
Pagi hari Ethan terbangun setelah mendengar suara panggilan gadis yang sangat dirindukannya. Dia tersenyum karena Valerie begitu bawel, maksudnya perhatian. Banyak pertanyaan ditujukan kepada perawat yang mengambil sampel darah serta memeriksa infusnya pagi ini.
‘Permisi Tuan Ethan, kami ambil dulu darahnya ya, sedikit. Jangan teriak, malu sama pacarnya.’
Setelah perawat keluar ruangan. Valerie duduk di tepi ranjang pasien, acuh tak sehangat beberapa menit yang lalu. Kedua tangannya pun lebih memilih memegang ponsel daripada membelai Ethan.
Ehem
“Sayang? Vale? Aku minta maaf. Gak sering kok sayang. Bulan ini tiga kali, berubah kan?” Ethan mencoba mencairkan suasana, dirinya yang sakit membutuhkan perhatian bukan sikap dingin kekasihnya.
“Apa yang tiga kali? Bolos? Balapan? Atau duel sama orang?” ketus Valerie. Nadanya sangat tidak ramah di gendang telinga Ethan Adrian. Sakit.
“Sumpah sayang, aku gak pernah bolos dua bulan ini. Aku mau cepat lulus untuk nikah sama kamu.” Bibir Ethan terlalu jujur.
Disaat mahasiswa lain berjuang lulus demi meraih masa depan, memimpin perusahaan keluarga atau mendapatkan pekerjaan dengan layak. Tentu saja mimpi dan masa depan seorang Ethan Adrian menikahi Valerie, membina rumah tangga bersama pujaan hati.
“Umm … balapan sayang, tiga kali. Ok empat deh. Aku ngaku. Maaf Vale. Semua ini demi nama besar D’Dragons, ada kelompok yang mau merebut daerah kekuasaan kita sayang.” Ethan memberi penjelasan, bibir yang terluka bukan menjadi halangan, lebih penting Vale-nya.
“Berantem satu kali sayang, kemarin aja. Itu terpaksa. Karena dia … Eberardo bersikeras merebut kamu, kalau dia menang. Kita harus putus dan kamu jadi miliknya. Ya aku gak bisa Vale, harga diri aku sebagai laki-laki mempertahankan calon istri.” Emosi Ethan kembali memuncak kala mengingat perkataan rivalnya itu.
Huh
Valerie membuang napas kasar, geleng-geleng kepala. Ekor matanya melirik tajam kepada Ethan.
“Terus kamu percaya? Kalaupun dia menang, ya aku gak akan balik lagi jadi pacarnya. Mikir dong, aku itu bukan piala bergilir tahu gak sih?” kesal Valerie, dia ingin Ethan benar-benar memenuhi janjinya.
Bagi Ethan, tantangan Eberardo sebagai ajang mempertahankan harga diri. Mana bisa diinjak seenaknya saja.
“Dia masih belum bangun?” sebagai ketua D’Dragons, Ethan tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Dia melindungi David, Josh dan Erlangga. Masalah Eberardo dengan Ethan bukan D’Dragons.
“Hu’um. Estefania. Maksud aku adiknya mengancam mau melaporkan kasus ini. Tapi aku gak yakin, mereka malas juga berurusan dengan hukum.” Jawab Valerie masih sangat kesal kepada Ethan.
__ADS_1
“Sekarang aku mau kamu berhenti balapan. STOP Ethan. Lihat dampaknya untuk kamu apa? Nothing ya kan? Karena kegiatan liar itu kamu sering dapat masalah, terluka dan lihat sekarang. Kalau kamu masih kaya gini juga, maaf aku gak bisa lanjut lagi. Lebih baik kita jalan masing-masing.” Tegas Valerie, sesungguhnya ingin yang terbaik bagi Ethan. Mungkin menggertak seperti ini adalah cara yang terbaik.
“Kamu pikir lagi aja Ethan, pilih aku atau balapan kamu itu? Aku pulang, ada kelas jam 9.” Tukas Valerie benar-benar keluar dari ruang perawatan meninggalkan Ethan yang serba salah mengambil keputusan.
Sebelum keluar rumah sakit, karena rasa kemanusiaan, Valerie menjenguk mantan kekasihnya yang masih sangat lemah.
Ditemani dua kakak, Eberardo terlelap, bahkan semalaman mengigau, memanggil satu nama yaitu ‘Valerie’.
“Hi Eberardo. Kapan kamu bangun? Engga kasihan Kak El dan Kak Ed juga kembaran kamu harus tidur di rumah sakit? Buka mata dong. Katanya kamu kuat. Umm … atas nama Ethan, aku minta maaf.” Suara Valerie perlahan berubah dari ceria dan berakhir pelan.
