
.
.
.
Ari memecah keheningan, "Udah?" tanyanya.
"Haha iya yuk?" Ira beranjak dari duduknya.
"Mau langsung ke tukang bakso?"
"Iya, ehh kekelas dulu ambil hp." sambil berjalan lebih dulu.
Kemudian Ari menyusulnya, mereka menuruni tangga.
"Dari mana lo?" tanya seorang pria yang sedang duduk di tangga bersama dengan beberapa orang.
"Pacaran!" balas Ari tersenyum.
"Haha anj*ng kasihan tuh cewek!"
"Gak masalah selagi dia menikmatinya haha."
"Bangsaaattt keras haha!!"
"Awas gue permisi mau lewat."
Ira berjalan melewatinya lebih dulu.
"Ari kalo ngomong suka gitu?" ucap Ira.
"Gitu gimana?"
"Kalo mereka nyangka kita berdua ngelakuin hal-hal yang aneh suka di ladenin."
"Di ladenin apa enggak pikiran mereka pasti kek gitu. Iya udah biarin aja!"
"Mereka menyangka kalo misalnya kita sering tidur bareng."
"Iya tau, mereka nyangka gitu karena mereka ngelakuinnya."
"Apa Ari juga bakalan ngerusak cewek ke yang lainnya?"
"Heumm iya enggak sih, mau ngelakuin iya kalo ceweknya mau haha."
"Kalo enggak, maksa gitu?"
"Iya enggak lah, kalo aku maksa mungkin kamu udah aku dapetin."
"Gue bunuh lo!"
"Emang berani?"
"Kenapa enggak? kehadiranmu saja sudah sebuah kejahatan untukku."
Sampai di depan kelas, Ira langsung masuk untuk mengambil ponselnya di tas.
Ari hanya diam merasa heran apa yang di maksud oleh wanita itu?
"Dari mana?"tanya Iki.
"Hatimu."
"Mony*t gue tanya?"
"Iya gue gak mau jawab anj*ng!"
"Pulang sendiri loh!"
"Oh mau ninggalin gue?"
"Iya emang!"
"Oke, gue di anterin Ari." balas Ira dengan wajah tersenyum meledek.
"Iya udah besok berangkat sekolah gak gue jemput."
"Arghhhh sayang jangan ngambek dong haha." memeluk Iki.
"Apa apaan sih?" Iki menghindar.
"Gak tau terimakasih lo, jangankan Ari semua cowok yang ada di sekolah ini pengen di peluk gue. Lah loe malah menghindar?"
"Iya udahlah sssuuuttt berisik lo! udah sana aja pergi!"
"Hihh gobl*k."
"Apa lo anj*ng?"
"Apa lo mony*t?"
"Mulaaaiiii?" teriak Anggi masuk kelas.
"Apa sih sayang?" Ira memeluk Anggi.
"Mau kemana?" tanya Anggi.
"Makan bakso."
"Sama Ari?"
"Hooh!"
"Ikutt lah, saayaaangg? aayehh hahha." Anggi tertawa memanggil Rendi.
"Ih naj*s!" ucap Iki.
"Sirik aja lo!"
"Kemana?" tanya Rendi masuk kelas.
"Makan bakso yuk bareng sama Ira?"
"Sekarang?"
__ADS_1
"Besookkk!!" ucap Ira dan Anggi bersamaan.
"Hahha!" mereka berdua saling bertatapan lalu tertawa.
"Ki lo mau ikut gak?"
"Enggak, gue lagi nonton film."
"Abis ini jam kosong loh?"
"Iya gue tau, saannaaaa pada pergi lo semua ganggu gue!!" teriak Iki.
"Iya udah, yuk Ra?" Anggi dan Rendi keluar kelas sementara Ira berdiri mematung memainkan ponselnya.
"Sedang tidak tenggelam tapi butuh di selamatkan!"
Ira update di akun sosial medianya.
"Raa ayo?"
Menyimpan ponsel pada saku "Yuk, mana Ari?"
Keluar kelas melihat Ari sedang berbincang-bincang dengan anak kelas sebelah.
"Riii?" teriak Rendi.
Ari menoleh dan langsung menghampiri.
"Ngapain lo ke sana? dari kelas Tkj2
"Nyamperin si guntur." (teman kerja Ari)
"Oh kirain nyari gebetan haha." ucap Anggi.
Jika kelas Anggi berisi 30 murid dan hanya 5 perempuan, lalu sisanya laki-laki.
Justru di kelas tkj 2 dari 32 murid, 22nya perempuan dan sisinya laki-laki menarik bukan?
"Ngapain nyari gebetan, kan ada ini!" ucap Ari tersenyum memandang Ira.
"Apa apaan?"
"Ngapain pada berdiri di sini?" tanya pak Gilang guru tkr 2 menegur Ira dan Anggi yang berdiri menghalangi tangga.
"Haha maaf maaf." Anggi memberi jalan.
"Ayo turun, jadi gak?"
"Iyaaaa."
Mereka menuruni tangga.
*
Ira dan Anggi menuggu Rendi yang sedang mengambil motor di parkiran. Begitu pula Ari yang motornya terparkir di warung belakang.
"Mana Rendi?" tanya Ari datang.
"Lagi bawa motor."
"Naik bu?"
"Yoo?"ucap Rendi datang.
"Yuk?" Anggi duduk di motor.
Mereka berangkat menuju tukang bakso (Mang agus).
*
"Aduh malam minggu nih pada mau kemana?" tanya Anggi sambil makan bakso.
"Emang malam minggu?" Ira lupa hari.
"Iya bu, makanya aku ngajak pergi."
"Oh, aku ada urusan."
