
.
.
.
Tengah malam yang berangin. Suara dari motor dan mobil yang melaju di jalan raya terdengar bising, tetapi suasana di kamar itu terasa sangat tenang dan hening.
Mungkin karena kisah yang sedang di ceritakan melihat jauh ke masalalu, sehingga membuat si pendengar tidak bisa berkata apa-apa selain dari mendengarkan.
"Terkadang hidup memang selalu berjalan di luar kendali kita. Sesempurna apapun kita merencanakan kehidupan, tetapi jika Allah belum berkehendak itu semua hanyalah sebuah angan." ucap Ira menarik perhatian temannya.
"Tapi setidaknya kau harus percaya bahwa, sebuah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil." jawab Anggi.
"Itu memang benar, tapi apakah kalian percaya? sebagai manusia seberusaha apapun kita memperbaiki keadaan dan merubah nasib, jika Alloh tidak mengijinkan itu semua tidak akan pernah terjadi. Apakah kalian pernah melihat seorang yang terlahir miskin dan selama hidup dia berusaha mati-matian untuk bisa cukup, tapi sampai akhir hayatnya dia tetap miskin dan tidak ada perubahan dalam kehidupannya?"
"Mungkin karena sabarnya dia akan mendapatkan tempat yang lebih baik." jawab Anggi.
"Percakapan ini terlalu baik untuk gue yang gak tau apa-apa?" tambah Susan.
"Haha iya udah ko." jawab Anggi.
"Gimana Ra? tanggung." tanya Dewi.
Wanita itu menarik nafas menatap ke-tiga temannya, "Lisna dan si Imut ini melakukannya secara terang-terangan, tanpa menyembunyikan identitas mereka. Mama Rani, wanita paruh baya sang pemilik tempat pelac*an. Jujur saat itu gue frustasi karena Suleng masih belum menghubungi, sementara semua kebutuhan gue tetap berlanjut dan tidak ada yang nanggung selain diri gue sendiri." ucapnya melihat ponsel ada beberapa pesan masuk dari Ari dan dia hanya membiarkan tanpa membalas.
"Maksudnya lo di kenalin sama Mama Rani ini?" tanya Susan.
"Iya, sama mereka. Jujur awalnya gue merasa takut, gue takut bagaimana jika pria yang gue temui nanti bersikap kasar? bagaimana jika dari mereka ada yang tidak sehat dan membawa penyakit? khususnya untuk gue, dan ini yang paling gue takutin. Bagaimana jika ada orang yang mengenali gue dan bilang sama kakek dan nenek? gue benar-benar bimbang sampai ada satu cara yang gue pikirin."
"Apa Ra?" tanya Dewi.
"Gue pergi ke tempat itu, bukan untuk menerima tamu. Tapi gue pergi untuk memilih beberapa tamu dan melayaninya secara pribadi tanpa harus di tempat itu. Ngerti gak maksudnya?"
__ADS_1
"Iya gue ngerti!" ucap Susan.
"Tapi tetap saja gue juga menerima orang lain di sana,,,,, satu minggu saling mengenal dengan Lisna dan mama Rani. Malam jum'at, gue pergi ke sana dengan si Imut ini. Karena kita nongkrong jadi gue juga memakai pakaian yang lebih terbuka. Awalnya semua nampak tidak biasa, gue yang tertutup secara pribadi dan penampilan, saat itu harus terbuka dan banyak bicara untuk menggoda setiap lelaki yang mampir. Kehidupan memang se-*njing ini!" ucapnya dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan karena mengingat kembali masa itu.
"Mungkin para lelaki senang dengan keberadaan kita, apalagi mereka sangat menyukai siswi SMA seperti gue. Mama Rani ngajarin gue bagaimana caranya menuangkan minuman, menemani mereka minum dan mengobrol untuk bisa membuat para lelaki hidung belang itu merasa nyaman. Hingga akhir dari pembicaraan itu, setiap lelaki pasti akan bertanya : Berapa? mereka langsung menanyakan harga diri kita, itu yang membuat gue tidak merasa nyaman di sana."
"Terus soal harga itu tergantung lo?" tanya Dewi.
"Iya, harga tergantung gue. Mungkin gue cuma bayar kamar ke Mama Rani."
"Iya mahal Ra?" tanya Susan dengan polosnya.
"Hahaha si Susan ini," melemparnya dengan tutup botol minuman. "Iya gue mah mahal lah, siswi SMA dan cantik juga haha."
"Tapi?,, Ira memotong "Gue juga gak nyangka bahwa di tempat seperti itu justru perempuan malam di hargai dengan murah. Kalian tau? harga mereka jauh di bawah gue, bahkan jujur gue di tawar murah!"
"Terus mau?" tanya Dewi.
"Iya enggak lah. Ada seorang pria mungkin sekitar 26tahunan mau gue. Dan dia nawarin dengan harga murah, anji*g banget! iya gue tolak lah."
"Jangan tanya harga anji*g!" ucap Ira tertawa begitu pula dengan ke-tiga temannya itu.
"Iya maaf pengen tau segalanya haha." jawab dewi.
"Jadi gini,, karena uang gue udah benar-benar habis dan gak punya tabungan, saat itu ada seorang pria tua berumur 50tahunan berbisik nawar gue dengan harga yang sesuai. Satu minggu gue di sana akhirnya kali itu terpaksa menerima. Awalnya biasa aja, tapi ketika sampai di kamar pria itu bersikap kasar. Memperlakukan dengan tidak baik, bahkan dia sampe nampar gue beberapa kali. Gila gak?" ucapnya.
