Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 18


__ADS_3

.


.


.


Sampai di sekolah.


"Ki, gue turun di sini!" ucap Ira turun di depan gerbang.


"Mau gue tunggu apa gimana?"


"Lo masuk duluan gue nanti."


Kemudian Iki melaju ke parkiran menyimpan motornya.


Ketika dia kembali Ira sudah tidak ada di gerbang.


"Apa udah naik duluan?" pikirnya.


Ira berjalan ke samping sekolah menuju salah satu warung tempat tongkrongan.


Selain warung belakang (tanteu) terkadang dia juga ke sini (warung abang) sebutan dari anak-anak. Di sini banyak anak sekolah lain dibandingkan sekolah Ira lebih orang lain yang menguasainya di banding orang terdekat.


"Tumben?" sapa adik kelas Ira yang masih sepupu. Dia bernama Wahyu


Ira membalas tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Haloo?" sapa Ira pada si abang warung, masuk ke dalam. Di sana ada sebuah ruangan yang sengaja di sediakan oleh si abang, seolah tempat bersembunyi untuk mereka yang mau merokok atau bolos di saat jam pelajaran.


"Hei siapa ini?" ucap Abang tersenyum.


"Si cantik haha." jawab Ira duduk di kursi menyimpan tasnya di samping.


"Iya si cantik udah lama gak ke sini?"


"Ehh sekarang banyak di kelas gak kemana-mana."


"Ohh rajin belajar?"


"Haha iya. Mau kopi tapi bikin sendiri lah!" ucap Ira bangun dari duduknya menyeduh kopi hitam.


"Mau sama rokonya neng?"


"Enggak ah."


"Iya gak usahlah. Sayang cantiknya nanti hilang haha!"


"Ahh malu haha."


Ira kembali duduk di kursi, melihat ke jendela di luar satu persatu murid sekolah lain datang saling sapa dan mengobrol di depan yang pastinya sambil merokok.


"Indahnya pemandangan!" ucap Ira tegak bersender pada kursi memejamkan mata.


"Ding ding jam pertama akan segera mulai segera memasuki kelas!!" terdengar bel sekolah.


Bangun melihat jam di tangan pukul 07:30 dan melihat ke luar sudah tidak ada siapapun.


"Pantas saja." ucapnya.


"Gak masuk dulu neng?"


"Enggak lah nanti aja."


"Iya terserah lah. Abang mau ke belakang lagi beresin sesuatu kalo ada yang ke warung panggil iya. Biasanya di saat jam belajar mah jarang ada sih!" ucap Abang berjalan ke belakang.


"Oke!"


Dia meminum kopinya memperhatikan keadaan di sekitar. Anehnya tidak dapat di jelaskan apa yang saat ini dia rasakan saat ini.


Ira melihat ponselnya ada pesan masuk.


"Lo dimana gak masuk?" tanya Iki.

__ADS_1


"Sayang dimana kamu?" Anggi.


"Lagi gak mood sumpek banget nanti gue masuk!" balas Ira pada Iki.


Iki menunjukkan pesannya pada Anggi dan dia hanya mengangguk mengerti, karena memang terkadang Ira selalu bersikap tidak jelas seperti ini.


Ari berjalan akan masuk ke kelasnya dan memperhatikan tidak ada Ira, kemudian dia mampir menemui Anggi.


"Mana dia? gak masuk?" tanya Ari pada Anggi.


"Gak tau?" balas Anggi.


Ari kemudian keluar menuju kelas sendiri, karena hari ini jam pelajaran jurusan jadi dia tidak bisa bergabung ke kelas Ira.


3 orang pria masuk membangunkan Ira dari lamunan.


"Gak masuk ini ibu negara?" tanya Wahyu.


"Lo gak sendiri gak masuk?"


"Udah printer haha!"


"Gak pada masuk ini anak-anak pinter?" tanya Abang pada semuanya.


"Belajar yang makin pinter gurunya bukan muridnya haha!" balas seorang teman Wahyu.


Tidak lama dari luar jendela terlihat 4 orang pria duduk di samping salah satunya menatap Ira.


Ira terdiam, lalu melihat ponselnya perasaan semakin memburuk ketika dia ingat bahwa nanti malam dia ada janji harus menemui dia (gadun).


"Arghh jika bunuh diri bukan dosa besar mungkin gue udah lama mati. Hidup memang sialan!" ucap Ira.


"Ngomong apa si bu? nih mending." Wahyu menyimpan roko di atas meja tepat di depan Ira.


"Gak sih."


