Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 38


__ADS_3

.


.


.


"Ekspektasi memang tidak sesuai dengan realita!"


"Kenapa Ra?"


"Nggi lo baik-baik aja kan?"


"Gue baik, tapi gue tanya? lo kalo gak melamun iya ngomong sendiri."


"Tapi gue masih waras Nggi!"


"Iya,, nanti mau ikut ke rumah apa langsung ke kosannya Susan?"


"Gak tau, ketemu Ari paling. Belum bilang soalnya."


"Iya deh."


Memperhatikan guru yang sedang menulis rumus di papan.


"Tok?" seorang mengetuk kaca jendela. Ira melihatnya ternyata Ari yang berjalan melewati kelas.


"Mau kemana dia?" tanyanya dalam hati.


"Mau kemana si Ari?" tanya Anggi.


"Tok tok!!" Rendi mengetuk kaca jendela.


"Manusia pada mau kemana sih? tanya Ari dong Ra?"


"Bentar," wanita itu memainkan ponselnya di atas bangku lalu di tutupi oleh buku.


Mengirim pesan pada Ari.


"Mau kemana ganteng?"


"Baru aja masuk."


Wanita itu membuka akun media sosialnya lalu mencari nama Mas Di, ayah tirinya (Satriadi) yang sedang pergi berlayar dan belum memberi kabar selama 4 tahun ini.


*Isi pesan*


"Hei ayah? apa kabar? kau baik-baik saja bukan? aku harap begitu." wanita itu melamun menatap layar ponsel.


"Ayah? kau tau?..


"Aku banyak sekali mengalami kesulitan sendiri!"


"........."


"Ra? kebiasaan." senggol Anggi.


"Kamu gak tau apa? melamun adalah healing paling sederhana."

__ADS_1


"Iya tapi pesan lo kembaliin dulu, nanti di baca orang."


"Ira diam. Apa aku harus mengadu kepada ayah sebelum dia kembali dan tau dari ibu? aku seorang penjahat jika dia mendengar dari sisi ibu, tapi apa yang harus aku katakan?" dalam pikirannya tidak pernah tenang.


"Anehnya gue selalu berpikir di setiap saat tetapi diri ini ngerasa kosong, keadaan gak jelas linglung gimana gitu."


"Gak semua hal harus lo pendem sendirian Ra."


Ira hanya terdiam melihat guru wanita yang sedang menatap Ira dan Anggi.


*


Jam istirahat ke 2 Guru itu keluar meninggalkan kelas, di susul oleh yang lain berhamburan keluar.


"Mungkin hanya aku yang ngerasain!"


"Apa Ra?"


"Rasanya semua masalalu itu belum selesai?"


"Cuma ada kita berdua disini Ra." Anggi yang sudah berdiri itu kembali duduk.


"Luangkan waktumu sebanyak yang kau bisa, aku akan benar-benar menceritakan semuanya. Bahkan kisah yang tidak seharusnya aku ceritakan. Bisakah itu Nggi?"


"Gue akan mendengarkan kisah itu, meskipun akan menghabiskan waktu berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu gak masalah. Setidaknya, ini gak akan menjadi luka buat lo di masa depan nanti hanya karena lo belum menyelesaikannya."


"Nih,,,, gue cerita. Setelah gue terluka atas perceraian orangtua yang saat itu belum mengerti jelas, gue dapat kabar kalo ibu akan menikah lagi. Sampai beberapa waktu ada seorang pria tinggi, tampan, dan berkulit hitam manis datang ke rumah. Ibu memperkenalkannya sebagai calon ayah tiri dan gue hanya meng-iyakan. Sekitar satu mingguan dia tidur di rumah nenek bersama dengan gue dan ka Ayu, mungkin dia berusaha untuk mengambil hati anak-anak ibu. Jujur sejak pertama kedatangannya gue udah merasa senang karena dia hadir mengisi rasa sepi di tengah-tengah ibu dan ayah yang meninggalkan anaknya bersamaan. Akhirnya kita semakin dekat sampai gue yang tadinya merasa canggung untuk berbicara menjadi lebih berani ketika meminta bantuan."


"Hmm,, lalu momen itu di rusak ketika dia bilang harus kembali ke kotanya untuk mengurus semua surat-suratnya. Dia bilang akan kembali dan memberi gue ponsel untuk saling bertukar kabar... Membiarkan ibu kembali pergi adalah hal yang menyakitkan, tapi dia bilang bahwa mereka akan kembali. Iya,, mereka menepati janji."


"Belum ada masalah nih Ra?"


"Oke lanjutin Ra."


"Seperti anak dan ayah pada umumnya, dia selalu menelpon untuk menanyakan kabar dan menunjukkan rasa sayangnya. Awalnya gue kecewa karena mereka bilang akan kembali dalam waktu dekat dan ternyata satu tahun lamanya mereka baru kembali dengan membawa adik baru. Tia, adik terakhir gue dari ayah Di."