“Aku mau kamu bangun, setelah itu kita bicara empat mata, aku dan kamu. Aku tunggu dua hari lagi.” Tukas Valerie, rasanya hidup menjadi menyebalkan, setelah mengenal dua pria yang selalu mencari masalah.
**
Setelah Valerie pergi, Eberardo membuka mata. Rupanya pria ini pura-pura. Sudah siuman dari kemarin malam, hanya saja memberi laporan palsu kepada perawat.
Eberardo ingin mengambil perhatian mantan kekasihnya, dia tidak terima Valerie memilih bocah ingusan seperti Ethan. Sangat tidak wajar dan menyebalkan.
“Tadi dia ke sini, masih punya nyali. Lagian kenapa sih, harus dia? Engga ada perempuan lain aja.” Lanjutnya tidak menyukai jika saudara kembarnya ini terlalu diperbudak cinta.
“Estefania, kamu tahu kan kalau Valerie itu berbeda. Hanya ada satu perempuan seperti itu, jadi aku harus berjuang mendapatkannya. Tidak bisa menyerah begitu saja. Apa pun aku lakukan. Paham?” Eberardo menyantap sarapan yang dibeli saudarinya.
Hatinya berbunga-bunga mendapat undangan untuk berduaan saja dengan Valerie. Momen langka seperti itu pasti dia manfaatkan dengan sangat baik. Termasuk menyiapkan beragam hadiah serta makanan kesukaan mantan kekasihnya.
“Ck, kalau kamu mencintainya. Kenapa selingkuh? Kamu mencium perempuan lain, mungkin dia trauma. Ini semua juga salah kamu, biarkan saja dia pergi. Aku suruh Mom dan Daddy menjodohkan kamu, berhentilah mengejar sesuatu yang tidak pasti. Paham?” Bibir seksi Estefania terus saja memberi banyak nasihat, tidak akan lelah sebelum kembarannya menatap hidup yang baru.
“Berisik. Kamu gak tahu rasanya jatuh cinta. Aku menyukai Valerie sejak kecil. Dia istimewa. Aku janji kalau kami menjalin hubungan lagi, ku pastikan tidak akan ada kesalahan yang sama, janji.” Eberardo begitu percaya diri. Cinta dan obsesi membutakan segalanya.
“Kau gila Ar.” Umpat Estefania, sengaja menyenggol selang infus yang tertancap di punggung tangan, hingga mengeluarkan darah.
“Aw.” Pekik pria tampan yang duduk di atas brankar. Pikirannya menerawang , merencanakan sesuatu. Sudah pasti berkaitan dengan kejadian tadi malam. “Aku tidak akan membuang kesempatan yang ada.” Gumam Eberardo menatap ke luar jendela.
__ADS_1
“Kali ini Valerie pasti tidak bisa menolak, kalau menolak ku pastikan hidup bocah itu menderita.” Eberardo menyeringai, semua rencananya hanya tersusun dalam kepala tanpa diketahui oleh keluarga.
“Jangan bertindak gegabah Ar, kau tahu kan konsekuensinya apa? Nama keluarga kita dipertaruhkan dan aku tidak mau menerima hukuman dari Daddy.” Estefania memberi peringatan keras.
Dengan kecelakaan ini saja sudah membuatnya ketar ketir, karena sesuai perjanjian. Eberardo bersedia ditemani semua saudara, ditambah tidak akan membuat onar apa pun. Tujuan mereka murni wisata bukan mencari masalah.
“Iya aku tahu, dasar bawel. Kamu diam, dan bantu aku kupas buah. Jangan manja karena di sini kamu satu-satunya perempuan dan harus patuh!” Eberardo melempar satu buah apel ke wajah kembarannya.
“Menyebalkan, seandainya saja kita bisa kembali masuk ke dalam perut Mom. Ku pastikan kamu tidak akan terlahir. Malas memiliki saudara kembar yang keras kepala.” Estefania cemberut tetapi tangannya terus bekerja mengupas apel dan memotong kecil-kecil.
Sedangkan Eberardo fokus mengirim pesan kepada Sergio, dia memerlukan sesuatu untuk mengancam mantan kekasihnya.
TBC
***
mau apa lagi ya Eberardo? gak ada capeknya.😣
ditunggu like dan komentarnya kakak 😉
**Saudaranya Eberardo**
**Josh**
Hati hati oleng liat Josh 😁
__ADS_1