Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 81


__ADS_3

Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu dengan keras ketika Ira hendak keluar untuk kembali ke tempatnya duduk.


"Iya?" jawabnya membuka pintu nampak Mama Tati dengan seorang pria bertubuh tinggi, kurus berumur sekitaran 36 tahun menatapnya dengan dingin.


"Dia ingin menemuimu," ucap Mama Tati tanpa basa basi memberi isyarat kepada pria itu untuk masuk, lalu dia pergi meninggalkan.


"Sekarang gilirannku bukan?" ucapnya dengan tersenyum mengerinyai membuat Ira menghela nafas berat, tubuh yang di penuhi dengan tato dan bau alkohol menyengat ketika pria itu perlahan mendekat.


"Apakah harus sejelas itu?" jawab Ira merasa tersinggung.


"Mungkin sekarang gue orang yang keberapa, tapi besok gue harus orang pertama yang tidur sama lo," tanpa merasa bersalah dengan ucapannya dia duduk di samping ranjang.


Prak


Handphone yang di genggaman Ira jatuh ketika pria itu menarik tangannya dengan keras.


Dia langsung menindih tubuhnya yang terbaring di atas ranjang, "Suut!" ucapnya ketika Ira membuka mulutnya untuk bicara.


Tanpa sedikitpun kelembutan, dia membuka gaun pendeknya dengan paksa. Meremas payudara dengan keras sehingga sakit yang Ira rasakan sekarang, dia tidak pernah mengalami itu karena payudara adalah investasi tubuhnya yang berharga, dia merawatnya dengan baik sehingga statusnya sebagai wanita yang tidur dengan beberapa pria terbantah karena payudara yang masih terlihat kencang.


"Sakit!" ucap Ira menggeram dan berusaha melepaskan kedua cengkeraman pria itu di dadanya.


Tidak cukup dengan remasan, kini pria itu mempermainkan sesukanya.


"Lepas!" Ira mendorong tubuhnya dengan keras sehingga dia terjatuh ke bawah, repleks memakai baju untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang.


"Gue bayar untuk menikmati tubuh lo yang murahan itu," ucapnya bangun dan berdiri di hadapan Ira.


"Semurahan ini lo perlakuin gue seenaknya? terus sampai lo bunuh mereka dengan bayaran mahal gitu?" bentaknya dengan gemetar karena rasa takut, tidak akan ada penolong di sini sehingga dia berjalan perlahan mendekat pada jendela yang terdapat pisau cutter di sana, jika terjadi sesuatu mungkin Ira siap melakukan apapun sebagai bentuk pertahanan untuk dirinya.


Begitu pula pria mabuk yang kesadarannya sudah tidak terkontrol itu perlahan mendekati Ira dan menyudutkannya pada jendela.

__ADS_1


"Seharusnya lo beruntung karena gue tidak sampai meludahi tubuh yang sudah rusak itu, menjijikan!"


Hinaan yang baru pertamakali Ira dengar, rasanya hancur, sekuat hati menahan dia tersenyum perih.


"Keluar lo sekarang juga, gue balikin duit yang udah lo kasih ke Mama Tati," belum selesai berbicara pria itu mencengkram leher Ira.


"Lo butuh duit yang gue kasih, jangan so jadi perempuan mahal yang bisa memilih lo tidur sama siapa, pelacur!" ucapnya semakin merekatkan satu tangannya membuat Ira merasa kesakitan.


"Hanya pria kere seperti lo yang memperlakukan seorang pelacur seenaknya, khek!" umpatan yang membuat pria itu semakin mencekiknya, sekuat tenaga Ira menahan sakit dan sesak yang kini dia rasa.


"Lo pantas mendapatkan perlakuan buruk sampai kapanpun," tatapan amarah di selangi senyum mengerinyai membuat rasa takut yang Ira rasa semakin membara, pria sialan itu mungkin seorang psikopat yang selalu berbuat kasar.


"Gak, gue harus bisa lolos, gak mungkin gue mati di tangan pria bajingan ini, dasar anjing!" Ira membatin, perlahan satu tangan kanannya meraba pisau cutter yang di simpan di samping jendela.


Sekalipun pemangsa melepas cengkeramannya, dia telah melukai fisik dan batinnya, Ira merasa takut jika dia melunak dan mereka berhubungan dia akan meminta sesuatu yang lebih di luar otak kewarasannya.


Pikiran yang berkecamuk dan rasa sesak yang semakin menjadi membuatnya frustasi ketika pisau yang dia simpan di samping jendela tidak ada di sana.


