Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 40


__ADS_3

.


.


.


Wanita itu terdiam di keheningan. "Ternyata benar, sedikit bercerita hati ini terasa lebih nyaman. Terimakasih Nggi,," ucapnya tersenyum.


"Muach!" Ari yang tiba-tiba datang mencium pipinya.


"Riiii?!!!"


"Apa? gak ada siapapun." duduk di depannya.


"Tapi ini sekolah!"


"Gak ada cctv juga di kelas."


"Dasar,,, dari mana sama?"


"Dari Abang,,, bentar lagi aku pulang mau kerja."


"Ngapain? hmm,, iya hati-hati!"


"Merokok lah apa lagi?,, pulang kan?"


"Enggak,,, mau nginep di kosannya Susan."


"Di rumah aja nemenin mamah sambil nunggu aku pulang kerja, gimana?"


"Enggak makasih, soalnya bareng Anggi."


"Tumben?"


"Mau saling membuka diri. Pria jangan ganggu iya?"


"Hmm,,, ngomongin cowok gak?"


"Itumah pasti, kan banyak cowok yang lebih ganteng apalagi di sekolah sebelah." Ira tersenyum menggodanya.


"Buuu?!"


"Haha,, enggak ganteng." mengusap rambutnya.


"Besok rapat, siapa yang kesekolah?"


"Ka Ayu sih,, paling bareng sama kakanya Dewi."


"Oh iya mereka kerja bareng iya?"


"Katanya mau pulang?"


"Iya emang,,," ngangguk menatap Ira.


"Tatapan yang mencurigakan."


"Menurut orang lain, wajahku saja sudah mencurigakan." Ari memalingkan pandangannya ke sekeliling.


Ira melihat ponselnya ada pesan dari Ayu.


Tiba-tiba,, Ari mengangkat dagu Ira yang sedang menunduk lalu mencium dan menggigit bibirnya....Sebelum dia mendorong tubuhnya, pria itu sudah melepaskannya.


Ira bersandar pada dinding memejamkan mata lalu mengusap wajahnya, "Yaalloh kenapa harus mencintai si brengsek ini?" sambil tertawa di iringi rasa malu dan tidak habis pikir.


Ari yang duduk di depannya hanya tersenyum melihat tingkah wanitanya itu.


"Romantis bu."


"Inimah brengsek ganteng bukan romantis!" ucapnya dengan wajah kesal tapi dia tersenyum.


"Heii berduaan mulu?" Dewi masuk ke kelas bersama dengan Sandi.

__ADS_1


"Lo yang berduaan!" jawab Ira tersenyum.


"Plaakkk!! untung tadi gak ada orang!" memukul pundak Ari.


"Aku juga liat situasi dulu."


Satu persatu murid memasuki kelas, termasuk Iki, Anggi, Rendi dan yang lainnya.


"Ra nanti pulang?" tanya Iki berdiri di depannya.


"Enggak Ki, nginep di Anggi."


"Oh iya." melewati Ira.


"Emang ada gurunya?" tanya Ira pada Anggi dan melihat yang lain duduk di bangkunya masing-masing.


"Ada say,, awas lo Ri!" jawab Anggi yang berdiri di samping Ari.


"Aku pulang duluan iya? nanti di telp." ucap Ari beranjak dari duduknya meninggalkan kelas.


Ira hanya menatapnya pergi.


Lalu guru Pria Bahasa Indonesia itu memasuki kelas.


**


Ira, Anggi, Susan, Dewi dan Santi sudah berteman sejak masuk SMK. Mereka dekat dan saling terbuka, hanya Ira saja yang tertutup untuk semua urusan pribadinya. Ke-empat temannya itu bahkan tidak pernah tau Ira berpacaran dengan siapa karena dia selalu tertutup. Yang mereka tau Ari menyukai Ira dari sejak dia pindah ke SMK, tapi mereka tidak tau bagaimana hubungan keduanya.


