Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 37


__ADS_3

.


.


.


"Nggi,, ada hal yang tidak seharusnya di bicarakan, dan ada pula hal yang ketika di bicarakan semuanya menjadi berantakan.


Apa kau sudah memikirkan ini?"


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi. Karena sampai saat ini seberusaha apapun aku menutupi dan melupakan, semakin pula rasa sakit ini bertambah Ra."


"Ada apa Nggi?"


Anggi melepas pelukannya lalu mengusap air matanya dan menatap Ira.


"Ra,, kau ingat ketika kelas 2 saat aku mengikuti lomba olimpiade B.Inggris?"


"Keluar kota?"


"Iya, aku menginap di hotel."


"Kenapa?"


"Karena saat itu ayah dan ibu sedang pergi keluar kota untuk menghadiri acara pernikahan paman aku di antar oleh guru kursusku, kau tau? setelah lomba malam harinya sebelum besok pulang aku di panggil oleh dia ke kamarnya,,,,,,aku tidak ada pikiran jahat karena sebelumnya aku mengenal dia dan dia cukup baik sebagai guru pembimbingku. Ttt,,,appi saat itu berbeda Ra. Setelah aku masuk ke kamarnya dia menciumku dengan paksa dan meremas payud*raku,,, hhuuhhhuuu hhiikksss hiikkss." Anggi menangis sesenggukan.


Ira langsung memeluknya dengan erat. Hatinya merasa hancur karena meskipun Anggi terlihat seperti Ira dia masih seorang wanita normal yang suci.


"Aaa,,kkku berusaha melepasnya tetapi sulit Ra, dia melepasnya karena aku mengigit lidahnya. Lalu aku pergi ke kamar dan menangis di sana. Aku takut Ra,, aakkuuu sangat ketakutan saat itu huuhhuu."


"Aku tidak pernah mengatakan kepada siapapun termasuk ibu dan ayahku. Aku pikir aku akan bisa melupakannya, tetapi sampai saat ini ketika aku teringat kembali seolah aku berada di sana dengan rasa sakitnya yang terulang kembali. Aku harus apa Ra?"


Hati Ira benar-benar perih mendengar semua ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Anggi menghadapi ini?


"Nggi sebaiknya kau harus bilang kepada ibu dan ayahmu, setidaknya mereka akan mengambil tindakan untuk masalahmu. Ini bukan hanya menyakitimu, tapi bagaimana jika dia menyakiti orang lain?"


"Aku ingin menceritakannya tapi aku takut ayahku tidak percaya padaku karena mereka sudah berteman sejak lama. Ingin sekali aku marah Ra, aku marah, aku membencinya, aku bahkan tidak ingin melihat dia hidup Ra huhhuhh hiikss hikks."


"Aku membenci tubuhku sendiri Ra, aku jijik terhadap tubuhku sendiri, aku merasa bahwa aku wanita yang paling hina di dunia ini. Aku harus apa Ra?"


Hati Ira tersentak, "Bagaimana dengan aku Nggi, yang jelas-jelas aku lebih hina darimu?"


Ira melepas pelukannya memegang wajah Anggi.


"Nggi,, kita akan menyelesaikan masalah ini. Dengarkan aku? kamu hebat. Kamu wanita yang sangat luar biasa. Kamu berharga. Jangan membenci tubuhmu, ini bukan salahmu. Kau sangat berharga. Percayalah!"


Anggi memeluk Ira kembali dengan sangat erat, "Terimakasih Ra."


Ira mengusap punggungnya, "Aku disini, aku akan selalu ada untukmu."


"Terimakasih Ra."


"Terimakasih telah memberitahu ku akan kesulitanmu."


Ira melihat Ari dan Rendi berjalan ke arah mereka. "Udah sayang, kita akan menyelesaikan ini. Percaya padaku bukan? ada Rendi tuh."


Anggi menoleh lalu menghapus air matanya, menghela nafas panjang.