"Pertama kali gue liat bayi kecil berumur satu tahun itu menyusu pada ibu. "Apakah dia benar adikku?" tanya gue dalam hati. Saat itu merasa bahagia karena mempunyai adik yang mungil dan lucu. Gue merasa beruntung bahkan ketika Tia tumbuh ayah Di tidak membedakan rasa sayangnya terhadap anak-anaknya. Dia masih memperlakukan gue sama seperti pertama dulu, gue di ajari banyak hal. Olahraga, mengaji, bahkan maksiat haha. Maksudnya gue di ajarin main remi, baik kepada orang yang baik dan licik kepada orang yang licik Nggi."


"Berbaur dengan lingkungan dan masyarakat ayah tiri gue datang sebagai seorang penjudi. Bahkan dia menggeser posisi bandar judi di tempat gue tinggal saat itu. Gue inget banget,,, pernah ada di masa paling jaya-jayanya. Masa gue tidak memiliki beban apapun, masa dimana keuangan sangat cukup meskipun itu hasil maksiat. Dia seorang ayah tiri yang baik, dan memiliki banyak peran yang gue kagumi sekaligus bangga karena telah menjadi anaknya. Tidak ada hal yang dia tidak bisa. Dia pandai bermain sepak bola, ketika awal dia bermain posisinya langsung menjadi kapten sekaligus pelatih untuk tim-nya. Dia menyukai olahraga bulutangkis, itulah kenapa gue pandai bermain karena dia yang ngajarin gue. Dia di kenal karena kesempurnaannya , semua orang tau tentang dirinya itulah kenapa dia memiliki julukan sebagai Ayah Semuanya. Karena memang semua orang yang di bawah umur dia manggilnya dengan panggilan Ayah, mungkin hanya para bujang saja yang memanggilnya dengan sebutan Mas Di."


"Ini masa jayanya?"


"Masa jaya-jayanya Nggi."


"Lagi,, begitu pula kehidupan gue lebih mudah karena banyak yang menghargai gue sebagai anaknya. Gue gak pernah merasa kesusahan dalam hal apapun. Bukan cuma itu, dia pandai mengaji. Bahkan yang paling gue rindukan dari dia adalah suara adzannya yang membuat hati gue merasa nyaman. Gue memang kehilangan sosok ayah tetapi dia berhasil menggantikannya."


"Dia berhasil membuktikan bahwa tidak semua broken home itu menyakitan, hubungan gue dan ibu juga saat itu baik-baik saja seperti anak dan ibu pada umumnya. Tidak terbuka mungkin karena gue masih terlalu muda untuk mengenal percintaan jadi tidak banyak yang harus di ceritakan. Jika harus di katakan dengan jelas, kehidupan gue sangat jauh lebih baik bahkan sampai gue lupa akan rasa rindu sama ayah kandung gue. Bapak Sunandar haha,,,"


"Wahh,, jadi ayah tiri lo berhasil mengobati luka meski tak sepenuhnya sembuh gitu?"


"Betul,, setidaknya gue pernah merasakan bagaimana hangatnya keluarga meskipun itu hanya sekejap. Makan bersama, menonton tv bersama, saling bercerita, pergi liburan bersama meskipun hanya keluar daerah. Dan yang pastinya, meskipun uang hasil maksiat tapi gue udah banyak makan sama jajan enak hahaha."


"Irraaaa? gue ruqyah lo!"


"Haha,,, sampai pada akhirnya ada waktu yang benar-benar menghancurkan segalanya. Keluarga, kebahagiaan, keuangan, bahkan kewarasan. Saat itu ayah gue sedang jatuh, beberapa kali kalah dalam perjudian. Rekan-rekannya kebetulan sedang berada di luar kota sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Yang ternyata, termasuk semua pekerjaan rekannya dan kekalahan judinya itu adalah sebuah rencana musuhnya untuk menjatuhkan. Rencana yang sangat luar biasa mulus. Berjalan lancar dan kejadian besar saat itu bukan hanya menjatuhkan ayah tiri gue. Tetapi menyeret paman dan Abang gue(anak paman) karena saat itu mereka membantu ayah gue. Jika harus di katakan bahkan mungkin abang gue memiliki trauma akan bentakan karena saat itu dia masih anak remaja yang tidak tahu apapun hanya membantu demi keselamatan ayah tiri gue."


Anggi menatap Ira dengan serius mendengarkan apa yang sedang dia ceritakan.

__ADS_1


"Pemunculan konflik nih?"


"Iya bener. Gue inget banget,,,saat itu ketika pulang sekolah gue liat ayah sedang mengecat pelek ban motor dari warna putih menjadi merah. "Motor siapa? ko di cat yah?"pertanyaan gue saat itu, karena dari sekian banyaknya motor gue baru liat motor itu. Dan gue tanya tentang cat karena gak cocok aja sama warna motornya yang biru. Bahkan entah itu sudah pirasat atau bukan, dari gue sepulang sekolah rasanya keadaan rumah dan lingkungan itu berbeda. Terasa kosong padahal orang-orang bersikap seperti biasa."


