Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 33


__ADS_3

.


.


.


Wanita itu tidak mampir menemui nenek, dia langsung ke rumah.


Berdiri di depan pintu, "Lupa gak bawa kunci, pasti kunci." ucapnya berpikir antara mengetuk atau memanggil ibunya.


"Krreekk!" Ibunya membuka pintu.


"Dari mana lo?"


"Ada janji!" masuk ke rumah.


Ibunya megang tangan Ira "Gue tanya dari mana lo?" sambil menatapnya.


"Nyari kesenangan untuk diri sendiri. Emangnya kenapa? biasanya juga ibu gak pernah peduli!"


"Gue denger lo di jemput sama beda-beda cowok yang udah tua!"


"Kalo iya emang kenapa?"


"Ngapain lo? malu-maluin!"


"Orang lain cuma peduli sama apa yang aku lakuin. Mereka gak tau apa-apa!"


"Jadi pelac*r lo?" tanya Ibunya.


Tersentak hati Ira badannya gemetar, dia kehilangan tenaga seolah kaki tidak bisa menahannya untuk tetap berdiri.


"Bisa-bisanya seorang ibu mengucapkan hal seperti itu pada anaknya." tersenyum menutupi dada yang semakin sesak.


"Dari mana lo punya uang?"


"Uang dari mana sampe lo bisa beli motor?" menatap Ira.


"Sampe lo bisa ngasih jajan adek lo dan memenuhi semua kebutuhan lo? Gue tanya?"


"Iya! aku melac*ran diri. Kenapa? gak harus kaget kan?"


Ibunya menatap ira dengan tatapan penuh emosi dan berkaca-kaca.


"Pernah gak ibu mikirin bayaran sekolah aku? pernah gak mikirin bahwa aku juga punya kebutuhan? gak pernah kan?"


"Gimana jika orang-orang di luar sana tau? lo gak cuma malu-maluin gue, tapi nenek sama kakek juga. Mikir dong!" teriak ibunya.


"Haha aku tanya pernah gak ibu mikirin gimana aku makan? makan sama apa aku? ongkos sekolah aku?"


"Lo ngelawan? gue gak kerja. Minta sama ayah lo!"


"Oh karena ibu gak kerja jadi gak harus tau apapun gitu? ibu kan punya suami? dia juga harus tanggung jawab sama anak-anak ibu, bukanya ibu yang justru lepas tanggung jawab kaya gini!" teriak Ira.

__ADS_1


"Emang ibu pikir aku mau hidup kaya gini? ibu gak tau gimana sakitnya harus berhubungan dengan pria yang seumuran dengan ayah hanya karena uang!"


"Jika bukan diri sendiri siapa lagi? mikir gak sih bu? biaya sekolah dan kebutuhan itu gak semua harus di tanggung sama kakek dan nenek. Tau gak gimana rasanya ngeliat ibu sama bapak bahagia dengan keluarga kalian sendiri? tanpa mikirin kita. Hanya karena aku dan adik-adik masih hidup, jadi kalian merasa tidak ada kesulitan yang kita alami hingga kalian nelantarin kita kaya gini!"


"Pllaakk" Ibunya menampar Ira.


"Emang lo pikir gue gak mikirin?"


Ira memegang pipinya dan menatap ibunya.


"Ibu tau bahwa ayah bahkan tidak akan menemui anaknya jika bukan kita yang mencarinya. Sementara ibu selalu bersikap cuek dan dingin. Ibu tau gak kita kebingungan tanpa arah dan tujuan. Jika ada permasalahan kita gak tau harus mengadu pada siapa? kita gak tau harus minta bantuan sama siapa? kita bohong jika kita baik-baik aja. Kita bohong jika kita kuat."


"Jika bunuh diri itu bukan dosa mungkin aku udah lama mati! aku gak peduli orang lain benci aku, karena aku juga membenci diriku sendiri. Aku jijik sama diriku sendiri. Aku gak minta lahir kedunia ini jika memang keadaannya kayak gini. Aku cape! aku cape sama semua urusan yang harus aku tanggung sendiri! Aku takut gilaa!!" teriak Ira emosinya meledak, dia tidak peduli orang lain tau.


"Lo pikir gue mau hidup gini? kalo gue tau akhirnya lo bakalan kaya gini gue juga nyesel udah ngelahirin lo. Gue nyesel gak bunuh saat lo saat dalam kandungan. Mati lo sana!!" teriaknya.