"Apa mataku sembab?"


"Haha iya, tidak apa-apa kau cantik."


"Terimakasih sayang." Anggi memeluk Ira.


"Pada ngapain sih disini?" tanya Rendi.


"Ada persoalan."


"Kamu nangis?"


"Haha iya."


"Tolong dong kalo ada orang yang nangis itu jangan ganggu, jangan juga tanya kenapa suka nambah-nambah soalnya."


"Haha iya,,, maaf."


"Gak papa ko udah." Anggi beranjak dari duduknya.


"Turun yuk Ra?"


"Duluan Nggi, nanti aku nyusul."


"Aku duluan iya?" Anggi pergi bersama Rendi meninggalkan.


Ari duduk di sampingnya.


"Kenapa Anggi bu? tumben?"


"Hidup memang penuh kejutan iya? yang terlihat biasa-biasa saja justru menyimpan luka yang amat mendalam. Yang terlihat tenang, tenyata banyak sekali rasa yang ingin di ceritakan. Seperti apa dunia ini?"


ucap Ira yang masih memandang Anggi.


"Termasuk kamu?"


"Iya, kau akan sangat terkejut nanti. Tapi percayalah padaku Ri apapun yang terjadi bolehkah?"


"Aku akan berusaha."


Ira beranjak dari duduknya, "Yuk? giliran menghibur Anggi nih."

__ADS_1


"Dua wanita ini." mengikuti Ira.


*


Mereka duduk di depan ruangan komputer bersama dengan yang lainnya.


"Ada apa sih di atas? suka banget kayanya ke atas?" tanya Beni memainkan gitarnya.


"Kepoo!!" jawab Ira dan Anggi kompak.


"Haha seriusan."


"Sebenernya kita itu kembar." ucap Anggi


"Iya, cuma beda ibu sama ayah haha." sambung Ira.


"Raaa?" sapa Iki di depan kelas.


"Ohh sayangkuu??" berlari kecil menghampiri Iki dan memeluknya.


"Gue gak tau harus cemburu apa enggak?" ucap Ari.


"Masa lo cemburu sama Iki?" jawab Rendi.


"Iya sih."


"Ahh makasih sayangnya aku." memeluk.


"Lo gak mau cerita sama gue?"


"Nanti aja, kalo sempet hehe. Tapi makasih iya sayang untuk kerjasamanya."


"Iya,,, gue ngerti ko. Nenek lo cerita."


"Cerita apa?"


"Iya masalah lo sama ibu lo."


"Hmmm,,,"


"Lepas,, Ari cemburu tuh."


"Iya udah gue pergi." meninggalkan Iki kembali ke depan ruang komputer.


"Gue belum pernah tuh?" ucap Ari.


"Yakin mau? gak malu?"


"Haha enggak usah sih."


"Dewi nyariin ibu tadi?" ucap Rezki.


"Tadi sama Sandi sih."


"Hmm,,, iya udah nanti aja."


*Cek cek, perhatian! untuk kelas duabelas mohon segera berkumpul di aula sekolah. Sekali lagi untuk kelas duabelas segera berkumpul di aula sekolah. Terimakasih.*


"Apa nih?" tanya Pras


"Paling soal PKL, yuk?" Anggi beranjak dari duduknya di ikuti oleh yang lain.


"Kayanya gue bakalan di luar kota nih?" ucap Arif.


"Oh iya gak kepikiran. Gimana kalo beneran di luar kota? LDR bu?" bisik Ari.


"Hmm,,, gak tau sih. Gimana kalo aku yang di luar kota?"


"Gak bisa nih."


Mereka memasuki aula yang sudah di penuhi oleh kelas lain.


"Ra lo dari mana gue cariin?" tanya Dewi dari arah samping.


"Gue baru masuk haha. Santi mana?"


"Santi gak masuk, keluar kota 3 hari paling. Kakanya nikah."


"Oh iya."


"Ada waktu gak?"