"Mungkin karena,,,, bingung gue jelasinnya."


"Apa Nggi?"


"Terusin ceritanya!"


"Nah,, gue masuk ke rumah liat ibu lagi masak, gue ganti baju lalu pas keluar rumah ayah gue pergi dengan motornya. karena adik gue yang paling kecil lagi tidur di depan tv jadi saat itu gue ikut tidur nemenin dia. Sampai pada akhirnya,,, gue lupa detailnya sih harus di inget-inget dulu tapi saat itu gue bangun tidur udah mau magrib, di bangunin sama ayah gue suruh mandi dan gue mandi seperti biasa gak ada perasaan apa-apa. Lalu pas gue lagi mandi,, ibu gue di dapur nyiapin makan ada yang nelepon ayah gue, pada saat itu gak tau dia siapa? pembicaraanya apa? tiba-tiba ibu gue teriak histeris nangis. Ayah langsung buru-buru ganti baju begitu juga gue buru-buru keluar dari kamar mandi pake baju dan ngeliat ayah gue udah pergi lewat pintu belakang pake jaket biru sama topi hitam tanpa pamit karena itu keadaannya genting!"


"Genting?"


"Iya Nggi,, gue bener-bener masih gak ngerti kenapa dan ada apa? tapi untuk pertama kalinya gue liat ibu nangis histeris liat ayah gue lari ke jalan raya lewat jalur hutan tanpa penerang apapun karena yang gue ngerti saat itu dia harus lari, lari jauh dari rumah. Yang gue liat saat itu ayah langsung numpang di satu mobil truk yang angkut pasir. Gue denger di telepon, ibu bilang sama paman buat suruh dia nganterin ayah ke tempat yang jauh dari rumah. Karena ibu ngomong sambil nangis dan gak jelas paman datang mastiin,,, saat itu paman gue kerja di pabrik kayu. Tidak lama dia datang dengan penampilan lusuh orang yang lagi kerja Nggi? ngerti kan gimana?"


"Iya, terus Ra?"


"Gue gak denger jelas pokoknya paman gue langsung pergi naik motor dengan penampilan yang masih seperti itu,, begitu juga abang gue dateng lalu ibu bilang dan dia juga langsung berangkat melaju kencang naik motor yang gue gak tau mereka mau kemana. Terus gak lama ada beberapa pria datang ke rumah dengan paksa. Mungkin 5 orangan, "Mana Mas Di?" tanyanya ngebentak ibu. Mereka masuk ke rumah tanpa sopan santun apapun memeriksa seluruh rumah sambil terus ngebentak nanyain ayah. Ibu gue cuma nangis, nangis, dan nangis. Gue juga kurang paham dan kurang denger jelas, jujur ngerasa takut banget saat itu karena gue belum pernah di bentak apalagi dengan keadaan yang benar-benar kacau gak bisa di jelaskan. Intinya mereka cuma ribut gak jelas!"


"Siapa mereka Ra?"


"Gak tau sih,, tapi mereka mengakui bahwa mereka polisi dan ayah punya masalah. Awalnya gue gak ada curiga sama sekali karena ketakutan, sampai pada akhirnya mereka pergi dan gue lihat dari kegelapan ternyata mereka gak cuma ber 5 tapi banyak. Mungkin ada sampai 20 orang."


"Hmmmhh,,, Nggi lo yakin masih mau denger?" wanita itu menghela nafas panjang.


"Iya,,,, eh bentar iya?" Anggi berlari kecil keluar kelas.


"Kemana dia?" tanyanya dalam hati sambil memandang Anggi.


Lalu dia melihat ponsel tetapi Ari tidak membalas pesannya.


"Hmmh,,," mengehela nafas.


Dia mengirim pesan kepada ayahnya.


*Isi pesan*


"Hei ayah? aku sedang mengingat kembali kisah yang paling menyakitkan itu. Hmmmh,,, aku bahkan merasa tidak baik-baik saja ketika tidak sengaja bertemu dengan mereka. Bagaimana caraku lupa akan kejadian itu?"


Dia melihat kronologi akun Facebook ayahnya yang dimana dia membagikan sebuah quoets entah siapa pemilik sebenarnya.


*quoets*


"Kalau enggak bisa menjadi orang baik, seenggaknya gak harus menjadi orang jahat"


Wanita itu menyimpan ponselnya, memandang lurus ke luar jendela yang tidak terlihat apapun selain dari atap bangunan dan rumah warga.


"Sayaaang?" sapa Anggi masuk ke kelas.


"Dari mana?" jawab Ira yang sedari tadi duduk di kursinya.


"Hahaha." dua wanita itu tertawa karena melihat Anggi yang datang membawa dua cap kopi hitam dan beberapa cemilan.


"Nggi lo niat banget apa dengerin gue cerita haha?"


"Kan biar gak ngantuk, sama nangis pas bagian sedihnya haha."

__ADS_1


"Astaga si paling bisa haha." mengusap wajahnya merasa tidak habis pikir.


*****


__ADS_2