Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 9


__ADS_3

.


.


.


Di bangunkan oleh mimpi buruk. Bagaimana mungkin dia bisa bermimpi apa yang saat ini dia rasakan terulang kembali oleh adiknya. Mimpi itu jelas seperti nyata.


"Gak, ini gak mungkin... Ini hanya mimpi, ini bunga tidur.. Dia tidak akan merasakan apa yang telah gue rasain. Akan gue pastikan dia akan hidup dengan baik-baik!" ucap Ira setengah sadar.


Melihat pada jendela, nampaknya sudah pagi hanya saja cuaca saat itu agak mendung. Jam di tangannya menunjukkan waktu sudah pukul 05:45, wanita itu bangun membereskan tempat tidur dan langsung mandi.


*


Selesai mandi dan berpakaian dia duduk menatap cermin. Bertanya-tanya dalam pikiran bagaimana jika mimpi buruk itu sampai terjadi? banyak sekali mimpi buruk yang sebelumnya telah terjadi dalam kenyataan. Terbayang di pikirannya adik cantik yang dia sayangi meskipun dia tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya secara langsung tetapi di setiap hari dia selalu memiliki sebuah kekhawatiran, ketakutan, bagaimana dengan jalan masa depan adiknya nanti? manusia bisa menahan siksaan tetapi tidak dengan rasa takut, karena rasa takut adalah kelemahan yang paling utama.


"Ya Alloh enggak ini gak akan terjadi." ucapnya berusaha memalingkan pikiran.


Menyisir rambut lalu di ikat, memakai kerudung dan selesai. Wanita itu siap berangkat ke sekolah, keluar dari kamar membuka pintu lalu duduk di lantai memakai sepatu.


Karena masih pagi Tia belum keluar kamar.


Ira berjalan ke rumah nenek.


*Tuuut tuuut tuuut!!* menelepon Iki.


"Iya Ra?"


"Dimana Ki? Gue udah siap nih nunggu di rumah nenek."


"Haha ini baru jam 06:00 tumben-tumben lo udah siap?"


"Gue salah bangun ki, di kira udah siang tapi masih pagi. Mau tidur lagi nanggung. Iya udah gue tunggu!" balas Ira mematikan telepon.


Nenek keluar dari rumahnya membawa seember jemuran.


"Udah mau berangkat sekolah neng? tumben pagi-pagi." ucap Nenek sambil menjemur pakaian.


"Ira bangun ke pagian nek, gak tau Iki jemputnya jam berapa."


"Iya udah mumpung Iki belum jemput makan dulu tuh sama adik-adikmu nenek udah masak nasi goreng kuning!"


Ira masuk ke rumah nenek terlihat ada kakek sedang duduk sambil menonton tv dan ke dua adiknya yang sedang makan.


"Kek?" Ira menyapa.


"Sini, makan dulu neng." ucap Kakek.


Ira menyimpan tas sekolah nya melangkah ke dapur, mengambil piring kaca lalu menyendok nasi goreng kuning dari wajan.

__ADS_1


Salah satu ciri khas nenek adalah dia sering membuat nasi goreng yang di campur dengan kencur dan warna kuning terdapat dari kunyit.


Sebelum ke ruang tamu adiknya Sindi menghampiri sembari menyimpan piring bekasnya makan.


"Teh, punya uang gak? Sindi pengen beli celana jeans." ucapnya.


"Sekarang punya emang berapa?"


"Iya 100 ribu juga cukup."


"Kalo mau baju atau celana ambil aja di lemari teteh, tapi teteh harus tau dulu yang mananya?"


"Boleh?"


"Iya, tapi kalo kesayanganmah jangan!" Sambil melangkah ke ruang tamu duduk dan makan. Memperhatikan sindi yang sedang bersiap-siap ke sekolah. Dia baru masuk SMP dan Hesti masih kelas 5 SD.


Tidak terasa pertumbuhan adik-adiknya itu sangat cepat. Bahkan tinggi badannya hampir menyusul Ira.


