
.
.
.
Tengah hari yang panas, dua wanita itu tertidur lelap. Kipas angin yang menghadap langsung mengipasi tubuh mereka membuatnya terasa lebih nyaman berada di kamar.
"Loh? tidur?" samar-samar terdengar suara seorang pria berbicara.
"Ini pintunya dari tadi kebuka?" tambah seorang lagi.
Nampaknya dua orang pria memasuki kamar mereka. Usapan tangan yang mengelus rambut Ira membuatnya terbangun, dia sudah mengetahui bahwa manusia ini pasti Ari.
Perlahan membuka matanya, tersenyum malu karena pria itu duduk tepat di hadapannya sambil menatap.
"Dari tadi tidur pintunya kebuka gini?" terdengar Teguh bertanya pada Susan.
"Ketiduran." balas Susan berpindah, tidur di pangkuan Teguh.
"Bangun!" bisik Ari di telinganya.
Wanita itupun beranjak, langsung menuju kamar mandi dan mencuci mukanya.
Melihat jam di tangannya dia kaget, "Hah? jam 13:04? astaga gue bahkan gak denger suara adzan. Gila!" ucapnya keluar lalu berdiri mematung di depan kamar mandi.
"Kenapa lo?" tanyaTeguh.
"Udah jam setengah 1 lebih." jawabnya lalu duduk di samping Ari.
Susan yang berbaring itu langsung duduk, "Sumpah lo?" melihat ponselnya. "Beneran ******." ucapnya bersandar pada pundak lelakinya.
"Emang kenapa bu?" tanya Ari.
"Haha kita tidur dari jam 11an, iya kan San?"
"Sumpah gue gak denger suara adzan Ra."
"Sama, makanya gue kaget."
"Bentar, terus dari jam 11 tadi pintu kamar kebuka?" tanya Teguh.
"Ketiduran, lupa juga." jawab Susan.
"Kalo orang lain yang masuk gimana? mikirin gak?"
Entah apa yang Susan jawab, dia berbisik pada telinga Teguh dan mencium pipinya. Mungkin Teguh merasa tidak nyaman dan sedikit marah, lagipula memang salah dua wanita tidur dengan keadaan pintu terbuka.
"Udah pada makan?" tanya Ari pada Ira dan Susan.
"Belum, kan bangun tidur Ri." jawabnya.
"Mau makan apa?"
"Nanti, jadi cerita dulu tadi kemana aja? sama siapa aja? dan kenapa gak ada yang pamit? Kamu, Teguh sama Beni juga kompakan." tanya Ira pada keduanya.
__ADS_1
Lalu Ari menceritakan, bahwa mereka menemui guru pembimbing dan langsung mencari kosan untuk mereka tinggal.
Tidak memberi kabar, karena mereka memutari wilayah tersebut dan mencari tempat yang nyaman untuk beberapa bulan kedepan. Terutama bebas atau tidaknya wilayah tersebut, karena bagaimanapun juga mereka masih anak remaja yang gemar dengan kerusuhan. Tambah Teguh.
"Kamu kapan pergi?" tanya Ari yang belum mengetahui bahwa Ira akan bekerja di sini.
Susan tersenyum menatapnya, "Haha lo beneran belum tau Ri?"
"Tau apa?" jawabnya penasaran.
"Ira barter sama Iki." belum selesai berbicara Ari menyela, "Bentar, kamu di sini?" tanyanya.
Ira tersenyum mengangguk, "Beneran bu? bagus tuh." terlihat dari wajahnya yang senang mendengar kabar itu.
"Yuk Ri? Pak Gilang." ajak Teguh beranjak sambil melihat ponselnya.
Ira dan Susan hanya terdiam saling menatap membiarkan dua pria itu pergi. "Mau ikut gak?" ajak Susan sambil merapihkan rambutnya.
"Kemana?"
"Mau makan apa? gue pengen mie instan sih."
"Nitip gimana? gue mau coba menghubungi pria itu."
Susan mengangguk lalu keluar kamar dan menutup pintunya.
"Hmm,," terdiam melihat ponselnya, lagi dan lagi menghianati diri. Dia merasa ragu, siapa yang harus di hubungi lebih dulu? siapapun itu tetap saja dia harus menemuinya.
