
.
.
.
Pagi yang di awali dengan getaran ponsel, panggilan masuk membangunkan wanita itu dari tidurnya.
Dengan setengah mata tertutup dia beranjak dan menjawabnya. "Iya?"
"Ini apa aja yang di bawa Ra?" tanya Iki yang sudah berada di rumahnya.
"Itu ada ade gue? baju seragam lengkap, tas, makeup, sepatu sama jangan lupa jaketnya." ucap Ira sambil mencari ikat rambutnya.
"Iya udah." Iki mengakhiri panggilannya. Dia membalikkan badannya menatap Ari yang masih tertidur lelap.
"Heum,, sialan sekali kehidupan ini." berkata dalam hati memikirkan dirinya yang hidup dengan kebebasan tanpa batasan seperti ini.
Melepas perlahan pelukan pria itu, dia beranjak dan langsung mandi.
"Gue bukan anak ataupun wanita yang baik, tidak munafik gue sedikit menikmati kehidupan ini, tetapi tidak ada satupun waktu yang bertahan lama untuk sebuah ketenangan." menatap dirinya di cermin.
Melepas pakaiannya lalu, "Byurr!!" air membasahi tubuhnya.
*
Dengan memakai handuk pendek dia keluar dari kamar mandi. Melihat keluar jendela, hari yang cerah di sambut dengan birunya langit dan awan putih yang bergerak perlahan di terpa angin.
"Hei?" sapa Ari membuat wanita itu terkejut sontak menoleh ke belakang.
"Ngagetin!" berjalan masuk ke kamar melewati Ari yang berdiri di ambang pintu.
"Tumen udah bangun? langsung mandi." tanyanya.
"Di bangunin Iki tadi, sana mandi!" mendorong tubuhnya lalu menutup pintu kamar.
Dia melihat ponselnya dan mengirimi Susan pesan untuk mengganti bajunya di kosan nanti.
"Enggak! jangan bodoh dengan terhanyut oleh cinta, mereka membeli tub*h ini dan sekarang gue merelakannya begitu saja atas nama cinta? kenapa gue jadi sebodoh ini sekarang?" dalam pikirnya terdiam mengingat apa yang di katakan oleh gadun itu.
Pikirannya tidak pernah sedikitpun memberi ruang untuk sebuah ketenangan, dia selalu diam tetapi tidak dengan pikirannya.
"Tok tok!" seseorang mengetuk pintu dan masuk.
Ari selesai mandi dan langsung menggunakan seragamnya, "Makan sekarang apa nanti?" tanyanya berdiri di depan Ira sambil menyisir rambut.
"Nanti aja di sekolah, sekarang langsung berangkat!" jawab Ira beranjak dari duduk merapihkan tempat tidur.
"Oh iya, mulai hari ini aku sibuk kayanya. Nanti juga mau ngurusin tentang PKL." ucap Ira keluar kamar mengambil sapu.
"Aku di luar kota." tambahnya membuat Ari terdiam menatapnya.
"Hah?" mendekat padanya, "Kamu beneran di luar kota?"
__ADS_1
"Iya, aku di luar kota dan gak bisa barter."
"Gak bisa di biarin." jawaban Ari membuatnya tersenyum senang, membuktikan bahwa pria itu tidak ingin jauh darinya.
"Udah, nanti di bahas lagi. Yuk berangkat?" memakai jaketnya keluar kamar.
Membuka pintu nampak motor sudah terparkir di luar, "Kapan dia mengeluarkannya?" dalam pikirnya lalu melihat ponsel membaca chat dari Susan yang akan menunggu Ira di kosan.
"Yuk?" ajak Ari menghidupkan motornya kemudian Ira naik dan mereka berangkat.
**
"Gue tidak pulang ke rumah dan pergi menginap bersama lelaki brengsek ini, tidak satupun orang yang mencari keberadaan gue dan keadaan rumah Ari selalu sepi, bahkan dimana ada ibunyapun dia tetap membiarkannya? apakah kehidupan tanpa aturan seperti ini benar-benar nyata? bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah peraturan yang ketat?" dalam pikirnya.
"Kenapa diem?" tanya Ari mengusap tangannya.
"Enggak, langsung ke kosan Susan iya? dia nunggu di sana." ucap Ira karena mereka sudah sampai di lingkungan sekolah.
Tanpa menjawabnya Ari membelokkan motor ke jalan gang samping sekolah menuju kosan Susan.
Dari kejauhan terlihat motor Teguh terparkir di depan dan pintu kamar yang terbuka.
"Ri?" sapa Teguh berdiri di ambang pintu melihat mereka yang menghentikan motornya.
"Di sini Guh?" tanya Ira turun dan langsung masuk ke kamar.
"Aahh pagi?" sapanya memeluk Susan.
"Iya thanks." membuka tas dan mengganti pakaiannya, sementara Ari dan Teguh berada di luar sambil mengobrol.
"Ra? kehidupan apa yang lo inginkan?" tanya Susan yang sedang memperhatikan Ira menggunakan make-upnya.
