Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 19


__ADS_3

.


.


.


Pria itu menyandarkan kepala Ira di pundaknya. Terlihat biasa, namun itu perlakuan yang istimewa bagi Ira.


"Tidak terlalu banyak berpikir, apalagi dengan perkataan yang telah aku ucapkan. Bersikaplah seperti biasa, aku menyukai itu." ucap Ari.


"Ini juga bisa aja sih."


"Aku tau kamu di sini dari dia." menunjuk salah satu pria di luar.


"Oh iya? dia bilang apa?"


Ari menunjukkan pesan di ponselnya tanpa berkata.


*Isi pesan*


"Dimana Ri?" dia.


"Kelas, gimana?"


"Ada cewe lo disini."


"Di abang." sambungnya.


"Sama siapa?"


"Nyender sama anak kelas 10 sih gak tau gue."


Ari tidak lagi membalas pesannya dan dia langsung menghampiri Ira ke warung abang.


*


"Hmmm... Aku gak tau kamu kenal dengan banyak orang?" ucap Ira meletakan ponsel kembali di atas meja.


"Jangan banyak tingkah, banyak cctv!"


"Iya."


"Nanti malem kemana?"


"Ada janji. Emang kenapa?"


"Ko malah balik nanya? mau ngajak keluar."


"Hmmm,, emang mau kemana?"


"Iya gimana nanti sih, ibu maunya kemana?"


"Gak tau?"


"Pulang sekolah nanti di anterin ke rumah langsung!"


"Kan udah bilang ada janji Ri."


"Oh ada yang lebih penting dari gue?"


"Kenapa gitu? gue gak suka!"


Ari terdiam memandang Ira "Maaf!" ucapnya.


"Bukan tentang pentingnya, janji iya tetap janji harus di tepati. Apalagi gue tau gimana rasanya menunggu seseorang menepati janjinya sampai orang itu lupa bahwa dia telah berjanji." Ira menjelaskan.


Ari terdiam tidak berkata, melihat ke luar jendela menganggukan kepala dan langsung memalingkan pandangan menatap Ira mengecup bibirnya.


"Plaakk!!" I.ra refleks memukul pipi Ari dengan tangan kanannya.


"Apa sih bu?"


"Apa sih? kalo di luar sekolah gak pake seragam mau apa aja terserah. Tapi ini bukan hanya seragamnya tapi bahkan jam pelajaran Ri." ucap Ira menarik telinga Ari pelan.


"Hehe gak nyangka ibu serewel ini. Gak ada yang liat juga, orang ngecup doang bukan sengaja ingin."


"Tapi kan kalo sekilas ada yang liat bisa jadi rumor yang heum..."

__ADS_1


"Ibu nyadar gak?"


"Apa?"


"Sebagian orang di sekolah taunya kalo ibu itu milik Ari. Orang bego doang yang berani deketin kamu." ucap Ari kemudian menyeruput kopinya.


"Oh iya? kenapa bisa gitu?"


"Gak tau sih tanya aja sama mereka. Tadi pas kamu nyender sama si Hilman, aku gak minta dia buat menjauh ko. Cuma liatin aja, tapi dia udah ngerti dan menjauh tanpa di minta."


Ira terdiam memandang Ari.


"Oh iya. Bukan hanya itu, perasaan gue gak jelek-jelek amat tapi jarang banget ada adik atau kaka kelas yang deketin gue. Bisanya cuma nyapa doang, giliran ngobrol bercanda bareng tapi pas ada Ari semua kek pada diem." Ira berkata dalam hati.


"Aku pikir, aku wanita yang kurang menarik sehingga gak ada yang deketin."


"Yang deketin kamu? harusnya banyak sih. Tapi emang pada berani? kan sebagian orang taunya kamu milik Ari." ucapnya tersenyum mengedipkan sebelah mata.


"Oh gitu? oke mau update di instastory kalo aku jomblo!"


"Bu?"


"Apa?"


"Apa apaan?"


"Butuh penghibur Ri."


"Kan temen kamu udah banyak. Cowok semua juga."


"Iya itumah kan temen."


"Maksudnya apa? mau nyari pacar gitu?"


"Calon pacar lebih tepatnya." Ira tersenyum.


