
.
.
.
Tidak peduli lagi dengan namanya kebodohan yang di dasari oleh cinta, dan berhubungan tanpa menikah yang di sebut dengan Zina. Mungkin wanita itu akan mendapatkan karma dari dosa-dosanya, entah itu sekarang ataupun nanti.
Jangan membicarakan dosa dengan wanita ini, tanpa berhubungan dengan kekasihnya dia tetap berhubungan dengan oranglain. Bahkan mungkin suatu hari nanti dia akan mendapat karma yang lebih buruk, karena menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri.
Dia sudah tidak memperdulikan apa yang akan terjadi dan bagaimana jika terjadi? seberusaha apapun dia menahan dan menghindari semuanya, mimpi buruk itu pasti akan terjadi. "Apa yang akan terjadi, terjadilah!" kata yang selalu di ucapkan olehnya, muak dengan segala rencana yang selalu gagal dan ekspetasi yang selalu di hancurkan oleh realita.
Pasrah, keteguhan yang di yakini olehnya. Cukup untuk berusaha agar keluar dari kehidupan kelam ini, dan berhenti meyakini diri bahwa dirinya mampu melewati semua ini. Dalam pikiran, hati selalu meyakini bahwa dia mampu dan usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Realitanya, 4tahun berlalu dengan meyakini mampu untuk pergi tapi kenyataannya tetap kembali.
*
"Mau makan apa?" tanya Ari memulai obrolan dan perlahan melambat laju motornya.
"Makan kamu." jawab Ira membuat pria itu tertawa.
"Haha,, kalo kamu mau aku kasih."
"Makan bakso aja, tapi aku sendiri 2 porsi boleh?" tanyanya tanpa merasa malu karena perasaan yang sudah tidak karuan dengan pikiran yang kemana-mana.
"Hahaha,,, kenapa sih? mau sampai 5 porsi juga asal kamu kenyang silahkan." ucapnya membelokkan motor berhenti di tempat bakso.
"Sejak kapan di sini ada tukang bakso?" tanya Ira Karena sebelumnya dia tidak menyadari ada tukang bakso yang jualan tepat sebelum gang menuju rumah Ari.
"Kamu yang sering ngelamun." ucapnya mencubit pipi Ira berjalan masuk. Lalu benar, pria itu memesan 3 porsi bakso sayur di bungkus.
"Mamah ada di rumah?" tanya Ira sambil duduk menunggu, tidak percaya bahwa Ari benar-benar membeli 2 porsi untuknya.
"Jangan tanya tentang mamah, udah pasti gak ada." jawabnya.
"Terus? ko pesen 3?"
__ADS_1
"Kan kamu yang mau, sengaja makannya di rumah."
"Hahaha,, astaga beneran." Ira tertawa menutup wajahnya yang memerah.
"Sekalian sama es jeruknya iya?" pinta Ira lalu pria itu beranjak memesannya.
"Ghruddugg ghruddugg!" terdengar suara gemuruh petir di kejauhan.
"Akhir-akhir ini memang selalu turun hujan." ucap Ari duduk di sampingnya.
"Kan November, biasanya yang berakhiran Ber-itu selalu hujan haha." jawab Ira.
"Emang iya? kata siapa bu?"
"Kamu percaya? haha,, kata aku." mengacak rambutnya.
"Dasar!" mengambil dan membayar untuk pesanan yang sudah siap, lalu mereka pulang.
Seperti biasa, menelusuri gang sempit yang selalu sepi. Hanya beberapa menit mereka sampai, turun dari motornya langsung masuk ke dalam rumah.
Ari pergi ke kamar untuk mengganti bajunya, "Sayang? haha." panggil Ira menyimpan mangkuk di atas meja.
Duduk di kursi, sebuah keberuntungan karena dia yang pertama kali melihat ponselnya. Ada pesan dari pria yang selalu bersikap lembut itu, dia mengatakan akan menjemput Ira jam 8 malam ini. Mengulur waktu dengan alasan harus mengantar istrinya berbelanja lebih dulu.
Dengan cepat dia membalas IYA pada pesan itu, sebelum Ari kembali dia harus menghapusnya.
"Gue gak kerja, besok paling." terdengar suara Ari yang sedang menelepon keluar dari kamarnya.
