bisa tidur aja."
"Apa ada masalah Ri?"
"Sebenarnya ada sih, boleh minta tolong gak?"
"Kalo gue bisa bantu iya bisa, cerita dulu deh masalahnya."
"Sekarang? apa besok aja di sekolah?"
"Sekarang juga gak papa tanggung udah penasaran."
"Jadi mau temenan aja?"
"Maksudnya?"
"Dari sekian lama, hubungan ini cuma sekedar temenan aja gitu?"
"Haha ngomongin apa sih? udah lah Ri."
"Apa udah punya?"
Terdiam. Sebenernya bukan hanya Ari, wanita itupun menyukainya. Tetapi, sejauh ini dia berusaha menahannya agar tidak melebihi batas lebih dari rasa suka. Dia sangat menyadari dirinya hanyalah seorang wanita biasa yang memiliki kehidupan kelam, kehidupan dimana tidak semua lelaki akan mau menerimanya.
Jangankan untuk menjalin sebuah hubungan, dia bahkan tidak percaya dengan namanya cinta. Bukan tidak percaya, tetapi dia belum merasakan jelas bagaimana rasanya mencintai dan di cintai dengan tulus. khususnya di perlakukan dengan baik oleh orang lain.
"Ra? ngelamun iya?" tanya Ari menyadarkannya.
"Gue gak kenal banget sama lo? dan udahlah, terkadang seperti ini lebih baik" jawab Ira agar percakapan ini tidak memanjang.
"Gimana mau kenal Ra di beri kesempatan buat kenalan aja enggak."
"Ri?"
"Apa? emang sejauh ini belum kenal iya?"
"Iya, tapi dasar brengsek! lo kan punya?"
"Kata siapa?"
"Gue tau!"
"Enggak beneran, ko malah nanya balik. Emang udah punya?"
"Emang harus banget iya punya pacar?"
"Iya harus. kalo lo tetep sendiri rasanya gue ingin memiliki hee."
__ADS_1
"Mulai... mulai" ucap Ira sembari tertawa.
"Tapi memang lebih baik gak ada yang memiliki sih, hati gue tenang rasanya." balas Ari menggoda.
"Udah deh gak jelas, jadi sebenarnya nelepon itu mau apa? nanti ada yang salah paham."
"Jadi gini, tau kan cewek gue kerja di luar kota?"
"Iya tau, langsung ke intinya aja."
"Kayanya dia selingkuh deh, mau gak kalo misalkan coba chat cowoknya buat tanya-tanya beneran pacaran apa enggaknya gitu?"
"Heum maksudnya coba deketin cowoknya gitu?"
"Hehe iya, nanti aku Broadcast pin BBM kamu ke dia. Pasti bakalan di invite deh."
"Gampang banget iya?"
"Tolong iya?"
"Heum,, tapi di BC nya ke dia aja iya? jangan ke orang lain lagi. Males nanti banyak sampah!"
"Iya iya."
"Tapi ngomong-ngomong tumben jadi lo gue?"
"Haha maaf, tapi kalo gak salah tadi ibu yang mulai duluan."
"Iya deh."
"Iya. Thanks cantik sekarang udah malem tidur iya besok ketemu di sekolah!"
"Iya ini juga mau tidur (sembari bangun dari duduknya masuk ke dalam menutup pintu dapur dan ke kamar) iya udah bicara besok."
"Udah ini tidur iya jangan bergadang apalagi mikirin yang enggak-enggak."
"Iya sayang." Ira sambil tersenyum.
"Haha iya selamat malam." balas Ari tertawa pelan menutup teleponnya.
Dia sendiri yang mengatakan sayang tapi dia sendiri yang tersenyum malu.
Mereka berdua memang sedekat itu. Bahkan jujur diantara keduanya pernah mengakui bahwa mereka saling memiliki rasa suka, tetapi berusaha untuk menjauhkan hubungan itu dari rasa canggung (berpacaran) karna menurut keduanya sedekat itu lebih nyaman di bandingkan dengan jika mereka berpacaran lalu putus Suatu hari nanti keadaannya tidak akan sama seperti pada awalnya, dan itu tidak harus terjadi.
Sejauh ini keduanya memutuskan untuk saling mengenal sebagai teman, Ari yang sibuk dengan urusan pribadinya dan Ira dengan kehidupan kelamnya. Meskipun terkadang dalam perasaan masing-masing, keduanya berharap akan menemukan titik temu dimana mereka bisa saling membagi cerita dan membuat kisah.
Wanita itu mematikan lampu kamar, mengecas ponselnya dan duduk di atas kasur. Terdengar suara ayam berkokok menandakan bahwa malam sudah berlalu menuju pagi.
Menarik selimutnya berbaring tidur menghadap kanan. Memperhatikan buku yang tergeletak di atas meja, hembusan kipas angin berusaha membuka halaman tetapi buku itu tetap tidak terbuka.
__ADS_1
Wanita muda itu terlelap. Sudah biasa baginya tidur di tengah malam padahal esok hari dia harus pergi kesekolah. Tidak ada yang peduli bagaimana dia mengatur jam tidur, kapan dia bangun dan bagaimana dia belajar dia selalu melakukan semua hal dengan sesuka hati.
****