Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 52


__ADS_3

.


.


.


Sore menjelang senja. Wanita itu keluar dari kamarnya berdiri di ambang pintu menatap langit yang tertutup pohon kelapa, dari sela-sela daun terlihat mega berwarna orange memenuhi langit.


"Jika kehidupan akan tetap seperti ini? apakah aku harus berdamai dengan rasa sakit? mengabaikannya tanpa mengobati? jika sekarang aku bisa, apakah akan baik-baik saja di masa depan nanti?" menghela nafas panjang, "Jika tidak ada satu manusia pun yang mengerti dan mau membantu mengobati luka ini, mungkin aku harus melakukannya sendirian." sambungnya berbicara pada diri sendiri dalam hati.


Duduk di teras rumah melihat ke sekeliling, Ira tersadar bahwa motor ibunya yang biasanya terparkir di samping tidak ada. Mungkin dia sedang pergi, karena tidak ada lagi yang akan memakai motor itu selain ibunya.


"Bagaimana rasanya berhubungan baik dengan seorang ibu? bagaimana orang lain bisa curhat tentang hubungan percintaan mereka kepada ibunya?" Ira tersenyum, bagaimana mungkin dia berpikir seperti itu sedangkan hubungan antara dua manusia ini tidak baik?


Dalam diamnya wanita itu berpikir kembali, apakah dia wanita yang egois jika bersikap acuh seperti ini terhadap gadun yang menanti kabarnya tetapi dia tidak peduli?


"Lah kenapa gue bisa lupa bilang sama dia? gue gak peduli kalo dia marah. Tapi? jika dalam waktu lama dia telah menemukan orang baru dan gue kembali lagi? apakah tidak malu jika menghubunginya nanti? sejauh ini dia pria baik yang tidak pelit."


Wanita itu menyadari bahwa kali ini dia bersalah, lagi pula pria mana yang rela jika di tinggalkan dengan tiba-tiba? apalagi dalam hal ini sebenarnya Ira sendiri yang sangat membutuhkannya, jarang sekali ada pria yang berhubungan hanya dengan satu wanita. Jika gadun itu pergi dan berpaling, dia sendiri yang akan merasa sulit.


"Tapi apa peduli gue? sekarang kan sedang mencoba untuk tidak kembali? tapi,,, bagaimana jika gue gak bisa dan akan kembali lagi? ahhh!" mengusap wajahnya dan beranjak masuk ke kamar.


Melihat ponselnya, tidak ada pesan atau panggilan dari Ari.


"Apakah pria itu benar-benar marah? masalah dalam hidup ini sudah rumit, kenapa orang-orang membuatnya menjadi lebih rumit?" ucapnya sambil menelpon seseorang.


"Tuut tuut!!" bukan Ari yang dia hubungi, tetapi gadun itu.


"Iya? ada apa?" seorang pria menjawab.


"Kau dimana?" tanya Ira basa basi.


"Di rumah, bagaimana?"


"Hah? kenapa di jawab? dimana istrimu?" merasa heran, bagaimana mungkin seorang pria menjawab panggilan dari wanita simpanannya saat dia berada di rumah?


"Dia sedang keluar, ada apa? kau berubah pikiran?" bertanya langsung pada intinya.


"Tidak, hanya menyadari bahwa kali ini aku bersalah karena tidak memberi tahu tentang ini sebelumnya. Maaf? kau marah?" ucapnya merasa sedikit tidak nyaman dan menunggu jawabannya.

__ADS_1


"Saat sedang membutuhkanmu dan tiba-tiba kau bilang tidak akan menemui, tentu saya marah. Tapi tidak apa-apa, saya mengerti mungkin kau sedang di sibukkan oleh sekolahmu. Kau akan segera pergi PKL bukan?" jawaban yang tidak di sangka, untuk pertama kalinya mereka berbicara dengan baik tanpa tergesa-gesa seperti ini.


"Iya, sekali lagi maaf. Selama aku tidak menghubungimu, kau boleh berhubungan dengan wanita lain. Aku tidak merasa keberatan." ucapnya merasa lebih nyaman kali ini.


"Saya akan mencobanya, sudah iya? wanita itu sudah kembali." ucapnya bermaksud pada istrinya.


"Iya terimakasih." Ira mengakhiri panggilannya.


Menghela nafas, dia merasa sedikit lebih lega kali ini.


