Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 40 Terkurung


__ADS_3

Hari ini Valerie sengaja datang ke rumah sakit, bukan menemui Ethan, melainkan Eberardo. Dia sudah janji dengan pria itu. Mereka berdua di dalam kamar rawat.


Tatapan penuh puja serta damba terpancar kuat dari sorot mata Eberardo. Ya pria itu, dia menikmati momen ini, rindu sekali berduaan bersama Valerie.


Dahulu Eberardo selalu sibuk, pekerjaan membebaninya. Dia yang masih kuliah strata dua ditambah mengemban tanggung jawab belajar memimpin anak perusahaan, kesulitan membagi waktu.


Valerie yang masih sangat belia pun tidak mengerti apa yang harus dilakukan ketika berpacaran, sekedar bertanya kabar pun tidak. Hingga keduanya sering terlibat kesalahpahaman.


Ehem


Valerie berusaha mengubah suasana, “Gemana keadaan kamu? Lebih baik?” pertanyaan Valerie ini tentu saja dianggap sebagai bentuk perhatian.


“Makasih sayang, kalau terus kaya gini aku lebih cepat sembuh. Valerie?” Eberardo beranjak dari tepi ranjang, dia mendekati mantan kekasihnya. Membungkuk di depan Valerie, mensejajarkan wajah.


“Apa?” tanya Valerie, bukan gugup. Rasa kagumnya terhadap pria ini menghilang, terhempas sudah bersamaan dengan Eberardo yang mencium wanita lain serta sikap arogannya.


Eberardo merasa perlu dan harus memohon, hingga gadisnya ini memberi kesempatan terakhir.


“Valerie, sayang. Maaf, aku salah. Itu … karena aku emosi. Kamu harus percaya, di sini …” Eberardo meraih telunjuk Valerie, menunjuk dadanya. “Hanya ada kamu, Valerie. Percaya lah. Aku minta maaf.”


Kali ini Valerie bingung sendiri, dari tatapan mata mantan kekasihnya tampak penyesalan. Eberardo juga sungguh-sungguh meminta maaf bukan sekedar terucap di bibir.


“Beri aku kesempatan terakhir sayang, ya? Aku janji, Vale.” Tukas Eberardo, menghela napas.


“Umm … Eberardo. Kak, di mana saudara kamu? Apa mereka pulang duluan?” Valerie tidak bisa membuat kedua pria yang ada di dekatnya terus bersaing, saling melukai diri sendiri karena memperebutkannya.


Gadis ini sama menyayangi,  Ethan dan Eberardo adalah teman kecilnya. Mengenal kedua pria itu sejak lama, bukan satu atau dua tahun. Apalagi usia Eberardo jauh lebih dewasa, sudah jelas Valerie menganggapnya sebagai kakak laki-laki.


Namun, perasaannya untuk Ethan berbeda. Ya Valerie baru saja menyadari satu hari yang lalu. Alasan dia pindah ke Inggris, karena tidak kuat melihat Natasha yang sellau mendominasi Ethan. Sengaja menjauhkan Valerie dari Ethan.


Untuk itu gadis bermata hazel ini memilih mengalah.


“Kak, aku minta maaf dan terima kasih. Aku …” Valerie masih membuka mulut hendak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Tapi Eberardo memotong, seolah tahu apa yang akan keluar dari bibir tipis itu.


“Valerie? Aku mohon. Satu kali ini, kalau aku masih belum bisa berubah. Silakan kamu pergi dan lukai aku sepuasnya. Tapi aku janji Vale, aku berubah.” Eberardo berusaha meyakinkan mantan kekasihnya.


Sungguh di dalam hati, di dalam otaknya, masih terukir nama Valerie, tak akan pernah terganti oleh siapapun.


“Aku engga pernah menganggap kita putus. Kita hanya perlu rehat dari hubungan yang ada. Mungkin kamu memerlukan waktu untuk berpikir, aku … aku bisa menunggu, satu minggu, dua minggu bahkan satu bulan.” Tidak peduli lagi asalkan gadisnya ini memiliki jawaban pasti atas hubungan mereka, Eberardo bersedia memberi Valerie waktu.


“Boleh aku menyelesaikan apa yang ingin aku sampaikan? Percayalah ini yang terbaik Kak.” Valerie masih santai dan mencoba tidak terpengaruh.


“Ya, maaf. Aku pasti dengar.” Eberardo melemah dan mengalah, menurunkan egonya yang memang terlampau tinggi.


