Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 22


__ADS_3

.


.


.


"Kita seperti dua wanita dewasa yang sedang berbicara iya?" ucap Anggi tersenyum.


"Lebih tepatnya di tuntut menjadi dewasa oleh keadaan!" balas Ira bangun dari duduknya membawa ponsel yang tergeletak di bangku meja.


"Ri?"


"Hmm..?"


"Lo udah denger sendiri penjelasannya kan?"


"Coba tanya sebenernya dia ada masalah apa?"


"Suutt!!!" Anggi menaruh hpnya di saku karena Ira sudah kembali.


"Ehh bentar," Ira berjalan ke luar kelas.


"Apa Ra?" teriak anggi bertanya.


"Ari."


"Dimana?"


"Masih di sana bareng Rendi sih. Tapi kayaknya lagi nelpon deh."


"Oh hahaha!" Anggi tertawa karena memang dia yang sedang menelepon Ari.


"Ketawa dih?"


"Emang kenapa kalo liat Ari lagi nelpon?"


"Sedikit cemas dan ingin tau hahahaha!!"


"Woyy suutt berisik!!" teriak Iki.


"Masalah lo apa sih? ngerusak momen kita!"


"Lagi rame-ramenya nih diem lo!"


"Sedikit cemburu Ra?" tanya Anggi tentang Ari.


"Mungkin haha!"


"Terus gimana kalo misalnya, seminggu kedepan Ari beneran udah punya pacar lagi?"


"Gak papa sih."


"Terpaksa melepasnya?"


"Semesta menyuruhku melepaskan, tapi menggenggamnya saja aku belum pernah haha lucu bukan?"


"Ahh haha aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi kau emang wanita dewasa!"


"Mencintai paling dewasa adalah membiarkan dia mencintai orang yang dia pilih ekhemm." sambungnya.


"Iraaa haha!!" Anggi tertawa karena tidak tahan sedari tadi mereka saling berbicara dengan perkataan yang seperti ini.


"Jadi mau apa sekarang?"


"Sebenarnya masih banyak sih yang ingin gue tanyain?"


"Lain waktu aja!" Ira beranjak dan berdiri.


"Apa?"


"Mau nyamperin Ari, ganggu dikit boleh lah haha." ucapnya keluar kelas.


"Ikuuuttt?" teriak Anggi menyusul Ira.


Ketika melihat ponsel panggilannya sudah berakhir, mungkin Ari mematikannya.


"Ayuuk ih?" Ira yang menunggu Anggi di ambang pintu.


"Yuk?"


Berjalan menghampiri Ari dan yang lainnya. Mereka duduk sambil memainkan gitar di depan ruangan komputer yang hanya di gunakan di saat jam pelajaran jurusan. Tempat itu kosong dan biasa di jadikan tempat berkumpul. Khususnya anak Tkr dan kelas Ira.


Ari terdiam memandang Ira yang datang menghampiri. Dia merasa sudah tidak menahannya, ingin sekali menanyakan banyak hal dan mendengar apa yang akan di jelaskan Ira. Karena dia merasa tidak nyaman dengan apa yang Ira bicarakan tadi kepada Anggi.


"Ko baru ke sini? dari tadi kemana aja bu?" tanya Rezki kepada Ira.

__ADS_1


Karena Ari memanggil Ira dengan sebutan Ibu Negara, terkadang teman-teman lelaki Ira kebanyakan juga memanggilnya dengan panggilan itu. Seperti halnya berbicara, kadang baik kadang kasar. Dan Ira merasa tidak masalah dengan itu semua.


"Di kelas." balas Ira duduk di tengah-tengah Ari dan Rezki.


"Sekolah macam apa ini? bisa-bisanya orang belajar gue malah gak ada gurunya yang ngajar." ucap arif.


"Tapi lo seneng kan?"


"Kesempatan itu jarang datang berkali-kali, seperti wanita yang sedang di perk*sa mau gak mau yah harus di nikmati daripada dia terluka haha!" ucap Beni.


"Mulai mulai!" Ira memandang Beni.


"Di perk*sa itu bukan hanya kejahatan tapi pemaksaan gak mungkin perempuan bisa menikmatinya bego!" Anggi menegaskan.