Tidak munafik, mana ada pria baik yang mau menolongnya tanpa sebuah imbalan? terutama bagi mereka yang sudah mengetahui bahwa Ira wanita seperti apa.
"Tuuutt!" dia mengakhiri teleponnya.
Tidak pernah ada sedikitpun ketenangan dalam hidupnya, keadaan ataupun pikiran selalu mengganggunya.
"Duut duut!!" panggilan masuk.
"Iya?" dia menjawabnya.
"Kau menelpon? perlu sesuatu?" tanya pria tua itu.
"Kau mungkin sudah tau, 5 hari lagi aku mulai bekerja dan uang tabunganku tidak cukup. Bisakah?" dengan maksud meminta tanpa berhubungan.
"Aku akan memberimu lebih, bisakah menemuiku?" tanyanya, jawaban yang sudah di duga.
"Degg! anj*ng memang, lagi pula manusia mana yang mau memberi tanpa sebuah imbalan? benar, tidak ada yang gratis di dunia ini." gumamnya sambil menutup ponsel.
"Iya, jika aku luang malam ini. Aku akan memberitahu nanti." ucap Ira mencengkram betis dengan kuku panjangnya.
"Kabari saya." jawabnya mengakhiri panggilan.
Rasanya ingin sekali meledakkan emosi yang menggumpal di dadanya, wanita itu berulang-ulang menarik nafas lalu beranjak menatap cermin.
"Jangan pernah berharap lo akan bisa keluar dari lingkaran kehidupan yang hina ini, wanita seperti lo memang pantas mendapatkan semuanya" mencaci dalam hati.
Kembali mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Tuut tuut!!"
"Apa kabar?" jawab seorang pria yang langsung menjawab teleponnya.
"Aku tidak bisa melakukan ini, kau mau menjemputku?" pinta Ira kepada pria yan g selalu bersikap lembut ini.
"Hemm,, jika itu yang kau mau. Kapan aku harus menjemputmu? nanti malam?"
"Iya, setelah adzan Maghrib jemput aku."
"Iya, akhiri dulu." ucapnya mengakhiri panggilan.
"Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Gue sudah muak!" ucapnya melempar ponsel ke kasur dan berbaring menutup wajahnya dengan bantal.
Kembali menghinanati diri, niat dan usaha yang pada akhirnya akan sia-sia. Dengan keadaan yang tetap seperti ini, tidak ada jaminan untuknya berhenti.
Berpegang teguh pada pendirian? seperti apa? benar nyatanya, manusia bisa berencana tetapi Alloh punya realita.
Apakah kehidupan yang lebih baik itu benar-benar nyata? seperti apa? dan apakah di dunia ini benar-benar ada manusia baik yang menolong tanpa sebuah imbalan?
*
"Derrnn!!" di sadarkan oleh suara motor yang berhenti di depan kosan, Ira langsung beranjak membuka pintu. Dia pikir itu Susan, ternyata Ari dan Teguh.
"Brakk!" menutup kembali pintu.
"Loh?" terdengar suara Teguh, lalu dia membukanya kembali.
"Mana Susan Ra?" tanyanya nyelonong melihat ke kamar mandi yang kosong.
"Ke warung sih,," beranjak merapihkan baju dan keluar menghampiri Ari yang sedang duduk di teras menatapnya.
"Udah?" tanyanya duduk di samping Ari.
"Udah, mau langsung kerja iya?"
"Gak mau!"
"Hah? maksudnya?" dengan wajah heran, karena Ira belum pernah seperti ini sebelumnya.
"Aku mau kamu gak kerja hari ini. Gimana?" tanyanya membuat pria itu tersenyum.
"Tumben, kenapa?" mencubit dagunya.
"Mau di peluk kamu." ucap Ira sambil menggigit bibirnya menggoda pria itu.
Tersenyum mengangguk-angguk. Lalu Ira beranjak kembali ke kamar, bersiap memakai kerudung dan jaketnya.
Duduk di teras memakai sepatunya, "Susan masih lama gak iya?"
"Dari tadi?" tanya Ari.
Selesai memakai sepatunya, dia beranjak dan berkaca di jendela.
"Guh? bilangin iya ke Susan gue pulang duluan sama Ari!" ucapnya berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Dia hanya mengangguk, "Duluan Guh!" ucap Ari menghidupkan motornya lalu Ira naik dan motor maju perlahan menelusuri gang.
*****