
Kabar kehamilan Valerie sudah tersebar ke seluruh keluarga besar, baik Bradley dan Armend. Semua bahagia menyambut cucu pertama. Valerie mendapat perlakuan istimewa dan khusus dari Mama Ayu serta Mom Fredella.
Termasuk para sepupu yang siap menjaga kapanpun, di manapun. Bahkan mereka secara bergilir menjaga ibu hamil di rumahnya. Sebelum Ethan pulang kerja, pasti salah satu kakak sepupu menjaga Valerie.
Namun bagi Ethan, istrinya masih tetap menyebalkan. Valerie sama sekali tidak tersentuh, dari bibirnya selalu mengeluarkan kata-kata pedas untuk Ethan.
Suami yang selalu ditunggu, dinanti kehadirannya tetapi sampai di rumah, Ethan harus mempersiapkan mental sekuat baja.
“Lama banget sih?” ketus Valerie dari balkon lantai dua, mata hazel-nya menatap tajam ke bawah.
“Ck, ya macet sayang. Apalagi? Kamu tahu sendiri ini jam pulang kerja. Padahal aku udah curi start duluan.” Jawab Ethan, semenjak istrinya hamil, Ethan datang lebih pagi dan menyelesaikan pekerjaan sangat cepat, demi datang tepat waktu ke rumah.
“Alasan, hari ini macet, kemarin macet, besok macet, besoknya lagi macet. Ini lihat, alasan kamu selalu sama, huh.” Valerie menunjukkan catatan kecil ke arah Ethan.
Tertulis lengkap pukul berapa Ethan menginjakkan kaki di rumah, dilengkapi alasan terlambat. Semua sama ‘macet’.
“Aku engga bohong sayang, serius. Kalau kamu gak percaya mulai besok jemput aku di kantor, kita pulang bareng.” Ethan dan Valerie saling berteriak menjawab pertanyaan satu sama lain.
“Aduh … ini rumah atau suaka alam? Kalian bisa bicara baik-baik bukan begini.” Ujar Kakak sepupu, menggelengkan kepala.
“Aku malas dekat Ethan. Rasanya benci Kak. Dengar suaranya juga malas, tapi kalau engga ada di rumah ya aku kangen.” Keluh Valerie.
Walaupun tahu ini semua pengaruh hamil, tapi tidak etis saja membenci suami sendiri tanpa alasan jelas. Padahal Valerie penyabar, mendadak berubah menjadi ganas dan pemarah.
__ADS_1
Selesai beradu kerasnya suara. Ethan melangkah masuk ke rumah, menghirup udara sebanyak mungkin demi memperluas kesabaran.
Dia tahu istrinya berubah bukan kehendak diri sendiri, melainkan kehadiran dua bakal janin di dalam rahim, mendesak hormon Valerie. Hingga Ibu yang belum sepenuhnya dewasa menjadi labil.
Dari anak tangga, Valerie menatap tajam Ethan Adrian, menyelidiki sesuatu. “Kamu gak bawa apa-apa? Jahat banget. Kamu lupa ya aku mau asinan, dari pagi sabar nunggu tapi sekarang pesanan aku engga ada.”
PLAK
Ethan memukul dahi, dia benar-benar lupa. Pekerjaaan di kantor sangat banyak, menguras pikiran dan tenaga. Sama sekali tidak mengingat apapun yang diingkan istrinya.
“Sayang maaf, aku lupa. Besok ya sayang, kalau sekarang engga mungkin bisa karena sampai Bogor udah malam.” Keluh Ethan melirik jam tangan.
“Aku maunya sekarang Ethan, harus kamu yang beli! Bukan orang lain, itu permintaan anak-anak kamu Ethan!” Valerie melengos meninggalkan suaminya yang melongo di depan pintu.
“Kamu tenang aja, kakak punya teman di sana. Dia bisa bantu, sekarang kamu mandi dan keluar rumah pura-pura cari asinan. Nanti kalian ketemu aja di perbatasan, gemana?” ide kakak sepupu ini cukup brilian dan memudahkan Ethan.
“Aku setuju ka. Tapi Kak kenapa engga minta tolong kurir antar ke rumah?” pikir Ethan jauh lebih hemat dibanding dirinya harus keluar, membuang tenaga.
Hari-hari yang dilalui Ethan pun tidak mudah sebab proses syuting iklan di beberapa lokasi, jaraknya cukup jauh.
“Kamu lupa Vale bilang apa? Harus kamu yang beli. Pintar sedikit dong, cepat sana! Sebelum ibu Panda mengamuk.” Kakak sepupu mendorong Ethan naik ke atas.
Ya setidaknya semua saudara Valerie sangat membantu Ethan, memberikan solusi. Lagipula ini bukanlah keinginan pertama.
__ADS_1
Pertama, Valerie ingin semua anggota keluarga, berkumpul makan malam bersama kemudian menginap di mansion Bradley. Menjadikan hunian megah itu penuh para keturunan Bradley, belum lagi keponakan yang masih kecil dan berisik.
Kedua, Valerie mengidam makan buah semangka yang baru saja di petik dari pohonnya. Alhasil Ethan bergegas membawa istri cantiknya ke area perkebunan milik keluarga.
Ketiga, memesan Asinan Bogor. “Sabar Ethan ini demi istri dan anak-anak, engga lama. Menurut dokter hanya awal kehamilan. Huh artinya satu bulan lagi.” Ethan menepuk dada sebagai penyemangat diri.
Setelah mandi, pria berhidung mancung itu benar-benar mengikuti saran kakak sepupu. Pukul sembilan malam, Ethan berhasil mendapatkan asinan buah.
Tidak memerlukan waktu lama, kembali pulang ke rumahnya, disambut senyum lebar Valerie. “Terima kasih Daddy.”
“Sama-sama sayang, tapi jangan terlalu banyak makannya ya.” peringatan Ethan, mengingat kuah asinan yang masam dan pedas.
“Hu’um, bantu simpan di mangkuk boleh kan?” manja Valerie. Berubah menjadi lembut ketika semua keinginannya tercapai, tapi setelah itu mengamuk.
“Ok sayang.” Ethan membuka satu bungkus asinan buah, menuangkan ke dalam mangkuk cukup besar. Menyajikannya di atas meja, lengkap dengan kacang almond dan kerupuk kuning.
Ethan tersenyum, rasa lelahnya hilang. Valerie begitu lahap menyantap buah. Tidak heran tubuhnya sedikit berisi karena gemar mengunyah makanan.
“Kuahnya jangan dihabiskan sayang, takut kamu sakit perut.” Ethan menahan tangan Valerie yang hendak mengambil satu sendok kuah merah.
“Iya deh iya. Aku mau ke kamar dulu.” Jawab Valerie ketus, lalu meninggalkan suaminya sendirian di dapur.
“Sabar Ethan.” Ethan Adrian menghela napas panjang.
__ADS_1
TBC