
.
.
.
"Apakah ini karma untuk aku yang selalu mempermainkan wanita?" ucap Ari membangunkan Ira dari lamunan.
"Tidak adakah kesempatan untukku menjalin hubungan yang serius,? jujur aku sudah lelah dengan hubungan. Kali ini aku hanya ingin memiliki satu wanita, tapi itu dirimu!"
Ira menoleh, dirinya yang masih telanj*ng itu memakai baju Ari lalu pergi ke kamar mandi.
"Merasa di tinggalkan!" ucap Ari tersenyum heran.
Ira mencuci muka dan membersihkan dirinya. Kebetulan disana ada cermin.
Menatap cermin "Kau yakin mencintaiku? apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya sekarang?"
Dia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar, Ari masih duduk di dekat lemari.
"Kau cantik." ucapnya berusaha mengembalikan keadaan.
Ira tersenyum menghampiri Ari dan duduk di pangkuannya.
"Dengar sayang (mengusap rambutnya) hmmm,, bukan karena kamu lelaki yang tidak baik atau kamu yang terlalu banyak mempermainkan wanita. Tapi justru semua ini tentang aku. Kau tau? aku tidak sebaik yang kau kira. Kamu bahkan tidak akan tahu mana diriku yang asli." ucap Ira mencium hidung Ari.
"Aku terlihat seperti seorang lelaki yang sedang mengemis cintanya."
"Hmm itu benar." Ira tersenyum.
Mereka sudah kembali pada suasana yang sebelumnya.
"Sebenarnya ini menjatuhkan harga diriku sebagai pria!"
"Haha hanya aku yang tau."
"Hmm sebenarnya apa yang kau mau?" tanya Ira duduk di ranjang menghadap jendela.
"Memilikimu!"
"Kau sudah memilikiku." Ira tersenyum.
"Aku memang sudah memilikimu, tapi aku ingin status hubungan yang jelas."
"Hei kita bukan lagi anak remaja."
"Aku tau itu, aku ingin berstatus sebagai kekasihmu. Setidaknya aku memiliki hak jika ada suatu masalah dalam hubungan ini."
"Iya, gue egois jika tidak memberinya status tapi memberinya harapan seperti ini. Begitu juga gue pasti nanti akan sakit jika tidak memiliki kejelasan seperti ini." Ira berkata dalam hati.
"Hanya itu yang kau mau?"
"Aku sudah memilikimu meskipun mungkin aku tidak memenangkan sepenuhnya hatimu, tapi setidaknya jika berstatus aku tidak akan ragu untuk melakukan sesuatu."
"Melakukan sesuatu apa?" Ira menggodanya.
"Buuuu, jika kau dekat dengan lelaki lain setidaknya aku bisa melarangmu di banding dengan cemburu tanpa bisa melakukan apapun!"
Ira tersenyum mendengar perkataan Ari.
"Aku kekasihmu."
__ADS_1
"Haha." Ari tertawa lalu duduk di samping Ira menatapnya.
"Yang aku tau dia adalah pria dewasa yang bisa bersikap lembut terhadap perempuan, terutama aku."
"Aku melihatnya sekarang, dia seperti pria normal lainnya." sambung Ira.
"Seperti katamu *kamu tidak tahu mana diriku yang asli* benarkan?"
"Kenapa semua orang taunya aku adalah wanitamu?"
"Hmmm hari ini kau menjadikan aku sebagai pria yang banyak bicara iya." mencubit hidung Ira.
"Kenapa?"
"Kau ingat dulu sejak pertama kau datang ke sekolah ini? seorang wanita datang secara misterius dengan semua ketertutupannya."
"Oh jadi sejak pertama aku datang, yang duluan kau lihat itu tubuhku?"
"Haha bu itukan dulu, dari semenjak kedatanganmu sudah banyak yang membicarakanmu. Begitu pula aku, bagaimana tidak? wanita muda yang tidak banyak bicara itu menarik perhatian semua lelaki."
"Kenapa? aku memang tidak terlalu suka banyak bicara, terutama saat itu aku belum mengenal siapapun."
"Biasanya semua wanita dengan sengaja memperlihatkan apa yang menjadi keunggulannya untuk menarik perhatian lelaki, tapi kamu justru selalu memakai masker dan jaket oversizemu itu. Ketika kita sedang duduk berkumpul, kau hanya lewat dengan dingin membuat semuanya penasaran terutama aku."
