Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 6


__ADS_3

.


.


.


Pria kurus itu memandangi putrinya. Entah apa yang dia pikirkan. Ira hanya berpikir mungkin dia juga merindukan putrinya atau banyak pertanyaan yang dia tidak tau dari mana harus memulainya.


"Ira ada keperluan, sebentar lagi mau peraktik kerja lapangan butuh bekal biaya yang gak kecil. Ira gak bisa ngandelin gaji teteh yang gak seberapa. Tabungan Ira juga gak banyak. Intinya Ira minta bantuan ayah buat ngurus semuanya." ucap Ira memecahkan keheningan.


"Kapan berangkat nya? Jangan minta uang ke ayah secara tiba-tiba karna yang pegang uang ibu."


"Ira tau ayah punya keluarga sendiri di sini, ibu istri ayah. Tapi setidaknya ayah harus tau ibu juga punya anak dan yang pastinya ibu mendahulukan anaknya ketimbang anak ayah yang jauh di sana. Harusnya ayah bisa menyisihkan sedikit uang ayah nabung, meskipun diam-diam inget, ada 4 putri ayah yang masih butuh banyak biaya. Ira dan adik-adik masih tanggung jawab ayah. Kalo gak minta ke ayah siapa lagi? " ucap Ira yang berusaha menahan air mata dengan tangan gemetar.


"Iya ayah tau. Nanti ayah kabarin lagi. Tapi kalo hari ini ayah bener-bener gak punya uang. Paling bisa ngasih buat ongkos pulang aja iya."


Ira hanya diam mengangguk karna dia sudah tau bahwa akhir dari semua pembicaraan selalu mendapat rasa kecewa.


"Iraaa?" terdengar teriakan Ibu tiri memanggil.


"Makan dulu!" sambungannya.


"Sana makan duluan, ini sudah sore sebentar lagi ayah pulang." ucap ayahnya.


Perempuan muda yang masih mengenakan seragam sekolah putih abu itu berjalan menuju rumah.


Menengok ke belakang,


"Kau memang tidak bisa di harapkan. Kau selalu membuatku kecewa." ucap Ira memandang ayahnya yang sudah kembali bekerja.


Melangkah masuk ke rumah nampak Iki sedang duduk bersender pada dinding.


"Ada ayah lu Ra?"


"Iya ada."


"Ra makan dulu, ajak juga temennya!" Ibu tiri.


"Lo mau makan gak ki? " tanya Ira.


"Agak males si." balas Iki berbisik.


"Gak usah makan bu, nanti aja." ucap Ira sembari berjalan ke dapur melihat ibu yang akan menyampaikan makan.


"Nanti pulang mau bawa apa? " tanyanya.


"Ibu mau ngasih apa? bawa aja semua!" balas Ira.

__ADS_1


Menghampiri Iki di ruang tamu.


"Ki gak usah makan deh, nanti beli bakso aja"


Iki hanya mengangguk.


"Lo udah ngomong? gimana katanya?" Iki penasaran.


"Nanti aja lah di jalan ceritanya males."


Diam sejenak fokus pada ponsel masing-masing.


"Udah makan Ra? " tanya ayah pulang kerja memasuki rumah.


"Gak usah."


"Udah jam 16:30 Ki, mau pulang?"


"Iya yuk, nanti bakalan jadi bahan gosip lu malem-malem baru pulang sekolah"


Ira bangun dari duduknya berjalan menuju dapur nampak ayah dan ibu sedang duduk. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Pak, mau pulang udah sore." ucap Ira menghampiri dan menyalami orangtua itu.


"Ini bawa ada beras berapa kilo sama makanan juga." ibu tiri memberi kerdus ukuran sedang.


"Ayah anter sampai jalan besar!" ucapnya.


Mereka bersamaan keluar dari rumah. Ira dan iki mengenakan sepatunya.


"Pulang Bu?" ucap Ira sambil memakai jaket dan maskernya.


Ayah dan Iki menghidupkan motornya.


"Nih kerdus simpan di depan aja Ki" Ira memberi.


"Lu duluan aja, gue ngikutin." sembari menyimpan kardus yang di beri.


Ira menaiki motor bersama dengan ayahnya.


"Tiit tiiit!!"motor melaju.


"Ra, jangan nakal iya!" ucap ayahnya.


