
Selepas semua temannya pulang, tersisa Natasha yang masih serius mengerjakan tugas sekolah. Gadis cantik itu sejak kecil gemar menguntit Ethan dan bermain game bersama.
Ethan memanggil Natasha, mungkin tahu keberadaan Valerie sebab mereka adalah saudara sepupu. Ya Natasha Rosaline Matthew, putri sulung dari Daniel Matthew sang pengacara terkenal.
“Sha? Natasha? Kamu masih banyak tugasnya?” suara Ethan lembut sekali, wajar saja karena usia Natasha masih belia, 15 tahun. Naluri seorang kakak melekat pada diri Ethan Adrian Armend.
“Beres dong. Kenapa kak?” Natasha bersemangat sebab dia menunggu momen ini. Sejak tadi teman-teman Ethan selalu mengganggu dan menguasai waktu.
“Umm … Valerie di mana ya? kamu punya nomor teleponnya kan? Kemarin dia bawa kakak ke rumah sakit, kakak belum sempat bilang terima kasih.” Jawab Ethan lalu menunjukkan deret gigi putihnya.
“Oh Kak Vale, hari ini kan lamaran kak. Memangnya engga tahu ya? Uncle Bobby gak kasih kabar?” tatapan mata Natasha polos dan tidak ada kebohongan sama sekali, lagipula gadis kecil itu mana mungkin mengarang cerita.
“Lamaran? Valerie? Menikah? Gak mungkin.” Dada Ethan bergemuruh, rasanya tidak rela, dia harus kalah sebelum berjuang mendapatkan Vale-nya. Menyakitkan sekali kalah untuk kedua kali dari lawan yang sama, memalukan.
“Eberardo? Kamu yakin Sha?” konfirmasi Ethan, lengkap sudah penderitaannya. Fisik babak belur karena melindungi anggota geng, sekarang pujaan hati resmi menjadi milik pria lain.
Inikah takdirnya? Tidak, bukan. Ethan tak akan pernah melepaskan Vale-nya. “Engga mungkin.” Kata hatinya menolak keras.
Natasha menatap Ethan, menganggukkan kepala lalu berucap, “Iya, siapa lagi pacarnya Kak Valerie. Memangnya kakak masih jomblo, huu kalah langkah.” Gadis kecil ini menjulurkan lidah.
“Sabar Ethan, sabar. Keturunan Matthew semuanya gak ada yang beres termasuk Valerie, kombinasi yang pas antara Matthew dan Bradley.” Disaat sakit, hatinya masih tetap menenangkan diri karena kehadiran Natasha.
“Kakak, sayang engga sama aku? Harus sayang ya, aku selalu ada loh untuk kakak, jangan lupa semua engga ada yang gratis.” Angkuh Natasha sangat menggemaskan untuk diberi hadiah capit kepiting di pipinya.
“Kakak kamu kan masih ada Theodore dan Sean, kenapa engga sama mereka aja?” malas Ethan, bisa-bisanya di saat sakit seperti ini masih mengasuh Natasha.
“Ih ga boleh, mereka kan sepupu aku. Mana bisa nikah sama sepupu. Aku maunya sama Kak Ethan. Gemana kak mau kan jadi suami aku?” Natasha yang masih di bawah umur sangat percaya diri menyatakan keinginannya.
PLAK
Ethan memukul kepala adik bawelnya ini, jelas-jelas hati dan hidupnya hanya untuk Valerie. Mana mungkin dia serahkan kepada perempuan lain.
“Belajar yang benar, masih ingusan mikir nikah.” Nasihat Ethan seolah menampar diri sendiri. Selama ini dia masih bermain-main dengan kuliahnya.
__ADS_1
Sedangkan di luar pintu, Valerie menelan susah payah air liur. Tidak jadi masuk menjenguk Ethan. Karena di dalam ada sepupunya yang sangat menyayangi bahkan menginginkan Ethan.
“Aku pikir kosong, ternyata ada Natasha. Kantin aja deh siapa tahu ketemu Kak Zac minta traktir lumayan.” Valerie melangkah pergi, sejak kecil tidak suka melihat kedekatan Natasha dan Ethan. Sepupunya itu sangat agresif dan menguasai Ethan sendirian.
Di kantin rumah sakit, Valerie duduk menyesap satu gelas jus, mata hazel yang semula berbinar kini berganti sendu.
“Dekat banget sih mereka. Ethan emang playboy, sudah punya pacar tapi tetap mau juga sama Natasha. Ish laki-laki semua sama.” Mencengkeram kuat gelas di tangan.
Gadis ini tidak sadar seseorang memotretnya dan mengirimkan gambar tersebut ke Ethan, dengan isi pesan.