"Bu hidup itu cukup berjalan tak harus berlari, karena hidup itu butuh perjalanan bukan pelarian anjiiiing haha!" ucap Wahyu.


"Ahh bego lo!"


"Gue lebih pinter dari lo gobl*k!" balas Ira melemparnya dengan cangkang roko.


"Kelihatan jelas nih dari mukanya kalo lo lagi banyak masalah."


"Kelihatan jelas kalo lo so tau?"


"Loh kok?"


"Perasaan bukan hanya hari ini, setiap haripun hidup gue di penuhi masalah tapi lo gak komen?"


"Apa iya?" Wahyu memasang muka bingung.


"Dih bangs*t."


Ira diam bermain ponsel.


"Kenapa si teh?" tanya Hilman teman Wahyu, brondong manis yang dimana Ira pernah tertarik padanya.


"Lagi gak mood aja."


"Kalo mau cerita boleh ko?" hilman beranjak dan duduk di samping Ira.


"Gak ada apa-apa sih mungkin sedikit gak enak badan." balas Ira bersandar pada bahunya.


"Iya udah sih!"


Ira menyadari sesuatu ketika dia bersandar pada pundak Hilman, pria yang ada di luar tadi menatapnya. Padahal perlakuan seperti itu biasa untuk Ira hanya sekedar bersandar dan berboncengan naik motor sering dia lakukan dengan siapa saja terutama mereka yang sudah akrab sejak lama.


Memang untuk perempuan mungkin di anggap kurang baik karena banyak rumor yang menyebutkan hal macam-macam, dari wanita murahan, bahkan tidur dengan siapa saja. Tapi itu semua tidak masalah untuk Ira karena dia punya alasan tersendiri jadi dia bersikap tidak peduli.


"Sebenarnya kenapa menjadi seperti ini? kenapa harus merasa canggung? dan mengapa Ari belum menghubungi Ira? begitu pula dengan balasan Ira tadi pagi mengapa Ari belum memberi jawaban kembali?" Ira berkata dalam hati.


"Ehh bang Ari?" ucap si Abang pada Ari yang tiba-tiba datang langsung masuk.

__ADS_1


Ira mendengar itu hanya melihat dan berusaha untuk diam tanpa beranjak.


"Lo udah keluar Ri?" tanya Wahyu.


"Belum." balas Ari berdiri di hadapan Ira menyulut sebatang roko.


Hilman yang duduk di samping Ira langsung beranjak sedikit menjauh karena bukan hanya dia, semua orang tau bahwa ada hubungan antara keduanya (Ari dan Ira) meskipun tidak jelas apa.


Ira menatap Ari begitupun sebaliknya. Pandangan itu biasa hanya saja Ira merasa tatapan Ari sedikit lebih tajam kali ini. Apakah dia merasa cemburu?


"Kenapa ini? berbicara jalur telepati?" ucap Wahyu menyadarkan keduanya.


"Ngomong lo?" Ari duduk di samping Ira.


"Masih jam pelajaran ko keluar?" tanya Ira pelan.


"Izin mau ke wc sih!"


"Terus?"


"Ke sini."


"Iya kenapa?"


"Suuttt!!!"


"Masuk lo semua, ada Pak Aji tuh (guru khusus jurusan tkr)." ucap Ari pada wahyu dan Hilman.


"Pak Aji dateng?"


"Barusan."


"Ahhh harus masuk inimah, males sumpah bangs*t!" Wahyu dan ke dua temannya itu beranjak dari duduk keluar.


"Mang nih nanti ke sini lagi!" Hilman menyimpan uang di atas meja dan pergi.


Di ruangan itu sekarang hanya ada Ira dan Ari. Jika di luar tentu ke 4 pria tadi masih di sana bahkan bertambah orang.


"Kenapa gak masuk?" tanya Ari menatap mulai mengintrogasi.


"Gak apa sih males aja."


"Liat aku!"


"Apa?"


"Kenapa pake nyender segala sama si Hilman?"


"Iya maunya aku sih."


"Terus kenapa?"


"Apa sih? tau aku di sini dari mana?" Ira balik bertanya.


"Perasaan!"


"Oh iya? masa?"


Mencubit hidung Ira tanpa berkata apapun.


"Nanti masuk kan?"


"Iya."


"Meskipun aku tau kamu gak mau, kali ini aku akan memaksa."


"Hah?"


"Memilikimu!"


Ira terdiam tanpa mengatakan apapun sebenarnya banyak sekali pertanyaan dan yang harus Ira jelaskan. Tetapi untuk saat ini diam adalah waktu yang seharusnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2