
.
.
.
Mobil berhenti di tukang sate.
"Di bungkus aja, gak mau turun!"
Pria itu hanya diam lalu memesan.
Alasan Ira tidak ingin turun dari mobil, karena dia merasa bahwa dirinya sekarang sudah menjadi kekasih Ari dan dia mengetahui bahwa Ari memiliki banyak teman terutama saat itu posisi Ira sedang berada di daerah itu.
Daerah ini bukan hanya tempat Ari nongkrong, tetapi banyak temannya yang tinggal di sini. Jika Ira turun, dia takut bagaimana jika ada yang melihatnya lalu mengadukannya pada Ari?"
Melihat ponselnya.
*Tuuutt tuuutt!!* Ira menelepon.
"Iya cantik?"
"Kamu beneran kerja?"
"Iya bu."
"Hmm iya udah." Ira mematikan teleponnya.
*Klik*
Ari mengirim foto bahwa dirinya sedang menyetir sekarang.
"Iya."balas Ira.
"Makan bu!"
"Iya."
"Katanya ada janji?"
Pria itu membuka pintu mobilnya menyimpan nasi dan sate di jok belakang lalu menutupnya dan masuk ke mobil.
"Lama?"
"Gak papa."
Melaju kembali menelusuri perkotaan.
"Iya ini lagi." Ira membalas pesan.
"Boleh tau kemana? sama siapa?"
Ira terdiam..
"Cuma makan doang, sama mama Rani."
"Iya nanti aku telpon sekarang lagi nyetir!"
Ira tidak membalasnya dan merasa bersalah karena berbohong.
"Ini alasan aku tidak ingin berpacaran, lagi pula pria mana yang tidak akan sakit hati jika berpacaran dengan seorang wanita pelac*r. Sekalipun dia bilang menerimanya dengan baik, perasaan tidak bisa di bohongi pasti sakit jika mengetahui bahwa wanitanya tidur bersama pria lain." berkata dalam hati.
"Sekarang lebih sibuk iya?"
"Sibuk gak sibuk sih."
"Udah punya pacar?"
__ADS_1
"Udah!"
"Pacaran atau tidak itu terserah kamu, cuma titip jangan banyak berhubungan. Aku membelimu dengan uang, jangan sampai kau memberinya dengan cuma-cuma. Sayangi dirimu sendiri."
Ira terdiam memikirkan.. Tapi apa yang di katakan olehnya itu memang benar.
Mereka sampai di rumah itu. Ira turun dari mobil berjalan menuju rumah dengan berlari kecil karena saat itu masih gerimis. Mungkin hujan deras akan segera turun.
Membuka pintu rumah yang tidak di kunci, mungkin seseorang sudah membersihkan rumah ini sebelumnya
Ira duduk menghadap jendela. karena laut gelap ombak tidak terlihat, hanya terdengar deburannya saja. Tempat ini memang sangat nyaman, tapi ketika Ira menginjakkan kakinya di sini suasana hatinya berubah. Kesal, sedih, marah, tertekan, entah apa lagi dia tidak bisa merasakannya dengan jelas.
Pria itu kemudian masuk membawa makanan tadi dan sebotol bir.
"Makan dulu!"
Ira membuka bungkus itu lalu mengambil piring dan sendok.
"Loh, ko satu?"
"Buat kamu."
"Hmm iya makasih." Ira makan.
"Masih jarang makan di rumah iya?"
Ira mengangguk.
"Udah tinggal di sini aja daripada kosong."
"Gak mau tinggal di rumah tapi gak bisa kalo gak tau kabar adik-adik."
Dia tidak lagi berbicara.
Selesai makan Ira duduk meroko dan meminum birnya itu.
"Kau ingin apa?"
"Anggur merah, aku tak ingin ikut pulang nanti. Aku akan minum sendiri di sini, suasana hatiku benar-benar tidak bisa di jelaskan."
"Kau akan menginap di sini?"
"Tidak, aku akan pulang sendiri!"
Pria itu bangun dari duduknya pergi keluar rumah.
"Aku merasa gila!" ucap Ira mengusap wajahnya.
Karena mereka sudah bersama untuk waktu yang cukup lama, keduanya sudah sedikit mengenal tentang karakter masing-masing. Begitu pula, pria itu tidak terlalu banyak bertanya atau ikut campur tentang masalah pribadi Ira.