"Perubahan macam apa ini? atau mungkin sebenarnya pria itu memang baik tetapi gue sendiri yang tidak pernah memberinya kesempatan, sehingga tidak ada sedikitpun rasa nyaman ketika kita saling berbicara?" ucapnya duduk di lantai bersandar pada lemari baju.


"Apakah uang yang gue punya sekarang akan cukup? hemat? bisa saja gak beli apa-apa, tapi untuk makan? yaaah andai saja ada yang membantu. Sebentar, apa harus meminta pada Ari? hubungan percintaan di jaman sekarang tidak ada yang gratis." ucapnya sambil melihat ponsel, tetapi masih belum ada kabar dari kekasihnya itu.


"Kau cemburu? ini hanya sebuah kebetulan atau kau memang benar mencintaiku?" beranjak dari duduknya, mendengar suara motor terhenti di depan rumah.


"Raaa?" teriak seorang pria, dari suaranya Ira sudah mengenal.


Keluar kamar, berdiri di ambang pintu.


"Apa sayang?"


"Mau ikut?"


"Kemana?"


"Jalan-jalan sore menjelang malam. Gimana?"


"Boleh, tapi gue belum mandi."


"Gak papa mandi aja, cuma agak di percepat iya?"


"Oke sayangnya aku, tunggu!"


Ira bergegas masuk ke kamar dan langsung mandi.


*


Setelah selesai mandi dan berdandan. Dengan memakai celana kulot dan tangtop yang di tutupi jaket, wanita itu keluar kamar.

__ADS_1


"Mungkin sekarang saatnya memulai semua proses penyembuhan diri sendiri." gumamnya keluar rumah.


"Yuk?" ajaknya pada Iki yang sedang duduk di teras.


"Udah?" beranjak merapihkan pakaiannya.


Menutup pintu rumah dan membawa satu kunci.


"Kemana Ra?" tanya Iki menghidupkan motornya sambil parkir.


"Kalo gue sih maunya ke pantai, mencari sebuah ketenangan." jawabnya naik di atas motor.


Tanpa berbicara lagi Iki melaju pelan. Melewati rumah nenek, tidak terlihat siapapun di sana.


Sebenernya jika Iki mengajak Ira keluar seperti ini, bisa di katakan dia sedang tidak baik-baik saja. Mereka berdua memang dekat dan saling mengenal karakter masing-masing, tetapi untuk terbuka dengan masalah pribadi mereka tertutup. Dengan saling mengerti seperti ini sudah cukup untuk mereka melewati masa sulitnya, meskipun masalah itu mungkin tidak selesai.


"Gimana hubungan lo sama Ari?" tanya Iki memulai percakapan.


"Iya baik-baik sih. Enggak sekarang."


"Maksudnya sekarang lo gak baik-baik gitu?"


"Iya,, mungkin dia cemburu karena pas nelpon gue nomornya sibuk. Kan emang gue lagi nelpon si Wahyu di suruh nenek."


"Iya bilang lah, lo tau gak Ra? gak lucu jika sebuah hubungan harus berakhir hanya karena sebuah kesalahpahaman yang belum sempat di jelaskan."


"Mungkin benar, tapi untuk sekarang gue gak peduli. Sekarang gue hanya ingin duduk diam, menghela nafas panjang dan menikmati angin laut."


"Iya gue ngerti." jawab Iki singkat.


Seperti percakapan yang biasa, tetapi sebenernya memiliki makna yang mendalam bagi keduanya.


Bisa di katakan dengan jelas, mereka memiliki banyak persamaan kecuali perasaan.


Perceraian orangtua dan biaya hidup yang harus di tanggung sendiri, membuat mereka saling nyaman untuk saling bertukar cerita tentang masalahnya. Dari semua masalah, yang terrumit dan paling mengganggu adalah masalah di rumah. Terutama hubungan antara keluarga, Ira memiliki hubungan yang buruk dengan ibunya. Sebaliknya Iki memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya.


Mungkin urusan pribadi harus di tutup rapat-rapat dan wajar jika tidak ada orang lain yang mengetahuinya, tetapi urusan keluarga jika harus selalu di tutupi seolah semakin menggrogoti batin dan fisik seseorang. Tidak semua orang bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi di rumahnya, begitu juga tidak semua orang bisa menceritakan semua masalah rumahnya kepada sembarang orang.


*****

__ADS_1


__ADS_2