
Gangster D’Dragon sudah siap mendukung penuh ketua mereka, karena kali ini atas permintaan seseorang bahwa rider hanya boleh satu orang yaitu Ethan Adrian.
Langit gelap serta gerimis tidak memadamkan semangat para anggota, sebab sang penantang menjanjikan hadiah yang sangat besar. Jika berhasil mengalahkannya maka uang senilai 100 Juta Rupiah sudah pasti menjadi milik D’Dragons.
“Kayanya anak sultan nih, siapa ya? biasanya juga anak sultan tapi masih pada bocah jadi belum mampu bayar sendiri.” Cerewet Josh, sebab sangat aneh, melihat jajaran pria berjas hitam berjejer di sisi lapangan dan bagian pit.
“Vid, lo ngapain sih, serius amat?” Josh mengamati rekannya yang benar-benar memeriksa mesin motor.
“Feel gue gak enak bro, kenapa ya? Biasanya kita pakai motor masing-masing. Sekarang, orang memfasilitasi semuanya, gue takut ada yang sabotase. Lo paham lah.” David yang mengerti mesin tidak melewatkan apapun.
“Lah benar juga, waktu itu motor ketua tapi kita kecolongan. Apalagi sekarang. Tapi gue penasaran, siapa sih? Kayanya bukan orang kita ya? Orang luar, pengawalnya banyak banget macam pejabat aja.”
Sementara di ruangan lain, seorang pria tampan tengah menggunakan jaket dibantu asisten pribadinya.
“Tuan, Anda yakin? Ini terlalu berlebihan. Anda bisa mendapatkan dua atau 10 wanita. Kenapa harus Nona Muda Bradley?” kata seorang Asisten Pribadi, bernama Sergio.
Pria ini bergeming, tatapannya tajam ke depan. Rahang mengeras, dia ingat sekali sakitnya penolakan dari bibir gadis yang dicintainya.
“Yakin. Dia sudah datang? Di mana?” tanya Eberardo Mikhael. “Apa kekasihku ikut?” lanjutnya sangat ingin melihat wajah Valerie.
“Tidak Tuan, sepertinya Nona tidak tahu jika Tuan Ethan kembali balapan.” Sergio memberi bukti penurunan drastis frekuensi balapan D’Dragons semenjak kedekatan Ethan dan Valerie.
“Bocah nakal.” Eberardo tertawa, karena Ethan tidak sebaik yang dipikirkan. Nyatanya semua pria memang sama, selalu menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya.
Di dalam lintasan, Ethan sudah siap dia memegang helm, ditemani grid girl cantik yang selalu menggoda sang ketua. Kali ini bukan Rebecca tapi wanita yang disiapkan oleh rivalnya.
Mata Ethan melebar ketika melihat sosok pria yang selalu menjadi lawannya sampai kapanpun, pria itu melangkah mendekati motor. Tersenyum tipis kepada Ethan.
“Hi bung … bertemu lagi. Di mana kekasihmu ah maksudku calon istriku?” Eberardo menatap para gadis yang menonton di tribun. “Valerie tidak tahu kalau temannya ikut balapan? Malang sekali.” Sindir Eberardo sambil meregangkan otot tangan.
Gelapnya malam semakin bertambah pekat, setelah Ethan tahu jika penantangnya adalah mantan pacar kekasihnya. Sinyal bahaya terpancar, Ethan yakin pria itu kembali datang hendak merebut Vale-nya.
__ADS_1
David dan Josh tidak kalah terkejut, mereka saling berpandangan. Serempak menelan ludah, mereka tahu konflik apa yang terjadi diantara kedua pria itu, tentu Valerie, gadis yang menjadi rebutan.
“Saingan gue berat. Satu ketua gangster yang otaknya encer, kedua pengusaha sukses, gue minder kalau kaya gini.” Josh menghela napas, jujur saja takut terjadi sesuatu dengan Ketuanya.
Sedangkan Ethan dan Eberardo saling bertatap. Tidak memedulikan sekitarnya, aura permusuhan sangat kental.
“Kalau aku menang, lepaskan Valerie. Hiduplah damai meraih cita-citamu, mengerti?” desis Eberardo tak akan jera sampai kapanpun. Gadisnya itu harus kembali menjalin hubungan dengannya.
“Tidak. Lebih baik kau bawa semua uang itu. Valerie bukan hadiah utama di pertandingan ini. Dia milikku selamanya.” Balas Ethan mengukuhkan hak milik, iya sekarang tidak ragu lagi sebab Vale-nya membalas cinta Ethan.