"Sial! dimana pisau itu?" batinnya.


Ira berusaha pergi sekalipun satu kakinya kini di genggam keras oleh pria itu, "Gue bunuh lo dasar pelacur," ucapnya memekik.


"Lepas!"


Air mata yang berusaha Ira tahan lolos juga dari persembunyiannya, rasa takut yang kian menjadi membuatnya panik.


Ingin sekali rasanya meraung-raung meminta pertolongan, tetapi percuma saja. Tempat sialan itu memutar musik kencang yang menggema di seluruh penjuru ruangan.


Berkali-kali Ira menghela nafas panjang menjernihkan pikirannya untuk berpikir, sekali-kali dia lihat pria itu masih memegangi kedua butir telur dengan satu tangannya.


"Cutter!" dalam pikirnya ketika mendapati pisau itu berada di atas meja rias samping ranjang.


"Awas brengsek!"

__ADS_1


Belum sampai pada meja rias, "Mau apa lo jal*ng?" ucap pria itu menjambak rambut Ira dengan keras. Peras yang dia rasakan semakin menjadi ketika merasakan pusing yang hebat di kepala.


Keriangat dingin mulai membasahi tubuhnya yang gemetar, seperti sengaja di tinggelamkan pada bak mandi rasanya tubuh tidak memiliki kekuatan untuk melawan tetapi pasrah bukanlah keinginan saat ini.


"Memohon dan layani gue sekarang! atau gue paksa," ucapnya tepat di depan Ira, satu tangannya menyentuh lembut wajah yang kini sudah tidak terlihat segar. Raut ketakutan, basah dari air mata yang kini justru mengalir deras, dan bibir membengkak karena sedari tadi wanita itu mengigitnya di tengah kepanikan.


"Aaawas!" sambil berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman pria gila itu sebagai pengalihan untuk satu tangannya yang sedang meraba pisau.


"Lo masih seangkuh ini? haha dasar pelac*r murahan!" mendorong hingga terjatuh, dia membuka bajunya dan ketika akan menindih tubuh Ira keduanya saling menatap dan terdiam.


Jantung berdetak semakin kencang, rasanya darah terhenti seketika lalu kembali mengalir deras.


praak


Ira melempar jauh pisau cutter yang sudah bersimbah darah, menggenggam tangannya sendiri yang masih terdapat darah dan mendorong pria itu untuk menjauh.


Dia duduk sambil memegangi perutnya yang telah tersayat cutter, darah mengalir menutupi tatonya seolah memberi warna pada bunga mawar yang berwarna hitam itu.


"Sialan!" ucapnya berusaha untuk beranjak menghampiri Ira.


Sekuat tenaga Ira berdiri meskipun rasanya kaki tiba-tiba lumpuh dan berat sekali untuk melangkah, dia membawa handphone dan mengambil kunci kamar yang tergeletak di sudut ruangan.


Berulangkali mata menatap pria itu yang sedang menutupi perutnya dengan baju, kini bercak darah ada di mana-mana, bukan hanya ranjang tetapi baju, lantai, handphone dan bahkan pintu yang sedang berusaha Ira buka terdapat bercak darah dari genggaman tangannya.


"Gue bunuh lo per*k!" teriak pria itu dengan lirih menahan rasa sakit, bukannya berusaha untuk mengambil cutter itu kembali, justru dia membuka handphonenya dan menelpon seseorang. Ira harus keluar dan segera meminta pertolongan dalam masalah ini, jika tidak dia bisa saja di bunuh tanpa sepengetahuan Mama Tati atau yang lainnya.


"Bisa!" batinnya merasa harapan akan segera datang menghampiri, dengan cepat Ira membuka pintu dan keluar meninggalkan kamar. Dia sengaja tidak menguncinya agar pria itu bisa keluar dan mencari pertolongan, Ira tau ada banyak darah yang cukup terbuang di sana, tapi kemungkinan meninggal tidak akan memungkin karena dia hanya menyayatnya dan lagipula orang-orang yang berkerja untuknya pasti akan bergerak cepat untuk segera menolong tuannya.


Bug bug bug bug bug


"Kak? kak Dina?" berkali-kali menggedor pintu sambil menoleh ke sekitar dan menatap kamarnya takut sesuatu terjadi, entah kematian pria itu atau dia bisa bertahan dan keluar lalu kematian yang menghampiri Ira.


"Lo kenapa?" sontak Dina dengan panik ketika membuka pintu mendapati Ira yang berantakan dan tangan bersimbah darah.

__ADS_1


*****


__ADS_2