Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 70


__ADS_3

.


.


.


Dengan perasaan tidak tenang, sore hari menjelang Maghrib wanita itu pergi ke tempat biasa dia bertemu dengan Gadun menggunakan motor Ari.


Kali ini dia meminta pria itu untuk tidak menjemputnya karena sudah terdengar banyak pembicaraan tentang dirinya dari orang lain, mereka yang menyindir atau bertanya secara langsung membuat wanita itu menyadari bahwa sikap dirinya yang semakin tidak peduli dan terbuka justru menjadi penyebab datangnya masalah.


Jika harus di katakan mungkin hidupnya lebih baik ketika dia menjalin hubungan dengan guru BKnya, mereka jarang bertemu dan berhubungan tetapi pria itu selalu memberinya uang. Bahkan tanpa memberi kabar dia menitipkan atau mentransfer uang itu padanya. Wanita seperti apa yang tidak akan menikmati hal itu?


Tetapi mungkin nasib baik tidak akan bertahan lama untuk wanita pendosa sepertinya, entah pasangan dari pria itu yang akan mengetahui atau masyarakat yang sudah mencurigai dan akhirnya menghakimi. Seperti halnya mereka yang menjalin dan mencintai pria yang sudah beristri, mungkin pria itu bisa membicarakan tentang istrinya kepada wanita itu, tetapi apakah dia bisa menceritakan tentang wanita itu kepada istrinya? tidak mungkin bukan?


Hubungan yang berjalan di luar norma agama dan aturan tidak akan pernah bertahan selayaknya hubungan yang sesuai dengan norma. Seperti mereka yang sudah mengetahui bahwa jurang itu dalam dan berbahaya, tetapi mereka bersikeras berjalan di tepinya hanya untuk menikmati keindahan sesaat yang pada akhirnya akan menyakiti dirinya. Entah mereka yang terjatuh dan terluka, atau mereka yang beruntung dan selamat tetapi memiliki trauma.


*


Sampai di tepi pantai, dia langsung memarkirkan motornya ke pojok garasi agar ketika pria itu tiba motornya akan tertutup oleh mobil sehingga tidak terlihat dari arah samping.


Dia turun dan membuka pintu, masuk ke dalam, ruangan gelap yang sunyi. Tidak terdengar suara apapun selain dari deburan ombak.


Cteek


Ira menghidupkan lampu ruang tamu. Semuanya nampak rapih, nampaknya bibi sudah membersihkan rumah ini. Perlahan dia berjalan menuju kamar yang lampunya sudah menyala, lalu dia berdiri di depan cermin menatap dirinya sendiri.


Seorang wanita muda yang terlihat seperti wanita dewasa, karena penampilan dan gaya hidup yang sedang dia perankan.


Kemudian dia duduk di atas ranjang menatap lurus ke luar jendela, titik-titik lampu dari perahu nelayan yang sedang menangkap ikan membuat laut gelap itu nampak seperti langit dengan beberapa bintang.


Duut Duut handphonenya bergetar menyadarkan dia dari lamunan.


"Iya sayang?"


"Kamu dimana? sudah menemui ka Ayu?" tanya Ari yang menelponnya.


"Iya, aku masih di kamar. Sebentar lagi berangkat"


"Hati-hati, aku kerja"


"Iya, segera meminta mereka untuk tidak menghubungi atau aku yang tidak akan menghubungimu"


"Ngomong apa sih Bu? ini juga udah, aku lagi nyetir nanti di telpon lagi"


"Hati-hati," ucapnya mengakhiri panggilan lalu dari luar terdengar suara mobil masuk ke garasi.


Wanita itu beranjak menuju ke ruang tamu, karena dia tau pria itu sudah sampai dan sebelumnya dia memintanya agar membawa makanan, terutama sate.

__ADS_1


Dia membuka pintu, "Kapan kau tiba?" tanyanya dengan sekantong plastik makanan untuk Ira.