"Ira jauh dari ayah, ayah gak tau apa-apa dengan kehidupan Ira. Tapi ayah berharap Ira baik-baik aja maafin ayah. Kalo urusan ayah udah selesai ayah pasti pulang" sambungnya.


Ira hanya diam mendengarkan. Hatinya bergetar. Bagaimanapun pula dia adalah seorang ayah yang jauh dari anaknya. Pasti banyak kekhawatiran tapi dia tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


Motor berhenti di sisi jalan sebelum jalan besar.


"Nih Ayah gak punya uang. Ini cukup buat jajan Ira." memberi uang 100 ribu.


Ira menerima dan terdiam. Karena dia tau ayahnya tidak akan memberi uang lebih besar dari itu.


"Iya udah Ira pulang?" menyalami dan memeluk pria kurus itu.


"Hati hati iya!" mencium kening putrinya.


Ira berjalan menghampiri Iki yang berhenti di belakangnya. Naik dan duduk.


"Yuk Ki, menepuk pundaknya."


Motor melaju, Ira menengok ke belakang nampak ayahnya yang masih berdiri melihat anaknya pergi.


Memalingkan pandangan dan terdiam.


Begitulah pertemuan antara anak dan ayah. Singkat tapi anehnya selalu menyimpan cerita.


"Ki, lo tau gak?" ucap Ira.


"Apa?"


"Hal yang menyakitan selain dari perpisahan ?"


Iki hanya terdiam.


"Menunggu seseorang yang kita tau bahwa dia tidak akan pernah kembali" sambungnya.


"Ayah lo ngomong apa?"


"Lo tau gak? bukan cuma hari ini. Dari semenjak dia menikah dan ketika kita bertemu dia selalu mengatakan tunggu ayah, ayah akan kembali. Dan lo tau? anehnya gue selalu percaya itu dan menunggunya hingga saat ini. Padahal gue tau jelas bahwa dia telah nyaman dengan keluarga dan kehidupannya di sini. Gue tau dia gak akan kembali. Tapi lagi dan lagi anehnya di dalam hati gue selalu berharap bahwa apa yang dia katakan itu akan terjadi padahal gue tau itu gak mungkin terjadi karena nyatanya hingga saat ini bahkan jika bukan gue yang menemui dan menghampirinya dia gak akan datang." Ira berkata panjang.


"Iya gue ngerti. Dia memberi harapan pada lo untuk kembali agar lo menunggu. Lo tau itu gak mungkin terjadi tapi bagaimanapun juga lu adalah seorang anak yang berusaha yakin dengan harapan lo meskipun lo tau itu nyakitin hati lo. Kalo menurut gue anggap itu udah selesai dan lupain. Percayalah itu cuma nyakitin diri lo sendiri." balas Iki menjelaskan.


"Gue juga tau itu ki, gue sadar tapi anehnya seolah gak ada jangka waktu buat gue menunggu. Memang benar iyah sebenarnya gak ada orang yang nyakitin gue, gue hanya tersakiti oleh harapan diri gue sendiri" balas Ira menghela nafas.


"Terkadang hidup memang sesialan ini. Kita harus bisa menyesuaikan lingkungan atau kita yang di permainkan hahaha keren gak gue?"


"Edaann savagenya hahahha."


Iki terdiam dengan tingkah ira karena dia tau dia sedang mengeluh. Setidaknya dia telah menceritakan apa yang dia rasakan karna jika bertanya secara langsung mau di paksa sekalipun ira tak akan pernah menjawab bagaimana tentang perasaannya. Dia seseorang yang tertutup untuk masalah pribadinya. Karna menurutnya orang lain tidak berhak ikut campur tentang bagaimana dia menjalani kehidupannya.


Dia selalu berkata kepada semua orang bahwa "Yang paling mengenal dia adalah dirinya sendiri. Jadi orang lain tidak perlu sok tau!" berulang kali dia mengatakan hal seperti itu. Karena sakit sekali jika manusia harus hidup dengan di hakimi oleh orang lain. Kita punya hak untuk keputusan diri kita sendiri. Itu sangat berlaku terutama untuk ira yang hidup tanpa perhatian orangtua. Yang dimana dia harus bisa memikirkan kehidupan dan kebutuhannya sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2