Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 23 Menghilang?


__ADS_3

Siang ini di basecamp, Ethan merebahkan tubuh. Selesai dua mata kuliah, Ethan, David, Josh dan rekan lainnya mengistirahatkan diri. Apalagi Ketua D’Dragons, semalaman tidak bisa tidur, pagi buta harus kembali ke ibu kota. Setelah mentari mulai tinggi, menjemput kekasih hati dan kuliah. Melelahkan memang kalau hidup di dunia yang lurus.


Bibir Ethan pun selalu mengukir senyum. Josh dan David bergidik ngeri, efek jatuh cinta sangat luar biasa. Mampu merubah seseorang, seharusnya tadi malam Ethan turun ke arena balap mengalahkan ketua yang menantangnya tempo lalu.


“Sob, padahal gue sering banget pacaran tapi efeknya engga kaya gini. Ethan dikasih makan apa sama Valerie?” Josh mengamati wajah ketua mereka yang berbinar bahagia.


“Mungkin pertama kali kenal dan langsung pacaran ya jadi bahagia? Kalau gue rasanya biasa aja, masuk kamar juga gak bikin gue gemetaran.” Tukas Josh.


“Itu karena lo playboy cap sayap ayam.” Sahut David menggigit ayam goreng di depan temannya. Sudah jelas kalau Josh hanya bermain bersama para kekasihnya. Sedangkan Ethan memiliki niat serius dan sangat menyayangi Valerie sejak kecil.


“Cap sayap ayam? Kurang ajar lo. Tumben ketua kita ada di basecamp. Gue pikir nunggu Bu Ketua di kampus. Jujur ya Vid, hati gue remuk, retak. Sakit banget rasanya. Valerie keren deh bisa bikin ketua kita bucin.” Josh meratapi nasib.


Padahal demi mendapatkan Valerie, dia rela memutuskan hubungan dengan tiga pacarnya. Tapi akhir yang di luar dugaan, Valerie hanya untuk Ethan, dan Josh melepaskan cintanya pergi.


“Jangan sedih, kita cari pacar bareng-bareng! Masih ada si Betty juga yang butuh belaian lo.” David melengos dari temannya sebelum terkena amarah.


“Woy masa gue dijodohin sama kucing tetangga? Kurang ajar emang David, awas lo.” Kesal Josh, tiba-tiba perhatiannya terpecah mendengar suara cempreng perempuan memanggil nama Ethan.


“Ethan … Ethan sayang kamu di mana? Aku datang loh, bawa bakso. Kamu pasti belum makan siang, iya kan? Loh, Josh mana Ethan?” Rebecca mencari keberadaan Ethan.


Di kampus tidak pernah mendapat perhatian apapun, saat ini kesempatan bagus karena Ethan berada di basecamp, tidak ada Valerie yang akan mengganggu.


“Berisik Becca, itu suara apa kaleng rombeng sih? Ganggu kuping gue. Ketua lagi tidur, jangan ganggu lo! Doi capek habis liburan bareng ayang di puncak. Lo bisa bayangkan betapa panasnya mereka, duh …” Josh bukannya membantu malah memperkeruh suasana.


“Mereka liburan bareng? Curang banget kamu Ethan. Aku yang selama ini ada di samping kamu bukan anak kutu buku itu.” Kesal Rebecca melempar bungkus bakso dari tangannya.


Rebecca memasuki area istirahat, tersenyum memandangi wajah tampan Ethan. “Kenapa kamu gak pilih aku Ethan? Kurangnya aku apa sih? Aku ini calon ratu kampus, seharusnya kamu cocoknya sama aku.” Rebecca berceloteh, menolak bahwa hati sang ketua bukan untuknya.


Ponsel di atas meja berdering, nama ‘Vale-nya Ethan’ tertera di layar delapan inchi itu. Awalnya Rebecca enggan menerima atau membangunkan ketua D’Dragons, karena mengganggu momen berharga bersama Ethan.

__ADS_1


Namun setelah tiga kali panggilan, tangan lancang itu meraih telepon dan tersenyum senang.


“Halo Ethan kamu di mana? Aku udah keluar kelas. Katanya mau tunggu di depan ruangan tapi gak ada. Kamu di kantin? Aku ke sana ya.”


Suara melengking perempuan yang sangat dicintai Ethan itu kebingungan, karena kekasihnya janji menunggu tapi tidak ada.