“Terima kasih, karena kamu sudah berusaha menjadi pasangan yang baik dan sempurna, mengajarkan akau tentang hal baru. Terima kasih sudah menjadi kakak yang baik.” Ungkap Valerie, menarik napas dan menghembuskan pelan.


“Maaf karena aku tidak bisa kembali lagi. Aku menyukai pria lain, mencintainya. Aku baru menyadari setelah belasan tahun.” Tutur Valerie mengungkap isi hati.


“Maaf tidak ada lagi kesempatan untuk kakak, aku engga bisa. Aku engga mau dia terluka lagi dan sekali lagi, aku minta maaf karena harus memilih satu diantara kalian.” Tukas Valerie, begitu menjaga lisan dan nada bicaranya. Khawatir menyinggung Eberardo.


Eberardo tertawa, tidak bisa menerima keputusan Valerie. Seharusnya Ethan yang kalah dan menangis bukan dirinya. Bersaing dengan bocah memang memalukan tapi tidak bagi Eberardo.


Rasa cintanya terhadap Valerie sangat besar, dia tak akan berhenti berjuang, mendapatkan pujaan hati.


“Aku rasa cukup. Sebaiknya, setelah sembuh. Kamu pulang dan kita jangan bertemu lagi. Maaf.” Ucap Valerie pelan. Wanita ini berdiri, sekilas memandang mantan kekasih yang menundukkan wajah, sedih.


Valerie berjalan menuju pintu keluar, tangannya sudah meraih kenop pintu, tapi Eberardo meraih lengannya, menghentak begitu kuat. Valerie yang tidak siap, tubuhnya menabrak dada bidang pria itu.


Eberardo memeluk erat Valerie, berharap gadis ini tahu bahwa ini sangat berat.


“Valerie. Jangan pergi. Apapun keinginan kamu, aku penuhi.” Eberardo menyeringai tipis, karena melihat Ethan dari celah pintu.


Ketua D’Draagons bukan sengaja datang, melainkan diundang oleh Eberardo. Untuk menunjukkan bahwa dialah pemenangnya, tapi jawaban Valerie benar-benar di luar dugaan.


Semula Ethan tampak senang dan tidak terpengaruh, tapi mengetahui kekasihnya, Vale-nya berada di pelukan lelaki lain, dia marah. Tidak ada yang boleh menyentuh Valerie.

__ADS_1


Karena Valerie hanya milik Ethan. Ketua Gangster ini mengamuk, kedua tangannya mengepal kuat, kalau saja tidak menerima tantangan Valerie, kalau saja dia ada di luar, kalau saja Ethan terbawa emosi dapat diyakini jika penyangga infus ini menghantam pintu, menjadikannya belah bahkan hancur.


Kemudian membawa Vale-nya pergi jauh, tapi Ethan terlanjur mengucap janji. Dia tidak akan berduel dengan siapapun, selama satu tahun ini, ya termasuk Eberardo. Pria yang selalu Ethan benci dari kecil hingga sekarang.


Hanya lelaki itu yang berani, terang-terangan merebut Vale-nya.


“Kurang ajar dia. Argh … Vale.” Dadanya bergemuruh, kilatan amarah memenuhi Ethan. Daripada mencari masalah yang pada akhirnya membuat hubungan renggang.


Ketua D’Dragons memilih pergi dari depan ruangan rivalnya. Dia keluar mencari udara segar, karena di dalam rumah sakit sangat panas dan memuakkan.


BRAK


Ethan memukul kursi besi di taman.


“Kenapa Vale diam aja sih. Argh… “ Ethan berteriak, mengundang perhatian banyak orang. Selang yang mengaliri cairan nutrisi di punggung tangan, mengeluarkan darah akibat dirinya memukul kursi.


Ethan tidak menyangka Valerie benar-benar datang ke rumah sakit, hanya untuk menjenguk Eberardo yang jelas bersalah.


‘Dek tangannya berdarah’


‘Pasien atas nama Ethan, mari ikut, letak infus Anda bergeser’


Masa bodoh dengan semua celotehan semuanya, yang Ethan inginkan saat ini melampiaskan emosi. Rasa perih di tangan kalah jauh dari panasnya dada.


Ethan cemburu, sangat.


“Valerie kamu … kamu bikin aku gila.” Desis Ethan. Terbelenggu akan janjinya sendiri.


TBC


****


Berantem jangan ya?

__ADS_1


__ADS_2