“Ethan. Penawar sakit kamu ada di sini, sepertinya dia mau menjenguk.”
Di dalam ruang VVIP
Ethan mengulum senyum usai membaca WhatsApp dari kakak sepupu Valerie yang berprofesi sebagai dokter. Dia pun segera menghubungi Uncle Daniel untuk menjemput putri sulungnya, karena sejak tadi bibir Natasha tidak henti mengoceh, kepala Ethan hampir pecah.
Mata Ethan terjaga selalu memperhatikan pintu.
10 menit
30 menit
Masih sama sepi, akhirnya Ketua D’Dragons terlelap tidur, cukup pulas sambil memeluk handphone dengan wallpaper foto Valerie.
Di menit ke 60, gadis bermata hazel itu benar-benar melangkah masuk ke dalam ruang rawat Ethan, menyimpan keranjang buah di meja.
“Kok engga ada orang? Apa Tante Ayu pulang dulu ya? kalau gitu aku tunggu di sini aja.” Valerie duduk manis mengupas buah apel dan jeruk, siapa tau setelah bangun Ethan lapar.
Valerie yang terus menerus ditelepon Mom Fredella untuk pulang, terpaksa mengurungkan niatnya menjaga Ethan. Karena dia janji keluar rumah tidak lebih dari dua jam. Sebelum Daddy Dariel pulang, Valerie harus duduk manis di rumah.
Dia berdiri mendekati brankar, tangannya ingin sekali menyentuh rambut berantakan Ethan.
"Ethan maaf. Aku pulang dulu ya, kamu cepat sembuh.” Tutur Valerie sangat pelan dan menenangkan.
__ADS_1
Namun Ethan terbangun, mencegah gadisnya pergi. “Enak aja main pergi, gue tunggu dari tadi.” Hati Ethan sangat senang, Valerie masih memedulikan.
Tapi tiba-tiba dia ingat bahwa temannya resmi dipinang Eberardo. “Masa bodoh lah, yang penting bukan istri orang, masih calon.” Sekali lagi hatinya mendidih.
“Kamu mau kemana? Mau pergi? Enak banget ya, gak tanggung jawab. Setelah ganggu orang tidur, main kabur aja.” Ethan menatap sinis Valerie yang ternganga di tepi ranjang pasien.
“Heh Ethan, aku engga ganggu kamu. Aku mau pulang, semoga lekas sembuh.” Valerie membuang muka, kesal sekali, kenapa Ethan selalu menyebalkan kepadanya.
“Tadi sama Natasha sikapnya lembut banget, pilih kasih banget sih kamu Ethan.” Menggerutu dalam hati.
“Pulang? Enak aja, aku lapar, buah itu kamu yang bawa kan? Bawa ke sini! Cepat jangan pakai lama, lelet banget.” Perintah Ethan, dalam hatinya terkikik geli. “Lihat lah Eberardo, calon istrimu ada di sini.” Batin Ethan mengucap puas, boleh kan pamer?
“Iya aku bawa apel, jeruk dan pisang. Ini aku kupas, makan pakai garpu aja, tangan kamu kan kotor.” Valerie menyimpan piring di meja samping ranjang.
“Apa lagi Ethan? Aku mau pulang.” Sengitnya, karena Ethan malah diam bukan mengambil piring berisi buah.
“Kamu tahu kan kondisi aku kaya gemana, tangan aku sakit Vale. Bisa bantu?” melirik tangannya. Dalam dada dan kepala, Ethan menunggu jawaban ‘iya’ dari teman kecilnya ini.
“Ok, suapi yah. Tapi makan yang benar jangan dikemut.” Memperlakukan Ethan layaknya balita, memasang serbet di kerah piyama, padahal hanya makan buah, berlebihan memang.
“Bagian mana yang sakit? Aku belum tanya dokter.” Tanya Valerie sambil memasukan potongan apel dan jeruk ke dalam mulut Ethan.
“Semuanya sayang, semuanya. Kepala, tangan, kaki dan badan aku sakit. Apalagi hati aku, perih banget Vale, kamu dilamar Eberardo. Aku kalah cepat lagi.” Lirih Ethan dalam hati yang terbelah jadi dua.
“Ish kamu diam aja, engga asyik ah. Eh makannya belepotan lagi, bocah banget sih.” Valerie mengambil tissue, menyeka dagu sahabatnya.
Ethan membeku, harum dan lembut tangan Valerie bisa dirasakannya. “Duh parah, gak benar ini. Kenapa malah jadi serangan balik? Jantung gue lompat-lompat.” Teriak Ethan tertahan di tenggorokan.
TBC
***
Sebenarnya gemana sih perasaan Valerie ke Ethan?
__ADS_1
ditunggu dukungannya kaka 😁