“Kamu cari Ethan? Kasihan banget sih Tuan Putri. Dia lagi tidur sama gue. Lo itu cuma pelarian aja, seharusnya sadar diri. Jangan ganggu Ethan lagi!”


Rebecca berharap dengan kejadian ini Valerie pergi dari hadapan sang ketua, saat itulah Rebecca akan hadir sebagai sosok penolong.


Dia sangat yakin, lelaki yang tengah tidur nyenyak ini hanya memuaskan rasa penasarannya untuk menaklukan gadis kampungan seperti Valerie.


Memutus sambungan telepon, kemudian tertawa bahagia bisa merusak hubungan yang baru saja dimulai itu.


Rebecca benar-benar mengambil kesempatan menyentuh Ethan, tapi sial sekali, tangannya hanya menggantung di udara, sebab ketua gangster menyadari pergerakan di atas tubuhnya.


BRAK


“Aw sakit, Ethan kamu kenapa sih?” pekik Rebecca.


“Becca? Lo ngapain? Ini ruangan khusus gue dan anak-anak rider. Grid girl bukan di sini, keluar sekarang juga!” Ethan merasa ada hal yang tidak beres karena gadis itu menyelinap masuk.


Ethan yang sangat mengantuk, tiduran sambil memeriksa ponsel, dirinya terperanjat ketika melihat riwayat panggilan masuk dari Vale-nya.


Masih kurang dari lima menit, “Sial, berani banget dia menyentuh handphone gue. Nerima telepon Vale lagi, semoga gak ada salah paham.” Ethan berlari ke toilet membasuh muka.


“Bro mau ke mana? Makan dulu nih, Rebecca bawa banyak bakso. Lumayan kan makan siang gratis.” Panggil David.


“Sorry Bro, gue ke kampus dulu. Valerie udah keluar kelas, barusan telepon. Kalian makan aja duluan, kalau masih kurang ambil aja punya gue.” Ethan bergegas menuju Universitas Internasional.

__ADS_1


Padahal jarak dari basecamp sangat singkat tapi lalu lintas yang padat menghambat dan membuang waktu. “Argh ada apa sih ini? Tumben macet. Woy buruan jalan! Gue mau jemput pacar di kampus!” Ethan berteriak dari balik helm full face-nya.


Tiba di area parkir, masih cukup ramai sebab hari belum terlalu sore. Tanpa melepas helm, Ethan berlari menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.


Lelaki ini mendengus sebal karena kelas kosong. Lantas Ethan ke kantin, mencari Valenya. Menghubungi gadis itu pun percuma, tidak tersambung.


“Duh jangan-jangan Vale marah karena Rebecca yang terima teleponnya. Jangan salah paham sayang.” Keluh Ethan. Dia berusaha menemukan teman-teman Valerie di kampus yang luas ini, tapi tidak melihat seseorang pun.


“Di mana sih mereka?” kesal Ethan hampir membanting gawai, kalau saja tidak ingat itu benda mahal pasti sudah melayang hingga terbelah dua.


“Mungkin Vale udah pulang.” Gumam Ethan, kembali mengendarai motor. Dia harus menjelaskan bahwa apapun yang disampaikan Rebecca tidak benar.


Melaju dengan kecepatan tinggi, Ethan tiba di kediaman Bradley. Tidak menerobos masuk, lebih dulu bertanya kepada petugas kemanan.


“Babeh, Nona Vale ada di rumah? Pulang sama siapa?” suara Ethan berbisik, dia khawatir terdengar orang lain.


‘Eh Tuan Muda Armend. Nona Muda belum pulang, kan berangkat bareng sama Tuan.’


Ethan tidak suka dipanggil ‘Tuan Muda Armend’ karena dia sudah melepas nama itu walaupun tidak resmi melalui pengadilan.


Sekarang pikiran Ethan teralih pada keberadaan gadisnya. Di mana Valerie, tidak mungkin kalau terjebak macet, sepanjang jalan sangat lancar.


“Terima kasih Babeh, kalau Vale pulang tolong kasih tahu ya.” pinta Ethan.


Bersama motor 1000 cc mengelilingi ibu kota mencari gadisnya. Hingga matahari terbenam Valerie tidak bisa dihubungi, Ethan kebingungan kemana lagi menemukan kekasihnya itu.


TBC


***

__ADS_1


kira-kira kemana kah Valerie?


__ADS_2