Duduk di depannya, dia menyimpan kantong plastik di meja, lalu menyulut sebatang roko, dia menatap wanita itu yang menyambutnya dengan senyuman terpaksa.


"Makan sekarang atau nanti? saya ada perkerjaan mendadak," ucapnya membuat Ira sedikit kesal karena dia paling tidak menyukai hal yang membuatnya harus terburu-buru. Tetapi mungkin lebih baik karena tidak akan menghabiskan waktu yang lama dengan pria itu.


Tanpa menjawab wanita itu melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 19:01, dia beranjak dari duduknya menuju ke kamar dan mengganti pakaiannya.


Adzan isya berkumandang, sambil menunggu selesai wanita itu terdiam menatap keluar jendela. Perasaannya seringkali tidak tenang, tetapi kali ini berbeda, dia bahkan merasa begitu pedih. Ingin sekali rasanya menangis, tetapi apa alasannya? dan kenapa? dalam pikirnya, lalu dia melihat dari pantulan kaca jendela pria itu masuk ke kamar dan menutup pintunya.


"Sepertinya sekarang dirimu terlihat lebih bahagia dengan hubunganmu," ucapnya duduk di atas ranjang menatap Ira dan dia menyadari dengan tubuh yang sebelumnya tinggi kurus sekarang perlahan terisi, begitu pula pria itu selalu mendapati adanya bekas kecupan di leher Ira.


"Mungkin," jawabnya memalingkan pandangan lalu kembali menatap ke luar jendela.


"Tubuhmu terlihat lebih bagus sekarang"


Ira menoleh, "Sekarang aku tidak peduli dengan apapun, mereka yang mengetahui atau tidak, aku tidak peduli. Tetapi sekarang justru satu persatu masalah datang karena sikapku yang tidak peduli ini"


"Kakek dan nenek sudah mengetahuinya?"


"Mungkin mereka akan segera mengetahuinya"


"Itu pasti akan terjadi, persiapkan dirimu dan bersabarlah. Kamu akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketika lulus sekolah nanti, saya akan membantumu," ucapnya membuat Ira terdiam karena dia mengetahui bahwa pria itu memang seorang pembisnis yang mungkin bisa dengan mudah membuat Ira bekerja di mana saja melalui orang dalam.


Untuk mempersingkat waktu Ira langsung menghampiri pria itu yang sedari tadi duduk di atas ranjang. Dia memeluk tubuh Ira, lalu perlahan-lahan membuka dress pendeknya.


Dalam pikirnya dia teringat pernah melakukan hubungan seperti ini dengan seseorang, melakukan hubungan di depan cermin hanya karena sang pria ingin berhubungan dengan melihat seluruh tubuh wanitanya. "Pengalaman terburuk, persetan dengan masalalu. Ini akan segera berkahir, sabarlah," gumamnya memalingkan pandangan karena merasa jijik melihat apa yang sedang mereka lakukan.


**


Ira terdiam duduk, karena pria itu sudah menyelesaikannya dan mendahului pergi membersihkan diri ke kamar mandi.


Dia menutupi tubuhnya yang masih telanj*ng dengan handuk, lalu beranjak keluar kamar. Duduk di ruang tamu, dia meneguk 2 gelas air putih lalu membuka makanannya.


"Makan sekarang?" tanya pria itu dari arah kamar.


"Aku akan mandi, tidak apa-apa jika kau akan pulang sekarang," jawabnya beranjak masuk ke kamar.


"Tidak pulang, ada pekerjaan," dia menaruh beberapa lembar uang di atas meja, tanpa di minta dia menambahkannya lagi, pria itu merangkul pundak Ira dan mencium pipinya, "Habiskan makananmu," ucapnya lalu pergi.


"Makasih," jawabnya yang masih berdiri menatap pria itu menuju ke garasi, setelah menghidupkan mobilnya dan pergi, Ira langsung membersihkan dirinya.


