
.
.
.
Getaran handphone dari panggilan yang sedari tadi sengaja tidak di jawab merusak ketenangan dua wanita itu.
Ira yang sedang asyik makan terheran-heran memperhatikan Dina yang raut wajahnya berubah seketika menatap layar handphonenya.
"Siapa?" tanya Ira pelan.
Dina hanya mengisyaratkan Ira untuk diam, "Apa sih Mam?" ucap Dina menempelkan handphone di kupingnya.
"Belum balik? jangan pergi tanpa sepengetahuan mama"
"Makan doang, tunggu"
"Tuh anak sama lu? jangan coba-coba pergi atau bawa dia, inget! lu gak bakalan bisa kemana-mana"
"Berisik!" Dina menghela nafas panjang meletakan kembali handphonenya.
"Udah?" tanya Dina menatap Ira sambil beranjak membayar makanan mereka.
"Siapa? mama Tati?"
"Wanita gila!" jawabnya berdiri di hadapan Ira menyulut sebatang roko.
Begitupun Ira meminum habis segelas teh hangat yang di sajikan, dia beranjak mencuci tangannya dengan sabun dan bercermin sebentar sebelum keluar dari tempat makan itu.
Selsai makan keduanya kembali menuju ke rumah, berjalan melewati hutan dengan kesunyian membuat Ira bertanya-tanya apa yang di katakan mama Tati setelah menyuruh mereka untuk segera kembali? apakah menyakiti perasaan Dina? atau perkataan yang tidak seharusnya di ucapkan? sehingga kini Dina hanya diam tanpa sepatah kata, membuat Ira merasa canggung untuk memulai obrolannya.
*
__ADS_1
"Buka!" teriak Dina yang berhenti di depan gerbang.
"Gue aja ka," ucap Ira segera turun dari motor membuka kunci pagar dan mendorongnya.
"Kenapa dia?" tanya Heru berjalan dari arah samping pos satpam memperhatikan sikap Dina yang terlihat sangat kesal.
Ira hanya menoleh tanpa menjawab pertanyaan pria itu, dia berlari kecil mengejar Dina yang sudah berjalan cepat masuk ke dalam rumah setelah memarkir motornya.
Dalam pikirnya mungkin ada masalah pribadi antara mama Tati dan Dina yang membuat wanita itu merubah sikapnya dalam sekejap lalu seolah membenci semuanya.
"Kamar aja, gue ada urusan," ucap Dina ketus berlari kecil menaiki tangga, Ira hanya mengangguk sambil memperlambat langkahnya untuk menjaga jarak agar tidak terlihat bahwa dia benar-benar ingin mengetahui masalah apa yang sedang terjadi.
Dia melewati kamar-kamar yang sepi, nampak beberapa dari mereka belum terbangun atau mungkin sengaja tidak membuat suara gaduh.
Ketika melewati ruangan Mama Tati Ira terdiam beberapa saat di depan pintu, dia ingin tau apa yang mereka bicarakan dan mungkin saja pembicaraan itu akan terdengar hingga keluar, tapi nampaknya permasalahan itu memang tidak harus di ketahui oleh Ira, seorang perempuan paru baya memegang pundaknya.
"Hei nguping!" ucapnya membuat Ira berbalik menatap, seorang wanita berkulit putih dengan mata bulat sempurna dan hidung yang tidak terlalu mancung berdiri di belakangnya.
"Nunggu kak Dina," ucap Ira tersenyum.
Pandangan Ira yang sedang tertuju pada punggung wanita itu berpaling ketika Heru berjalan naik dari lantai bawah menuju ke arahnya.
"Laah," ucap Ira berlari kecil menuju kamarnya.
"Ngapain dia ke atas? bukannya tugas dia jaga?" gumam Ira berbaring di atas ranjang sambil melihat-lihat handphonenya.
"Apa nenek tidak khawatir dengan cucunya? dia bahkan tidak menghubungi Ira melalui Hesti," dalam pikirnya sambil meletak kembali handphone menatap ke arah luar jendela.
Lagi dan lagi nampaknya malam ini akan di guyur hujan deras, bahkan cuaca pagi tadi yang amat cerah berubah seketika menjadi mendung di sertai angin, apakah Tuhan merasakan apa yang sedang wanita itu rasakan sekarang? dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, hanya Dina satu-satunya orang yang dia kenal dan percaya di rumah itu, lalu kenapa dia belum kembali dan menemuinya? apakah masalahnya begitu serius?
**
Tok tok tok
__ADS_1
"Nih baju ganti, pake punya gue," samar-samar terdengar suara Dina membuka pintu kamar.
Ira yang tertidur perlahan membuka kedua matanya yang terasa berat, dia beranjak mengambil cepitan rambut dan bersandar pada dinding kamar.
"Ketiduran, oh ya. Ada masalah apa lo ka sama Mama Tati? gue tunggu lama banget"
"Dia takut gue bawa kabur lo atau bantuin lo keluar dari rumah setan ini," ucapnya dengan lantang.
"Hah? seriusan?"
"Serius cantik, dia pikir gue bisa ngelakuin hal itu sementara si Heru terus ngawasin?
gak taulah cape gue debat sama tuh tante gila"
"Hahaha ko bisa gitu iya?"
"Udah lah, lo kalo mau lanjut tidur ya tidur aja yang kenyang. Inget! disini siang jadi malam, dan malam jadi siang," ucapnya beranjak dari duduk keluar kamar.
"Makasih love you," teriak Ira tersenyum merasa lebih baik karena memiliki teman sekaligus kaka yang bisa di andalkan.
Dia membuka dua pakaian yang Dina bawa, piyama tidur polos yang berwarna pink dan dres merah pendek untuk di pakainya nanti malam.
Di lihatnya jam sudah pukul 15:12 sore, Ira beranjak mengunci pintu kamar dan ke kamar mandi untuk membersihkan badan, cuaca sudah terasa dingin sehingga air yang membasahi tubuhnya membuat bulu kuduk berdiri.
Tidak berapa lama dari dalam kamar mandi terdengar samar-samar suara adzan berkumandang, dalam hati Ira berharap malam ini akan menjadi malam terakhirnya di rumah ini, dia ingin segera pulang dan menikmati kebebasan tanpa merasa takut.
Seperti apa yang Mama Tati katakan dia di sini hanya sekedar untuk membayar pertolongannya, mungkin dua hari dengan menerima beberapa tamu sudah cukup untuknya, lagi pula Ira merasa harus mencari Suleng dan mempertanyakan maksud dari apa yang pria itu lakukan.
Jika memang dia masih membutuhkan Ira, kenapa dia menjebaknya untuk tinggal di sini? pertolongan Mama Tati harus sebanding dengan apa yang Ira lakukan di sana, tapi menurutnya ini sudah keterlaluan dengan bersikap seolah dia adalah tawanannya.
Mengambil keputusan tanpa membicarakan, dan berasumsi tanpa mempertanyakan adalah hal yang sebenarnya sangat Ira benci. Lagipula dia seorang siswi SMA, tanpa surat dan izin dalam waktu lama memungkinkan dia akan di keluarkan dari sekolah itu.
Begitu pula dengan kakek dan nenek, seringkali cucunya tidak pulang ke rumah dengan banyak alasan, tetapi jika sampai berhari-hari akan menimbulkan kekhawatiran dan bahkan kecurigaan, itu yang Ira takutkan, bagaimana akhirnya nanti dia akan memilih jalan sendiri, entah pulang dengan sebuah perjanjian atau pergi tanpa sebuah pemberitahuan.
__ADS_1
*****