Ira membuka bungkusan bakso dan menuangkannya ke dalam mangkuk, tanpa menunggu pria itu dia makan lebih dulu.
"Sekarang gue lagi sama cewe, nanti ke sana." ucapnya terdengar mengakhiri panggilan.
"Si Teguh ngajak minum. Abis gajian dia, bolehkan?" ucapnya duduk di hadapan Ira.
Ira hanya mengangguk. Dalam diam dia berpikir, apakah Susan yang sengaja mengajak Ari untuk membantu Ira dengan berkedok gajian? jika benar, mungkin akan lebih baik karena kebetulan hari ini pria itu tidak bekerja.
__ADS_1
"Tapi udah makan aku mau sebat boleh iya?" tanyanya yang sekarang sudah sedikit demi sedikit berhasil mengurangi rasa ingin merokok.
Dia hanya mengangguk asyik dengan baksonya, begitupun wanita itu yang menghabiskan dua porsi bakso.
**
Adzan ashar berkumandang. Selesai mencuci piring dan membereskan tempat makan, Ira menyusul pria itu yang sedari tadi berada di kamar tidak menemaninya. Mungkin sedang beristirahat atau tidur, dia jarang sekali memiliki waktu luang seperti ini.
Membuka pintu dan benar apa yang dia pikir, Ari tertidur. Berbaring di depannya, terdiam menatap pria itu lalu mencubit hidung dan menciumi wajahnya.
"Apakah kamu masih seorang pria brengsek yang menjalin hubungan dengan wanita lain di belakangku?" bisiknya membangunkan Ari.
"Aku sudah bilang tidak tertarik kepada siapapun selain kamu, dan sekarang sedang berusaha untuk tidak sebrengsek dulu." jawabnya memeluk erat wanita itu.
"Jika aku yang mengkhianatimu bagaimana?" tanya Ira ingin mengetahui jawaban apa yang akan pria itu katakan.
"Aku akan menganggap itu karma." jawabnya beranjak bangun, minum dan menyulut sebatang rokok.
"Perset*n dengan itu, jika lo tau bahwa gue seorang pelac*r yang tidur dengan pria beristri, mungkin lo akan ninggalin gue dan bahkan merasa jijik." Ira berkata dalam hati.
Dia beranjak, berdiri di depan Ari dan menggodanya dengan mengusap lembut leher pria itu.
"Apa sekarang kau yang menginginkannya?" tanya Ari tersenyum sambil merangkul pinggangnya.
"Mungkin, bisakah setelah ini untuk tidak lagi berhubungan kecuali aku sendiri yang memintanya? tidak membodohi diri, aku akan menggodamu jika aku mau." ucapnya membuka ikat rambut dan membiarkannya terurai.
"Aku tidak yakin bisa, tapi untuk sementara mungkin bisa menahannya." jawaban yang sudah Ira duga, "Pria haus sepertimu tidak mungkin menjalin hubungan layaknya remaja biasa." ucap Ira menarik telinganya.
Ari mencium lembut bibir wanita itu. Tanpa mengingat ini sebuah kesalahan atau bukan, lagi dan lagi mereka terhanyut dengan nafsu nikmat yang tidak akan cukup jika tidak melampiaskannya.
Munafik. Mungkin kata yang tepat untuk wanita itu sekarang, dulu sebelum mengenal cinta dia merasa jijik dengan wanita yang merelakan tubuhnya kepada pria tanpa imbalan apapun. Dengan alasan menikmati waktu sebelum orang lain menyetuhnya, sekarang dia menjadi wanita bodoh yang merelakan tubuhnya dengan imbalan cinta.
Dia sudah melupakan dirinya yang sedang berusaha untuk memperkuat benteng pertahanan, jika identitasnya terbuka nanti. Telinga yang harus di tutup rapat, dan mata yang memandang tanpa memikirkan perasaan.
Kehidupan benar-benar sudah jauh di luar kendalinya sekarang. Dia tidak memikirkan bagaimana sakitnya nanti ketika semua hal yang tidak di inginkannya terjadi. Akan mengadu kepada siapa? apa yang akan dia katakan? dan manusia mana yang akan menenangkanya? oranglain hanya akan peduli dengan kesalahannya, bukan dengan rasa sakitnya. Mereka akan menghakimi dan mengintimidasi tanpa sedikitpun introspeksi diri.
__ADS_1
*****