**


Setelah selesai mandi, memakai baju, lotion, parfum, dia duduk di depan cermin untuk berdandan. Biasanya wanita itu hanya membersihkan diri, tetapi karena ada waktu kali ini dia mandi.


Melihat jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul 21:03 malam. Dia memberitahu ka Ayu untuk menunggu di depan restoran karena akan menemuinya.

__ADS_1


Wanita itu keluar kamar, menyimpan uang di dompet dan membungkus kembali makanan yang telah di buka, dia akan memakannya nanti bersama dengan kakaknya.


Deernnn


Ira meninggalkan rumah itu, karena jarak yang tidak terlalu jauh dia melaju dengan lambat sambil merasakan sepoi-sepoi angin yang membuat bulu kuduknya merinding.


Dari kejauhan nampak terlihat restoran tempat ka Ayu bekerja, begitu pula terlihat kakanya duduk di depan restoran menunggu kedatangannya.


Dia beranjak dari duduk tersenyum menyambut adiknya, setelah memarkirkan motor Ira berlari kecil memeluknya.


"Lo baik-baik saja?" tanyanya lalu duduk.


"Sudah tutup kan?"


"Iya baru, bawa apa?"


"Sate, belum makan," Ira menyimpannya di atas meja.


"Ada Ira," terdengar suara seorang pria dari arah belakang, dia menoleh dan tersenyum, "Sehat a?" mengalaminya. Dia adalah Adam kekasih Ayu, mereka sudah 3 tahun menjalin hubungan.


"Sebentar!" Ayu beranjak dari duduk berjalan ke dalam restoran.


" Kapan berangkat PKL Ra?" tanyanya duduk di tempat Ayu.


"Besok, ini mau pamit sama ka Ayu. Ohh yaa,, dulu pas PKL dimana A?" tanya Ira menatap pria itu.


"Dulu di Bandung, lo dimana?"


"Di sini," sambil membuka bungkusan sate dan makan.


"Laah, Bandung dong. Pergi ke kota nambah pengalaman, di sana banyak cewek-cewek cantik, iya pasti banyak cowok juga. Mendingan ke Bandung," ucapnya tanpa sadar Ayu berada di belakangnya.


"Itumah elu, tujuan PKL bukan belajar, tapi nyari cewek," ucap Ayu duduk di depan Ira sambil membawa saus tiram udang dan cumi crispy.


Ira hanya tersenyum menatap ka Ayu yang sedang berdebat dengan kekasihnya, dia menikmati makan sambil mengobrol tentang keberangkatannya.


Dia mengatakan semuanya, jam dia kerja, dimana dia tinggal, dan libur di hari apa. Setelah selesai makan dan membicarakan tentang Pkl-nya Adam memberi uang jajan untuk Ira, karena Ayu belum gajian. Lagi pula jika kakanya memberi uang Ira akan menolak, dia sudah membayar separuh biaya pkl-nya yang seharusnya uang itu jatah bulanan Sindi dan Hesti.


*


Wanita itu beranjak dari duduk pamit kepada kakaknya, "Pulang sekarang?" tanyanya Ayu sambil melihat jam di handphone, waktu menunjukkan pukul 22:48.


"Enggak, nanti malam eh gak tau. Yang penting pulang, udah bilang juga sama nenek. Mau mantai dulu," ucapnya pergi berjalan ke arah pantai yang tidak jauh dari restoran.


"Jangan banyak melamun," ucapnya membiarkan Ira di sendirian.


Ayu menyadari dirinya bukan seorang kaka yang baik, dia bahkan sulit untuk mengerti tentang perasaan dan apa yang sedang adiknya alami. Tetapi dia bisa sedikit memahami ketika adiknya sedang berada dalam kegelisahan dan tidak pernah mengganggunya. Dia mengetahui bahwa bagi Ira, tidak ada yang lebih baik selain dari merenungi semua hal sendirian. Tidak ada yang akan mengerti selain diri sendiri, dan melamun adalah obat sederhana untuk segala masalahnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2