Dulu ketika mereka baru-baru menjalin hubungan pria itu sedikit overprotektif karena dia tidak menginginkan Ira pergi kemanapun. Dia hanya menginginkan Ira untuk dirinya sendiri terutama menjaga kesehatannya.
Ira bangun dari duduknya membuka tas dan mengambil dres pendek lalu mengganti pakaiannya. Dia tidak ingin berbasa-basi layaknya pasangan jika harus jujur dia benar-benar sudah muak dengan keadaan ini.
"Cape, mau udahan....tapi semesta memaksa untuk bertahan!" ucapnya menatap dirinya di cermin.
Pria itu masuk ke rumah membawa 2 botol anggur merah.
Ira memeriksa ponselnya lalu di matikan, saat ini tidak harus ada yang menelepon. Bukan mengganggu saat melakukannya. Tapi akan sangat menggangu perasaannya terutama jika panggilan itu dari Ari.
Duduk kembali, pria itu menuangkan anggur dan meminumnya. Satu botol bir dan anggur sudah habis, tersisa sebotol lagi untuk ira sendiri nanti.
Pria itu mematikan rokoknya menghampiri Ira dan mengiringnya ke ranjang..
Dia sedikit heran melihat bekas kecupan pada payud*ra Ira. Itu memang sebuah kesalahan karena meskipun Ira memiliki kekasih tapi bekas itu seolah tidak menghargai dirinya.
"Saat ini aku tidak peduli, tapi lain kali tidak perlu jelas seperti ini!"
__ADS_1
"Ini diriku, jika orang lain mungkin mereka bisa marah!"
"Iya aku tau."
*
Pukul 23:19.
Ira beranjak dari ranjang langsung ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Duduk menatap cermin merapikan rambut dan makeup. Menyemprotkan minyak wangi ke seluruh badanya, terutama leher bagian tubuh yang Ira sukai.
Melihat dari cermin pria itu ke kamar mandi.
Lalu Ira membawa ponsel di tas dan menghidupkannya penasaran akan ada pesan atau panggilan dari Ari atau tidak.
*Ponselnya*
4 Pesan belum terbaca
3 Panggilan tidak terjawab
Semuanya dari Ari "Deg deg deg!!" jantungnya berdegup sangat kencang, mungkin karena merasa bersalah.
Pria itu keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya.
Duduk di kursi menyulut sebatang roko. Ira menyimpan kembali ponselnya dan duduk di hadapan pria itu menuangkan Anggur lalu meminumnya.
"Gak pulang sekarang?"
"Enggak, duluan. Lagi pengen sendiri."
*Ponsel berbunyi panggilan masuk*
"Iya?"
"Bentar lagi nyampe!"
Ira terdiam tidak peduli, tapi dia tau yang menelepon itu pasti istrinya.
"Ini lebih buat makan!" Menyimpan uang di atas meja tepat hadapan Ira.
"Makasih."
Pria itu beridiri "Jangan pulang malam!" ucapnya memandang dan langsung pergi.
Ira hanya diam memandang pria itu keluar rumah.
Urusan bagaimana dia pulang itu nanti. Bahkan dia sendiri tidak memikirkannya, yang dia inginkan sekarang hanyalah.
"Menyendiri untuk menertawakan diri sendiri." ucapnya tersenyum dalam kemarahan.
"Jika bukan diri sendiri siapa lagi? Yah, anakmu di paksa kuat oleh keadaan. Aku bohong jika aku wanita yang kuat. Aku bohong jika aku tidak merasa sakit. Aku bohong jika aku baik-baik saja!" ucapnya dalam hati.
Menuangkan anggur dan meminumnya.
"Apakah tidak ada kata keberhasilan untuk diriku yang selalu gagal dalam hal apapun ?"
Sekarang wanita itu sudah tidak menuangkan anggurnya pada gelas, dia meneguknya seperti orang yang sedang kehausan.
Melihat ponsel dan membuka sosial media.
"Dan, seperti kamu yang sedang berjalan sendiri, mencoba mencinta diri sendiri tak apa-apa. Beberapa hal dalam hidup memang butuh perjuangan sendiri."
"Haha kehidupan macam apa ini?"
"Terimakasih untuk tamparannya!" ucapnya menyimpan ponsel di atas meja.
__ADS_1
*****