
“Ck, niat mesra-mesraan sama istri harus terhambat.” Ethan mengeluh, mendadak David masuk dalam mobil, langsung mendudukkan diri di jok samping kemudi. Tanpa banyak kata, hanya diam memandangi area parkir.
“Gue ikut aja sama lo. Pulang ke rumah malas, Ayah maksa terus nanti malam ketemu koleganya masalah perjodohan.” David menggerutu, lalu menyandarkan kepala, memejamkan mata melepas lelah.
Ethan dan Valerie saling pandang melalui kaca spion, terpaksa menunda rencana check in hotel. Keduanya memutuskan mengantar David ke rumah lalu kembali bekerja. Ethan mende-sah lesu terpisah dari istrinya, sebab Valerie memiliki segudang pekerjaan tertunda sama seperti dirinya.
Waktu satu jam yang lalu harus kandas terbuang, karena hadirnya David diantara mereka berdua. “Kasihan juga David, tapi kenapa gue yang ketiban sial? Argh … harus nunggu nanti malam.”
**
Rumah Ethan dan Valerie
David menatap dua batita lucu di atas karpet, tertawa, bermain dan berebut boneka atau benda aneh. Kehidupan mantan ketua D’Dragons sudah sempurna, memiliki istri dan anak-anak yang cantik. Sementara dirinya meratapi nasib menjadi presiden jomblo.
“Ethan bahagia, Josh menuju bahagia. Gue? Pasrah sama nasib, jodoh di tangan Ayah.” David menghela napas. Perutnya yang lapar membimbing diri melangkahkan kaki ke dapur, mencari makanan.
Melahap santap siang sederhana, lantaran asisten rumah tangga tidak masak. “Ethan jahat banget, gue cuma makan sama telur dadar.”
BRUK
__ADS_1
“Uhuk … uhuk”
David tersedak, seseorang mendorongnya sangat kuat, hingga sendok berisi makanan masuk ke mulut sebelum dirinya siap, selain itu perut menghantam kerasnya meja.
“Apes banget, gue. Hey siapa?” David menoleh, gadis cantik jelmaan sempurna berdiri tepat di belakangnya.
“Maaf ya nggak sengaja, nanti biaya pengobatannya aku ganti.” Ucap Natasha tak enak hati. Dia terburu-buru memasuki rumah kakak sepupunya, kabur dari kejaran pengawal.
Natasha dijemput beberapa pengawal pribadi Papi Daniel, karena putrinya selalu melarikan diri terkait rencana Papi Daniel menjodohkan Natasha dengan anak dari temannya.
“Ck lo lagi. Bisa nggak, jangan ganggu gue? Pulang sana, anak kecil dilarang masuk rumah orang tanpa izin!” David menyentil kening Natasha hingga merah.
Dua orang yang telah lama kenal tetapi saling membenci, kini beradu argument satu sama lain tidak mau mengalah atau mengerti.
Satu suara berhasil memecah keributan di ruang makan, David dan Natasha menoleh. Sosok pria berseragam khusus, tonjolan otot di tangan dan dada begitu kentara.
“Nona Matthew, mari ke salon. Nona tidak boleh kabur lagi. Ayo ikut kami.” Seroang pria menarik tangan Natasha, memaksanya ikut.
“Ish, lepas. Aku itu masih kecil, kenapa Papi menjodohkan aku? Aku nggak mau menikah muda, nggak.” Natasha mengamuk, memukul, menendang pria berseragam hingga tersungkur.
__ADS_1
David yang menyaksikan aksi laga, hanya menggelengkan kepala. Dia heran kenapa gadis kecil seperti Natasha bisa meruntuhkan pria kekar. “Bukan bocah sembarangan.” Gumamnya.
“Kak ayo pergi. Antar aku. Aku nggak bisa nyetir, cepat ka!” bagai terhipnotis, David patuh, menuruti semua keinginan gadis berlabel menyebalkan.
Keduanya kabur, mengendarai mobil milik pengawal. Tidak jelas tujuan, yang penting menghindar dari keadaan.
David merasa memiliki kesamaan dengan Natasha, dijodohkan orangtua padahal masih bisa mencari sendiri. Tapi keluarga mereka sangat memaksa, tidak berpikir bagaimana perasaan anak-anaknya.
“Sekarang mau ke mana? Tanpa tujuan gini engga jelas.” David mulai melambat.
“Aku mau pergi. Kalau kakak engga bisa, berhenti aja di sini. Aku masih punya uang untuk naik bus.” Natasha melepas sabuk pengaman, merapikan isi tas dan seragam sekolahnya.
“Jangan gila dong, gue bukan laki-laki yang tega meninggalkan perempuan di pinggir jalan kaya gini.” David menepikan kendaraannya, tetapi satu mobil sport berhasil menghalau, berhenti tepat di depan David dan Natasha.
TBC
***
siapa ya ?
__ADS_1