Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 48


__ADS_3

.


.


.


Berusaha menutup matanya tetapi wanita itu tidak kunjung tidur, kepalanya merasa pusing dia membuka matanya dan beranjak.


Duduk melihat ke-tiga temannya yang sudah tertidur lelap, "Kenapa?" ucapnya pelan sambil membuka bantal membawa ponselnya.


Ada pesan dari Ari.


*Isi pesan*


"Ini udah sampe, langsung pulang ke rumah ko"


"Iya aku tau, terimakasih telah menjadi wanitaku"


Ira tersenyum, seketika langsung merasa rindu dengan pria itu.


"Banyak istirahat, pulang sekolah langsung kerja. Sehat selalu iya" Ira membalasnya.


Duduk bersandar pada dinding sambil memeluk bantal dan satu tangannya memegang ponsel.


"Untuk apa? si brengsek itu pasti sudah tidur." ucapnya menaruh ponsel di atas kasur.


Teringat kembali dengan semua yang telah di ceritakan kepada temannya.


Dalam pikirnya, "Salah gak iya cerita ke mereka? bisa di percaya gak iya? bentar lagi juga lulus sekolah. Gimana jika semua ini terbuka dan ketika lulus nanti orang akan mengenal gue sebagai sampah sekolah?"


Mengehala nafas panjang, mengusap wajahnya lalu menatap mereka yang sedang tidur. "Udah! gue sendiri yang merasa yakin, kenapa sekarang harus ragu?" ucapnya.


Dari semua yang dia ceritakan itu baru setengah perjalanannya, dalam diam dia mengingat.


Wanita itu pernah duduk di teras tempat pelac*an sambil menunggu seseorang yang menginginkannya, dia tidak terlalu memperhatikan satu persatu orang yang berlalu lalang. Sampai akhirnya, di kagetkan oleh seorang pria paruh baya yang menatapnya dari kejauhan.


Seketika wanita itu sadar, dia kaget dan langsung berlari keluar tempat itu lewat pintu belakang, berlari dengan memakai hak tinggi tanpa peduli apapun sampai dia terjatuh dalam lubang sampah karena keadaan yang gelap tanpa penerangan.


Di susul oleh Mama Rani dan memanggilnya, "Kenapa?"


"Maah suuttt!!" ucap Ira bangun di bantu oleh Mama Rani.


"Ada apa sih sampe lari? ada yang di kenal?"


"Iya,, ada tetangga aku." jawab Ira.


Mereka berdua pergi ke kamar Mama Rani dan Ira merapihkan penampilannya.


"Mereka gak tau apa-apa, mereka cuma lihat keburukannya saja." ucap Mama Rani.


"Sebenernya gak masalah, tapi gimana kalo mereka ngadu ke nenek sama kakek?"


Mama Rani terdiam, memberi Ira minum terlihat jelas dari raut mukanya dia benar-benar syok.


Ira tersenyum mengingat kembali kejadian malam itu, tetapi pada saat mengalaminya hanya ada rasa takut dan bimbang. Antara pulang atau tetap di sana.


Itu adalah malam terakhir dia di sana, malam dimana dia tidak menerima siapapun tetapi melihat kejadian yang tidak menyenangkan.


Seorang anak kecil terbangun dari tidurnya karena suara musik yang berisik. Dia mencari ibunya tetapi tidak ada, karena dia sedang melayani seorang tamu.


Dia menangis memanggil ibunya, menatap ke sekeliling banyak pria/ wanita yang sedang minum dan meroko. Bagaimana mungkin seorang anak bisa di biarkan tumbuh dalam lingkungan seperti itu?


Ira berusaha menenangkan anak itu walaupun sulit, sampai akhirnya dia mau di gendong oleh Ira dan dia membawanya ke teras sambil melihat motor mobil yang berlalu lalang di jalan.

__ADS_1


"Mama mana?" tanyanya yang mulai merengek.