"Oh iya,, bentar."


"Susan? Nggi? yuk?" Ira mengajak mereka ke arah belakang.


"Ada apa Ra?"


"Nanti malem gimana kalo kita nginep di kosan Susan apa Dewi? saling berkeluh kisah. Gue juga mau cerita tentang diri gue."


"Lo serius Ra?" tanya Susan.


"Iya!"


"Oke,, gue mau nlp dulu ibu atau ayah buat izin." Anggi keluar aula.


Dua guru wanita itu masuk, ruangan yang tadinya berisik tidak karuan menjadi senyap.


Dia memberi tahukan maksudnya, bahwa pertemuan kali ini untuk menyampaikan surat dari sekolah kepada orangtua mengenai rapat PKL.

__ADS_1


"Orangtua gue gak bakalan dateng." ucap Ira menerima surat yang di bagikan.


"Sama." ucap Iki menatap Ira.


"Gue juga sih haha." sambung Susan.


"Ra? gimana nanti jadi?" tanya Anggi.


"Jadi kalo lo bisa."


"Bisa, ibu udah izinin."


"Tapi gue pulang dulu kayanya gak ada baju."


"Nanti gue bawa baju, tubuh lo seukuran sama gue."


"Beda payud*ranya Nggi haha."


"Dih,, pokoknya harus jadi iya."


"Kita akan saling membuka diri bukan?" tanya Susan.


"Buka identitas nih?" tambah Dewi.


"Lebih tepatnya membuka rahasia." jawab Ira.


"Oke deal iya?" ucap Anggi.


Mereka berjalan keluar aula karena sudah selesai.


"Gak harus ada anak cowok nih?" tanya Dewi.


"Gak usah ngajak-ngajak anak cowok ribet, gak harus tau juga mereka." jawab Anggi.


"Ri? Ren? Ben? ni anak cewek mau pergi, tapi gak harus ngasih tau para cowok katanya."


"Ikiiiiii? dasar penghianat!" ucap Anggi.


"Haha Sorry."


"Emang mau kemana Nggi?"


"Mau kemana Bu?"


"Gak kemana-mana!!" jawab Anggi dan Ira kompak.


"Nanti juga tau." ucap Ari mengusap punggung Ira.


Mereka kembali ke atas menuju kelas masing-masing karena jam pelajaran sudah di mulai.


**


Ira mengirim pesan pada Sindi dan Ayu.


*Isi pesan*


"Bilang sama nenek nanti teteh gak pulang, nginep di rumahnya ka Anggi!"


*Mengirim foto surat*


"Besok ada rapat orangtua jam 8an, bisa dateng gak?"


"Dia akan datang gak iya? dia selalu di sibukkan dengan pekerjaannya." Ira berkata dalam hati sambil memperhatikan guru Matematika itu menerangkan.


*Duut duutt!!* Ayu menelepon.


Ira menolaknya lalu mengirim pesan.


"Lagi masuk."


"Besok kesekolah, kenapa gak pulang?"


"Tau dari mana aku gak pulang?"


"Dari ibu."


"Cerita apa dia?"


"Kamu gak pulang-pulang katanya."


"Haha aku cerita besok."


"Iya, sekarang pulang kan?"


"Enggak, besok!"


"Hmmm,,,, udah bilang sama nenek?"


"Belum, mau nginep di rumah Anggi."


"Iya, nanti aku bilang."


*Berkata dalam hati*


"Apa aku harus bercerita tentang pertengkaran dengan ibu kemarin? bagaimana jika ka Ayu marah lalu bertengkar dengan ibu?"


"Dan sekarang sudah empat tahun setelah ayah pergi berlayar? bagaimana jika dia pulang tanpa memberi kabar ibu memberitahunya lebih dulu dari gue?"


"Arrghhhh rasanya ingin sekali menghilang dari bumi." ucap Ira mengusap wajahnya menunduk pada bangku meja.

__ADS_1


*****


__ADS_2