Namun pemuda ini tetap ketakutan jika kehadiran Eberardo mengancam kisah kasih yang baru seumur jagung.
“Lepaskan Valerie! Kau tidak tahu kan, apa yang sudah aku lakukan dengannya? Dia sangat manis dan menggoda.” Ucap Eberardo memancing emosi Ethan.
“Si-4l-@n” padahal Ethan tahu gadisnya itu tidak pernah melakukan apapun tetapi hatinya terbakar cemburu.
Balapan pun dimulai, Eberardo melesat jauh meninggalkan Ethan. Tentu saja daya kekuatan motor yang digunakan berbeda. Curang memang, tapi hal ini wajar bagi Eberardo selama dia tidak membahayakan lawannya.
Dia harus menunjukkan kekuatan, Ethan bukan lagi anak kecil yang mudah ditindas dan dikalahkan. Tepat di putaran ke tiga berhasil menyusul Eberardo, walaupun tidak bisa membuat jarak jauh, setidaknya berhasil mendahului.
“Demi Valerie.” Kata hati Ethan, tidak mau kehilangan muka di hadapan rivalnya.
Memasuki menit terakhir, kedua rider imbang, tidak ada yang lebih cepat. Baik Ethan atau Eberardo, sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Harga diri mereka dipertaruhkan di sini.
Garis finish sudah di depan mata, belum ada tanda-tanda bahwa salah satunya menjadi pemenang. Semakin mendekati akhir, penonton menegang termasuk para pengawal.
Kedua pembalap menarik napas dan roda depan motor Ethan menyentuh garis lebih dulu, diikuti Eberardo dengan selisih waktu yang hampir seimbang.
Menyadari kekalahannya, Eberardo melepas helm dan membantingnya kuat ke atas aspal hingga bagian kaca retak.
Dia menarik turun Ethan dari atas motor, padahal tengah melaju pelan merayakan kemenangannya. Tapi dengan kasar Eberardo menendang roda dua itu.
__ADS_1
Tubuh Ethan terpelanting keras, dia pun membuka helm karena efek pusing dari benturan. Tanpa disangka rivalnya melayangkan tinju di perut, seketika darah menyembur keluar dari mulut.
“Kau. Lepaskan Valerie, dia tidak pantas dengan lelaki pembohong sepertimu.” Eberardo terus memukuli sang ketua gangster.
Ethan yang memang tidak fokus, mendapatkan kekuatan setelah mendengar nama Vale-nya di sebut. Dia membalik posisi. Melepaskan jab berulang kali.
Keduanya saling pukul dan menendang, wajah lebam, darah bercucuran tidak peduli, karena harga diri sebagai pria di pertaruhkan.
Melihat kondisi yang semakin panas, David, Josh dan Erlangga membantu Ketua D’Dragons. Josh dan Erlangga memegang tubuh Eberardo dari belakang, eksekusi terkahir menjadi milik David.
BUGH
Tubuh Eberardo lemas, tersungkur ke aspal dengan darah yang keluar dari hidung serta mulutnya. Pengawal pun kalah cepat sebab gerakan ketiga pemuda yang begitu mendadak, memang posisinya lebih dekat dengan sirkuit.
“Bro bantu Ethan. Kali ini kita butuh dokter bukan tukang pijat.” David membopong temannya, dibantu Erlangga yang menyangga kepala Ethan.
Sementara Josh bertugas menyiapkan mobil. Mereka membawa Ethan ke rumah sakit terdekat, karena tidak sadarkan diri dan tidak menerima respon apapun.
“Seandainya gue tahu penantang itu mantannya Valerie, pasti gue tolak. Maaf Ethan gue gak tahu.” David panik lantaran napas Ethan lemah, denyut nadinya pun sulit dirasakan.
“Bukan salah lo, sob. Ini murni dendam pribadi. Kita gak pernah mengalami ini.” Seru Josh menyetir mobil sangat cepat.
Tiba di rumah sakit, Ethan segera mendapat pertolongan dari tenaga medis, mereka pun dilarang masuk ke dalam.
Kalau kaya gini gak bisa kita tutupi lagi, Om Bobby dan Valerie pasti tahu, argh …” Kesal David memukul dinding cukup kuat.
‘Hei dek, ini rumah sakit. Mohon tenang’
TBC
****
__ADS_1
Ethan 🤕