Karena Ira tau bagaimana rasanya di khianati oleh seseorang yang dia percaya. Dia tidak ingin merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya, semenjak saat itu dia tidak pernah menempatkan temannya dalam posisi sahabat. Baginya semua sama. Tapi kali ini pertemanan mereka benar-benar terbuka, terutama Anggi.


Anggi membuat Ira yakin bahwa tidak semua orang itu sama, Anggi meyakinkan Ira bahwa dia bisa di percaya. Begitu pula yang lainnya, Ira sudah mengetahui rahasia mereka.


Anggi yang memiliki luka karena di lecehkan oleh guru pembimbingnya, membuat dia berani berpacaran layaknya orang normal dan melawan larangan orangtua. Berciumanan, berpelukan, hanya saja dia masih seorang perawan yang suci. Dewi yang pernah tidur bersama dengan kekasihnya, tetapi orangtuanya bersikeras bahwa dia gadis perawan yang suci. Susan yang selalu berbohong pada orangtuanya bahwa dia anak yang baik padahal dia sama seperti Ira, seorang perokok dan pemabuk juga. Dan Santi yang selalu berbohong menghabiskan uangnya untuk memberi sesuatu pada setiap pria yang dekat dengannya.


Jika semua hal itu di ketahui oleh orang lain terutama orang tua mereka pasti akan menjadi masalah yang rumit. Itulah masing-masing dari mereka diam. Hanya saja mereka tidak tahu apapun tentang Ira sekaligus mereka mencari tahu.


Wanita itu sudah memikirkan ini beberapa waktu lalu, dia akan percaya pada temannya itu dan menceritakan semua tentang dirinya. Dia mengetahui terkadang tidak semua hal harus di bicarakan, tetapi dia sendiri menyadari bahwa ini akan menjadi lukanya suatu saat nanti. Ini adalah kesakitan, jika tidak bisa di obati setidaknya dia bisa mengurangi rasa sakitnya. Itu yang dia percaya saat ini.


Kali ini dia akan percaya, dalam hatinya dia tidak berharap bahwa temannya itu akan mengkhianatinya. Tapi tetap saja jauh di dalam hati kecilnya dia berharap temannya itu bisa menjaga rahasia yang selama ini dia sembunyikan. Karena sekarang dia sendiri sedang berjuang untuk tidak kembali pada orang-orang yang berharap dia kembali.


***


Jam pelajaran telah selesai, semua murid keluar dari kelas.


"Gue pulang duluan iya Ra?" ucap Iki meninggalkan kelas.


"Iya,," Ira duduk merapihkan buku dan menyimpannya di bawah bangku sekolah.


"Mau langsung ke kosan nih?" tanya Susan yang berdiri di hadapan Ira dan Anggi.


"Mau sekarang Ra?" di susul Dewi.


"Kalian duluan aja, gue pulang dulu bawa baju buat Ira." jawab Anggi beranjak dari duduknya.


"Lo gak ikut Ra?" tanya Dewi.


"Kalian duluan aja, gue mau merenung dulu haha." ucap Ira bersandar pada dinding.


"Iya udah deh,,, duluan." ucap Anggi keluar bersama Dewi dan Susan.


Terdengar dari luar beberapa murid berhamburan pulang melewati kelas Ira yang sudah kosong.


"Gak pulang Ra?" tanya Guntur teman kerja Ari yang berdiri di ambang pintu.


Ira menoleh, "Nanti dulu, lo baru pulang?"


"Jam jurusan, ini langsung kerja."


Ira hanya mengangguk.


"Gue duluan!" pergi bersama dengan yang lain.

__ADS_1


"Benar apa enggak iya gue cerita ke mereka? bagaimana jika akhirnya salah satu dari mereka berhianat dengan membuka identitas yang selama ini gue tutupi? bagaimana jika satu sekolah tau bahwa ternyata wanita cantik ini adalah seorang pelac*r? apa yang akan mereka katakan? gak kebayang tatapan mereka nanti akan seperti apa? padahal sebentar lagi gue bakalan lulus?" wanita itu merasa gelisah.