"Hmm besok gimana? mantai yu?" ajak Anggi.
"Kerja gak lo Ri?" tanya Rendi.
"Gue kerja."
"Lain kali main bareng kalo ada waktu."ucap Ira.
Ari dan Rendi selesai makan lebih dulu.
"Bisa ngroko gak nih?" tanya Rendi ke Anggi.
"Jangan lah, masih pake seragam juga!" balas Anggi.
"Gak usah banyak tanya, nih (memberi roko)." ucap Ari sambil menyulut sebatang roko.
Ira hanya tersenyum memandang Anggi.
"Kenapa si cewek kalo makan lama?"
"Sebenernya bukan gak bisa cepet, bisa sih tapi kan harus tetap menjaga image sebagai perempuan bener gak Ra?" balas Anggi.
"Mungkin bukan hanya makan, dalam hal lain juga." balas Ira.
"Hal lain apa?" tanya Rendi.
"Raaaa kalo ngomong langsung ke intinya, gak bener ngomong sama mereka nanti malah salah arah!" ucap Anggi.
"Haha besok-besok kalo makan berdua aja iya, gak usah ngajak cowok."
"Palingan banyak mata dimana-mana." ucap Anggi.
"Tidak bisakah membiarkan kita menikmati sebuah kebebasan dan ketenangan?"
"Bisa, tapi berusahalah untuk tidak merespon pria manapun." ucap Ari.
"Apa?"
__ADS_1
"Gini, kalo cowo pergi sama temennya cewek suka mikirin yang enggak-enggak. Cowo juga kalo ceweknya pergi gak di temenin iya gitu hanya saja gak terus terang." ucap Rendi.
"Ohhhh cinta maksudnya haha?" ucap Anggi
"Arghhh rasa bosan seketika menghantamku." ucap Ira.
"Lah kebiasaan lo Ra. Jadiin pacar Ri." ucap Rendi pada Ari.
"Dia nolak gue!"
"Bener Ra?"
"Hahaha udah lah!"
Setelah selesai mereka semua langsung pergi kembali ke sekolah.
**
"Mana buat gue?" ucap Iki pada Ira dan Anggi yang masuk ke kelas.
"Makan pake apa disini?" balas Anggi.
"Orang-orang pada kemana si?"
"Iya biasa lah."
"Santi, Susan, sama Dewi?"
"Gak tau gue suuttt berisik!" balas Iki yang sedang menonton film.
Anggi berjalan ke depan kelas melihat Ari dan Rendi sedang berkumpul bersama anak tkr lain khususnya Arif, Sandi, Beni, Rezki dan Pras.
Di dalam hatinya masih penasaran mengenai hal Ira. Banyak sekali pertanyaan dan sekarang waktu luang mungkin saatnya mencari tau.
"Raa?"
"Apa?"
Anggi berjalan ke arah sudut kelas dan duduk di lantai bersender pada dingding lalu di ikuti Ira.
"Apa?"
"Bentar," Anggi mengirim pesan pada Ari.
*Isi pesan*
"Angkat telepon gue dan dengerin gak usah ngomong!"
"Ada apa emang?" balas Ari.
Tanpa membalas diam-diam Anggi langsung menelpon Ari.
"Apa sih Nggi?" tanya Ira.
"Gak papa, jam kosong nih saling curhat yuk mumpung gak ada siapa-siapa?"
"Hmm,, boleh."
"Kenapa gak pacaran aja sama Ari?"
"Ko nanya gitu?"
"Lo sayang kan sama dia? begitu juga dia."
"Hmm,, mungkin."
"Lalu kenapa?"
"Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti untuk mencintai kita. Melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia ketika kita melepaskannya."
"Beneran gak ngerti sumpah, kalian menyadari dan bahkan tahu jika kalian memiliki perasaan yang sama."
"Terus?"
"Lo nyadar gak kalo Ari berharap sama lo?"
"Gak tau dan mungkin enggak. Sama seperti gue yang menyayanginya tapi tidak berharap memilikinya."
"Tapi gimana kalo misalnya Ari berharap lebih?"
"Sebaiknya jangan deh!"
"Ko?"
"Haha denger iya, liat aja dalam satu minggu kedepan Ari pasti bakalan udah punya pacar lagi."
"Lo yakin Ra?"
"Kita udah deket lama, dan gue tau apalagi untuk ceweknya yang sekarang. Ari sayang sama dia, kalo cewek itu mulai menghubungi Ari lagi pasti gak ada alasan buat dia nolak. Bakalan balik lagi!"
"Jadi sebenarnya lo gak percaya sama Ari?"
"Sejak kapan gue percaya sama cinta?" tanya Ira balik.
"Heumm tapi kan setidaknya lo harus coba ngasih kesempatan."
"Nggi, gue gak mau pacaran karena gue gak ingin di sakiti dan menyakiti. Sebaik-baiknya hubungan percintaan pasti akan ada rasa sakit."
"Hmmm..."
"Nggi bahkan gue tidak sebaik yang lo kira?"
"Seburuk apapun lo kalo Ari menyayangi lo pasti dia bakalan nerima lo."
"Oh iya? haha."
"Oke, jadi apa mau lo?"
"Hujan hanya membasahi bukan melindungi dan aku hanya mencintai bukan memiliki haha."
"Itu sakit Ra."
"Ari itu pria yang baik, kasihan deh kalo harus memiliki gue yang tidak sebaik ini!"
"Tapi menurut gue, setidaknya lo bisa berharap kalo Ari bisa nerima lo."
__ADS_1
"Katanya : Jangan berharap setinggi langit, jika tidak ingin kecewa sedalam laut." ucap Ira terdiam melihat ke luar jendela.
*****