Dia menatapnya, "Yang jelas bukan seperti ini San!"
"Iya Ra, kita hidup di lingkungan yang salah dan tumbuh dengan salah. Bagaimana dengan masa depan nanti?" tanyanya lagi membuat Ira berpikir ada apa dengannya?
"Entahlah,,, rumah tanpa sebuah kehangatan, lingkungan, bahkan gue gak percaya ada sekolah yang seperti ini? seolah semua kehidupan tanpa arah dan tujuan gue berjalan sempurna karena adanya dukungan dari lingkungan yang seperti ini."
"Sekarang, jika lo ada apa-apa bilang sama gue iya? semangat untuk proses yang sekarang, gue akan selalu ada. Dan jika nanti sudah lulus, kita pergi ke suatu tempat dimana bisa memulai kehidupan normal seperti manusia lainnya. Setuju?" ucap Susan membuat Ira tidak bisa berkata-kata.
"San lo serius?"
"Gue serius Ra, entah sekarang lo berhasil atau tidak tapi jika ada apa-apa katakan dan cukup untuk memendam semuanya. Bisa kan? maaf, gue kasihan sama lo Ra."
"Sebenernya gue paling tidak menyukai jika harus di kasihani, tapi thanks San. Bisakah kita hidup normal?"
"Entahlah, menurut lo?"
"Orang bilang: sebuah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil, jika sekarang kita berusaha untuk lebih baik suatu hari nanti pasti akan ada hasilnya ko."
"Bukan cuma gue, pasti lo juga ngerasain hal yang sama dimana kita menyadari kesalahan dari semua hal yang kita lakukan tetapi lo tetap melakukannya."
"True! tapi, jika kita tidak di lahirkan dari keluarga dan lingkungan yang seperti ini apakah itu akan menjamin kita tumbuh dengan baik?"
__ADS_1
"Gue gak tau sih, bagaimana rasanya tumbuh dengan baik? eh bukan. Bagaimana rasanya tumbuh dengan normal?"
"Bagaimana caranya agar diri ini bisa menahan sebuah kesalahan yang sedang kita lakukan?"
"Hmm,," Susan menghela nafasnya berbaring di atas ranjang.
"Untuk kamu yang sedang tumbuh, nikmatilah setiap prosesmu. Kita tidak bisa memilih untuk lahir di lingkungan dan didikan yang seperti apa? hilang arah dan tujuan membuat kita hidup seperti sekarang, tapi setidaknya kita harus percaya dengan semua proses pendewasaan ini dan akan tumbuh lebih baik lagi di masa depan nanti. Bisakah diri meyakinkan itu?"
"Meyakini bahwa apa yang kita lakukan ini salah tetapi kenapa seolah tidak ada alasan untuk kita menahannya?"
"Entahlah, atau mungkin sebenarnya yang bermasalah itu bukan lingkungan? tetapi diri kita yang selalu menghianati semua rencana yang sudah kita urai?"
"Jika kita tidak memiliki semua masalah ini dan hidup dengan baik, bagaimana kita akan melalui proses pendewasaannya?"
"Setiap manusia memiliki caranya masing-masing, begitu juga lo sama gue berbeda. Dan gue merasa yakin bahwa setiap manusia juga memiliki masalah pertumbuhan dalam prosesnya."
"Dari sekian banyaknya manusia, kenapa Alloh memberi lo proses pertumbuhan yang seperti ini?"
"Gue juga gak tau San, terkadang tengah malem nangis kenapa hidup tidak seberuntung oranglain? padahal sama-sama makan nasi."
"Gila gue mikirin hidup!"
"Lo tau San? kadang mikir, apakah tidak ada kata keberhasilan untuk gue yang sudah gagal ini?"
"Kita bisa melalui ini dan seperti yang tadi lo bilang, proses tidak akan mengkhianati hasil. Bisa yuk?"
"Yuk semangat, hidup ini terlalu serius untuk di ajak bercanda."
"Atau, kita terlalu serius untuk kehidupan yang suka bercanda?"
"Aahhh gak tau gue pusing!" teriak Ira membuat Ari datang menghampiri.
"Bu? perasaan lama banget?" tanyanya berdiri di ambang pintu.
Ira dan Susan saling menatap lalu tertawa bersama.
"Kenapa sih?" tanya Teguh masuk lalu duduk di samping Susan.
"Jujur jangan? kita ada rencana ketika lulus sekolah nanti akan pergi ke suatu tempat yang jauh. Iya kan San?"
"Tempat dimana tidak ada seorangpun yang mengenali kita lebih tepatnya."
"Tempat dimana kita bisa memulai hidup baru di tengah-tengah orang yang tidak kita kenali."
"Oh,, luar negeri yuk Ra?"
"Hahaha gue ngikut aja."
"Udah! ngomongin apa? yuk?" ajak Ari mengakhiri obrolannya.
Ira beranjak dari duduknya dan keluar kamar memakai sepatu, begitu juga dengan Susan dan yang lain. Setelah selesai, mereka berangkat menuju ke sekolah.
*****
__ADS_1