"Hmm,,, bagaimana dengan teman yang lain? Rendi? Rezki? Arif? Pras? Beni? Sandi? dan,,, Ari? engak engak! mereka gak harus tau. Seburuk apa aku nanti di mata mereka?"


Melihat ponsel dan membuka grupnya. Diam mematung,,,,, menaruh kembali ponselnya di atas meja.


"Oke! gue gak akan peduli apa kata orang dan pendapat orang, kesehatan mental gue lebih penting dari apapun. Lagi pula katanya : Manusia itu sulit memahami sebelum mereka mengalami. Jadi, kita perlu sedikit gila untuk menghadapi dunia yang bercandanya gak kira-kira." ucapnya meyakinkan diri sendiri.


Wanita itu bermain ponsel dan membuka akun media sosialnya lalu memposting.


* Terkadang perlu sedikit menjadi gila untuk menghadapi dunia yang bercandanya gak kira-kira :) *


Diam menatap ke sekeliling. Sekolah nampak sepi, mungkin banyak dari mereka yang sudah pulang.


"Gue akan cerita, dan gue gak akan berharap lebih pada mereka." ucapnya.


*Duut duut!!" ponselnya bergetar.


"Iya sayang?" tersenyum sendiri.


"Kata Guntur masih di kelas?" tanya Ari dalam telp.


"Iya,,,"


"Kenapa belum turun? nunggu orang lain apa?"


"Iya, mau ketemuan." Ira tersenyum pelan menggodanya.


"Awas aja!"


"Haha,, udah! mau turun nih." beranjak dari duduknya membawa tas dengan tangan kiri.


"Iya, makan dulu!"


"Iya hati-hati!" mengakhiri panggilannya.


Wanita itu berjalan keluar kelas. Di sekeliling nampak sepi, hanya terdengar suara tidak jelas dari bawah.


"Mungkin adik kelas belum semuanya pulang." gumamnya.


Menuruni tangga, terlihat beberapa orang sedang makan di kantin. Dia hanya melewati dan tersenyum ketika adik kelas menyapanya.


*Tuut tuut!" menelpon Anggi.


"Iya Ra?" suara dari sebrang.


"Dimana?"


"Udah di kosannya Susan. Lo dimana?"


"Gue masih di kelas sendirian anjir!"


"Lah? haha gue pikir lo sama Ari?"


"Ari kerja, jemput dong gue turun nih!"


"Tunggu di gerbang!" mematikan teleponnya.


Wanita itu berjalan menuju gerbang.


Dalam pikirnya, "Jika memang indentitasnya akan terbuka dan dia lulus, orang-orang akan mengenang gue sebagai pelac*r yang tidak tau malu atau mengasihani gue karena kehidupan yang tidak seberuntung orang lain?"


"Jikapun mereka mengenang gue sebagai seorang pelac*r, apa hak mereka? apa selama ini gue nyusahin mereka? apa


gue mempermalukan nama baik sekolah? dan, jika mereka mengasihani gue? tolong jangan! gue bahkan selalu berusaha tegar dan tidak mengasihani hidup yang sial ini. Menyesal itu pasti, tapi jika sampai mereka mengasihani gue itu akan lebih buruk. Bukan hanya menyesal, tapi itu akan benar-benar sakit karena gue tidak bisa mencintai diri sendiri justru malah merusaknya."


"Heummhhhh,,,," menghela nafas panjang tersadar dia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Dan pas,,, Anggi datang dengan motornya.


"Dewi sama Susan udah nunggu, kita pikir lo bareng Ari."


"Gue dari tadi duduk di kelas sendiri." naik di belakang Anggi dan mereka berangkat menuju kosan Susan.

__ADS_1


*****


__ADS_2