Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 69 Rasa Yang Buruk


__ADS_3

Sejak pukul enam pagi Josh terbangun, mengerjakan semua tugas. Merapikan ruangan, sekarang memasak sarapan istimewa khusus untuk istri tersayang, Rebecca. Ya diakui, Josh memang kurang pandai, namun kali ini melalui sambungan video terhubung dengan salah satu asisten rumah.


Josh tidak masalah repot memilah, dan menangis akibat mengupas bawang merah. Semua demi Rebecca, anggap sebagai hadiah istimewa karena istrinya sudah memberikan harta berharga yang selama ini dijaga, hanya Josh yang merasakan. Walaupun dalam dada sempat merasa bersalah, sebab tak lagi pej@k4.


“Apa lagi ini bik? Tapi beneran ya enak?” ancam Josh, tak ingin kehilangan muka di depan istri.


“Iya Den, kalau ikut resep, ya enak. Semoga Non Rebecca suka.”


“Ok” Josh mengangguk, menatap jam di pergelangan tangannya. Menurut ibu mertua, Rebecca memang menggemari olahan laut, maka dari itu Josh memasak Tinutuan (bubur Manado), Pampis (ikan cakalang suwir khas Manado) tidak ketinggalan ikan kuah asam serta ikan woku.


Josh tidak tahu mana yang paling disukai jadi membuat semuanya. Meja makan sederhana yang biasanya hanya terisi oleh bubur gandum atau roti bakar atau nasi goreng serta telur rebus atau goreng. Pagi ini sangat meriah dan penuh seperti menggelar pesta kecil-kecilan.


“Nah rapi, untuk istri tercinta. Makin cinta sama gue, mana ada yang bisa menolak pesona Josh.” Katanya, berbangga diri seraya menepuk dada sebanyak tiga kali.


Usai berkeringat menghabiskan waktu di dapur, Josh membuka pintu kamar. Dia tersenyum karena istrinya masih terlelap. “Saking perkasanya gue, istri aja masih tidur. Siap menyusul Ethan punya baby nih.”


Namun, langkah kaki Josh menuju kamar mandi terhenti sebab pemandangan menggiurkan tampak depan mata. Selimut navy yang digunakan Rebecca tersingkap, kulit mulus bagian atas menggoda naluri, belum lagi betis indah nan jenjang, seolah tersenyum ingin di sentuh.


“Eh bangun lagi?” melirik si dia di balik celana pendek yang menagih jatah pagi. “Jangan rese lo, bini gue baru pertama kali. Masa semalam engga puas? Tidur cepat!” perintah Josh menatap tajam salah satu organ kebanggaan.


**


Setelah berhasil menjinakkan miliknya, Josh pun segera mandi, merapikan diri. Siap menanti pujaan hati bangun. Setia memandangi wajah kelelahan Rebecca, sepintas ingatan terbawa pada panasnya kegiatan malam.


“Menyesal gue, maaf ya Becca. Sekarang hanya kamu satu-satunya, kamu terlalu berharga untuk disakiti. I love you my wife.” Gumam Josh, merapikan rambut kusut, mencium daun telinga Rebecca.

__ADS_1


Terganggu akibat ulah bibir basah Josh, mantan gadis yang terbaring di atas ranjang membuka mata lebar-lebar. Karena terkejut, Rebecca mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh ke atas lantai.


Gedebugh


“Aw, sakit. Becca … ini aku.” Josh meringis, tubuh bagian belakangnya kesakitan, rasanya remuk.


“Eh Josh, maaf, engga sengaja. Lo ngapain? Gue kaget.” Rebecca membela diri, berusaha turun dari kasur untuk membantu, tapi sekujur tubuh merasakan sakit luar biasa. Apalagi bagian bawah yang ngilu, semua itu diabaikan, dia bukan lagi anak kecil yang harus berdiam diri.


“Maaf ya, gue engga sengaja. Pegang tangan gue.” Rebecca mengeratkan selimut, menjepit diantara dua ketiak. Kemudian mengulurkan tangan kepada suaminya.


“Manis banget sayang. Nanti malam lagi ya kalau udah nggak sakit. Aku nggak maksa.” Kedua mata Josh tidak lepas dari kemulusan kulit istri, semalam Rebecca mampu membuatnya mabuk kepayang. Pertama kali merasakan sesuatu yang mengigit.