"Lebih bahayanya kejadian itu menjadi trauma yang melekat sih." tambah Ira.


"Oke gue ganti, seperti wanita malam yang menjual tubuhnya kepada pria yang tidak dia kenal. Mau gak mau dia harus bisa menikmatinya."


"Hei melac*rkan diri juga sebuah pekerjaan, emang lo pikir mereka menikmati itu?" Ira mulai kesal dengan Beni.


"Tapi mereka tetap melakukan itu?"


"Yang gue tau, sebenarnya mereka itu tidak ingin melakukan hal yang seperti itu. Tapi masing-masing dari mereka memiliki alasan tersendiri jadi menurut gue lo gak harus ngomong yang buruk juga sih tentang mereka. Inget! mereka juga perempuan sama seperti yang lainnya." ucap Anggi.


"Coba deh pikir, mereka harus melayani orang yang tidak mereka cintai bahkan tidak mereka kenal. Bagaimana bisa mereka menikmatinya?"tanya Ira.


"Lagi pula gak ada bedanya dengan wanita-wanita yang melakukan **** bebas di luaran sana." Anggi yang membantu Ira melawan Beni.


"Lebih tepatnya, memang seorang pelac*r itu tidak memiliki harga diri. Tapi setidaknya tubuh mereka itu di beli, di banding dengan mereka yang memiliki harga diri tetapi merelakan tubuhnya, demi apa nggi?" tanya Ira pada anggi.


"Demi cinta, cinta dan cinta!!" sambung Anggi.


"Sebenernya manusia itu sama-sama berdosa, hanya saja caranya yang berbeda. iya kan Nggi?"


"Good!"


"Ben mending lo diem, gak usah ngajak debat cewe. Apalagi dua orang ini (nunjuk Ira dan Anggi) seberusaha apapun lo mau menang, gak akan bisa!" ucap Sandi.


"Perempuan itu gak pernah salah ben!" Anggi merasa senang.


"Lagian ngomongin apa sih? pemerk"saan, pelac*ran gila lo semua!" ucap Sandi.


"Nih Ra?" Beni akan memulai kembali perdebatan.


"Suutt diem! dari mulai hari ini gue lagi pengen hidup menghindari banyak perdebatan, males ngebela diri sendiri. Kalo orang lain bilang gue jahat, gue salah, gak tau diri, Santai. Itu semua bener ko haha!" ucap Ira memalingkan pandangan.


"Iya lo menang." ucap Beni akhirnya diam.


Ari dan yang lainnya hanya tersenyum memperhatikan ini.


Beni memang pria yang banyak bicara. Berdebat dengannya seperti berdebat dengan perempuan yang sedang cemburu terhadap kekasihnya (Tidak ada akhir).


**


"Bu?" Ari berbisik di telinga Ira.


Ira hanya menoleh menatap.


"Kelas?" Ari bermaksud mengajak Ira.


Tanpa basa basi Ira bangun dari duduknya.


"Kemana bu?" tanya Rezki.


"Kemana dih?"


"Kelas!" Ira berjalan meninggalkan mereka.


"Kenapa dia Nggi?" tanya Rezki.


"Dia orangnya emang gak jelas!" balas Arif


"Awas." Ari bangun menyusul Ira.


"Lo ngikut Ri?" tanya Beni.


Ari hanya menoleh.


*


"Lo gak bosen ki?" tanya Ira masuk kelas


melihat Iki yang sedari tadi nonton film.


"Film dew*sa iya?" Ari datang menggebrak meja.

__ADS_1


"Drama korea a*jing haha!"


"Ngomong kasar lo haha?"


Iki tertawa kemudian kembali fokus pada HP-nya.


Ira duduk di bangku paling belakang dekat jendela.


"Kiiitt..brukk!!" Ari menyatukan 3 kursi menjadi satu kemudian tidur di pangkuan Ira.


Iki menoleh "Sekolah woy!"


"Gak ada guru, kelas kosong."


"Terserah penguasa sekolah!"


Ira hanya tersenyum memperhatikan.


"Jangan tidur!" ucap Ira mengusap rambut Ari yang sudah memjamkan mata.


"Bentar."


Ira melihat ponselnya membuka media sosial dan ternyata Ari mengomentari postingannya.


