
“Hey anak muda, kalau sudah selesai makan lebih baik masuk. Gak baik berduaan dalam keadaan gelap! Masuk cepat, masuk! Ngasuh dua mahkluk lagi jatuh cinta memang menyusahkan dan menyedihkan.” Ujar kakak sepupu yang menjomblo, padahal usianya sudah matang, mapan, tampan tapi kesulitan mencari calon istri.
“Iya kak.” Sahut Valerie dan Ethan secara bersamaan. Keduanya menjadi canggung. Pasalnya tinggal sedikit lagi, Ethan bisa mencium bibir gadisnya yang merah delima itu.
“Kakak sepupu ganggu aja, yah Vale kenapa masuk duluan sih? Aduh…” Ethan hanya bisa menatap gadisnya beranjak dari teras.
“Vale?” panggil Ethan, sungguh bibirnya tidak bisa mengucapkan kalimat lain.
“Dingin ah, mau tidur aja. Selamat tidur Ethan. Jangan begadang ya, besok temani aku lihat air terjun, tadi kakak sewa motor. Ok, pacar?” Valerie mengedip sebelah mata.
“Valerie kenapa harus manis banget sih?” tiba-tiba merasa sesuatu yang berubah menjadi sesak dan membuatnya keringat dingin.
“Masa iya Ethan, cuma dikasih kedip mata aja.” Kesal Ethan dalam hati, sekarang sekujur tubuh berubah menjadi panas. “Mending gue mandi deh.”
Ethan beruntung sebab kedua kakak sepupu sepertinya sudah memasuki kamar masing-masing, dia bisa bernapas lega karena tidak harus menutupi hal yang membuatnya panas dingin.
“Mau ke mana Ethan? Masuk kamar mandi ya? Mau mandi kan?” tiba-tiba suara menyebalkan itu terdengar. “Sini dulu, jangan main masuk kamar.”
Ethan terpaksa menahan semakin lama, mendengar petuah yang disampaikan kakak sepupu kekasihnya itu, walau hanya 10 menit. Tapi rasanya seperti berjam-jam. Tolong.
“Dengar ya anak muda, pacaran boleh, sayang dan cinta boleh, tapi harus jaga jarak! Jangan menciptakan kehidupan lain, karena kalian masih kecil dan masa depan cerah harus diraih. Paham ya? Jangan main di tempat gelap lagi!” peringatan kakak sepupu ini, benar adanya. Ethan pun tidak pernah memiliki niat merusak gadisnya.
“Ya udah sana mandi dan tidur! Besok kita touring, bonceng adik sepupu gue ya, Dia gak bisa bawa motor enduro. Bahaya juga kalau jatuh, bisa digoreng gue sama Daddy Dariel.” Celoteh kakak sepupu berlalu dari hadapan Ethan.
Ethan berlari masuk ke kamar, menguncinya dan segera mandi. Udara malam yang sudah dingin bertambah dingin dengan guyuran air dari shower.
“Yang benar aja, masa harus sering kaya gini? Bisa hipotermia gue. Harus cepat sukses nih biar bisa nikah sama Vale.” Gumam Ethan menggigil di bawah air dingin.
**
Pagi hari pukul enam, keempatnya sudah selesai menikmati sarapan ringan yang diantar penjaga villa. Serta minuman penambah stamina.
Di depan villa, mereka memasuki mobil yang telah dimodifikasi khusus ke pegunungan. Beberapa kali Valerie menutup mulut karena mengantuk dan bersandar di bahu kekasihnya.
Ethan tersenyum, menepuk-nepuk kepala gadis cantik ini. Boleh kan kalau dia tunggu di dalam mobil menemani hingga Valerie bangun tidur? Bukan masalah bahunya pegal yang penting bersama pujaan hati.
Bukan hanya itu dua tangan Valerie pun bergerak memeluk pinggang Ethan, menelusup di balik jaket. “Umm .. hangatnya. Mommy, pelukannya nyaman banget.” Valerie mengigau dilengkapi air liur yang menetes ke jaket Ethan.
__ADS_1
“Vale kebiasaan kamu masih sama.” Lirih Ethan menatap ngeri ke wajah gadis yang tampak seperti bayi ini.
Kepala Valerie terus bergerak-gerak, karena medan perjalanan yang tidak mulus. Kedua tangan Ethan sibuk menahan kepala serta badan kekasihnya.
Tiba di area parkir datar yang sangat ramai, Ethan mulai membangunkan gadisnya, perlahan dengan suara lembut. “Sayang bangun! Nanti kita ditinggal, kamu mau di sini seharian? Nanti lapar juga, gemana?”
