Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 54


__ADS_3

.


.


.


.


Pergi ke sebuah penginapan tepi pantai, Ira berjalan lebih dulu langsung masuk ke kamar yang sudah di pesan oleh Ari.


Duduk di atas ranjang dan mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi Iki. Dia meninggalkan pantai tanpa memberitahunya, bagaimana jika pria itu kembali dan dia merasa bimbang antara pulang dan menunggu kedatangan Ira.


"Tok tok!!" suara seseorang mengetuk pintu, dia beranjak dan membukanya. Ari yang berdiri di ambang pintu membuat senyum wanita itu melebar, dengan membawa sekantong plastik cemilan dan sebotol bir pria itu masuk.


Dengan keadaan yang setengah mabuk wanita itu melihat ponselnya dan menelepon Iki.


"Tuut tuut!!"


"Iya Ra?" jawabnya di sebrang telepon.


"Dimana Ki?"


"Masih di sini, kenapa?"


"Pulang duluan aja, gue sama Ari."


"Iya gue tau ko, Ari udah bilang tadi."


"Hah?" merasa heran lalu menatap pria itu yang sedang meminum birnya.


"Nikmati malam lo, gue matiin." ucapnya lalu mengakhiri panggilan.


Wanita itu berpikir apa mungkin Ari menyusulnya ke pantai karena di beritahu oleh Iki? tadinya dia pikir wajar saja jika pria itu tau Ira dimana meskipun tidak memberitahunya, karena dia memiliki banyak teman dimana-mana.


"Hei?" panggilnya pelan tersenyum menatap Ira.


Melempar ponselnya ke ranjang dia berdiri di hadapan Ari, lalu pria itu menarik tangannya untuk duduk di pangkuannya.


"Heemhhh,," Ira menghela nafas karena pria itu sedang memberi kecup*n di lehernya.


"Apakah hubungan yang berdasarkan cinta memang senikmat ini? padahal ini belum apa-apa. Dan apakah sekarang gue menjadi wanita bodoh yang memberikan tub*h ini dengan cuma-cuma? tetapi ini keinginan gue sendiri dan apa salahnya jika sesekali gue menikmati apa yang membuat diri ini senang? lagipula walaupun tidak dengannya tub*h ini tetap di nikmati oleh orang lain." dia berkata dalam hati.


"Jangan merem*snya!" ucapnya menahan tangan Ari yang sudah meraba payudar*nya.


"Tidak." jawabnya yang sedang mengusap-usap puti*g payud*ra.


"Jika suatu hari nanti kamu berpaling dan aku bertanya apa alasannya? kamu akan menjawab apa?" tanya Ira berbisik di telinganya hingga pria itu langsung menatapnya.


"Itu bukan pertanyaan!" ucapnya mencium bibir wanita itu.


Dia beranjak dari pangkuannya, tetapi pria itu menyudutkannya ke dinding dan menciuminya berkali-kali hingga wanita itu kesulitan bernafas.


"Aahh,, apa sih?" lirih Ari melepas ciumannya karena Ira menjambak rambutnya.

__ADS_1


"Aku gak bisa nafas dan bibir ini terasa kebas karena kamu tidak berhenti melum*snya." jawabnya sedikit mendorong tubuh Ari untuk menjauh.


"He,, maaf. Sudahku bilang bahwa aku paling menyukai bibirmu." ucapnya menarik pinggang Ira perlahan mendekat ke ranjang.


"Nikmati malam ini iya?" bisiknya menggigit telinganya dan perlahan memb*ka baju, dengan usapan lembut pria itu memulai permainannya.


Malam yang tadinya di penuhi dengan rasa khawatir seketika berubah menjadi rasa yang tidak bisa di jelaskan. Kepuasan, kasih sayang, dan permainan yang rasanya tidak rela jika harus di akhiri.


"Jika saja seorang pelac*r bisa menjual tub*nya kepada seseorang yang di cintainya, mungkin kenikmatan itu seperti ini." dalam pikirnya, sambil mengusap lembut punggung pria itu yang sudah berkeringat.


"Perlahan tapi pasti." bisik Ari, lalu dia melakukannya dengan gerakan lembut yang membuat wanita itu tenggelam dalam kenikmatannya.


*


Menit dan detik terasa begitu cepat berjalan, sehingga waktu yang sengaja mereka habiskan dengan menikmati sentuhan keduanya, harus di akhiri dengan terpaksa.


Dengan tubuhnya yang masih terlanj*ng Ira turun dari kasur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dia merasa lelah dan ingin segera beristirahat.


"Dia sengaja melakukan ini." ucapnya yang sedang berdiri di depan cermin, melihat beberapa bekas kecupan di bagian payud*ra luarnya.


Setelah selesai membersihkan diri, dengan menggunakan handuk dia keluar dari kamar mandi. Nampak Ari yang sudah mengenakan celananya duduk di kursi sambil merokok.


"Mandi?" tanyanya tersenyum menatap Ira yang berdiri mematung di depan kamar mandi.


