Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 82


__ADS_3

Berulangkali mengedipkan mata seolah tidak percaya dengan apa yang Dina lihat, wanita cantik yang dia dandani sekarang terlihat berantakan dengan beberapa bercak darah di tubuhnya.


Tersadar dari rasa tidak percayanya dengan panik dia menarik tangan Ira untuk masuk ke dalam kamarnya.


brug


Mengunci pintu dan menarik tubuh Ira segera ke kamar mandi, "Sialan!" ucapnya dengan gemetar.


"Kak?" mengehentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi.


"Lo baik-baik aja kan? gak ada luka kan?" tanya Dina dengan khawatir memegangi pundaknya.


"Tatapi pria tadi bersimbah darah"


"Dia mati?"


"Gak mungkin, dia gak bakalan mati! gue cuma gores sedikit, dia gak bakalan mati kan?" ucap Ira dengan panik segera pergi meninggalkan Dina.


"Lo mau kemana? lo mau mati?" membuat Ira terdiam.


"Dengerin gue, bersihin darah yang ada pada tubuh lo dan ganti baju. Lo jangan panik, gue keluar ngecek dia," belum selesai Dina berbicara terdengar dari luar suara seseorang memanggil- manggil nama Ira dengan pukulan keras di pintu.


bug bug bug


"Raa, keluar lo jal*ng!"


Kini kedua mata saling menatap. Khawatir, takut, dengan badan yang gemetar nafas naik turun tidak beraturan.


"Tenang, cari bantuan" ucapnya mengusap wajah Ira.


Dina berlari kecil menuju ranjang mengambil handphonenya, dia menelpon seseorang yang Ira sendiri tidak tau siapa.


Bulak balik menunggu jawaban dari seseorang yang menelponnya Dina menatap Ira yang masih terdiam diri di posisinya.


"Bersihin badan lo!"


"Pria brengsek itu gak mati kan?"


Dengan langkah cepat Dina berjalan menghampiri Ira.


"Dengerin gue baik-baik, bajingan itu gak bakalan mati. Tapi lo harus tenang biar sadar, kalo gak bisa minta bantuan buruan bersihin badan lo dan kita cari jalan lain," ucapnya sambil mendorong perlahan tubuh Ira untuk pergi ke kamar mandi.


Dengan langkah berat wanita muda itu menuruti apa kata Dina, terdiam menatap dirinya di cermin. Berantakan, satu kata yang pantas untuk dirinya sekarang.


Dia mencuci tangannya yang terdapat bercak darah, air yang kini berwarna merah mengalir membasahi kakinya. Dalam rongga kepala terbayang saat-saat kejadian itu, bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu? bagaimana jika pria itu mati? bagaimana jika dia mati dan Ira berakhir sebagai wanita malam yang membunuh tamunya? atau bagaimana jika dia hidup tetapi membalaskan dendamnya dengan membunuh Ira? apakah kehidupan pahitnya akan berakhir sia-sia? apa dia seceroboh itu?


"Enggak! gue hanya membela diri sendiri," ucapnya lalu membasuh muka.


Handphone yang dia letakkan di sebelah wastafel bergetar, seseorang yang sedari tadi dia hubungi akhirnya menelpon. Ira menatapnya dan terdiam, bagaimana dia meminta tolong dan bagaimana menjelaskannya?

__ADS_1


Menghela nafas panjang dia menjawab panggilannya.


"Hallo?"


*** (Kembali)


Wanita yang sedang melamun itu tersadar ketika mendapati mobil truk bermuatan melintas pergi meninggalkan kawasan.


"Kapan mobil itu masuk?" ucapnya melihat jam tangan sudah pukul 23:08 malam.


Setelah berpisah dengan Dina yang baru di temuinya membuat Ira teringat akan kenangan itu dan melupakan apa yang akan dia pikirkan.


"Huhh dingin," ucapnya meremas kedua tangannya beranjak dari duduk.


"Sayang?" suara dari seseorang yang familiar berjalan mendekat dari belakang.


Wanita itu menoleh dengan senyuman menyambut kedatangannya.