Ira


*Sedang tidak tenggelam tapi butuh di selamatkan*


Ari


*Seseorang mengulurkan tangan tapi dia menghindarinya *


Ira terdiam memandang Ari yang sedang tidur di pangkuannya.


"Ri aku tau kamu gak tidur, lebih baik menerima kejujuran yang pahit atau menerima kebohongan tapi manis?"


Ari membuka matanya dan terdiam.


Mereka berdua saling menatap, banyak sekali yang harus di bicarakan tetapi mereka diam.


"Rasanya aku ingin memaksamu!" Ari kembali memejamkan mata.


"Maksudnya?"


Bangun dari tidurnya duduk di samping Ira diam menatap.


"Ini dulu!" ucap Ari berkata.


"Aku bukan lelaki yang baik. Tanpa harus berpacaran, aku sudah menid*ri setiap wanita yang dekat denganku. Itulah kenapa mereka selalu berbicara hal buruk tentangmu, karena yang mereka tau aku sudah lama berpacaran denganmu. Begitu pula mereka mengira tub*hmu pasti sudah rusak olehku."


Ira diam membeku karena tidak percaya bahwa Ari akan berkata sejujur itu mengenai hubungan asmaranya.


"Jika kau mengira aku lelaki yang baik karena bersikap baik itu salah, aku sudah banyak merus*k wanita. Tapi dari semenjak kita saling mengenal dan mengatakan bahwa aku mencintaimu, kamu satu-satunya wanita yang beruntung karena aku tidak berpikir untuk menyentuh tubuhmu selain kamu sendiri yang mempersilahkannya." sambung Ari.


"Apakah kau tidak pernah mendengar dari orang lain bahwa aku pria yang haus terhadap wanita?"


"Bahkan aku pernah bersikap kasar terhadap wanita ketika berhubungan."


"Anji*g sumpah demi apapun aku benci pria perusak seperti ini, kenapa harus Ari?" Ira berkata dalam hati.


"Anji*g lo Ri... brengsek!" ucap Ira tersenyum sedikit tidak percaya apa yang di katakan oleh Ari.


Aneh sekali, Ira memiliki banyak teman lelaki tapi tidak pernah mendengar hal buruk tentang Ari. Jika sedang membicarakan seseorang, mulut pria lebih jahat dan jujur di bandingkan dengan wanita. Tapi kenapa Ira tidak tahu apapun? apa mereka sengaja menutupinya?


"Aku tau dan menyadari setelah aku berusaha untuk memilikimu tetapi itu sangat sulit."


"Hatiku atau tubuhku?"


"Bu? aku bilang aku mencintaimu dan tidak berpikir untuk menyentuh tubuhmu!"


"Setelah yang kau katakan tadi, apa kau pikir aku akan mudah percaya?"


"Bu tolong?"


"Suatu hari aku tak ingin jika sampai berkata, bahwa 'kita tidak lagi menarik setelah di dapatkan' mungkin kau mengerti?"


"Jangan menyakiti wanita Ri, terutama merus*k tubuhnya. Kau tau? di luaran sana banyak pelac*r yang menangis di setiap malam karena menyadari tubuhnya yang semakin rusak tetapi mereka tidak memiliki pilihan!"


"Kau tidak percaya padaku bahwa itu dulu? kau terlalu fokus pada kesalahan yang telah aku perbuat, tanpa melihat betapa kerasnya aku berjuang."


Ira diam entah jawaban apa yang akan dia katakan. Perasaannya ingin sekali marah, berteriak, membenci. Jika benar itu semua dulu, lantas bagaimana jika Ari tau bahwa Ira seorang pelac*r yang menjual tubuhnya hingga saat ini. Semarah dan semembenci apa dia nanti?


Jujur meskipun itu telah berlalu, hati Ira merasa sakit. Logikanya harus berhenti, namun hati masih ingin sekali lagi.


Di dalam hatinya dia tak ingin menjadi wanita yang egois. Muncul harapan bisa saja suatu hari nanti lelaki ini juga akan bisa menerimanya dengan baik meskipun Ira tau itu antara mungkin dan tidak mungkin.

__ADS_1


*****


__ADS_2