Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 13


__ADS_3

.


.


.


Selesai makan Hesti dan Sindi pergi ke rumah nenek mengantarkan makanan. Ira dan Ayu masih duduk di halaman belakang, mereka terdiam melihat pohon albasia yang satu persatu daunnya berjatuhan di terpa angin.


"Bentar lagi teteh pulang."


"Kalo mau ngeluh sesuatu bilang aja." sambungnya melihat jam tangan waktu menunjukkan pukul 15:00.


"Teteh tau Ira udah ketemu ayah?"


"Iya tau kata nenek."


"Dia semakin kurus, tapi meskipun begitu dari kejauhan aku bisa mengenalinya bahwa dia ayahku."


"Bapak bilang sesuatu yang nyakitin apa?"


"Sehalus apapun perkataan ayah tetap nyakitin!"


Kakanya tak ingin memperjelas perkataan Ira, karena dia tau itu hanya akan menyakiti Ira begitu pula dirinya.


"Kau tau?"


"Mungkin benar, sebaiknya dulu ibu dan bapak tidak pernah bertemu dan menikah." ucap Ira.


"Mengeluhlah sebanyak yang lo mau, tapi teteh gak akan beri jawaban apapun. Seperti yang selalu lo bilang bahwa cukup menjadi pendengar saja, tanpa memberi sebuah jawaban."


"Sebenarnya gue bukan seorang penyabar. Tapi keadaan memaksa untuk menjadi sabar." ucap Ira tersenyum dengan tatapan kosong.


Ayu hanya terdiam tanpa menenangkan, dia tau jelas bahwa seberusaha apapun menguatkan tidak akan bisa merubah keadaan terutama kegelapan di kehidupan Ira. Sulit sekali untuk meneranginya, selama Ira sendiri yang tidak membuka pintu cahaya itu tidak akan masuk.


"Ternyata kenyataan lebih pahit iya di banding dengan kehidupan." sambung Ira.


"Jangan berharap pada sesuatu yang kamu tau itu akan menyakitimu!" jawab Ayu.


"Tidak ada yang menyakitiku di dunia ini, aku hanya tersakiti oleh harapanku sendiri!"


"Udah!" ucap Ayu mengusap rambut Ira.


Mereka beranjak dari duduknya masuk ke rumah dan keluar menutup pintu berjalan ke rumah nenek.


"Teteh mau langsung pulang sekarang udah sore."


"Hmmm iya, Ira juga mau mandi soalnya mau nyunset."


"Sama siapa? punya pacar?" tanyanya menggoda.


"Enggak ah, enakan temenan daripada pacaran." Ira tersenyum.


"Iya sih tapi kalo punya pacar bilang iya teteh pengen tau ganteng apa enggak? haha."


"Pacarnya pasti ganteng lah, kan Ira cantik." ucapnya menyanjung diri sendiri.


"Iya Ira emang cantik, apalagi hatinya."


"Ahh tetehmah." Ira pura-pura terharu mengusap air mata.


"Mau jadi aktris?" tersenyum melihat kelakuan adiknya itu.


"Cocok gak?"

__ADS_1


"Iya."


"Jadi peran pengganti doang iya haha." ucap Ira tertawa.


Sampai di rumah nenek, terlihat mereka sedang duduk di depan rumah sembari membuka makanan yang di bawa oleh Hesti.


"Gak nginep neng?" tanya nenek pada Ayu.


"Enggak besok kerja."


"Kan bisa berangkat dari sini pagi-pagi."


"Enggak bisa nek besok ada tamu rombongan."


"Oh iya, jaga kesehatan jangan telat makan!" ucap Kakek.


"Nek, Kek, Ayu mau pulang iya?" ucapnya pamitan bersalaman.


"Langsung pulang?" tanya Nenek.


"Mau sekarang?"tanya Ira.


"Iya mengelus kepala Ira."


Ira dan kedua adiknya mencium tangan Ayu yang sudah duduk di motornya.


"Berangkat iya, Daaahh tiit tiit" membunyikan klakson dan melaju dengan motornya.


Kakek dan nenek hanya terdiam melihatnya, entah apa yang mereka pikirkan Ira tidak tau.


"Eh teteh mau mandi soalnya mau pergi!" ucap Ira pada adiknya.


"Emang mau kemana?" tanya Sindi.