"Gak gitu caranya ngomong sama anak!" teriak nenek di ambang pintu menghentikan perdebatan keduanya.


"Harusnya sebagai ibu kau sadar mereka gini tuh karena kurang didikan dan kasih sayang bukanya nyuruh anak buat mati!" nenek merangkul Ira membawanya keluar rumah.


Ira terdiam menepuk dadanya yang sesak menahan rasa sakit membuatnya sulit bernafas.


"Gak ibunya gak ayahnya, sama aja gak ada yang peduli sama anak. Keterlaluan!" ucap nenek mengusap pundak Ira berjalan ke arah rumah nenek.


"Apa nenek mendengar pembicaraan Ira sama ibu?"


"Enggak! nenek kesana karena dengar suara cekcok. Tapi nenek gak nyangka ibumu mengatakan hal seperti itu."


Ira duduk terdiam di depan rumah. Apa benar nenek tidak mendengar semua perkataan tadi? atau mungkin dia mendengar tapi memilih diam untuk tidak memperparah keadaan? dia pasti mendengarnya.


"Nek?"


"Kenapa? udah! yuk masuk udah malam."


"Ira pengen sendiri nek, Ira pergi iya?"


Neneknya terdiam. Dia ingin menahan Ira tapi dia tau wanita itu sedang butuh waktu untuk menenangkan diri atas pertengkaran yang telah terjadi, terutama perkataan kasar yang di ucapkan oleh ibunya.


"Nanti kalo mau pulang masuk aja iya, pintunya gak di kunci."


"Ini simpen di kulkas buat adik-adik besok." memberi sate yang sedari tadi di pegang oleh Ira.


"Nenek masuk duluan!"


Tanpa banyak bertanya dia masuk ke dalam meninggalkan cucunya yang duduk mematung di depan rumah sendirian.


*


Ira beranjak dari duduknya berjalan ke arah pantai sendirian. Dia lupa akan rasa takut dari gelapnya hutan di sepanjang jalan dan tubuhnya seakan tidak merasakan dinginnya angin laut yang menusuk sampai ke tulang.


Wanita itu duduk di tepi pantai memandang ke arah laut yang luas.


"Kau manusia biasa. Bersabarlah, aku sayang kamu." ucapnya memeluk diri sendiri.

__ADS_1


"Hahaha, lucu sekali! Hahahaa." Ira tertawa mengingat apa yang telah di katakan ibunya tadi. Air matanya mengalir deras membasahi pipi dan terjatuh pada lengan yang sedang memeluk kedua pundaknya.


"Kau tidak tau betapa kerasnya aku berjuang untuk mempertahankan kewarasanku!"


"Ayah? kau tau? ini sakit. Ini sakit sekali! bagaimana dengan nenek? aku sudah mengecewakannya! ayah rasanya aku sangat malu untuk menemui kakek dan nenek. Apa yang akan aku lakukan? ayah kau tau? dia menyakitiku dengan perkataannya. Ini sakit sekali! ayah aku harus apa sekarang? tolong aku ayah? huuhuuhu hiks hiikss!" wanita itu menangis keras.


Setelah beberapa menit dia menangis keras, emosinya mulai mereda meskipun dadanya masih terasa sesak.


Melihat jam tangan tepat pukul 01:02 pagi.


*Duut duut duut* ponselnya bergetar.


Panggilan dari Ari.


"Iya?"


"Udah tidur?"


"Belum!"


"Dimana ko berisik?"


"Udah pulang kerja?"


"Aku tanya!"


"...."


"Baru pulang, gak jadi keluar kota."


"Kenapa?"


"Nangis iya?"


"Enggak haha."


"Kenapa?"


"Haha sakit sumpah. Sakit banget. Ini dada sesek!" menangis sambil menahan suaranya.


"Aku jemput sekarang!"


"Gak perlu."


"Aku ke sana tunggu!"


"Aku gak di rumah!"


"Di pantai belakang rumah kan?"


"...." Ira terdiam dari mana Ari tau?


"Aku kesana!" mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


"Dari dulu kau selalu menjadi penenangku. Apalagi sekarang setelah aku memiliki hubungan denganmu. Lalu bagaimana jika nanti kau tau semuanya dan menjauh dariku? kepada siapa nanti aku akan bersandar? siapa yang akan mengerti diriku? Ya-Alloh biarkan dia dan perasaanya hanya untukku, bukan untuk saat ini, tapi hingga nanti." ucapnya menatap langit luas yang gelap tanpa ada satupun bintang.


*****


__ADS_2