"Aku sengaja masuk ke kelasmu dan belajar di sana karena aku sudah penasaran tentangmu. Haha kau tau ketika kau membuka masker dan jaketmu, meskipun tertutup seragam sekolah tapi aku bisa melihat bahwa kau memiliki tubuh yang sempurna. Tidak gemuk juga tidak kurus, bok*ngmu indah (berbentuk o) dan payud*ramu pas (tidak besar atau kecil) dan yang utama kamu cantik!" ucap Ari tertawa.
"Dasar pria brengsek!" balas Ira menarik telinga Ari
"Haha seriusan bu. Tapi anehnya ketika aku berusaha mencari tau tentang dirimu, aku tidak menemukan apapun."
"Kenapa?"
"Aku tidak tau, itulah kenapa aku langsung menyapa mendekatimu."
"Hmmm iya aku ingat semuanya."
"Asalkan kamu tau, dari sekian banyaknya wanita. Kamu satu-satunya wanita yang sengaja aku publish. Ketika kita lebih akrab dan mengambil foto berdua, aku menjadikannya foto profil akun media sosial (Facebook/bbm). Karena aku pria yang tampan dan semua mengenalku, jadi mereka menyangka kau sudah menjadi milikku."Ari sambil tersenyum.
"Hahaha percaya diri sekali pria brengsek ini!"
"Tapi emang aku tampan kan?"
Ira mengangguk sambil tersenyum karena memang itu kebenarannya.
"Alasanmu mencintaiku?"
"Aku memiliki banyak wanita, tapi aku tidak pernah menganggap hubungan itu serius. Awalnya sama seperti pada wanita lain, aku hanya penasaran saja. Tapi anehnya rasa itu beda terhadapmu, kamu wanita dewasa yang menyadarkanku."
"Terimakasih telah menemaniku berbicara di tengah indahnya hujan." Ira melihat keluar jendela.
"Meskipun kau bukan lelaki yang baik, tapi percayalah menjalin hubungan dengan wanita sehina diriku hanya akan menyakiti dirimu." ucap Ira dalam hati memandang Ari yang duduk di sampingnya.
"Tapi ngomong-ngomong (melihat jam tangan) ini udah pukul 15:03 tidak apa kau belum pulang?"
"Tidak ada yang akan peduli kapan aku pulang dan kemana aku pergi."
"Aku selalu penasaran dan ingin tau tentang kehidupanmu, tapi aku tau kamu sendiri yang menutupnya."
"Aku juga takut gila karena terlalu banyak memendam semuanya sendirian. Tapi kalau cerita aku bingung harus mulai dari mana?"
"Pikirkan baik-baik, jika kau sudah menemukan waktu berceritalah kepada orang yang kau percaya. Tidak akan menyembuhkan luka, tapi setidaknya kau sedikit lega."
__ADS_1
Ira bangun dari duduknya memakai bra, ****** ***** lalu seragam sekolahnya.
"Hujan udah reda, aku ingin pulang!" ucap Ira sambil merapikan bajunya.
"Sekarang?"
"Iya sayang."
Ari tersenyum mendengar itu, dia membuka lemari membawa celana jeans dan kaos hitam lalu di pakainya.
"Pake!" memberi kemeja.
"Taro." Ira yang sedang menyisir rambutnya.
"Bu mau tanya?"
"Apa?"
"Kita pacaran kan?"
"Hahaha kaya anak kecil!" Ira tertawa merasa heran.
"Seriusan bu?"
"Iya, Ini sikap aslinya atau apa?"
"Bingung, aku hilang harga diri kalo bareng ibu gak bisa jaga image."
"Iya gak papa haha."
"Cuma sama kamu aku gini."
"Iya." Ira menghampiri Ari memeluknya.
"Boleh gak?"
"Apa?"
Ari langsung menci*m bibir Ira.
Ira melepasnya "Udah!"
Perempuan itu memakai masker, kerudung dan kemeja yang di beri Ari.
Kaluar dari kamar membuka pintu kemudian memakai sepatunya.
"Mau makan gak?"
"Hmm gak usah lah, langsung pulang aja."
Ari hanya mengangguk sambil menurunkan motornya ke halaman.
Selesai memakai sepatu Ira bercermin di kaca jendela rumah, lalu Ari mengunci rumah.
"Yuk?" menghidupkan motor.
Ira naik, duduk satu tangannya memeluk Ari.
Terlihat jelas jalanan masih basah karena hujan deras tadi, awan sudah tidak lagi bergumpal tetapi langit masih berwarna putih. Sepertinya malam ini hujan turun kembali membasahi bumi
"Kenapa harus senyaman ini dalam keadaan seperti ini? aahhh ini akan sangat melekat nanti!" ucap Ira dalam hati.
__ADS_1
*****