"Mama lagi buang air besar dulu iya?" ucap Ira menenangkan meski hatinya benar-benar tersentuh ingin rasanya ikut menangis keras bersama dengan anak itu.


Apakah kehidupan sekejam itu? bagaimana mungkin? siapa yang bersalah dalam hal ini?


tidak pernah terbayangkan bagaimana perasaan ibunya ketika dia sedang melakukan hubungan lalu mendengar suara anaknya menangis. Dia tidak bisa menenangkan anaknya sebelum menyelesaikannya, beruntung jika tamu itu orang baik yang mempersilahkan dia untuk menemui anaknya lebih dulu. Lalu bagaimana jika tamu yang dia terima seorang pria kasar dan tidak pengertian? tidak bisa di bayangkan, dia harus berpura-pura menikmati hubungannya dalam keadaan hati yang gelisah karena mendengar suara tangisan anaknya yang semakin kencang.


*


Di tengah malam yang tenang. Dengan keadaan tubuh yang sudah merasa lelah ingin beristirahat, Ira berencana pulang. Tapi tertahan karena melihat anak itu tidur dalam pelukan ibunya yang sedang duduk melamun di teras.


Semua orang sudah pergi dan tertidur, termasuk mama Rani. Tapi Ira terdiam di sana, duduk di samping wanita itu.


"Kenapa Teh?" tanyanya menyadarkan wanita itu dari lamunan.


"Gak kenapa-kenapa, belum pulang lo?" balik bertanya.


"Belum, gak tau harus pulang kemana? banyak sekali tempat terbuka, tapi sampai sekarang belum menemukan tempat yang nyaman." Ira menghela nafas mengusap rambut anak laki-laki itu.


"Semoga suatu hari nanti lo bisa nemuin tempat nyaman dan bisa di kelilingi oleh orang-orang baik."


Ira terdiam menatapnya, "Bagaimana mungkin kita bisa menemukan tempat nyaman dengan status kita yang seperti ini?"


"Apakah diri ini sehina itu? sehingga sudah tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk beristirahat?"


"Teh?" Ira menatapnya dengan sedih, hatinya terluka jika harus melihat kedepan.


Wanita itu tersenyum, "Lo masih muda, lo cantik. Suatu hari nanti pasti bakalan ada pria yang mau nerima lo apa adanya." ucapnya sambil mengelus-elus rambut anaknya yang tidur di pangkuan.


"Apakah hal seperti itu ada di dunia nyata?" tanya Ira membuat wanita itu terdiam beberapa saat.


"Alloh itu maha baik. Meskipun gue udah gak di anggap sebagai anak, saudara perempuan, dan wanita yang layak. Alloh baik dengan memberi gue pilihan untuk tidak membunuh anak ini, dia lahir dengan sehat, meskipun bukan di lingkungan yang baik. Alloh baik dengan menghadirkan dia sebagai penyemangat dan teman terbaik gue." ucapnya menciumi anak laki-laki itu.


"Berusahalah untuk keluar meskipun sulit, lo masih muda. Sisakan tubuh lo yang bagus itu untuk lelaki yang tepat suatu saat nanti."


"Haha sedih teh,, semoga iya?." balas Ira dengan mata berkaca-kaca.


"Lo punya pacar gak?"


"Sejauh ini enggak, sulit juga kalo punya pacar."


"Iya itu akan sulit, tetaplah menyendiri sampai lo bisa keluar dari lingkungan set*an ini!" terdengar biasa tetapi di balik ini, wanita itu sedang mencaci keadaan.


Malam memang tenang, tetapi tidak dengan perasaan.


Melihat jam dinding waktu menunjukkan pukul 03:04 pagi. Wanita itu masih belum tertidur.


"Kenapa harus mengingat hal yang seharusnya gue lupain?" ucapnya kembali berbaring di kasur, tanpa melihat ponselnya dia menatap langit-langit kamar.