**


Setelah selesai mandi dia langsung berdandan. Penampilan yang biasa hanya memakai celana jeans dan baju kaos polos berwarna putih, dengan rambut terurai di tutupi oleh topi berwarna putih juga. Tidak lupa yang terpenting minyak wanginya apalagi Ari pernah bilang kalo dia suka dengan aroma wangi Ira.


Ponselnya bergetar panggilan masuk, siapa lagi jika bukan Ari.


"Iya?"


"Dimana bu? udah siap?"


"Di rumah, ini udah siap ko."


"Iya ini bentar lagi belok tunggu." Ari mematikan telepon.


Ira mengambil tas dan maskernya lalu berjalan keluar kamar.


"Teteh pergi dulu iya!" ucap Ira pada Tia yang kebetulan sedang duduk bermain tablet di depan rumah.


"Mau kemana teh.?" tanya Tia.


"Mau jalan-jalan, nanti pulangnya agak malem."


Tia hanya mengangguk.


Dia berjalan ke rumah nenek tidak terlihat siapapun disana, dan kedua adiknya itu entah kemana. Mungkin kakek tidur dan nenek pergi karena motornya tidak terlihat.


Dari belokkan depan Ira melihat motor Beat berwarna putih menghampirinya dan berhenti, Membuka helm Ari tersenyum.


"Loh hahaha!" Ira tertawa melihat Ari yang ternyata memakai baju kaos berwarna putih.

__ADS_1


"Kenapa?" Ari bertanya belum menyadari.


"Gak,, ada yang aneh sama bajunya haha."


"Ohh iya." Ari menyadari, "Kamu emang jodohku." ucapnya tersenyum mengedipkan mata.


"Mulai deh."


Ari menatapnya tersenyum.


"Tau gak?" bertanya pada Ira.


"Apa?"


"Di jalan mau sambil ngobrol, ini helm gak di pake jadi aku pake topi." ucapnya.


"Iya terus?"


Ari membuka bagasi motor dan tersenyum menunjukkan topinya berwarna putih.


"Haha ko bisa iya ?" Ira tertawa.


"Aku mau kamu itu jodohku!" ucap Ari menatap Ira serius.


"Udah udah ayo berangkat?" Ira mengusap rambut Ari.


"Harus izin dulu gak?"


"Enggak usah tadi udah bilang ke adek, terus ada nenek sama kakek juga jadi mereka udah tau."


"Oh iya udah yu naik?"


Mereka melaju dengan motornya.


Terlihat serasi sekali, pasangan kekasih berboncengan dengan baju dan topi couple hanya karena kebetulan warnanya yang sama. Tapi yang terlihat tidak seperti kenyataannya, mereka hanya berteman dan tidak lebih dari itu.


*


"Udah makan belum?" tanya Ari memperlambat laju motornya.


"Udah tadi, soalnya ada ka Ayu."


"Bener? tapi gak liat?"


"Iya tadi, udah pulang lagi sih."


"Sekarang mau ngobrol apa diem aja?" tanyanya sembari menarik tangan Ira mengisyaratkan dia untuk memeluk Ari.


"Kayanya mending diem deh, takutnya nanti gak ada topik pembicaraan."


"Hahaha gak mungkin."


"Banyak yang ingin aku ceritakan dan ingin aku dengar darimu." sambungnya.


"Aku ingin menceritakan semuanya, tapi aku belum siap dan belum menemukan waktu yang tepat."


"Jika kamu menunggu waktu dan kesiapan itu hanya akan sia-sia. Kenapa? seperti masalah di kehidupan saat ini, siap tidak siap kita harus mau menerima dan menyelesaikannya. Jika satu persatu manusia di tanya siap atau tidak mendapat masalah? semua pasti akan menjawab tidak. Benar kan?" ucap Ari menjelaskan.


Ira diam tak berkata, karena apa yang Ari katakan itu benar. Hidup penuh dengan kejutan, masalah selalu datang tiba-tiba dan sebagai manusia kita harus berlapang dada menerima dan menyelesaikannya meskipun sebenarnya kita belum siap.


Saat itu, dia hanya merasakan kenyamanan memeluk Ari yang sedari tadi memegang tangan Ira dan mengelusnya lembut.


Ini akan menjadi kenangan manis di kala esok ketika hari ini telah berlalu, satu-satunya pundak kokoh yang menjadi sandaran ternyaman Ira. Pria manis, kenangan manis, dan perlakuan yang manis tentunya.

__ADS_1


****


__ADS_2