Sontak Valerie melompat, hampir saja kepalanya membentur pintu mobil, tapi dengan cepat Ethan menahannya, melindungi kepala sang kekasih.
“Hati-hati sayang!” Ethan menggelengkan kepala, sikap Vale-nya masih sama, selalu terburu-buru sebelum fokus terkumpul semua.
Turun dari mobil pun Valerie hanya melongo, sebab dua kakaknya sudah siap dengan motor mereka. Sedangkan tersisa satu motor lagi di sana.
“Kamu, aku bonceng. Pakai helmnya ya! Kakak bilang jalan menuju air terjun ekstrem banget.” Ethan begitu perhatian, membantu memasang helm, pelindung sikut dan lutut serta memeriksa tali sepatu kekasihnya. “Ok aman. Ayo Vale.”
Semakin memasuki hutan dan lintasan off-road, jalanan dipenuhi batu, tanah yang menggumpal, licin, berkelok serta di sisi tebing.
Meskipun bukan pertama kali, tetap saja Valerie bergidik ngeri melihat ke sisi kiri.Kalau jatuh bisa terperosok ke jurang dan masuk ke sungai.
Pelukan Valerie berubah menjadi sangat erat, Ethan tahu kekasihnya menegang.
Motor terus melaju hingga melewati beberapa rintangan, baik itu batang pohon di tengah jalan, berpapasan dengan pengendara lain dan Valerie yang tidak kuat menahan buang air kecil.
“Ish di mana nih? Masa di semak sih? Gak mau ah, takut tahu.” Cicitnya melirik sekitar, selain itu banyak orang. Khawatir ada yang mengintip, begitulah isi kepala Valerie.
“Di mana lagi sayang? Gak ada toilet. Ini hutan. Ok deh kita ke sana saja. Nanti aku tutupi pakai jaket.” Tegas Ethan, tidak tega juga melihat kekasihnya selalu goyang kiri dan kanan karena kebelet.
Ethan membawa Vale-nya ke parit kecil. “Buka celana sekarang! Nanti ngompol gemana? Lihat kan orang lain juga di sini. Aku tutup pakai jaket ya.” Ethan melepaskan jaketnya dan menutupi kegiatan kekasihnya itu.
“Untung cinta, kalau engga udah aku tinggal kamu, sayang.” Batin Ethan tertawa.
“Eh, Ethan jangan ngintip. Hush hush lihat aja itu langit atau pohon!” Ketus Valerie menahan malu akibat dirinya tidak bisa menahan buang air kecil.
“Iya bawel.” Balas Ethan menuruti perintah gadisnya.
Selepas menghadapi gangguan kecil, Valerie dan Ethan kembali menikmati suasana hutan yang sangat asri. Tidak lama gemuruh air terjun mulai terdengar, tawa pengunjung lain ramai terdengar.
Ethan dan Valerie singgah di air terjun pertama, sedangkan kedua kakak sudah berada di tingkat dua. Mereka saling berkomunikasi menggunakan handy talkie.
__ADS_1
“Ethan aku haus. Minta minum!” Valerie menengadahkan tangan. Dia melihat keringat menetes dari kepal Ethan, refleks merogoh saku celana, mengambil saputangan berwarna merah muda.
“Kamu capek ya? Mau gantian sama aku?” Tanya Valerie menghapus keringat yang membanjiri wajah kekasihnya.
Sontak saja Ethan salah tingkah dan irama jantungnya tidak terkendali.
“Ethan kamu nervous? Kenapa? Takut?” Pertanyaan polos meluncur dari bibir merah muda Valerie.
DEG
DEG
DEG
“Duh jangan di tanya sayang.” Batin Ethan.
“Makasih perhatiannya Vale, kamu juga keringatan. Aku bantu ya.” Ethan berusaha melakukan hal sama. Membuka tas ransel kecil, tapi sayang sekali, Valerie sudah menyeka peluhnya lebih dulu.
“Aku bisa sendiri kok.” Senyumnya menampilkan deret gigi rapi dan putih.
“Ini perempuan, engga peka banget. Padahal gue mau menunjukkan perhatian. Sabar Ethan, pacar kamu memang luar biasa.” Gumam Ethan pelan.
TBC
***
sabar Ethan, orang sabar banyak yang sayang😅
ditunggu ya dukungannya
jempolnya
hatinya
bunganya juga
semuanya deh 🤭
__ADS_1