"Terus lo gimana?"
"Iya gak gimana-gimana, itu udah resiko gue sih."
"Tapi kan kalo pake kekerasan gak baik Ra,"
"Iya tau, itu juga kenangan terburuk gue. Tapi ada suatu hal yang menggores hati ini,"
__ADS_1
"Apa Ra?"
"Ada seorang wanita berumur sekitar 33tahunan yang menetap di sana,, dia memiliki anak yang tidak jelas bapaknya dan anak itu di besarkan di sana. Anak laki-laki berumur 2 tahunan yang tumbuh di lingkungan seperti itu, ini bukan tentang ibunya yang kejam atau ibunya yang tidak punya pikiran. Tapi pekerjaan apa yang akan dia dapatkan sambil mengurus anak bayi sendirian? anak itu di tolak oleh keluarganya karena tidak memiliki bapak. Jika dia bekerja, anaknya akan dengan siapa? dia tidak mungkin memperkerjakan baby sister karena tidak memiliki banyak uang. Kalian tau? ketika ibunya menerima tamu, untuk mengalihkan perhatian anaknya dia di bawa pergi oleh Mama Rani. Dan ada kalanya anak kecil itu rewel, menangis dan menanyakan ibunya yang sedang melayani pria hidung belang. Itu benar-benar sakit, gue inget! tengah malam dia duduk sendirian di depan sambil menatap langit yang gelap. Entah apa yang dia pikirkan, gue datang menemaninya dan dia memecah keheningan dengan berkata : Dunia ini gak kejam ko, kita saja yang tidak beruntung. Nyari duit haram aja susah, apalagi yang halal."
"Ko gue sakit iya, gak bisa bayangin gimana keadaan anaknya tumbuh di lingkungan seperti itu." ucap Anggi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Yang bikin hati gue teriris perih itu, gak bisa bayangin gimana wanita itu berusaha untuk kuat dengan masalah hidupnya." ucap Ira.
"Di sini penyebab lo di drop out itu?" tanya Susan.
"Iya. Jadi gini,, bisa di bilang karena kita bekerja di tempat yang sama gue jadi sering bertemu sama si Imut ini. Kita bahkan ngekos bareng di belakang SMA. Ceritanya gini,, pacarnya itu seri jemput dan main ke sana. Gue sengaja menghindar dan bahkan ketika dia ke sana, gue diem di kamar gak keluar-keluar. Tapi memang lelakinya yang tidak baik, dia selalu ngPing! gue. Mungkin dia punya pin BBM gue dari hpnya si Imut ini. Alasan mau chatan sama gue itu dengan nanyain si Imut, jadi dia pengennya bisa berlanjut panjang gitu. Sementara gue tau di pacar siapa iya balesnya cuma di saat perlu doang. Sisanya gue gak bales!"
"Jadi si Imut ini salah paham sama lo gitu?" tanya Anggi.
"Iya,, dia nyangkanya gue yang godain cowoknya. Gue yang ngedeketin cowoknya, lucu kan? gue sering cekcok sama dia. Bahkan gue pernah bilang : seganteng apa cowo lo sampe gue goda dia? ."
"Lalu dia percaya?"
"Iya pasti enggak, gue memutuskan untuk pergi dari kosannya lalu pulang ke rumah. Tapi saat itu gue masih pergi ke sana untuk menemui Mama Rani dan main sambil pamit karena suleng sudah ada menghubungi."
"Lalu si Imut ini jadi membenci lo?"
"Iya,, minggu malam yang ramai. Banyak tamu yang keluar masuk cafe untuk menghibur diri. Saat itu gue dan si Imut tidak bicara, jadi gue duduk di depan bersama Mama Rani. Malam itu gue tidak menerima tamu, gue cuma main dan menemani mereka minum. Itu malam terakhir gue di sana."
"Lo gak ke sana lagi gitu?" tanya Dewi.
"Enggak pernah, saat itu gue menghabiskan malam dengan minum tanpa berhubungan besoknya gue pergi ke sekolah seperti biasa, tapi sebelum masuk kelas gue di panggil ke BK. Intinya mereka memberikan surat drop out karena ada salah satu akun fake memposting foto gue yang bersama Mama Rani tadi malam. Persetan! sialan! males dehhh!" ucap Ira mulai emosi.
"Terus gimana?"
"Iya gue keluar dong, gak bilang ke orang rumah. Gue langsung daftar sekolah sendiri ke sini dan tidak menghiraukan siapa dalang dari foto gue itu. Sampai akhirnya Lisna bilang sama gue bahwa akun fake itu milik si Imut. Sebenarnya gue selalu bersikap bodoh amat, tapi untuk kali ini gue gak diem. Bukan tetang di drop outnya, tetapi tentang foto yang menyebar itu. Memang sih setelah gue keluar foto itu hilang dengan sendirinya, tapi tetap saja ketika hari akhir gue sekolah di sana orang-orang menatap gue dengan tatapan yang aneh. Seolah mereka jijik sama gue. Anji*g kan?"
"Penghianat memang menjijikan!" ucap Anggi.
__ADS_1
"Terlalu percaya sampai gue lupa, bahwa manusia bisa berubah kapan aja!" tambah Ira sambil melihat ponselnya.
*****