"Nomor kamu gak aktif," ucap Ari memeluk tubuhnya.


"Handphonenya di tas dan itu ada di bagasi motor, hehe"


"Dasar!" mencubit hidung Ira lalu mengambil sebungkus roko di dalam saku dan menyulutnya.


"Di anterin sama Guntur, dia gak ada motor. Sama, di bawa sama pacarnya"


"Rasanya akan kembali runtuh, sekarang gue yang tergoda," batinnya sambil mengusap rambut Ari.


"Kenapa?"


"Enggak"


Mereka duduk di tempat Ira sedari tadi melamun, menikmati hembusan angin laut yang terasa begitu dingin dan membicarakan rencana tentang keberangkatan besok menuju tempat kerja dan hubungan keduanya.


Selama sebulan pertama berkerja kemungkinan mereka tidak bisa saling menemui karena sibuk di lingkungan baru, terutama perusahaan tempat Ira bekerja bahkan menetapkan peraturan untuk tidak keluar bebas sekalipun mereka sudah berada di luar pekerjaan.


Menjaga nama baik di awal lebih baik meskipun hanya pencitraan, daripada merusaknya lebih awal yang hanya akan mempersulit keadaannya. Dan mungkin jika sempat, Ari memutuskan untuk tetap dengan pekerjaan paruh waktunya membuat kehidupan nyata kali ini akan menyibukkan.


*


"Udah makan?" tanyanya sambil memakaikan jaket pada Ira.


"Udah tadi, kamu udah kan?"


Pria itu hanya mengangguk, dia melihat ponselnya yang bergetar panggilan dari seseorang yang sedang menunggu untuk di jawab.


"Ganggu!" jawabnya tanpa aba-aba.


Ira menatapnya dengan heran, siapa yang menelponnya?

__ADS_1


"Dimana? sekarang?"


"Gue tanya dulu," ucap Ari mengakhiri panggilan.


"Siapa?" tanya Ira menatapnya.


"Teguh, dia lagi di karaoke sama anak-anak"


"Oh, silahkan kalo mau pergi ya pergi aja," ucap Ira mengalihkan pandanganya.


"Mau ikut?"


"Enggak"


"Susan, Santi, Dewi sama Anggi di sana, termasuk Guntur sama pacarnya lagi di jalan," membuat Ira menatap Ari dengan mengerutkan kedua keningnya.


"Hah? Anggi? gak salah denger?"


"Iya, yuk?" Ari beranjak dari duduk menarik tangan Ira untuk ikut bangun.


Dia beranjak merapihkan rambut, "Mau ke sana?"


"Mau gak?"


Ira hanya mengangguk, sebelum melangkahkan kakinya Ari menahan tubuhnya untuk terdiam.


"Apa?"


"Sebentar," ucapnya lalu mengecup bibir dengan halus.


"Dasar!"


"Nanti belum tentu bisa, lagian juga ini malam terakhir," ucapnya melangkah lebih dulu lalu kali ini Ira yang menahan tubuhnya dengan menggenggam keras tangannya.


Pria itu menoleh, dia tersenyum menggoda dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Gak mau?" tanya Ira membuat dia terheran.


Ira meletakkan kedua tangan pria itu di pinggangnya dan mencium bibirnya.


Dua bibir halus yang saling melum*s melupakan tujuan mereka sebelumnya, tangan yang hanya memegang pinggang kini merangkulnya dengan erat.


Ira yang sedari tadi sudah tergoda merasa sangat bergairah dengan kehangatan yang di berikan oleh pria itu, aroma tubuhnya masih tercium sekaligus di terpa angin laut.


"Udah!" ucap Ira melepasnya, dia berjalan lebih dulu meninggalkan Ari yang masih terdiam di tempat.


Apalagi yang bisa pria itu lakukan selain merasa senang dan puas dengan apa yang telah wanitanya lakukan, tidak membodohi diri bukankah hal seperti itu yang inginkan oleh para lelaki? sebuah ketidak munafikan dalam pasangan, dan saling mengerti dengan apa yang keduanya inginkan.


*****

__ADS_1


__ADS_2