Cuaca mendung dan pemikiran akan mimpi semalam merusak pagi itu. Bagaimana ira tidak terus-menerus terpikiran jika selagi keadaan rumah tetap seperti ini dan kondisi keuangan buruk tidak ada jaminan bahwa adiknya itu akan hidup baik-baik. Bagaimana jika adiknya nanti lebih pandai dalam menyembunyikan apa yang sedang dia perbuat sama seperti Ira sekarang.


"Dih jadi badmood gini!" ucap Ira.


Berjalan menyimpan piring ke dapur.


"Ko gak habis?" tanya Nenek.


"Udah nek, gak biasa makan pagi jadi gak enak."


"Ahh gak mau, nanti aja siang."


"Kebiasaan jarang makan itu neng, tapi jangan banyak makan yang pedes-pedes kalo belum makan nanti lambung!"


"Iyaaa..."


*Tiiitt tiitt!!* suara klakson motor, Iki datang.


Ira keluar membawa tas dan langsung memakai sepatunya.


"Yuk?"


"Bentar," memakai sepatutnya.


"Nek Ira berangkat dulu iya?" menaiki motor dan melaju.


Nenek yang baru keluar rumah hanya menatap cucunya pergi ke sekolah tanpa berkata apapun.


*


"Kalo pagi-pagi di rumah nenek pasti lo udah makan iya?"

__ADS_1


"Iya makan, tapi dikit lah gak mood."


"Ada masalah lu?"


"Gak ada sih, tapi gue agak bimbang nih."


"Apa tuh?"


"Kepo lo!"


"Turun lo, jalan kaki sana!" ucap Iki menggoda Ira.


"Iya udah gue turun. Emang lo pikir gak ada yang mau bonceng gue?"


"Iya deh nyonya menang." balas Iki mengalah.


"Ini tentang Ari."


"Ada apa? kalian pacaran?"


"Haha ko lo bisa mikir gitu sih?"


"Iya kan setau gue Ari suka sama lo dari sejak kelas 1."


"Suka-suka doang. Dia cuma ngomong, gak beneran."


"Masa gak beneran?"


"Lo tau kan? Ari pria brengsek yang tidak cukup dengan satu wanita. Bahkan banyak juga mantannya yang tante-tante haha." ucap Ira tertawa.


"Enak kali pacaran sama tante, tapi kayanya engga juga deh. Pengeluaran uangnya lebih gede."


"Bukan cuma pengeluaran uangnya kali, haha."


"Ohhhahaha bener itu Ra." Iki tertawa mengerti apa yang di maksud oleh Ira.


"Tapi kan selera orang beda-beda. Semua cowok harus tau ki jangankan menikah, pacaran aja butuh modal banyak. Emang lo pikir cewek gak perlu perawatan? gak perlu makan? apalagi jajan. Sebagai cowok, seenggaknya lo harus bisa ngasih lah karna menjalin hubungan cuma modal cinta doangmah gak bakalan kenyang. Misalkan lagi jalan bareng terus pengen makan bakso emang bisa di bayar pake cinta? pake duit kan? intinya dengan banyak duit semuanya mudah." ucap Ira panjang lebar.


"Iya gue tau itu makanya ada orang yang bilang kalo buat cowok gak usah bingung mikirin cinta sama jodoh, kerja aja nabung cewek gak perlu di cari lo banyak duit mereka (cewek) sendiri yang nyamperin haha."


"Anjir lo tau perkataan yang kek gitu haha, hidup itu realistis lah terutama di jaman sekarang ini yang paling utama itu duit jadi kalo misalnya gue punya pacar tapi gak bisa ngasih gue apa-apa terutama buat jajan iya udah mending gak usah pacaran, sorry gue gak mau kenyang makan cinta hahaha."


"Om godain aku om teriak Iki."


"Anj*ng hahahaha!!!"


Mereka tertawa menyadari perkataannya sendiri. Jika di lihat dari kejauhan indah sekali satu pasangan berbincang di atas motor sambil tertawa bahagia.


Padahal jika di lihat dari dekat tidak mungkin mereka pasangan kekasih karena si lelaki bahkan terlihat lebih seperti perempuan di banding wanita yang di boncengnya.

__ADS_1


***


__ADS_2