"Nyari modelan yang gimana? aku yang kayak gini juga nunggu dari kelas 1 sampe sekarang masih belum di terima."


"Hmm,, yang ganteng lah."


"Silahkan terserah kamu. Paling babak belur tuh anak!"


"Aahh akhirnya!" ucap Ari bersandar pada kursi sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


Ira terdiam karena jujur dia tidak bisa melihat leher pria terutama bagian jakun yang terbentuk jelas, apalagi saat itu kancing seragam sekolah Ari yang terbuka satu membuat tulang lehernya terlihat.


"Heessstt!!" Ira menutupi leher Ari dengan tangannya.


"Apa bu?"


"Enggak." melepas.


"Bisa gak kalo bajunya di kancing semua haha?" sambung Ira.


"Culun dong!"


"Haha iya sih kenapa gak pake kaos dalem?"


"Gak apa sih, nyaman kek gini."


"Hmm iya sih jarang banget cowomah."


"Emang kenapa bu?"


"Gak apa nanya aja. Tau kan aku suka gak jelas? Iya mungkin ini maksudnya haha."


Ari tidak membalas perkataan Ira, dia hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Nanti malem beneran ada janji?"


"Iya, besok aja iya."


"Emang janji apa? sama siapa? boleh tau gak?"


"Deegg!! anj*ng serasa di tonjok banget ini dada!" ucap Ira dalam hati.


"Hmm,,, ada."

__ADS_1


"Siapa? kemana?"


"Mony*t banget sumpah!" Ira mencaci dalam hati di tambah dengan tatapan Ari yang mengintrogasi.


"Gak semua urusan pribadi gue harus lo tau Ri!"


Ira memalingkan pandangannya dan bangun berdiri.


"kenapa dih?"


"Yuk masuk?"


"Sekarang?"


"Yeuuu bayar." melangkah keluar.


"Bang?" memanggil si Abang membayar lalu mengikuti Ira yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kenapa si bu?"


"Gak apa sih."


"Gak, ini aneh?"


"Apa sih?" Ira mempercepat jalannya.


"Pacaran mulu lo!" ucap Teguh yang berpapasan di jalan tadi malam.


Dia tiba-tiba datang dari belakang mereka, ternyata dari tadi Teguh ada di warung abang mungkin diam di samping.


"Gak pacaran gak asik!"


"kasihan Ri nanti kecapean cewek lo!"


"Boro, gue nyentuh aja kagak."


"Lahh anj*ng bulshit!" Teguh berputar balik.


Dari tadi Ira hanya diam sambil berjalan karena perasaannya menjadi tidak karuan. Antara sedih, kesal, entah apa lagi tidak jelas.


"Kenapa dih?" Ari menarik tangan Ira.


"Apa dih?" Ira bertanya balik karena baru pertama kali, Ari sedikit kasar menarik tangan Ira dengan keras.


"Kalo ada yang salah dari ucapan gue maaf!"


"Iya gak papa, lepas!"


"Udah! aku tau gak seharusnya aku ingin tau dengan semua urusanmu."


"Gak papa."


Ari memandang dan melepas tangan Ira.


Mereka berdua melewati gerbang sekolah langsung masuk menuju kelas.


Kelas lain sedang dalam jam pelajaran jadi tidak ada murid yang di luar.


Namun terlihat dari mereka yang memandang Ari dan Ira berjalan melewati kelas, pastinya banyak sekali pembicaraan tentang hal ini tapi mereka hanya berani membicarakannya di belakang.


"Bu pesan bales iya?"


"Kan belajar Ri, nanti udah selesai ke kelas aja."


"Hmm,, iya tuh."


"Masuk kelas sana!"


"Iya nanti udah selesai ke sana." Ari berjalan lurus melewati kelas Ira.


"Tok tok!!" Ira mengetuk pintu.


"Maaf telat Bu, ada perlu." ucap Ira pada guru wanita yang terkenal dengan baik hati itu.


"Iya gak apa. Masuk, duduk." balasnya.


Ira duduk terdiam, melihat Ari yang berjalan ke kelasnya. Berusaha untuk tidak memikirkan apapun tetapi suasana hatinya sangat buruk sekali. Saat ini, meskipun dia memperhatikan guru yang sedang menjelaskan tetapi pikirannya jauh entah kemana.

__ADS_1


*****


__ADS_2