Mengetahui istrinya hanya bengong dan diam, Josh tergelak mengacaukan isi kepala Rebecca. “Hey santai aja, pernikahan nggak selalu tentang $3ks. Aku mau kamu nyaman, dan kamu juga harus percaya sama aku. Bisa jalan? Aku bantu ya.”


Rebecca benar-benar telah dikuasai oleh kalimat manis yang menentramkan keluar dari bibir suaminya. Josh sangat perhatian, menjadikan Rebecca sosok spesial sebagai seorang wanita.


Josh ingin Rebecca merubah pandangan, bahwa dia seorang pria bertanggung jawab serta bisa diandalkan.


“Sarapan yuk. Aku yakin kamu suka.” Menautkan jemari dengan tangan kecil istrinya.


Sementara Rebecca tidak percaya, menggelengkan kepala, menganga melihat sajian di atas meja makan. “Restoran mana yang buka sepagi ini? Tumben pesan makanan dari luar?”


Tentu saja wanita ini tahu, suaminya sangat pelit dan mengutamakan kebersihan lingkungan serta makanan. Bahkan selama kuliah, Josh selalu membawa bekal dari rumah.


“Ini aku yang masak, maaf ya semuanya khas Manado. Lain waktu aku belajar kuliner dari daerah lain demi kamu.” Menyendok bubur dalam mangkuk, memberi segelas air hangat untuk istri.

__ADS_1


“Hah? Kamu masak sendiri?” Rebecca menggeleng, baginya sangat mustahil seorang pria bisa menguasai dapur hingga menghasilkan makanan lezat dan harum.


Satu sendok Tinutuan berhasil masuk ke mulut. Pelan menggerakkan gigi dan lidah, meresapi setiap rasa yang terkandung pada bubur.


“Gemana? Enak kan? Semoga enak ya sayang. Aku susah payah masaknya, nih lihat.” Mantan casanova itu menunjukkan jari terpasang plester bergambar princess.


Bukannya menjawab, Rebecca tertawa sembari menyuapi Josh satu sendok penuh bubur. Sontak Josh hampir tersedak akibat rasa makanan berat tidak sesuai ekspektasi. Bola matanya melirik sang istri meminta konfirmasi.


Rebecca mengangguk cepat, menjawab keingintahuan suaminya. Membenarkan bahwa makanan yang tersaji di atas meja, sangat buruk.


“Maaf sayang. Aku belum ahli.” Menghela napas, sia-sia perjuangannya membuat Rebecca terkesan.


Sebagai perempuan yang baru saja mulai menjalani peran istri. Rebecca tidak masalah, semua memerlukan proses menjadi sempurna. Ia tetap memasukan makanan ke dalam mulut, berusaha mengabaikan rasa pada lidah.


“Eh Becca, jangan di makan. Engga enak, kita beli makanan aja ya. kalau masak terlalu lama.” Josh merapikan piring dan mengambil pampis, ikan kuah asam dari atas meja.


“Jangan Josh, gue eh aku mau makan. Lapar. Daripada nunggu lagi, aku makan bubur dan ikan masakan kamu ya.” suara lembut Rebecca bagai panah asmara yang melesat tepat sasaran. Josh mematung dan kagum terhadap istrinya, memang tidak salah meminang Rebecca sebagai pendamping hidup hingga akhir zaman.


“Aku janji selanjutnya, pasti lebih enak. Maaf sayang.” Josh meraih pipi merona Rebecca, menempelkan bibirnya, menghirup aroma parfum yang menentramkan jiwa.


“Kita sama-sama belajar Josh. Maaf karena baru memberikan hak kamu.” Rebecca menundukkan kepala, cukup malu pada diri sendiri. “Josh baik banget sih, kenapa gue malah mengejar cintanya Ethan padahal ada lelaki sebaik ini.” Merenung dalam hati.


Sama halnya dengan Josh, menyayangkan sikap telah menyakiti hati banyak wanita. “Seandainya gue tahu jodoh gue spek bidadari kaya gini. Pasti gue gak akan pernah berpetualang cinta.”


TBC

__ADS_1


***


horeeee akur 🤭


__ADS_2