"Enggak." berjalan melewatinya tetapi pria itu kembali menarik tangannya untuk duduk di pangkuannya.


"Udah!" ucap Ira beranjak.


"Enggak, pake baju dulu nanti masuk angin!" tersenyum menatap wanitanya yang berusaha untuk menghindar.


"Lusuh banget, gak bawa make-up juga." ucapnya melihat wajah yang apa adanya karena dia juga mencuci mukanya tadi.


"Gak papa, kamu cantik. Lagian juga kamu punya aku." jawab Ari yang ternyata memperhatikannya.


Jika dengan Gadun wanita itu tidak terlalu memperdulikan penampilannya, karena sebaik apapun dia mempercantik diri tetap saja tubuhnya kotor dan pandangan mereka tentang Ira sama. Hanya tubuhnya yang di perlakukan, tetapi Ari kekasihnya dan dia tidak nyaman dengan penampilan seperti itu.


"Iya,, tapi gini gak papa?" tanyanya merasa tidak percaya diri dengan bibir yang tidak memakai lipstik.


"Enggak, udah jangan di pikirin!"


Tersenyum menatap Ari, menghampirinya lalu "Muach!" mengecup bibirnya.


Pria itu beranjak dari duduknya memeluk Ira, "Mau pulang atau di sini?" tanyanya.


"Sebenernya aku lelah dan ingin segera tidur, tapi kan besok? pulang aja." mengusap wajahnya.


"Nginep di rumah iya?"


Sebenernya nyaman tidur di kamar Ari, tetapi besok dia harus sekolah dan sudah mulai sibuk mengurus tentang PKL-nya.


"Enggak, anterin!"


"Tadi aku udah nelepon Sindi buat nyiapin baju dan besok di bawa Iki, soalnya kamu nginep sama aku."

__ADS_1


Ira langsung menatapnya, "Kamu bilang ke Sindi kita nginep gitu?"


"Iya, emang kenapa?"


"Gila kamu!"


"Emang dia bakalan ngadu ke nenek atau kakek? gak mungkin lah."


"Iihhh,," menarik telinga Ari, "Tapi gak terus terang juga."


"Haha bercanda sayang, masa iya aku bilang. Tapi seriusan soal baju aku udah minta dia buat nyiapin, Iki juga udah di chat suruh di bawa besok. Tidur sama aku iya?" ucapnya mencium kening Ira.


"Iya, sekarang pulang aku cape." memeluknya merasakan kehangatan dan kenyamanan dari pria itu.


"Yu? lepas sayang?" sambil mengusap-usap rambutnya.


Ira melepasnya dan keluar kamar lebih dulu, membiarkan pria itu repot dengan membawa cemilannya.


Menunggu di parkiran, duduk di atas motor menatap luas langit hitam yang di penuhi dengan ribuan bintang. "Malam yang indah." ucapnya menghela nafas panjang.


"Yuk?" ucap Ari menarik perhatiannya.


Pria itu menghidupkan motornya, kemudian Ira naik lalu mereka pergi menuju ke rumah.


***


Motor berbelok menelusuri gang menuju ke rumah yang paling ujung, menghentikan motornya lalu mereka turun.


"Klek!" Ari membuka pintu, ternyata dia membawa kuncinya.


"Yuk masuk? mamah gak ada." ucapnya mempersilahkan.


"Kemana?"


"Jangan tanya, aku masukin motor dulu!" kembali keluar rumah dan menutup pintu, Ira langsung menuju kamar membereskannya.


Setelah selesai, dia membuka lemari Ari dan mengganti pakaiannya dengan kaos. "Brugg!" membanting dirinya di kasur.


"Kemana dia?" melihat ke luar kamar Ari masih belum kembali, tanpa menghiraukannya dia memasang alarm dan menyimpan ponselnya di sebelah.


"Kreek!" suara pintu terbuka.


Ari hanya tersenyum, lalu membuka lemari mengganti kaos dan celananya. "Cape?" tanyanya mematikan lampu lalu berbaring di samping Ira.


"Tidur duluan iya? untuk soal tadi maaf, itu benar-benar pertemuan yang kebetulan." ucap Ira menatapnya.


"Iya aku tau, selamat malam wanitaku." mencium keningnya, kemudian Ira membelakanginya.


Ari memeluknya dari belakang, "Maaf jika aku seorang pria yang mudah marah, kali ini akan berusaha untuk memperbaiki." bisiknya menciuminya punggung Ira.


Satu-satunya pelukan hangat yang berhasil membuatnya tidak membutuhkan pelukan lain selain dari ini.


Wanita itu terdiam tidak menjawab, "Biarkan ketenangan ini bertahan untukku Ya-Alloh. Banyak dosa yang aku perbuat, tapi bolehkan jika pendosa sepertiku meminta sebuah keinginan yang ingin terkabulkan? biarkan hubungan ini bertahan hingga aku benar-benar menjadi wanita yang lebih baik, dia menjadi satu-satunya alasanku." ucapnya berkata dalam hati lalu perlahan terlelap tidur.

__ADS_1


*****


__ADS_2