Dalam pikirnya, "Kehidupan dan kebebasan seperti apa yang gue inginkan? yang jelas bukan seperti ini." Menghela nafas, berbalik menghadap Anggi. Dia memeluknya!


"Nggi, gue gak bisa tidur, berusaha untuk tidak memikirkan yang tidak seharusnya di pikirin. Tapi susah!" ucapnya terdiam lalu perlahan menutup matanya dan terlelap.


***


Pagi yang berisik, suara tidak karuan terdengar dari luar. Motor berlalu-lalang dan beberapa orang yang lewat sambil mengobrol.


Wanita itu membuka matanya, dengan tubuh yang belum sadar sepenuhnya dia terheran-heran karena tidak ada siapapun di sana.


"Loh pada kemana?" mencari ponselnya melihat jam waktu sudah menunjukkan pukul 08:14.


"Hah? kenapa gak ada yang bangunin? sengaja apa?" ucapnya sambil menelpon Anggi.

__ADS_1


"Tuut,,tuut!!"


"Iya Ra? udah bangun?" terdengar bising tidak karuan.


"Kenapa gak ada yang bangunin gue? ko pada jahil sihh?"


"Hahaha bukan jahil, tapi tadi gue liat jam 3 pagi lo baru mau tidur. Lagian gak belajar juga sekarang, kan ada rapat."


"Heumm,, iya deh makasih udah pengertian."


"Haha jangan marah cantik,, sekarang juga lagi di kantin nih."


"Nanti nyusul, baru bangun banget gue. Kaget gak ada siapa-siapa, jadi pusing nih kepala." ucap Ira sambil mengusap-usap wajahnya.


"Iya santai aja gak belajar juga ko." Anggi mengakhiri panggilannya.


Wanita itu kembali tiduran sambil melihat ponselnya. Sudah ada beberapa pesan dari Ka Ayu.


*Isi pesan*


"Dimana? nih gue ke sekolah rapat"


"Ketemu iya? ada yang mau gau tanyain"


"Iya nanti" Ira membalasnya dengan singkat.


"Tumben," ucapnya, tidak melihat ada pesan ataupun panggilan dari Ari.


Meletakkan kembali ponselnya, wanita itu langsung mandi.


*


Selesai mandi, wanita itu langsung berpakaian dan merapihkan tempat tidur. Menyapu dan mengepel lantai, lalu berdandan.


"Derrrnnn klek!" terdengar suara motor yang berhenti di depan kosan.


Ira beranjak sambil menyisir rambutnya, melihat ke luar jendela ternyata Ari.


"Hah? ko?" sambil membuka pintu kamar, "Pagi?" ucapnya tersenyum mengangetkan Ari yang sedang duduk di atas motor.


"Udah bangun?" tanyanya menghampiri Ira.


"Kaget, gak ada siapa-siapa!"


"Haha iya,, tapi kenapa jam 3 pagi baru tidur?" tanya Ari mengikuti Ira yang masuk ke kamar memakai kerudungnya.


"Kata siapa?" Ira bertanya balik.


"Aku tanya sayang?" ucapnya sengaja menggoda.


"Haha,, gak bisa tidur aja." sambil mengacak rambut Ari.


"Suka banget deh." merapihkan rambutnya di depan cermin. Sementara Ira duduk di teras memakai sepatunya.


"Udah? mau ke sekolah sekarang?"


"Iya yuk?" Ira menutup pintu lalu menguncinya.


"Jalan kaki bu?" tanyanya melihat Ira berjalan lebih dulu tanpa menunggunya.


"Simpen aja motornya di sini, tuh punya Teguh juga."


Ari mengunci leher motornya, lalu berjalan di samping Ira. Sepasang remaja muda yang menjalin hubungan, berjalan menelusuri gang kecil menuju sekolah. Saling berbincang dan tertawa, melukis kenangan yang enggan untuk di lupakan.

__ADS_1


*****


__ADS_2